Followers

Showing posts with label inspiration. Show all posts
Showing posts with label inspiration. Show all posts

Monday, May 22, 2017

Sawang Sinawang

Pada suatu Sabtu yang cerah dan jalanan cukup padat, aku menyetir sepeda motor putih kesayanganku. Aku melewati sebuah jembatan yang menjadi jalan pintas favorit warga kota, yang pernah dikabarkan hampir rubuh  sampai truk dilarang melintas. Di kiri-kanan jembatan, disediakan trotoar untuk para pejalan kaki.

Nampak seorang bapak-bapak berusia sekitar 50 tahun (terlihat dari jumlah uban di kepalanya), berkemeja rapi yang dimasukkan ke dalam celana kain rapinya pula, menenteng tas yang sepertinya berisi laptop di tangan kirinya, berjalan menampakkan sepatu mengkilap karena disemir, dengan langkah yang terburu-buru seolah lima menit lagi ia akan rapat atau mengajar, namun ia tetap bisa tersenyum untuk menjaga citra. Tetap saja, raut keseriusannya tidak bisa disembunyikan. Ia nampak gundah gulana.

Dari arah yang berlawanan, nampak seorang bapak-bapak pula, berusia sama, berkemeja usang dan kedodoran (nampaknya, itu kemeja lungsuran), tidak dimasukkan ke dalam celana kotornya, memakai topi, beralas sandal jepit, membawa keranjang onde-onde yang ia slempangkan seperti tas di bahunya. Nampak berat sekali, namun ia tetap menjaga langkahnya agar tidak sempoyongan. Berusaha tersenyum pula, namun tidak, saat matanya bertemu dengan bapak-bapak di arah berlawanannya.

Bapak pertama berpikir, “Senangnya menjadi penjual onde-onde. Ia tidak perlu memikirkan kurikulum, rapat pimpinan, anak orang lain, uang negara, bahkan tidak pernah kegiatannya dibatasi oleh waktu. Terserah ia mau mulai kerja pukul berapa. Terserah ia mau berpakaian seperti apa. Tidak akan pernah ada yang melihat. Ia bebas pergi ke mana saja. Tidak ada yang mencari. Ah. Aku ingin segera pensiun dan menikmati bebasnya hidup seperti dia”.

Bapak kedua pun berpikir, “Nikmatnya jadi orang kantoran. Bajunya rapi, wangi, licin... Tidak perlu keliling-keliling, tidak perlu takut nanti siang makan apa. Makan tinggal pilih. Mau tidak masuk sehari pun, gajinya tetap ada. Kalau aku, ga kerja sehari, ya ga makan sehari. Andai dulu orang tuaku kaya, andai dulu aku tidak putus sekolah, sudah pasti sekarang minimal aku menjadi PNS seperti dia. Ah. Andai bisa, aku ingin kembali ke 40 tahun lalu”.

...dan mereka terus berjalan sampai langkahnya saling memunggungi.

...dan aku terus melaju sambil mengingat kedua pasang mata tadi.

Friday, June 13, 2014

Kalian Membuat Saya Tetap Menulis

Halo, assalamualaikum, selamat malam, semua blog reader! Saya kembali setelah berbulan-bulan tidak menyempatkan waktu untuk berbicara lewat tangan di sini. Kali ini saya mau berterima kasih kepada seluruh pembaca blog saya yang entah itu masuk kategori pembaca setia, pembaca kebetulan, pembaca kesasar, pembaca kepaksa, pembaca penasaran, atau pembaca yang kepo (pede banget ya -__-) yang udah menyempatkan waktu membaca tulisan saya ini. Hihi, makasiiiiiih sekali lagi buat apresiasinya yang saaaaangat membuat saya tetap menulis sampai detik ini. Di usia blog saya yang sudah 5 tahun lebih beberapa hari ini, saya akan bercerita tentang seluk beluk "menulis" dari sudut pandang saya.

Eits, jangan bosan dulu. Inshaa Allah apa yang akan saya ceritakan ini akan membuat temen-temen semua berubah pandangan  bahwa menulis itu tidak membosankan! Percaya deh ;)

Nah, kenapa saya suka menulis? Gini awalnya. Saya adalah seseorang yang dilahirkan bukan dari seorang keluarga yang mencintai dunia sastra. Tidak seperti kebanyakan anak-anak yang selalu diberi dongeng sebelum tidur, dari kecil saya hanya sering dibelikan buku cerita oleh ibu dan bapak. Selebihnya, saya dibiasakan untuk mencoba membaca sendiri, yang akhirnya berujung saya berimajinasi saja dengan gambarnya, tidak mencoba membaca tulisannya. Saya pun baru lancar membaca saat hampir naik kelas 2 SD. Sangat terlambat sekali untuk kemampuan yang lazim dicapai anak usia TK. Itu yang menyebabkan saya kurang bisa berbahasa lisan dengan baik pada saat kecil. Saya terbiasa menggunakan bahasa ibu, yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang saya gunakan pun bukan  bahasa yang halus, karena  notabene saya tinggal di Malang, jadi terbiasa menggunakan bahasa Jawa ngoko (bahasa kasar). Itulah alasannya kenapa saya agak terbata-bata untuk berbahasa Indonesia lisan dengan baik dan benar sampai sekarang. Bisa dicoba deh bicara ama saya, hehehehehehehe.

Alasan lain yang menjadikan saya komunikator yang kurang baik adalah saya terbiasa mempunyai saudara kembar sejak lahir. Dini namanya. Sudah pada tahu, kan? Yang udah pernah baca blog ini pasti tahu, hehehehe (lagu-lagi ke-pede-an). Yak. Jadi, hampir semua masalah saya dan masalahnya si Dini pasti kita share berdua saja. Kami tidak pernah menceritakan masalah pribadi kepada orang tua maupun kedua kakak kami. Masalah teman yang nakal, masalah kegalauan ujian, masalah universitas mana yang akan kami masuki, bahkan masalah percintaan. Sampai sekarang, belum ada teman curhat yang bisa mengalahkan si Dini. Walaupun terkadang di tengah curhat malah kita berdebat dan akhirnya bertengkar, hehe.

Ketiga (ga nyebutin kedua, kok ada ketiga ya), sudah pada tau kan saya skoliosis? Nah, sejak saya mulai sadar bahwa skoliosis membuat saya semakin minder, saya menjadi seseorang yang super duper ekstra ultra tertutup. Sifat introvert ini yang membuat saya akhirnya menuangkan semua yang saya pikirkan di dalam sebuah tulisan (selain karena film kartun Hamtaro yang suka bikin saya ikut-ikutan nulis diary sebelum tidur, hihi).

Saya tidak tahu pasti kapan mulai suka nulis. Yang saya tahu, sejak kelas 2 SD, saya suka menulis semua kegiatan saya yang saya rangkum di dalam sebuah buku yang saya sebut "orji". Kemarin waktu bersih-bersih kamar, saya menemukannya dan membacanya ulang. Hihi, tertawa sendiri membacanya. Mulai dari kata-kata yang membuat saya malu dan tidak mau mengaku bahwa itu dulu tulisan saya. "Hari ini aku sebel. Aku ulang tahun, tapi tidak ada yang memberi kado. Semua jahat kecuali Evi sama Indah yang mau kasih kado". Masalah klasik yang terjadi di usia itu, kan? :D. Ada lagi yang seperti ini, "Aku tidak suka sama semua orang. Semua jahat. Temen-temen suka pamer barang barunya! Aku benci!". Ahahahahaha, tidak berhenti ngakak kalo baca hal seperti itu.

Lalu saya juga menemukan buku diary saya waktu SMP. Mulai kelas 7, saya mulai mengenal yang namanya cinta. Di dalam diary saya banyak sekali foto laki-laki yang saya suka, hehehehe. Saya ingat dulu "mencuri" foto itu dari Friendster. Saat SMP, saya juga punya buku diary geng. Jadi, setiap satu minggu sekali, kami bertukar diary dan saling menulis di buku milik teman, hihi.

Ini nih kumpulan buku curhatan alias diary dari SD sampai kuliah

Mulai kelas 9 saya ikut-ikutan kedua kakak saya yang suka nulis blog juga. Namun sayang, mereka tidak meneruskan hobinya tersebut hingga sekarang. Dari situlah awal mula saya meninggalkan diary dan mulai suka nulis di blog, hihi. Kalo flashback baca mulai 2009, geli juga bacanya, Hihihihihihihihi *ketawa ala Kunti*. Yaaaaa, namanya juga remaja, semua tulisan saya ga jauh dari tema cinta, galau, dan persahabatan.

Dari situlah saya mulai sukaaaa sekali menulis cerita, puisi, drama, atau sekedar quote kurang bermutu, ekekkek.
Novel yang saya tulis saat SMP

Teks drama saya sempat dipentaskan di salah satu lomba drama di sekolah dan juara 2 lhoooh, hehe
Sudah tahu kan, alasan yang menjadikan tangan saya tidak bisa berhenti menulis? Sekarang saya mau bagi-bagi tips menulis kreatif ala Dina Nisrina nih, hehehe. By the way, tips ini asli dari pikiran dan pengalaman saya, tidak mengutip dari sumber mana pun.

1. Ide cerita yang mengalir
Tidak perlu bingung menentukan ide cerita apa yang akan kamu wujudkan dalam sebuah tulisan. Apa yang kamu ingin tulis, tulis saja. Lebih pekalah dengan sekitar. Misalnya seketika kamu pengen nulis pengalaman abis jalan-jalan ke pantai, tapi belum ada mood buat nulis, tulis saja ide cerita itu di sebuah waiting list. Atau biasanya aku nih, kalo lagi males, nulis dikit, trus berakhir jadi draft doang, hehehe...jangan ditiru.

Tidak usah muluk-muluk membuat cerita. Dua ekor semut yang lewat di samping tempat tidurmu yang kemudian bersalaman saja bisa jadi cerita. Semuanya asal kamu peka ;-)

2. Tentukan tujuan penulisan
Setiap orang melakukan sesuatu pasti ada tujuannya. Nah, kalau kalian menulis untuk memberikan bacaan yang informatif, tulislah sesuai dengan inti pesan yang ingin kalian sampaikan. Misalnya, pengen nulis tentang fotografi, fokuslah pada informasi soal fotografi, bukan hal lain. Kalo bercabang ngomongin hal lain, itu cuman intermezzo dan nggak bikin terkesan ada dua tema dalam satu tulisan. Itu kalo tulisan informatif. Kalo pengen persuasif, gunakan kalimat-kalimat yang terkesan mengajak secara halus tanpa ada kalimat-kalimat yang terkesan memaksa dan membohongi. Beda lagi kalo tulisan yang bertujuan untuk mengungkapkan isi hati. Tulisan ini biasanya lebih bebas dan terkesan tidak tertuju pada khalayak umum, tapi kepada satu atau beberapa pihak saja. Berikan kesan yang membuat pembacanya tahu bahwa kamu sedang menujukan tulisan itu kepada seseorang. *Bingung, ya? Saya juga bingung ama kata-kata saya*

3. Buatlah kerangka karangan
Mungkin bagian kedua ini bisa menjelaskan bagian pertama. Kalo ngga pengen topik bahasan kita ke mana-mana dan ngga terstruktur, buatlah kerangka karangan terlebih dahulu. Selain itu, kerangka karangan bisa menghindarkan dari informasi-informasi yang kadang terlewat buat dicantumkan. Tapi, kalo tipe tulisan yang bertujuan sekedar curhat (seperti kebanyakan tulisan saya), tidak masalah jika dituangkan secara langsung mengalir mengikuti emosi otak kepada tangan *tsaaaah*.

4. Gunakan bahasa yang mudah dipahami
Ragam bahasa menentukan pembaca tertarik atau tidak. Jika ingin ditulis menggunakan bahasa yang baku, boleh saja. Tapi, untuk menghindari kesan kaku, gunakanlah sentuhan-sentuhan bahasa sehari-hari, tapi jangan terlalu lebay dalam penggunaannya. Penggunaan emoticon sah-sah saja, asal jangan terlalu mengganggu estetika yah...hehe. Tidak perlu takut harus mengikuti Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Mainkan emosi pembaca. Misalnya seperti saya ini suka sekali menggunakan penekanan seperti ini:

Dia.
Dan aku.
Duduk bersama.
Berdua.
Berhadapan.
Bertatapan.
Saling berkata-kata.

Bedakan dengan bila ditulis seperti ini:
Dia dan aku, duduk bersama, berdua, berhadapan, bertatapan, dan saling berkata-kata.

Akan ada efek emosi yang berbeda. Tanda titik seakan-akan memotong di tengah jalan, dan memberi efek shocking pada setiap kata untuk menegaskan rima a a a a a a yang saya gunakan, ya kan?

5. Berikan judul yang menarik
Judul adalah kunci apakah pembaca memilih untuk membaca atau tidak. Judul yang menarik, bisa membuat pembaca penasaran. Judul bisa diambil dari konklusi cerita atau sebagian dari cerita kita yang menjadi point of view. Biasanya sih saya sok-sok-an menggunakan bahasa Inggris atau bahasa lain yang saya anggap menarik apabila judul dalam bahasa Indonesianya saya ngga nemu yang puitis, hehehehe

6. Berikan gambar-gambar ilustratif
Terkadang, kalo ada penjelasan kita yang kurang imajinatif, pembaca kesusahan untuk membayangkan. Berikan gambar-gambar ilustratif. Bikin aja gambar-gambar dari jepretan kamera handphone atau bikin oret-oretan sederhana kayak di posting-anku yang ini nih. Jika tidak bisa membuat foto sendiri, ambil saja dari internet. Eits, tapi jangan lupa, cantumkan sumbernya ya...kita berada di dunia jaringan yang serba mudah, tapi jangan lupa menghormati karya orang lain ;). Selain fungsi itu, gambar juga bikin tulisan kita ga terkesan monoton.

7. Cantumkan label terkait
Label atau tag dalam blog akan mempermudah penglasifikasian tulisan. Misalnya buat saja label sesuai tema tulisan. Kalau tulisan itu termasuk puisi, beri saja label puisi, atau poem (yang lebih universal). Misalnya tulisan tersebut tentang kesehatan, tentang cinta, dll. Selain itu, label juga mempermudah pencarian di Google dan mesin pencari lainnya. Kalo misalnya ada orang yang search dengan kata kunci poem, tulisanmu akan muncul juga lhoh...tapi tergantung seberapa populer atau banyak dibukanya halaman tulisan itu oleh orang.

8. Sunting tulisan sebelum di-publish
Sebelum di-publish, ada baiknya kita baca ulang tulisan. Perbaiki kata-kata yang salah, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman. Kita perlu berhati-hati dalam hal ini, karena manusia tempatnya salah, tidak menutup kemungkinan tulisan kita bisa menimbulkan efek negatif setelah membacanya, heheheheh naudzubillah, ya.

9. Promosikan tulisanmu
Aku pernah baca salah satu buku yang aku lupa judulnya. Ada satu kalimat menarik nih, "Penulis tanpa pembaca sama dengan pembuang sampah". Maksud dari kalimat ini adalah, percuma kita menulis sedemikian banyaknya kalo ga ada satu pun orang yang baca. Jadi, memromosikan tulisanmu itu perlu. Saya kira, media sosial sudah semakin mudah untuk share link sekarang. Promosikan blog kamu di Fb, Twitter, Instagram, Path, dll. Semakin banyak yang baca, akan semakin banyak yang menilai. Semakin berkembang juga penulisnya!

10. Be your self
Terakhir, yaaaaaang paaaaling penting. Just be true to your self! Seorang penulis hanyalah seorang pencundang apabila ia menulis untuk membohongi jati dirinya sendiri. Biarkan tangan dan otakmu bersinergi. Percayalah, tulisan yang membuat pembacanya merasa tulisan itu magis adalah pembaca yang menemukan jati diri penulis dalam tulisannya. J. K. Rowling memang menulis seorang tokoh Harry Potter. Tapi dia jujur untuk menggambarkan tokoh seperti apa si Harry sesuai dengan imajinasinya, bukan orang lain. Dewi Lestari menuliskan sesosok Kuggy yang seorang Aquarian, sama dengan dirinya. Tidak ada yang salah, kan?

Selain itu, jangan gunakan bahasa yang dipaksakan. Kalo emang ngga cocok pake elo, gue, ya ngga usah dipake, hehe. Kalo emang ngga suka pake bahasa yang baku, yang ngga usah dipake. Yang penting, jadilah natural dan tidak terkesan memaksakan.

Itu deh...tips-tips tipis menulis ala gueh gueh gueh, Dina Nisrina, seorang gadis blasteran Purwokerto-Banjarnegara, seorang mahasiswi Fakultas Sastra, seorang skolioser, seorang gadis yang punya kembaran, gadis biasa yang pengen jadi gak biasa yang mungkin bisa sedikit menjawab pertanyaan temen-temen yang bertanya biar blog bisa menarik dan punya follower banyak *padahal follower saya juga cuman 149*. Seneng banget rasanya cuman gara-gara tulisan curcol di blog ini, banyak temen dan sepupu yang bikin blog juga setelah baca, hehe terharu. Seneng juga kalo baca apresiasi temen-temen soal tulisan-tulisan di blog ini selama 5 tahun ke belakang. Jujur, niat awal bikin blog ini cuman pengen mindahin diary, hehe. Tapi ga tau kalo ternyata bisa nemuin temen baru, bisa share sama skolioser, bisa kasi info, bisa ngasilin duit juga, bisa jadi inspirasi. I feel so blessed, I'm thankful, guys! 




Ada satu quote yang sampe sekarang terngiang di otak saya gara-gara baca bukunya Mbak Yulia.

“If there’s a book you really want to read, but it hasn’t been written yet,

then you must write it.” ~ Toni Morrison ~


Semua tulisan di blog ini tidak akan dihapus, walau saat membacanya di masa datang, saya merasa bahwa tulisan ini alay. Dia saksi perkembangan psikologiku *tsaaaaah*. Ntar, kalo uda jadi orang terkenal, wartawan ngga bakal susah wawancara dan cari info, kan semua udah komplit di blog, hehehehehehheeheheh *lagi-lagi ke-pede-an, kan?*. Semoga salah satu impianku, yaitu menerbitkan buku, akan segera tercapai. Semoga bermanfaat, good night! :)

Wednesday, July 10, 2013

Pertanyaan, Pilihan, dan Jawaban

Halo...mungkin baru hari ini aku bisa menulis lagi di blog setelah beberapa  bulan sudah banyak draft yang sebenarnya mau aku post, tapi aku tidak punya waktu karena kesibukanku yang semakin merajalele (?) akhir-akhir ini. Kalo ibarat artis, mungkin inilah konferensi pers yang sudah ditunggu-tunggu sama wartawan dan pekerja infotainment.

Maaf tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar dan maaf sudah membuat bertanya-tanya. Sebenarnya Dina kenapa? Kok semua status terakhirnya di jejaring sosial galau gitu? Kok saat ditanya tidak pernah ada jawaban? Kok tiba-tiba tidak punya waktu untuk bertemu? Kok tiba-tiba menjadi sangat tidak asyik dan tertutup?

Ini nih jawabannya.

Sebenarnya, sudah beberapa bulan terakhir ini aku disibukkan dengan UAS, dengan kegiatan paduan suara, dengan 2 proyek kerjasama (yang tidak bisa aku sebutkan), dan dengan 1 perubahan terbesar yang mungkin akan aku jalani. Perubahan? Apa itu? Dina mau operasi plastik? Hahaha, baca sampe tuntas ya... ;-)

Sudah setahun aku kuliah di Pendidikan IPA di UM. Jurusan ini adalah jurusan yang aku PILIH SENDIRI saat SNMPTN Tulis tahun lalu (baca cerita lengkapnya di sini). Dan tahun ini, aku mengikuti SNMPTN Tulis lagi (yang sekarang sudah berubah nama menjadi SBMPTN) untuk kuliah di jurusan Sastra Indonesia UM.

Lho? Kenapa? Emang cita-citanya Dina apa?

Ada hal di dunia ini yang bernama cita-cita. Dari kecil, cita-citaku selalu berubah. Cita-cita pertamaku adalah menjadi arsitek. Mungkin karena aku melihat bapak yang setiap hari kerjanya menggambar rumah dan membuat bangunan-bangunan. Berdiri di atas gedung tinggi, memegang penggaris yang macam-macam bentuknya, menggulung-gulung gulungan kertas besar, mainan laptop tiap hari, bertemu dengan banyak orang di dunia dan membincangkan sesuatu yang menurutku fantastis.

Lalu tiba-tiba aku ingin menjadi programmer. Melihat Mbak Anja (kakak pertamaku) yang bermain angka dan matematika di laptop. Membuat animasi lucu, mendesain web, sampe Mbak Anja pake kacamata tebal yang menurutku sangat keren.

Aku juga sempat ingin menjadi jewelry designer. Melihat Mbak Hani yang setiap hari berkutat dengan prakaryanya. Menjahit, merangkai aksesoris, wanita banget. Dan sepertinya enteng. Tapi banyak duit.

Terakhir, cita-citaku menjadi sangat mantap untuk menjadi guru saja. Aku suka sama Bu Iva, guru matematikaku di SMA. Aku juga suka sama Mbak Cinta, guru Bahasa Indonesiaku di Neutron. Aku ngefans sama Bu Susi, Oom Wawan, Mbak Ida, Mbak Upik, aku ngefans sama Bu Erna. Itu semua adalah guru yang menurutku sangat fantastis dan sangat membuatku ingin menjadi guru. Mereka bekerja tanpa pamrih, tetap tersenyum, rela belajar beberapa jam lebih awal, dengan gaji yang tidak banyak, namun mereka bahagia, hanya untuk mencerdaskan kami. Menurutku, itu adalah pekerjaan paling keren dan paling mulia, di dunia.

Akhirnya, aku memutuskan, aku ingin menjadi guru, yang sangat hebat tentunya.

Terus, kenapa pilih IPA?

Saat kenaikan kelas 11, ada hal yang membuatku galau. Ini adalah titik pertama aku harus memilih sendiri masa depanku. Aku harus masuk jurusan apa. IPA, IPS, atau Bahasa. Semua nilaiku bagus di Bahasa. Semua nilai IPS-ku rendah. Dan nilai IPA-ku biasa-biasa saja. Tapi 2 kali psycho-test menyarankanku untuk masuk jurusan IPA atau IPS.

Aku tidak suka menghapal. Ingatanku sama halnya dengan ingatan ikan. Hanya beberapa detik. Jadi, aku memutuskan untuk tidak pilih IPS, karena aku benci harus menghapal tanggal-tangal di sejarah. Secara, tidak ada 1 pun orang di dunia ini yang aku ucapkan ulang tahunnya jam 12 malam karena aku tidak pernah hapal ulang tahun siapa pun kecuali keluargaku di rumah, sekali pun itu ulang tahun pacar. Aku juga tidak suka menghitung uang. Aku tidak suka ngurusin uang. Aku tidak suka ekonomi. Aku benci politik. Aku tidak memilih IPS.

Aku suka sekali bermain verbal. Aku suka Bahasa Inggris. Karena aku bisa merasa keren tiap nilai bahasa Inggrisku muncul di rapor. Aku tidak pernah remidi pelajaran ini. Bahkan, nilai bahasa Inggrisku semester ini A. Walaupun aku sangat gagap tiap harus mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Aku suka bahasa Indonesia. Aku juga tidak pernah remidi. Walaupun nilaiku masih lebih rendah dari bahasa Inggris, tapi aku suka menulis. Aku suka blogging.  Saat SD dan SMP pun, aku suka bikin cerpen. Dan kalau teman SD-ku masih ingat, aku dulu suka sekali meminjamkan hasil kumpulan cerpenku sampai guru olahragaku bilang, “Pinter nulis ya, Dina”. Saat SMP pun aku sempat bikin 1 novel, aku jilid sendiri, aku bikin cover sendiri dan teman-teman bilang, aku berbakat. Aku sering bikin puisi di mading. Aku suka teater. Aku suka bikin naskah drama. Sudah 3 judul naskah drama yang pernah dipentaskan di  SMA yang aku tulis. Naskah film pendek yang aku tulis juga pernah menjadi juara cerita terbaik se-kota Malang saat festival pelajar. Aku punya banyak follower di blog, artinya, mereka menyukai tulisanku. Tapi, entah kenapa...aku sama sekali tidak melirik jurusan Bahasa.

Aku suka matematika. Walaupun aku sering remidi, tapi aku selalu duduk depan saat ulangan. Bu Iva bilang, yang pinter-pinter biar di depan, biar ga dicontek. Aku pernah diikutkan olimpiade matematika saat SMP. Bahkan, nilai UNAS tertinggiku saat SMP adalah matematika, hampir absolut. Aku suka biologi. Aku suka mempelajari kesehatan. Aku suka alam. Aku suka menganalisis. Apalagi soal skoliosis, tidak akan pernah ada habisnya. Aku suka teori fisika. Tapi aku benci rumusnya. Aku tidak pernah suka kimia. Dan tidak pernah mendapat nilai bagus. Aku tidak bisa mengerti kimia sampai detik ini. Entah kenapa. Tapi, dengan mantap aku pilih jurusan IPA waktu SMA. Karena waktu itu, IPA adalah hal terkeren di dunia. Bapakku juga senang sekali aku masuk IPA. Sama seperti Mbak Anja dan Mbak Hani. Aku juga mendapat nilai kesenian (yang waktu aku kelas 12 adalah seni mendesain seperti arsitek) yang di atas rata-rata. Kata Pak Joko, aku adalah 3 besar cewek yang desainnya bagus dan rapi di kelas setelah Ressy dan Mia.

Entah kenapa, aku juga masih tidak mengerti, mengapa aku memilih IPA. Pilihan yang dibuat oleh seorang remaja yang masih labil. Yang masih belum mantap cita-citanya, dan masih belum melihat masa depan, yang beberapa tahun lagi harus ia jalani. Dengan tidak main-main.

Gimana ceritanya pas milih jurusan kuliah dulu?

SNMPTN Undangan

Sebodoh-bodohnya aku, ternyata aku masih termasuk anak yang dianggap pintar sama guru-guru. Sedikit arogan, ya? Memang. Aku masuk di daftar murid yang diberi kesempatan untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan (dulu PMDK). Walaupun rangkingku di sekolah sangat tidak seberapa dan itu hanya kebetulan saja. Aku bingung harus memilih jurusan apa. Aku mencocokkan dengan cita-citaku. Aku memilih Pendidikan Matematika di UM, karena aku ingin menjadi guru. Pilihan kedua, aku pilih Matematika murni, karena siapa tau kalau tidak masuk pilihan pertama, pilihan kedua bisa nyantol dan aku bisa ambil PPG (Pendidikan Profesi Guru) dan menjadi guru juga nantinya.

Kenapa pilih matematika? Karena, setelah 2 tahun sekolah mempelajari IPA, aku tidak bisa mengikuti. Semua nilai yang aku dapatkan sejak SMA, tidak jujur. Walaupun sudah les privat fisika dan les di bimbel, aku tetap tidak bisa menyerap pelajaran-pelajaran IPA. Aku hanya mengandalkan google, contekan teman, dan kertas contekan yang aku buat semalam sebelum ujian. Tapi entah kenapa, nilai ujian lisan fisikaku bagus. Aneh. Intinya, ujian IPA adalah mimpi buruk, kecuali biologi. Dan hanya matematika dan biologi yang bisa menyelamatkanku, karena nilaiku di 2 pelajaran itu yang paling lumayan.

Jurusan ketiga yang aku pilih adalah Ilmu Gizi di UB. Aku ingin menjadi orang yang paling sehat di dunia dan menjadi orang yang paling mengerti kesehatan (karena semenjak aku sakit, aku jadi lebih peduli kesehatan) melalui makanan. Aku sempat ingin menjadi dokter, tapi aku sadar diri, otakku tidak pernah sampai. Setidaknya, ilmu gizi tidak perlu banyak main rumus fisika dan kimia, ku kira.

Di SNMPTN Undangan, nilai yang paling stabil-lah yang paling dilihat. Sedangkan nilaiku naik-turun seperti grafik cosinus. 2 hari sebelum pengumuman SNMPTN Undangan, aku bermimpi ada seseorang yang mengatakan padaku, aku tidak cocok masuk jurusan ilmu gizi. Dan ternyata benar. Malah aku gagal di ketiga-tiganya.

SNMPTN Tulis

Kegagalanku di SNMPTN Undangan membuatku makin galau, karena aku harus memilih lagi. Dan kali ini lebih berat. Belum lagi, Dini dan saudara sepupuku diterima lewat jalur undangan. Sedangkan aku masih harus berjuang lagi. Ada faktor mental yang lebih berat kali ini. Tiba-tiba aku ingin menjadi guru SD. Aku sangat suka anak-anak. Dan aku adalah orang yang tidak bisa fokus pada 1 bidang secara total. Aku kira, dengan menjadi guru SD, aku bisa memelajari banyak bidang dengan tidak terlalu detail. Aku juga akhirnya ingin memilih Pendidikan Bahasa Indonesia. Tapi...aku terlalu pengecut untuk mengambil IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran) atau bahkan IPS saat tes. Karena aku merasa, untuk memelajari IPA saja sudah susah. Apalagi harus memelajari IPS secara dadakan dalam 1 bulan saja. 

Karena pengecut, aku tetap memilih jurusan di bidang IPA. Aku tetap memilih Pendidikan Matematika UM. Aku masih sangat ingin menjadi penerus Bu Iva. Dan saat aku bingung menentukan jurusan kedua, tiba-tiba aku melihat ada jurusan Pendidikan IPA di daftar. Aku kira, dengan mengajar SMP, aku tidak perlu terlalu detail memelajari Fisika dan Kimia. Apalagi, pelajaran SMP pasti lebih mudah dari SMA, jadi aku tidak perlu khawatir aku tidak bisa Fisika dan Kimia.

Dan akhirnya dengan bangga, aku lolos SNMPTN Tulis, di Pendidikan IPA. Dan menjalaninya sampai sekarang.

Lantas, apa alasan ingin pindah jurusan?

Awal masuk, aku sangat sumringah walaupun aku kesulitan dari awal untuk menyerap pelajaran di kelas. Aku kira kesulitan ini karena aku masih dalam proses adaptasi. Ternyata aku salah, di sini tidak semudah bayanganku. Lambat laun, aku bukannya menemukan peningkatan pemahaman. Entah mengapa, makin lama aku makin tidak paham. Aku mudah mengantuk di kelas, karena aku sama sekali tidak mengerti. Parahnya, aku baru sadar, aku tidak mengerti dari konsep awal, yang diberikan di SMA dulu. Ketidakmengertian yang ditumpuk-tumpuk lama-lama menjadi menggunung. Makin hari aku makin tidak mengerti, tidak mengerti, dan tidak mengerti. Semua laporan praktikum Fisika yang aku buat adalah hasil pekerjaan teman yang aku copy. Hanya 2 laporan awal yang aku kerjakan sendiri, karena materinya masih mudah. Saat pembagian pengerjaan laporan biologi dan kimia secara kelompok, aku selalu meminta teman sekelompokku untuk mengerjakan dasar teori, data pengamatan, dan analisis data saja. Di luar itu, aku sudah tidak paham. Aku benci presentasi biologi. Setiap presentasi, aku selalu terlihat bodoh, gagap, dan selalu ditertawakan. Akhirnya, aku selalu meminta untuk menjadi operator saja. Hanya praktikum biologi yang membuatku terlihat pintar. Dan nilaiku selalu A. Di praktikum kimia, aku selalu salah takaran, selalu menumpahkan larutan, dan saat ujian praktikum kimia, aku selalu tidak bisa mengerjakan apa-apa selain prosedur pengerjaan. Aku tidak mengerti sama sekali arti rumus dalam kimia. Bahkan, saat ujian praktik Fisika, dari 2 praktikum yang diundi dari 5, hanya 1 praktikum saja yang bisa aku kerjakan. Sisanya, blank. Dan aku menangis saat pulang ujian. Karena, sudah 2 semester aku mengalami hal yang sama. Aku tidak betah, aku tidak menemukan diriku di sini.

Bukannya aku tidak berusaha, tapi entah mengapa, aku tidak bergairah untuk belajar kali ini. Aku selalu ketiduran saat belajar, karena bosan dan tidak mengerti. Saat diterangkan teman, aku mengerti. Tapi setelah ujian, aku selalu tidak mengerti lagi. Aku tidak paham, kenapa aku. Kenapa semua harus berakhir dengan bantuan Google, dan beberapa teman yang kasihan melihatku tidak bisa, dan akhirnya memberi contekan. Adakah seorang calon guru yang lebih hina dari aku? Bagaimana muridku nanti? Apa yang akan aku jelaskan di depan kelas? Apa aku bisa menjawab saat ada murid bertanya? Apa iya, setiap ada teman dari fakultas lain meminta bantuan kepadaku untuk membuat PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) bersama, aku selalu menolak, karena aku tidak bisa IPA? Apa iya, saat ada teman dari teknik minta diajari fisika aku selalu melempar pada teman lain, karena aku sendiri tidak mengerti? Apa iya saat salah satu temanku minta dikerjakan PR-nya soal vektor, aku harus membuka google lagi dan lagi lalu mengirimkan jawabannya lewat BBM dan ia berterima kasih karena aku telah membantu menjawab, mengatakan aku pintar, padahal itu bukan pekerjaanku sendiri? Apa aku bangga menjadi seperti itu? Menjadi orang yang sama sekali tidak berfungsi secara optimal? Dan sampai kapan aku bergantung seperti ini?

Tulisan yang ada di kertas ujian Kimia. Astaghfirullah... :-(

Aku berusaha bertahan, berusaha suka, berusaha komitmen dengan pilihan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dipaksa. Yaitu passion. Seperti kata seseorang, “Passion energizes your talent”. Ada satu hal yang tidak bisa diganggu gugat. Ada satu hal yang tidak bisa dimengerti. Ada satu hal yang jika diterima dan dimengerti bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Passion. Passion. Dan passion. Dengan berat hati, aku mengatakan, aku tidak ada passion di sini. Di pilihanku sendiri. Pilihan yang tidak dipilih dengan pertimbangan luas. Pilihan yang lahir dari pengecut yang tidak berani mengikuti hatinya. Astaghfirullah...maafkan aku Yaa Rahman L

Lalu, mengapa harus sastra?

Tidak ada yang kaget kenapa aku suka sastra. Jika aku di sastra, aku bisa mensinergikan dan menyalurkan kesukaanku akan menulis dengan layak dan sejalan, bukan hanya sekedar hobi. Ada energi tersendiri yang lahir saat kau mengerjakan apa yang kau sukai tanpa ada paksaan. Ada tanggung jawab besar yang menyenangkan walaupun berat jika kau berada di zona yang membuatmu menemukan jati dirimu seutuhnya, sesulit apa pun itu. Dan aku masih mau meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, S2, S3, dan berapa S lagi yang akan tercipta jika aku di sini. Karena aku suka. Dan aku yakin, aku dilahirkan memang untuk itu. Jika semua kemampuanku dilumpuhkan oleh Allah, hanya ada satu hal yang aku ingin tetap ada. Yaitu kemampuan dan kemauanku untuk menulis. Karena dengan menulis, aku bisa berbicara pada dunia, mengatakan apa yang tidak mampu aku katakan dengan suara. Writing works more than voices. Bahkan, ketika aku sudah tidak mampu lagi berbicara, ketika aku dilarang melakukan apa pun di dunia ini, tolong...jangan larang aku untuk menulis. Itu saja. Aku suka. Dan aku cinta. Tanpa paksaan.

Mendramatisir memang.

Ujian SBMPTN

Aku lalu mengambil uang tabungan dan uang saku kosku. Ke bank sendiri. Mendaftar SBMPTN. Ke Gramedia, membeli buku-buku kumpulan soal dan buku materi IPS. Ke gudang, mengobrak-abrik buku SMA, dan memulai belajar...sebagai anak IPS.

Ujiannya tidak terlalu sulit untuk pengetahuan umum, aku mengerjakan dengan yakin dalam jumlah yang lumayan banyak. Untuk ujian SOSHUM, memang hanya sedikit yang aku yakin. Namun kali ini, aku mengerjakan lebih pede dari tahun lalu, entah karena sudah pernah, atau memang karena aku bisa. Aku sangat optimis sekali.

Bagaimana hasil SBMPTN kemarin?

Mungkin ini jawaban yang ditunggu. Jadi, malam hari sebelum pengumuman, aku bermimpi sangat indah. Aku bermimpi ada di medan perang ujian praktik SIM C sedang mengendarai motor bebek. Aku memakai rok hitam, kemeja putih, dan jas almamater UM, persis seperti gaya mahasiswa baru yang sedang ospek. Kebetulan, tanggal 8 Juli kemarin, aku akan mendapatkan 2 hal spesial, harusnya sih. Aku akan ujian praktik SIM C untuk kedua kalinya dan akan menerima pengumuman hasil SBMPTN. Di mimpi itu, aku sangat bahagia mengendarai motor itu. Dan aku berhasil melalui ujian praktik SIM itu dengan sangat lancar, mulus, dan sempurna. Sampai-sampai di mimpi itu, namaku tersohor di pelosok negeri karena aku adalah wanita dengan nilai praktik tertinggi. Pulang dari praktik, aku yang masih berpenampilan sama, berbelanja kebutuhan ospek di sebuah mini market. Sungguh, itu mimpi paling indah sedunia.

8 Juli 2013

Tiba-tiba aku terbangun, aku bangun kesiangan. Maklum, aku sedang tidak solat, jadi tidak memasang alarm di saat subuh. Aku bangun 30 menit sebelum kantor SATLANTAS buka. Sampai di sana bersama ibu, aku sangat percaya diri walaupun masih deg-degan gara-gara kesiangan. Dengan senyum dan berkali-kali membaca Al-Fatihah, aku memulai ujian. Aku tidak terlalu gugup karena sudah pernah melakukannya. Dan aku sangat optimis, entah kenapa. Tapi, baru beberapa detik ujian, aku sudah menjatuhkan palang. Parahnya lagi, kakiku turun ke tanah. Motorku juga ke luar jalur. Aku tetap bersikukuh menyelesaikan ujian, walaupun nyata-nyata sudah gagal. Ujian kali ini lebih  buruk dari ujian sebelumnya. Di ujian sebelumnya, aku hanya menjatuhkan 2 palang tanpa menurunkan kaki. Tapi di ujian ini, sudah berapa kali aku melakukan kesalahan. Dan aku harus mengulang 2 bulan lagi. Mimpiku ternyata bukan untuk sekarang.

Masih down gara-gara gagal dapat SIM untuk ketiga kalinya, sore ini aku harus membuka website resmi SBMPTN untuk melihat hasil SBMPTN-ku. Aku sengaja melihatnya agak malam, karena aku tau kalau sore, pasti masih lemot. Aku buka dulu website Lipsus Kompas. Dan aku memasukkan namaku, nomer ujian, dan kode prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah. Tidak ada hasil. Ah, mungkin di prodi satunya. Aku masukkan kode prodi Sastra Indonesia. Tidak juga ada. Ah, mungkin Kompas yang eror.


Akhirnya aku membuka website SBMPTN karena masih kurang lega dengan jawaban yang diberikan Kompas. Dan ternyata...Kompas benar.  Aku lalu menghubungi salah satu temanku yang ikut SBMPTN ulang, sama denganku. Dan dia juga senasib denganku. 2 temanku lainnya juga sama. Kami sama-sama tidak lolos.

 Tulisan ini sama sekali jelek dan tidak memberi semangat. Harusnya ada kata-kata penyemangatnya. Tidak heran kalau anak-anak yang tidak lolos merasa sangat down.

Rasanya...benar-benar...campur aduk. Sambil memandang laptop, tanpa rasa apa pun. Flat. Sesekali tertawa dan bicara sendiri pada laptop, “Pasti kamu bercanda, ya kan...ya kan?”. Sedikit linglung dan mendadak galau luar biasa sangat, dan tidak bisa berpikir jernih. Melihat handphone yang sedari tadi berbunyi mengantarkan puluhan SMS, chat, dan mention Twitter dari teman-teman yang menanyakan hasil ujianku. Rasanya kacau. Mereka tidak akan mengerti. Dan aku malas menjelaskan satu-satu dari mana. Akhirnya aku mematikan handphone. Dan membiarkan mereka dengan rasa penasaran. Bergegas ke kamar mandi dan menyalakan kran sampai airnya penuh, aku tidak peduli. Seperti di sinetron. Seperti film Pocong. Sayangnya aku tidak punya shower. Menangis sejadi-jadinya. Lalu aku ke kamar. Melihat cermin. Berbicara sendiri. Memotivasi diri. Seperti orang gila. Lalu aku sadar, aku mulai gila. Aku tidak mau gila. Dan semua luluh...karena Al-Quran. Hanya Allah yang bisa aku ajak bicara sekarang. Di saat rumah sepi, di saat semua tarawih. Aku merasa sangat sendirian. Mengalami 4 kegagalan dalam sehari. Gagal dapat SIM, gagal lolos SBMPTN, dan gagal mengikuti tarawih pertama, serta gagal memberi kabar gembira pada Vindy, sahabatku yang hari itu ulang tahun, memberi tahu bahwa aku lolos. Itu sungguh menyakitkan. Dan tidak ada yang bisa mengerti...

Akhirnya aku membuat status di Twitter, membiarkan mereka yang bertanya-tanya menyimpulkan sendiri.

“Alhamdulillah... Allah showed so many things today for me, for my future. Allah knows how to make me wiser, knows the best. Alhamdulillah J

Lalu seketika banyak yang memberi respon dengan mengucapkan selamat atas kelolosanku. Aku hanya bisa tertawa miris, mereka tidak juga mengerti. “Alhamdulillah” adalah pujianku atas kemahadahsyatan Allah. Bukan selalu hanya ungkapan gembira atas suatu pencapaian. Aku bersyukur, Allah masih mempercayaiku menjadi orang yang selalu harus berusaha. Aku harus ditempa bolak-balik agar menjadi baja yang paling kuat. Allah suka hamba-Nya yang berusaha. Allah tidak akan memberi cobaan lebih berat dari kemampuan hamba-Nya. Allah suka orang yang sabar.

Lalu paginya, saat semua sahur, aku memutuskan untuk membuka HP dan membalas beberapa pesan hanya untuk orang yang aku percaya dan benar-benar bisa mengerti aku. Aku sungguh sangat berterimakasih pada Sundari dan Didin, yang paling tahu alasanku begini, dan yang menemani hingga saat ini, aku tidak tahu siapa lagi yang akan mengerti. Terima kasih selalu menjadi tempatku mengeluh. Oh iya, FYI, Sundari diterima di Sekolah Tinggi Teknik Nuklir tahun ini, dan dia akan segera pindah dari Pendidikan IPA. Congrats, kamu berani jadi dirimu sendiri, Sun :-)

So...what’s next?

Siangnya, aku ke UM ditemani Dini. Aku ke gedung  di mana aku bisa mendapatkan informasi yang akurat tentang cara ke luar dari fakultas lama ke fakultas baru sambil menunggu pengumuman ujian mandiri. Tapi sayang, aku kurang mendapat pelayanan yang baik di sana, entah mengapa mereka tidak bisa menangkap dengan baik maksudku. Akhirnya, tanpa berpikir lama, aku pergi ke bank dan membeli formulir ujian mandiri. Sambil hujan-hujanan. Sampai pilek.

Bismillah, aku akan mencoba cara terakhir ini. Aku akan belajar lagi. Ya Allah, aku serahkan semua pada-Mu. Terima kasih telah percaya padaku untuk menyelesaikan masalahku sendiri. Engkau yang hidup dan kekal, yang tidak pernah tidur dan yang paling mengerti, Engkau tahu mana yang terbaik untuk hamba-Mu yang terkadang masih melupakanmu ini. Aku terima, apa pun nanti hasilnya. Aku akan berubah lebih baik lagi...aku janji, ini terakhir kali kecewa dan mengecewakan.

Allah paling tahu, isi hati yang terkunci dan yang hilang kuncinya. Allah bisa membukanya dengan cepat. Bismillahirrahmannirrahim...


Semoga tidak akan ada Dina-Dina yang lain, yang senasib. 

Semoga pilihan, tidak akan lagi membingungkan. Dan semoga pilihan, adalah jawaban, bukan pembingungan. Selamat, buat manusia yang diciptakan bisa dengan mudah memilih, hargai itu, kalian hebat :-)

"Allahumma yassir wala tu'assir. Rabbi tammim bilkhoir. Birohmatikaya Arhamarrohimin."

Tuesday, May 21, 2013

3 Bungkus Kacang Bali


Bulan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, aku hanya bisa melihatmu dari senyum yang tidak bisa bergerak. Di layar LCD itu, senyum itu pun melihat balik ke arahku. Aku berkata, “Senyummu manis...”, tapi itu tidak membuat senyummu bergerak juga. Mata itu memandangku balik, setidaknya aku senang. Dengan duduk diam di sini, aku selalu melihat senyum yang sama. Dan setidaknya dengan begini, aku tidak pernah melihatmu tidak tersenyum. Dari foto itu.

Selama ini, aku hanya bisa menyampaikan pesan lewat gelombang-gelombang transversal. Menyampaikan emosi lewat jari-jemariku. Mengadu padamu saat aku ingin manja seperti wanita-wanita lain di luar sana pada prianya. Memelukmu lewat lagu-lagu itu. Namun aku hanya bisa menitipkan rindu pada sujudku, pada Tuhanku, energi terbesar yang kita semua puji dan sebut sejak masih kecil. Karena aku percaya, hanya Tuhan yang menyampaikan rinduku sampai selamat di telingamu, tanpa berkurang satu pun kata, bukan lewat Facebook, “Aku rindu kamu, pulanglah...”.

Saat aku mulai ragu, aku tidak ingin mendengar kata apa pun yang ke luar dari mulut mereka. Aku hanya percaya satu makhluk, yaitu kamu. Kamu yang berkata aku tidak boleh menunggumu pulang, kamu juga tidak pernah berjanji untuk pulang, bahkan di saat aku sedang meniup lilin ke-19, kamu tidak juga pulang. Kenapa kamu tidak mencari penggantiku saja, kenapa kamu tetap memilihku di antara jutaan wanita di Indonesia yang bisa kamu tunjuk. Bahkan, di Pulau Dewata sana sangat banyak wanita cantik. Kenapa kamu mengajariku menjadi lebih dewasa dengan cara ini, aku tidak mengerti. Dan kenapa di saat bibir-bibir yang lain mengecap kata “Sudah, tinggalkan saja dia!”, aku tetap bersikukuh dengan jawabanku untuk tetap mendeklarasikan diri bahwa aku milikmu dan tidak akan pergi hanya karena...jarak.

Aku berpikir lagi. Keras. Aku mengerti mengapa kamu tidak mengizinkanku untuk berharap kamu pulang. Kamu hanya tidak ingin aku kecewa. Kamu hanya tidak ingin aku sudah terlanjur berdandan cantik dari biasanya, memakai rok, memakai bedak, lipstick, parfum, dan memikirkan percakapan apa yang nantinya akan aku lontarkan di depanmu, namun kamu hanya mempunyai waktu tidak lebih dari 5 menit untuk bertemu denganku.

Kemarin, di tempat itu...tempat yang tidak romantis. Kurang dari 5 menit. Sampai aku belum sempat menata jantungku yang masih berdebar karena ini kali pertama kau akan bertemu denganku sejak pertemuan terakhir kita lima bulan yang lalu, aku bersyukur. Setidaknya walau pertemuan ini tidak berarti apa-apa dan hanya sempat mengucap beberapa kali “Hai...” tanpa sempat mengucap yang lebih, kamu bisa baca mataku, mata yang mengucapkan “Aku rindu kamu...lebih lama lah di sini... Aku ingin bercerita. Dan aku hanya ingin mengatakan, rasa itu tetap sama sampai kapan pun. Aku tidak mau menunggumu. Tapi aku selalu di sini, sampai kamu pulang pun, aku tetap di sini. Tanpa ada nama lain yang mengisi. Hanya kamu...”.



Dan bonus lain yang aku dapatkan, yang tidak orang lain dapatkan hanya dengan lima menit saja. Setidaknya aku sempat mengecup tangan wanita yang melahirkanmu, dia sangat cantik. Serta aku sangat terkejut membuka bingkisan mungil itu. Kamu paling tahu, obat rindu apa yang paling ampuh buatku. Terima kasih, kamu membawakan makanan kesukaanku walau aku tidak pernah bilang kamu harus membawanya ke mari, kemarin. Aku akan mengunyahnya, dan merasakan tiap butir yang mengandung rindumu ini. Lewat manis, gurih, dan asin di setiap butirnya, aku bisa merasakan betapa kamu mencintaiku dengan dewasa. Betapa kamu merindukanku juga secara profesional. Dan betapa kamu menjadi sangat spesial buatku walau aku tidak bisa ke bioskop bersamamu sekarang, tidak bisa naik bianglala setiap minggu, tidak bisa ke Taman Safari di saat liburan, tidak bisa fotobox berdua dan dijadikan foto profil di jejaring sosial. Namun, dari caramu menahan jariku saat bersalaman dan berpisah denganku untuk melanjutkan tugas yang menantimu di depan sana kemarin, aku semakin percaya, bahwa kamu akan kembali lebih cepat dari perkiraanmu untuk mengobati rindu yang sudah semakin tebal seperti bola salju yang meluncur.

Terima kasih telah datang dan membawakanku makanan kesukaanku...


"Andai bulan kan mengerti, 
andai bintang kan pahami, 
sampaikan kesunyian, 
sampaikan kerinduan 

di remang langit pagi 
berharap hal yg tak pasti 
hanya bisa menanti dan menanti, 

Salam sayang dariku untukmu yg terkasih..."

-Sincerely, Yours-
For Endra, who lives in 177,09045 miles apart from Aida.


Saturday, July 28, 2012

My Friend, My Inspiration

Hai, peeps! Posting kali ini aku dedikasikan buat orang-orang yang udah menginspirasiku. Dan dengan di-publish-kannya entri ini, resmi pula tag “inspiration” nempel di blog-ku. Setelah dulu aku bercerita tentang temanku yang bernama Mia, kali ini aku bakal kasih beberapa cerita tentang sahabatku bernama Tajuddin.

Muhammad Tajuddin Zain. Seperti Nabi Muhammad, orang-orang bernama Muhammad rata-rata memang, percaya atau tidak, sedikit banyak memberi inspirasi buatku. Dia biasa dipanggil Taju, Taj. Udin, atau Didin. Tapi dia lebih suka dipanggil dengan sebutan yang berakhiran “Din”, karena “Din” dalam Bahasa Arab artinya agama. Dia lahir di Surabaya, 15 Februari 1995, lebih muda setahun dari aku dan teman-teman kelasku waktu SMA dulu. Bahkan, dia terpaut 2 tahun dari siswa tertua di kelasku (emmm emmm maksudnya paling dewasa ya, ngga enak banget juga dibilang tertua :-D). Tapi kalo diliat dari luar, orang bakal ngira kalo dia lebih dewasa dari umurnya. Dia tinggi besar, wajahnya dewasa, dan kekakak-kakakan walau nyatanya kadang masih kekanak-kanakan.

Dulu, Didin anak baru, pindahan dari Kalimantan waktu kami kelas 11. Dia pendiam sekali waktu itu. Duduk di depan tanpa sering melihat ke belakang. Maklum, anak sesupel dia pun ternyata bisa kena sindrom “anak baru” yang malu-malu kucing. Aku bisa ngerti soalnya aku dulu juga pernah jadi anak pindahan waktu SD. Apalagi hidupnya nomaden. Dari Surabaya, Bandung, Balikpapan, Samarinda, di mana saja, aku sampai lupa. Dia duduk sebangku dengan Akbar yang juga anak pindahan. Cukup tau sajalah dia anak baru dan aku tau namanya dari daftar presensi kelas karena waktu itu aku jadi sekretaris kelas, dan aku ga tau panggilan dia apa. Aku tidak mengenalnya dan aku keburu meninggalkan kelas 1 bulan untuk operasi skoliosisku di Purwokerto. Malam sebelum aku operasi, dia menyapaku di chat Facebook dan memberikan ucapan “Good luck buat operasi skoliosismu”. Sejak saat itu aku tahu, panggilannya Tajuddin.

Dia tidak terlalu pintar, tapi dia cerdas. Wawasannya cukup luas dan enak diajak berdebat. Tiap guru melontarkan pendapat, dia ikut berpendapat. Tiap kali diberi kesempatan bertanya, tangannya tidak pernah absen. Apalagi soal agama. Dia sangat suka ilmu agama. Buat dia, Islam itu bukan main-main. Bahkan dia selalu mengingatkan teman-teman dengan SMS tausiyah yang ia dapatkan dari Aa Gym. Dia sering sekali menasihati anak perempuan di kelas untuk menutup aurat mereka. Dan ada satu pesen dari dia yang aku inget sampe sekarang, “Aneh ya rek, orang yang selalu solat 5 waktu kok mesti diheranin, dibilang rajin solat. Padahal, solat itu kewajiban, ga masalah rajin engganya. ga mandang buat siapa pun selama dia Islam. Kudunya, orang yang ga pernah solat itu yang diheranin, kenapa mereka males solat,”.

Dia tidak terlalu disiplin, tapi tidak nakal. Dia usil, tapi sentimentil. Jangan ditanya, kalo ngomongin hal yang nyenggol hati dikit, dia langsung ingat. Ingatannya kuat banget. Bahkan dia yang ngingetin aku buat nge-post entri ini padahal aku udah janji dari berbulan-bulan yang lalu, hihi. Dan dia suka mikir sampe kayak orang lagi ngerjain soal essay Fisika. Kalo ditanya siapa orang yang paling sentimentil di kelas, kalo cewek itu mungkin aku peringkat duanya. Tapi kalo cowok, Didin peringkat satunya. Aku akui. Pernah dulu aku salah ngomong sama dia. Aku anggep biasa dan selesai begitu saja dengan kata maaf. Tapi buat Didin beda. Maaf itu ngga sekedar kata-kata. Sudah dibilang. Jangan coba-coba deh cari masalah sama anak yang kritis. Soalnya, dia ga mau gitu aja instan nerima sesuatu. Bahkan buat kata maaf pun, kita harus bener-bener ngeyakinin dia, dengan alasan yang logis dan bikin dia tenang dan yakin kalo itu kata maaf yang sesungguhnya, hihihi ya kan, Din?

Bicara soal first impression, dia jagonya. Tanya saja pada semua cewek di sekolah. Terutama cewek yang mengutamakan kharisma. Didin memang ngga terlalu ganteng. Tapi rata-rata cewek bilang dia manis. Hitam manis mungkin tepatnya. Dia jago banget kalo urusan seni. Dia jago main gitar. Dia belajar gitar dari kelas 5 SD. Dan aku berhutang main drum di depan dia sampe sekarang, hahaha. Suaranya juga merdu banget. Bahkan bisa bikin cewek-cewek meleleh tiap dia nyanyi. Aku punya satu rekaman pas aku, dia, dan Ridho lagi iseng-iseng nyanyi di rumahku. Rasanya malu banget suaraku yang cempreng ga karuan kayak Minnie Mouse kecepit ini disandingin sama penyanyi sekelas Ipang kayak dia.

Didin (kanan) sama Mahmud waktu di Festival Teater dan Musik Stetsa 2011

Ngga cuman seni musik, dia juga jago banget kalo masalah seni rupa. Desain perspektifnya tiap di kelas seni sering banget dipuji sama Pak Joko. Dan menurutku, dia orang keempat setelah Mahmud, Ressy, dan Radea yang gambarnya paling sering dipuji. Pernah juga dia memberiku hadiah ulang tahun sebuah sketsa wajahku.

Dan sebuah guntingan siluet wajahku. Beruntungnya aku, aku adalah orang pertama yang dikasih karya siluet pertamanya Didin! Hahaha :-D

Dia juga suka banget sama fotografi, kalian bisa intip di site khusus hasil fotonya, cuman site-nya lama ngga dirawat nih kayaknya.

Ngga cuman itu, dia juga jago akting lho! Aku memang ngga terlalu jago akting. Tapi aku menghabiskan masa kanak-kanak dan remajaku dengan menulis buku cerita, novel, blog, mengikuti kelas akting, teater, membuat film, atau apa pun yang berhubungan dengan seni peran. Nah, tiap ada kegiatan yang berhubungan dengan teater di sekolah, sayang banget kalo aku ngga ngajak si Didin. Soalnya, orang yang jago akting ato engga itu, potensinya bisa diliat dari gesture-nya saja. Dan aku memang tidak salah sudah 2 kali menjadikan dia peran utama di 2 judul drama yang pernah aku lombakan di sekolah. Dan 2 kali pula kelas kami menjadi juara!


Didin waktu di Stetsa Art Festival


Waktu praktik drama kelas

Buat ukuran anak baru, Didin tergolong anak yang gampang banget bergaul. Bahkan dia jarang banget absen kalo main sama anak sekelas. Ga jarang juga kadang dia yang punya ide duluan buat ngajak main anak sekelas. Bahkan saking supelnya, dia juga udah akrab banget sama kakak-kakak kelas dan punya komunitas parkour kecil-kecilan di sekolah. (Jadi kalo liat orang loncat-loncat genteng di sekolah itu bukan ninja atau bajing lompat, tapi anak-anak parkour di sekolah kami :-D). Nama komunitas itu Lepast, Le Parkour Stetsa.

Hayooo, kalo diuraikan kelebihan-kelebihannya Didin, cewek mana coba yang engga minat sama dia? “Kharismanya itu lho!”, ucap salah satu temanku yang pernah naksir sama dia. Uniknya, dia anti pacaran. “Aku ga mau pacaran sebelum aku bisa kerja dan siap, rek. Buat apa pacaran kalo masih pake duit orang tua”. Alasannya mungkin tidak terlalu berdalil naqli. Tapi dia bisa membuat kita mengangguk dengan dalil aqli-nya.

Tapi, pernah kan dulu aku bilang di blog-ku? “Kamu bisa saja menghindar dari truk besar di jalan raya, tapi kamu tidak bisa menghindar dari debu yang tidak kelihatan. Apalagi kamu sudah besar”. Itulah cinta. Bahkan buat orang semacam Didin yang aku kira kotak cintanya ditabung di bank cinta pun bisa jatuh cinta. Ga ada yang bisa ngehindar dari cinta, ya kan? Didin pernah suka sama salah satu teman kelas kami. Ternyata dia juga manusia, kan? (Awalnya aku kira Didin itu alien). Kalo masalah yang ini tanya Didin aja deh ya, soalnya jurnalistik pun juga punya kode etik, ga boleh asal ngumbar privasi orang, ya ;-) (ditujukan buat semua infotaiment di dunia yang pernah ada).

Sebenernya masih banyak banget yang bisa aku ceritain dari sahabatku yang satu ini. Saking banyaknya, mungkin sampe aku punya anak-cucu pun ngga bakal kelar deh masa SMA sama temen-temenku kalo diceritain. Ngga kerasa banget, kayaknya baru kemarin aku kenal Didin. Baru kemarin aku kenal teman-teman dan merasakan kebersamaan SMA yang indah banget, yang emang bener kata orang-orang tua zaman dulu, “Masa SMA adalah masa yang paling indah”. Ga salah kalo banyak banget lagu yang judulnya berembel-embel SMA. Sungguh, aku ingin rasanya balik ke masa SMA.

Inspirasi yang bisa aku dapetin dari Didin, aku musti belajar banyak sama dia tentang ilmu adaptasi yang ga semua orang bisa. Soalnya orang tuaku bukan orang asli Malang. Butuh waktu lama bahkan buat sekedar beradaptasi dengan tetangga, itu juga yang bikin aku agak “anak rumahan” setelah aku pindah SD ke kota. SMP pun aku masih belum bisa beradaptasi karena tidak banyak teman SD-ku yang se-SMP. Waktu SMA, aku dimanjakan dengan banyaknya teman SMP di SMA-ku. Dan sekarang, aku diberi kesempatan mencoba sama Allah untuk benar-benar beradaptasi dengan kampus baruku yang tidak satu pun anak SMA-ku yang masuk jurusanku. Maklum, semua temanku rata-rata masuk Universitas Brawijaya yang notabene memang dipersiapkan buat putra-putri Kota Malang. Sedangkan di Universitas Negeri Malang, aku bakal dapet banyak pengalaman dari teman-teman dari daerah mana pun di Indonesia, aku akan mencoba J

Kedua, dia menginspirasiku sebagai sama-sama pecinta seni. Dari dia, aku bisa belajar kalo dunia itu ngga terbatas. Apa yang pengen kita lakuin, kita lakuin aja. Kita pengen jadi penyanyi, penari, aktor, pelawak, apa pun itu, jangan cuman sekedar pengen. Tapi, tiap ada kesempatan, cobalah. Engga usah peduli gagal atau pun belum bisa. Itu hanya bonus. Dari dia, aku belajar kalo orang istimewa itu bukan cuman sekedar pintar di akademik. Tapi pengembangan otak kanan juga dibutuhin. Seimbang. Setidaknya, aku bisa belajar banyak bukan buat jadi “seorang ahli seni”. Tapi sebagai seseorang yang “sudah pernah berani mencoba”.

Ketiga, aku belajar dari dia. Sejauh mana pun kebebasan kita, kita harus ingat apa yang menjadi pedoman kita. Dan kita engga boleh lupa sama Sang Pencipta di mana pun kita berada.

Paragraf terakhir dari posting ini aku tulis saat aku sudah menerima kabar baik bahwa Didin sudah diterima melalui jalur Seleksi Penelusuran Minat dan Bakat Universitas Brawijaya program pendidikan Teknik Bioproses. Selamat, Din...walau pun kamu engga masuk Pendidikan Dokter seperti yang kamu inginkan, mungkin Allah punya rencana baik lain yang kamu butuhin, dan kamu bisa jadi “dokter” di bidang lain. Oh iya, di mana pun kamu nanti, entah itu di Malang, luar Malang, luar Jawa, luar Indonesia, bahkan Jerman seperti yang kamu impikan, jangan lupain aku sebagai sahabat yang pernah berjuang bersama di masa remajamu ya, aku tunggu kabar baikmu dan kabar baik semua sahabatku. Thanks friends, you have inspired me. You are inspiring me. You inspire me. You will always inspire me J

Aku tunggu kabar dari semua temanku dan nanti waktu kita udah gede kita bisa bilang, "Itu dia, iya, dia yang sukses itu teman lamaku!".

Contact him on:

Twitter or Blog or Facebook.

Monday, December 19, 2011

Mia Si Kecil

Blogger, kali ini aku bakal nulis sesuatu yang bisa dibilang special edition, nih. Aku mau bercerita tentang salah satu teman sekelasku. Panggil saja Mia. Nama lengkapnya Mia Permatasari Putri. Siapa sih yang tidak kenal dengan Mia? Makanya, sekarang aku mau cerita tentang Mia, nih. Mari memulai.

Postingan ini aku buat sesuai pesanan lho ya, Mi, jadi kurang dan lebihnya dibayar 'maaf', ya... Mia adalah temannya Dini, saudara kembarku, saat masih SMP dulu. Dini dan aku sering bertukar cerita tentang teman masing-masing tiap pulang sekolah. Salah satunya Mia. Makanya, waktu awal aku masuk SMA 4, aku sangat familiar dengan wajah Mia, karena aku sudah sering melihat wajahnya di Friendster. Walaupun aku tidak kenal dengan Mia, aku senyum kepadanya. Mungkin dia akan berpikir, "Ini anak udah ngga kenal, senyam-senyum, mana mukanya mirip Dini pula" :-D

Ini nih si Mia...cantik, bukan?

Mencari Mia mudah, kok. Cari saja cewek yang berkacamata dengan rambut lebih panjang dari bahu. Tentu saja susah jika hanya itu petunjuknya. Nah, ini yang jadi ciri lainnya. Mia sering dipanggil oleh teman-temanku Micil, Mia Kecil. Mungkin karena badannya yang mungil dan bikin gemas teman-temanku seperti Ridho, dkk. Justru karena dia mungil itu, dia selalu jadi sasaran usil anak-anak di kelas. Mia juga unik. Entah kenapa, kesan awal bertemu dengan dia akan jauh berbeda dengan kesan setelah mengenalnya. Jika baru kenal, pasti kalian akan berpikir dia sangat jutek, karena memang wajahnya serius. Tapi, setelah kenal, kalian akan tidak habis pikir dengan imajinasinya yang segudang, dan hal yang seharusnya tidak lucu, tabu, dan tidak layak ditertawakan menjadi layak dan patut untuk ditertawakan. Bahkan kata temanku, dia dijuluki Ibu Cekakak'an saat masih kelas 1o dulu di kelasnya karena dia suka cekakak-cekikik tidak ada habisnya. Apalagi saat bergabung dengan Radea dan Pipit, dunia ini akan jadi panggung srimulat.

Mia adalah bagian dari masa lalu Sony. Hah? Apa? Sony? Sony yang itu? Yang itu??? Iya, yang itu, haha. Awal aku masuk kelas 11, aku kaget saat sekelas dengan Mia. Aku merasa sungkan karena aku waktu itu pacarnya Sony. Entah kenapa aku sungkan, padahal aku tidak tahu aku sungkan untuk apa. Mungkin aku takut aku dibandingkan dengannya, seperti yang biasa orang lakukan terhadap si pacar dan si mantan. Mia rajin sekali orangnya. Cerdas. Kreatif. Atraktif. Sedangkan aku, aku sangat pendiam. Tidak rajin. Tidak cerdas, hanya sedikit dianggap pintar. Dan sangat kriuk-kriuk garing tidak bisa berhumor. Namun, asal kalian tahu, itu yang membuatku berlomba untuk membuktikan pada Sony, bahwa aku juga bisa seperti Mia :-D

Aku jadi penasaran dengan hasil ulangan Mia tiap ulangan dibagikan. Aku jadi takut jika nilaiku ada di bawahnya. Aku jadi tidak mau kalah tiap PR-nya selesai duluan. Haha, aku jadi ingin tertawa mengingat kelucuanku. Kamu pasti ga habis pikir ya, Mi. Akhirnya setelah beberapa lama, baru setelah aku tidak dengan Sony lagi, aku baru bisa berani membahas tentang Sony dengan Mia. Ternyata kisah kami lucu-lucu. Rasa sungkanku yang dulu jadi hilang sekarang.

Mia juga punya keahlian lain selain rajin mengerjakan PR. Dia suka cheer-leading karena memang dia sangat ceria.



Satu yang aku kagum juga dari Mia, dia konsisten dengan cita-citanya menjadi akuntan di bank, sama seperti mama, papa, dan kakaknya. Jangan salah saat pelajaran matematika, fisika, kimia, dan pelajaran yang menggunakan teknik seperti arsitektur pun dia hampir sempurna. Selain teknik, Mia juga punya cara menggambar yang unik dan gambarnya selalu lucu walaupun terkesan sedikit kekanak-kanakan. Dia bahkan tidak pernah menunjukkan air matanya meskipun dia bilang dia sedang galau di Twitter-nya. Beda sekali denganku yang mencium bau uang saja sudah tidak suka, apalagi menghitung uang dan bermain logika angka, menangis waktu aku rasa ada yang tidak nyaman. Semoga Mia bisa menjadi salah satu kontributor Indonesia di bidang keuangan nantinya, amin...

Nah, aku udah cerita beberapa tentang Mia, bukan? Sekarang aku mau kasih saran sama Mia, nih. Mi, lebih sering kumpul sama anak-anak, ya, habis gini kan kita udah lulus, bakal sibuk sendiri-sendiri, jadi...1 kehadiran anggota IPA 3 aja berarti banget buat kita, oke-oke? Sekian postingan-ku kali ini, udah hampir jam 10 malam, aku musti istirahat karena besok harus remidi PKn. Ciaooooo, blogger! ;-)

Photos: Mia's Facebook Profile Pictures

Tuesday, November 29, 2011

Ibu Kedua

25 November 2011

"Terpujilah wahai engkau, ibu, bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku...

'Hernawati'. Begitulah satu kata yang beliau tulis di papan saat awal berkenalan dengan kami. Lalu, beliau mulai memberi garis pada dua suku kata yang ada di tengah kata itu. 'Erna'. Lalu beliau mulai mengutip lagu "Berkibarlah Bendera Negeriku" dengan mengganti satu kata menjadi "...bendera Stetsaku". Begitulah beliau akrab disapa, Bu Erna. Saat ada bersama beliau, kami memang selalu memanggilnya Bu Erna. Tapi, jika di luar kelas, kami lebih suka memanggil dengan sebutan Mam Er. Jika kalian belum mengenalnya, bahkan hanya mengenalnya sekedar dari cuap-cuap atau mulut ke mulut orang yang hanya bisa sekedar berasumsi tanpa mengalami, pasti kalian akan berpikir negatif tentang beliau. Entah mengapa sebagian besar murid di sekolahku selalu takut dan lebih memilih jalan pintas untuk menghindar jika berpapasan dengan beliau. Demikian pula aku. Awalnya, aku seperti itu. Tapi ternyata, aku salah besar. Ada makna di balik senyum Mam Er.

Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku 'tuk pengabdianmu

Memang. Jika kalian belum mengenal beliau, kalian pasti menganggap beliau orang yang jutek. Sekali. Bahkan, kalian bisa saja menganggap beliau banyak maunya, sok disiplin, bahkan jahat. Tapi kalian salah. Aku juga awalnya salah. Namun, aku telah menemukan jawabannya sendiri. Beliau tidak jutek. Beliau hanya ingin menunjukkan pada kita, bahwa seorang guru, seorang ibu, juga harus menjadi seorang teman. Namun, sikap yang beliau tunjukkan mungkin akan terlihat jutek dan terkesan jaga image. Tapi, itu semua hanya untuk mengajari kita, bahwa walaupun orang tua adalah teman, tapi kita ingat, bahwa ada tirai pembatas yang semu namun tetap harus dijunjung tinggi, yaitu rasa hormat. Beliau memang banyak maunya. Tapi, itu adalah tuntutan, acuan untuk kita agar kita optimis dan bisa membuktikan pada beliau, bahkan pada khalayak bahwa kita memang bisa memenuhi tuntutan itu. Beliau memang disiplin. Beliau dibesarkan di lingkungan militer, karena notabene sejak kecil dididik oleh seorang ayah yang berprofesi sebagai tentara. Namun, itu yang aku suka. Lihat, saat pelajaran beliau, mana ada yang bajunya tidak rapi. Seragamnya tidak beratribut lengkap. Buku tidak rapi. Dan semua serba on time! Beliau tidak hanya sekedar mengajar, namun juga mendidik. Bahkan, sebagian besar waktu pada jam pelajaran, beliau gunakan untuk mendidik kami, bukan mengajar kami.

Siapa lagi guru yang mau turun langsung ke lapangan saat praktik drama, membenahi blocking kami, bahkan sampai beliau lupa memakai kembali alas kakinya.

Beliau bahkan tidak peduli apa kata orang nanti, beliau tetap ingin mengajar kami. Bahkan saat beliau sakit, beliau tetap memaksakan diri.

Aku suka cara mengajar beliau. Kami tidak hanya dituntut pintar menyelesaikan soal. Tapi juga life-skill kami benar-benar diasah tiap pelajaran beliau. Aku suka, karena di sini kami tidak hanya sekadar membaca. Tapi juga menulis, mengarang, bernyanyi, berakting, berpuisi, dan kami jadi tahu, kami memang bisa itu. Beliau juga selalu memberi alasan yang tepat terhadap permasalahan dalam soal. Jadi, kami tidak pernah ragu jika beliau mencetuskan satu jawaban. Dan siapa lagi, guru yang mengarangkan sebuah puisi secara cepat di hari ulang tahun salah seorang dari kami...dan aku ditugaskan untuk membacakannya di depan kelas, sungguh suatu kehormatan.

Beliau juga tidak lupa mengajari kami caranya berbagi. Di akhir tahun ajarannya waktu kami masih kelas 11 kemarin, ia mengajarkan kami berbagi dengan cara bertukar kado satu kelas. Beliau juga tidak lupa untuk memberi sebuah kado pada dua orang temanku, Amal dan Dias, saat mereka berulang tahun. Di saat kami belum bisa memberi, beliau sudah selalu di depan untuk memberi. Siapa lagi guru yang seperti ini?


Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Hari-hari yang kami lalui dengan beliau memang terasa sangat menegangkan. Kami harus selalu berlari-lari satu kelas tiap perpindahan pelajaran ke pelajaran Bahasa Indonesia, karena sekolah kami memiliki sistem moving setiap pelajaran, hanya untuk mendapatkan tempat paling aman agar tidak tegang saat beliau sedang sedikit tegas. Tapi, justru itulah serunya. Jangan pernah mengaku sekolah di SMAN 4 Malang kalau belum mengalami hal ini, hehe.

Beliau suka sekali foto dengan kami. Beliau juga mengajari kami rasa hormat tidak hanya di depan beliau saja. Dan tidak hanya dengan beliau saja. Saat kami menyapa dan bersalaman dengan beliau, beliau juga selalu mengingatkan agar kami tidak lupa juga bersalaman dan menyapa guru yang lain, terutama yang ada di sebelah beliau saat kami bertemu di jalan. Dan siapa lagi guru yang memelukku dan memberi dua kecupan di pipi kanan dan kiri, beberapa hari sebelum aku berangkat ke Purwokerto untuk operasi skoliosisku? Lalu beliau mulai memanggil guru yang lain untuk memberiku semangat sebelum aku tidur di meja operasi.



Beliau selalu menyatukan kami dengan foto-foto ini. Dan momen-momen ini.

Beliau tidak peduli saat rata-rata guru membawa sepeda motor atau bahkan mobil ke sekolah. Beliau rasa cukup dengan angkutan umum yang setiap hari tidak pernah lupa untuk mengantar-jemput beliau. Bahkan, saat beliau satu angkutan dengan temanku, Abi, dan tas Abi tertinggal di angkot, beliau juga yang membawakannya.

Begitulah beberapa kisah yang mungkin bisa menjadi salah satu inspirasiku dalam hidup. Terkadang, saat kita bisa memberi, dan itu cukup, kita tidak perlu berandai-andai akan mendapat balasan apa. Mereka adalah guru kita. Mereka ada di sekitar kita. Tak perlu jauh-jauh untuk mencari orang yang bisa disanjung. Mereka tidak butuh apa-apa. Tidak butuh pujian bahkan sekali pun itu hanya diingat, mereka tidak berharap demikian. Gaji mereka satu bulan, tidak sebanding dengan keringat mereka mendidik kita semua. Bukan hanya mengajar. Jasa mereka tidak bisa diukur. Yang mengajariku menulis dari nol. Yang mengajariku membaca dari nol. Yang mengajariku menjadi sampai sejauh ini, sampai aku bisa menulis sebanyak ini, padahal dulu, aku baru bisa membaca ketika kelas 1 SD, beda dengan teman-temanku yang sudah fasih sejak TK.

Bu, Pak, ketika besar nanti, aku juga ingin menjadi seperti kalian. Tidak peduli teman-temanku akan menjadi dokter, akuntan, arsitek, insinyur, bahkan jutawan sekali pun, cita-citaku masih tetap sama, guru. Tidak peduli seberapa besar gaji yang akan aku dapat, aku ingin bisa mendidik dan mengajar. Tidak peduli salah satu temanku menertawakanku dengan "gaya mengajar murid TK" yang menurutku ia lebih mirip dengan "orang yang kehilangan akal" saat aku mengatakan, "Aku ingin jadi guru", aku masih tetap sama.

Selamat hari guru, tetaplah menjadi seorang guru, guru!

Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa..."