Followers
Monday, May 22, 2017
Sawang Sinawang
Friday, June 13, 2014
Kalian Membuat Saya Tetap Menulis
Eits, jangan bosan dulu. Inshaa Allah apa yang akan saya ceritakan ini akan membuat temen-temen semua berubah pandangan bahwa menulis itu tidak membosankan! Percaya deh ;)
Nah, kenapa saya suka menulis? Gini awalnya. Saya adalah seseorang yang dilahirkan bukan dari seorang keluarga yang mencintai dunia sastra. Tidak seperti kebanyakan anak-anak yang selalu diberi dongeng sebelum tidur, dari kecil saya hanya sering dibelikan buku cerita oleh ibu dan bapak. Selebihnya, saya dibiasakan untuk mencoba membaca sendiri, yang akhirnya berujung saya berimajinasi saja dengan gambarnya, tidak mencoba membaca tulisannya. Saya pun baru lancar membaca saat hampir naik kelas 2 SD. Sangat terlambat sekali untuk kemampuan yang lazim dicapai anak usia TK. Itu yang menyebabkan saya kurang bisa berbahasa lisan dengan baik pada saat kecil. Saya terbiasa menggunakan bahasa ibu, yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang saya gunakan pun bukan bahasa yang halus, karena notabene saya tinggal di Malang, jadi terbiasa menggunakan bahasa Jawa ngoko (bahasa kasar). Itulah alasannya kenapa saya agak terbata-bata untuk berbahasa Indonesia lisan dengan baik dan benar sampai sekarang. Bisa dicoba deh bicara ama saya, hehehehehehehe.
Alasan lain yang menjadikan saya komunikator yang kurang baik adalah saya terbiasa mempunyai saudara kembar sejak lahir. Dini namanya. Sudah pada tahu, kan? Yang udah pernah baca blog ini pasti tahu, hehehehe (lagu-lagi ke-pede-an). Yak. Jadi, hampir semua masalah saya dan masalahnya si Dini pasti kita share berdua saja. Kami tidak pernah menceritakan masalah pribadi kepada orang tua maupun kedua kakak kami. Masalah teman yang nakal, masalah kegalauan ujian, masalah universitas mana yang akan kami masuki, bahkan masalah percintaan. Sampai sekarang, belum ada teman curhat yang bisa mengalahkan si Dini. Walaupun terkadang di tengah curhat malah kita berdebat dan akhirnya bertengkar, hehe.
Ketiga (ga nyebutin kedua, kok ada ketiga ya), sudah pada tau kan saya skoliosis? Nah, sejak saya mulai sadar bahwa skoliosis membuat saya semakin minder, saya menjadi seseorang yang super duper ekstra ultra tertutup. Sifat introvert ini yang membuat saya akhirnya menuangkan semua yang saya pikirkan di dalam sebuah tulisan (selain karena film kartun Hamtaro yang suka bikin saya ikut-ikutan nulis diary sebelum tidur, hihi).
Saya tidak tahu pasti kapan mulai suka nulis. Yang saya tahu, sejak kelas 2 SD, saya suka menulis semua kegiatan saya yang saya rangkum di dalam sebuah buku yang saya sebut "orji". Kemarin waktu bersih-bersih kamar, saya menemukannya dan membacanya ulang. Hihi, tertawa sendiri membacanya. Mulai dari kata-kata yang membuat saya malu dan tidak mau mengaku bahwa itu dulu tulisan saya. "Hari ini aku sebel. Aku ulang tahun, tapi tidak ada yang memberi kado. Semua jahat kecuali Evi sama Indah yang mau kasih kado". Masalah klasik yang terjadi di usia itu, kan? :D. Ada lagi yang seperti ini, "Aku tidak suka sama semua orang. Semua jahat. Temen-temen suka pamer barang barunya! Aku benci!". Ahahahahaha, tidak berhenti ngakak kalo baca hal seperti itu.
Lalu saya juga menemukan buku diary saya waktu SMP. Mulai kelas 7, saya mulai mengenal yang namanya cinta. Di dalam diary saya banyak sekali foto laki-laki yang saya suka, hehehehe. Saya ingat dulu "mencuri" foto itu dari Friendster. Saat SMP, saya juga punya buku diary geng. Jadi, setiap satu minggu sekali, kami bertukar diary dan saling menulis di buku milik teman, hihi.
![]() |
| Ini nih kumpulan buku curhatan alias diary dari SD sampai kuliah |
Mulai kelas 9 saya ikut-ikutan kedua kakak saya yang suka nulis blog juga. Namun sayang, mereka tidak meneruskan hobinya tersebut hingga sekarang. Dari situlah awal mula saya meninggalkan diary dan mulai suka nulis di blog, hihi. Kalo flashback baca mulai 2009, geli juga bacanya, Hihihihihihihihi *ketawa ala Kunti*. Yaaaaa, namanya juga remaja, semua tulisan saya ga jauh dari tema cinta, galau, dan persahabatan.
Dari situlah saya mulai sukaaaa sekali menulis cerita, puisi, drama, atau sekedar quote kurang bermutu, ekekkek.
| Novel yang saya tulis saat SMP |
| Teks drama saya sempat dipentaskan di salah satu lomba drama di sekolah dan juara 2 lhoooh, hehe |
1. Ide cerita yang mengalir
Tidak perlu bingung menentukan ide cerita apa yang akan kamu wujudkan dalam sebuah tulisan. Apa yang kamu ingin tulis, tulis saja. Lebih pekalah dengan sekitar. Misalnya seketika kamu pengen nulis pengalaman abis jalan-jalan ke pantai, tapi belum ada mood buat nulis, tulis saja ide cerita itu di sebuah waiting list. Atau biasanya aku nih, kalo lagi males, nulis dikit, trus berakhir jadi draft doang, hehehe...jangan ditiru.
Tidak usah muluk-muluk membuat cerita. Dua ekor semut yang lewat di samping tempat tidurmu yang kemudian bersalaman saja bisa jadi cerita. Semuanya asal kamu peka ;-)
2. Tentukan tujuan penulisan
Setiap orang melakukan sesuatu pasti ada tujuannya. Nah, kalau kalian menulis untuk memberikan bacaan yang informatif, tulislah sesuai dengan inti pesan yang ingin kalian sampaikan. Misalnya, pengen nulis tentang fotografi, fokuslah pada informasi soal fotografi, bukan hal lain. Kalo bercabang ngomongin hal lain, itu cuman intermezzo dan nggak bikin terkesan ada dua tema dalam satu tulisan. Itu kalo tulisan informatif. Kalo pengen persuasif, gunakan kalimat-kalimat yang terkesan mengajak secara halus tanpa ada kalimat-kalimat yang terkesan memaksa dan membohongi. Beda lagi kalo tulisan yang bertujuan untuk mengungkapkan isi hati. Tulisan ini biasanya lebih bebas dan terkesan tidak tertuju pada khalayak umum, tapi kepada satu atau beberapa pihak saja. Berikan kesan yang membuat pembacanya tahu bahwa kamu sedang menujukan tulisan itu kepada seseorang. *Bingung, ya? Saya juga bingung ama kata-kata saya*
3. Buatlah kerangka karangan
Mungkin bagian kedua ini bisa menjelaskan bagian pertama. Kalo ngga pengen topik bahasan kita ke mana-mana dan ngga terstruktur, buatlah kerangka karangan terlebih dahulu. Selain itu, kerangka karangan bisa menghindarkan dari informasi-informasi yang kadang terlewat buat dicantumkan. Tapi, kalo tipe tulisan yang bertujuan sekedar curhat (seperti kebanyakan tulisan saya), tidak masalah jika dituangkan secara langsung mengalir mengikuti emosi otak kepada tangan *tsaaaah*.
4. Gunakan bahasa yang mudah dipahami
Ragam bahasa menentukan pembaca tertarik atau tidak. Jika ingin ditulis menggunakan bahasa yang baku, boleh saja. Tapi, untuk menghindari kesan kaku, gunakanlah sentuhan-sentuhan bahasa sehari-hari, tapi jangan terlalu lebay dalam penggunaannya. Penggunaan emoticon sah-sah saja, asal jangan terlalu mengganggu estetika yah...hehe. Tidak perlu takut harus mengikuti Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Mainkan emosi pembaca. Misalnya seperti saya ini suka sekali menggunakan penekanan seperti ini:
Dia.
Dan aku.
Duduk bersama.
Berdua.
Berhadapan.
Bertatapan.
Saling berkata-kata.
Bedakan dengan bila ditulis seperti ini:
Dia dan aku, duduk bersama, berdua, berhadapan, bertatapan, dan saling berkata-kata.
Akan ada efek emosi yang berbeda. Tanda titik seakan-akan memotong di tengah jalan, dan memberi efek shocking pada setiap kata untuk menegaskan rima a a a a a a yang saya gunakan, ya kan?
5. Berikan judul yang menarik
Judul adalah kunci apakah pembaca memilih untuk membaca atau tidak. Judul yang menarik, bisa membuat pembaca penasaran. Judul bisa diambil dari konklusi cerita atau sebagian dari cerita kita yang menjadi point of view. Biasanya sih saya sok-sok-an menggunakan bahasa Inggris atau bahasa lain yang saya anggap menarik apabila judul dalam bahasa Indonesianya saya ngga nemu yang puitis, hehehehe
6. Berikan gambar-gambar ilustratif
Terkadang, kalo ada penjelasan kita yang kurang imajinatif, pembaca kesusahan untuk membayangkan. Berikan gambar-gambar ilustratif. Bikin aja gambar-gambar dari jepretan kamera handphone atau bikin oret-oretan sederhana kayak di posting-anku yang ini nih. Jika tidak bisa membuat foto sendiri, ambil saja dari internet. Eits, tapi jangan lupa, cantumkan sumbernya ya...kita berada di dunia jaringan yang serba mudah, tapi jangan lupa menghormati karya orang lain ;). Selain fungsi itu, gambar juga bikin tulisan kita ga terkesan monoton.
7. Cantumkan label terkait
Label atau tag dalam blog akan mempermudah penglasifikasian tulisan. Misalnya buat saja label sesuai tema tulisan. Kalau tulisan itu termasuk puisi, beri saja label puisi, atau poem (yang lebih universal). Misalnya tulisan tersebut tentang kesehatan, tentang cinta, dll. Selain itu, label juga mempermudah pencarian di Google dan mesin pencari lainnya. Kalo misalnya ada orang yang search dengan kata kunci poem, tulisanmu akan muncul juga lhoh...tapi tergantung seberapa populer atau banyak dibukanya halaman tulisan itu oleh orang.
8. Sunting tulisan sebelum di-publish
Sebelum di-publish, ada baiknya kita baca ulang tulisan. Perbaiki kata-kata yang salah, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman. Kita perlu berhati-hati dalam hal ini, karena manusia tempatnya salah, tidak menutup kemungkinan tulisan kita bisa menimbulkan efek negatif setelah membacanya, heheheheh naudzubillah, ya.
9. Promosikan tulisanmu
Aku pernah baca salah satu buku yang aku lupa judulnya. Ada satu kalimat menarik nih, "Penulis tanpa pembaca sama dengan pembuang sampah". Maksud dari kalimat ini adalah, percuma kita menulis sedemikian banyaknya kalo ga ada satu pun orang yang baca. Jadi, memromosikan tulisanmu itu perlu. Saya kira, media sosial sudah semakin mudah untuk share link sekarang. Promosikan blog kamu di Fb, Twitter, Instagram, Path, dll. Semakin banyak yang baca, akan semakin banyak yang menilai. Semakin berkembang juga penulisnya!
10. Be your self
Terakhir, yaaaaaang paaaaling penting. Just be true to your self! Seorang penulis hanyalah seorang pencundang apabila ia menulis untuk membohongi jati dirinya sendiri. Biarkan tangan dan otakmu bersinergi. Percayalah, tulisan yang membuat pembacanya merasa tulisan itu magis adalah pembaca yang menemukan jati diri penulis dalam tulisannya. J. K. Rowling memang menulis seorang tokoh Harry Potter. Tapi dia jujur untuk menggambarkan tokoh seperti apa si Harry sesuai dengan imajinasinya, bukan orang lain. Dewi Lestari menuliskan sesosok Kuggy yang seorang Aquarian, sama dengan dirinya. Tidak ada yang salah, kan?
Selain itu, jangan gunakan bahasa yang dipaksakan. Kalo emang ngga cocok pake elo, gue, ya ngga usah dipake, hehe. Kalo emang ngga suka pake bahasa yang baku, yang ngga usah dipake. Yang penting, jadilah natural dan tidak terkesan memaksakan.
Itu deh...tips-tips tipis menulis ala gueh gueh gueh, Dina Nisrina, seorang gadis blasteran Purwokerto-Banjarnegara, seorang mahasiswi Fakultas Sastra, seorang skolioser, seorang gadis yang punya kembaran, gadis biasa yang pengen jadi gak biasa yang mungkin bisa sedikit menjawab pertanyaan temen-temen yang bertanya biar blog bisa menarik dan punya follower banyak *padahal follower saya juga cuman 149*. Seneng banget rasanya cuman gara-gara tulisan curcol di blog ini, banyak temen dan sepupu yang bikin blog juga setelah baca, hehe terharu. Seneng juga kalo baca apresiasi temen-temen soal tulisan-tulisan di blog ini selama 5 tahun ke belakang. Jujur, niat awal bikin blog ini cuman pengen mindahin diary, hehe. Tapi ga tau kalo ternyata bisa nemuin temen baru, bisa share sama skolioser, bisa kasi info, bisa ngasilin duit juga, bisa jadi inspirasi. I feel so blessed, I'm thankful, guys!
Wednesday, July 10, 2013
Pertanyaan, Pilihan, dan Jawaban
Lho? Kenapa? Emang cita-citanya Dina apa?
Terus, kenapa pilih IPA?
Gimana ceritanya pas milih jurusan kuliah dulu?
Lantas, apa alasan ingin pindah jurusan?
Lalu, mengapa harus sastra?
Bagaimana hasil SBMPTN kemarin?
So...what’s next?
Tuesday, May 21, 2013
3 Bungkus Kacang Bali
Saturday, July 28, 2012
My Friend, My Inspiration
Hai, peeps! Posting kali ini aku dedikasikan buat orang-orang yang udah menginspirasiku. Dan dengan di-publish-kannya entri ini, resmi pula tag “inspiration” nempel di blog-ku. Setelah dulu aku bercerita tentang temanku yang bernama Mia, kali ini aku bakal kasih beberapa cerita tentang sahabatku bernama Tajuddin.

Muhammad Tajuddin Zain. Seperti Nabi Muhammad, orang-orang bernama Muhammad rata-rata memang, percaya atau tidak, sedikit banyak memberi inspirasi buatku. Dia biasa dipanggil Taju, Taj. Udin, atau Didin. Tapi dia lebih suka dipanggil dengan sebutan yang berakhiran “Din”, karena “Din” dalam Bahasa Arab artinya agama. Dia lahir di Surabaya, 15 Februari 1995, lebih muda setahun dari aku dan teman-teman kelasku waktu SMA dulu. Bahkan, dia terpaut 2 tahun dari siswa tertua di kelasku (emmm emmm maksudnya paling dewasa ya, ngga enak banget juga dibilang tertua :-D). Tapi kalo diliat dari luar, orang bakal ngira kalo dia lebih dewasa dari umurnya. Dia tinggi besar, wajahnya dewasa, dan kekakak-kakakan walau nyatanya kadang masih kekanak-kanakan.
Dulu, Didin anak baru, pindahan dari Kalimantan waktu kami kelas 11. Dia pendiam sekali waktu itu. Duduk di depan tanpa sering melihat ke belakang. Maklum, anak sesupel dia pun ternyata bisa kena sindrom “anak baru” yang malu-malu kucing. Aku bisa ngerti soalnya aku dulu juga pernah jadi anak pindahan waktu SD. Apalagi hidupnya nomaden. Dari Surabaya, Bandung, Balikpapan, Samarinda, di mana saja, aku sampai lupa. Dia duduk sebangku dengan Akbar yang juga anak pindahan. Cukup tau sajalah dia anak baru dan aku tau namanya dari daftar presensi kelas karena waktu itu aku jadi sekretaris kelas, dan aku ga tau panggilan dia apa. Aku tidak mengenalnya dan aku keburu meninggalkan kelas 1 bulan untuk operasi skoliosisku di Purwokerto. Malam sebelum aku operasi, dia menyapaku di chat Facebook dan memberikan ucapan “Good luck buat operasi skoliosismu”. Sejak saat itu aku tahu, panggilannya Tajuddin.
Dia tidak terlalu pintar, tapi dia cerdas. Wawasannya cukup luas dan enak diajak berdebat. Tiap guru melontarkan pendapat, dia ikut berpendapat. Tiap kali diberi kesempatan bertanya, tangannya tidak pernah absen. Apalagi soal agama. Dia sangat suka ilmu agama. Buat dia, Islam itu bukan main-main. Bahkan dia selalu mengingatkan teman-teman dengan SMS tausiyah yang ia dapatkan dari Aa Gym. Dia sering sekali menasihati anak perempuan di kelas untuk menutup aurat mereka. Dan ada satu pesen dari dia yang aku inget sampe sekarang, “Aneh ya rek, orang yang selalu solat 5 waktu kok mesti diheranin, dibilang rajin solat. Padahal, solat itu kewajiban, ga masalah rajin engganya. ga mandang buat siapa pun selama dia Islam. Kudunya, orang yang ga pernah solat itu yang diheranin, kenapa mereka males solat,”.
Dia tidak terlalu disiplin, tapi tidak nakal. Dia usil, tapi sentimentil. Jangan ditanya, kalo ngomongin hal yang nyenggol hati dikit, dia langsung ingat. Ingatannya kuat banget. Bahkan dia yang ngingetin aku buat nge-post entri ini padahal aku udah janji dari berbulan-bulan yang lalu, hihi. Dan dia suka mikir sampe kayak orang lagi ngerjain soal essay Fisika. Kalo ditanya siapa orang yang paling sentimentil di kelas, kalo cewek itu mungkin aku peringkat duanya. Tapi kalo cowok, Didin peringkat satunya. Aku akui. Pernah dulu aku salah ngomong sama dia. Aku anggep biasa dan selesai begitu saja dengan kata maaf. Tapi buat Didin beda. Maaf itu ngga sekedar kata-kata. Sudah dibilang. Jangan coba-coba deh cari masalah sama anak yang kritis. Soalnya, dia ga mau gitu aja instan nerima sesuatu. Bahkan buat kata maaf pun, kita harus bener-bener ngeyakinin dia, dengan alasan yang logis dan bikin dia tenang dan yakin kalo itu kata maaf yang sesungguhnya, hihihi ya kan, Din?
Bicara soal first impression, dia jagonya. Tanya saja pada semua cewek di sekolah. Terutama cewek yang mengutamakan kharisma. Didin memang ngga terlalu ganteng. Tapi rata-rata cewek bilang dia manis. Hitam manis mungkin tepatnya. Dia jago banget kalo urusan seni. Dia jago main gitar. Dia belajar gitar dari kelas 5 SD. Dan aku berhutang main drum di depan dia sampe sekarang, hahaha. Suaranya juga merdu banget. Bahkan bisa bikin cewek-cewek meleleh tiap dia nyanyi. Aku punya satu rekaman pas aku, dia, dan Ridho lagi iseng-iseng nyanyi di rumahku. Rasanya malu banget suaraku yang cempreng ga karuan kayak Minnie Mouse kecepit ini disandingin sama penyanyi sekelas Ipang kayak dia.
Ngga cuman seni musik, dia juga jago banget kalo masalah seni rupa. Desain perspektifnya tiap di kelas seni sering banget dipuji sama Pak Joko. Dan menurutku, dia orang keempat setelah Mahmud, Ressy, dan Radea yang gambarnya paling sering dipuji. Pernah juga dia memberiku hadiah ulang tahun sebuah sketsa wajahku.
Dan sebuah guntingan siluet wajahku. Beruntungnya aku, aku adalah orang pertama yang dikasih karya siluet pertamanya Didin! Hahaha :-D
Dia juga suka banget sama fotografi, kalian bisa intip di site khusus hasil fotonya, cuman site-nya lama ngga dirawat nih kayaknya.
Ngga cuman itu, dia juga jago akting lho! Aku memang ngga terlalu jago akting. Tapi aku menghabiskan masa kanak-kanak dan remajaku dengan menulis buku cerita, novel, blog, mengikuti kelas akting, teater, membuat film, atau apa pun yang berhubungan dengan seni peran. Nah, tiap ada kegiatan yang berhubungan dengan teater di sekolah, sayang banget kalo aku ngga ngajak si Didin. Soalnya, orang yang jago akting ato engga itu, potensinya bisa diliat dari gesture-nya saja. Dan aku memang tidak salah sudah 2 kali menjadikan dia peran utama di 2 judul drama yang pernah aku lombakan di sekolah. Dan 2 kali pula kelas kami menjadi juara!
Buat ukuran anak baru, Didin tergolong anak yang gampang banget bergaul. Bahkan dia jarang banget absen kalo main sama anak sekelas. Ga jarang juga kadang dia yang punya ide duluan buat ngajak main anak sekelas. Bahkan saking supelnya, dia juga udah akrab banget sama kakak-kakak kelas dan punya komunitas parkour kecil-kecilan di sekolah. (Jadi kalo liat orang loncat-loncat genteng di sekolah itu bukan ninja atau bajing lompat, tapi anak-anak parkour di sekolah kami :-D). Nama komunitas itu Lepast, Le Parkour Stetsa.
Hayooo, kalo diuraikan kelebihan-kelebihannya Didin, cewek mana coba yang engga minat sama dia? “Kharismanya itu lho!”, ucap salah satu temanku yang pernah naksir sama dia. Uniknya, dia anti pacaran. “Aku ga mau pacaran sebelum aku bisa kerja dan siap, rek. Buat apa pacaran kalo masih pake duit orang tua”. Alasannya mungkin tidak terlalu berdalil naqli. Tapi dia bisa membuat kita mengangguk dengan dalil aqli-nya.
Tapi, pernah kan dulu aku bilang di blog-ku? “Kamu bisa saja menghindar dari truk besar di jalan raya, tapi kamu tidak bisa menghindar dari debu yang tidak kelihatan. Apalagi kamu sudah besar”. Itulah cinta. Bahkan buat orang semacam Didin yang aku kira kotak cintanya ditabung di bank cinta pun bisa jatuh cinta. Ga ada yang bisa ngehindar dari cinta, ya kan? Didin pernah suka sama salah satu teman kelas kami. Ternyata dia juga manusia, kan? (Awalnya aku kira Didin itu alien). Kalo masalah yang ini tanya Didin aja deh ya, soalnya jurnalistik pun juga punya kode etik, ga boleh asal ngumbar privasi orang, ya ;-) (ditujukan buat semua infotaiment di dunia yang pernah ada).
Sebenernya masih banyak banget yang bisa aku ceritain dari sahabatku yang satu ini. Saking banyaknya, mungkin sampe aku punya anak-cucu pun ngga bakal kelar deh masa SMA sama temen-temenku kalo diceritain. Ngga kerasa banget, kayaknya baru kemarin aku kenal Didin. Baru kemarin aku kenal teman-teman dan merasakan kebersamaan SMA yang indah banget, yang emang bener kata orang-orang tua zaman dulu, “Masa SMA adalah masa yang paling indah”. Ga salah kalo banyak banget lagu yang judulnya berembel-embel SMA. Sungguh, aku ingin rasanya balik ke masa SMA.
Inspirasi yang bisa aku dapetin dari Didin, aku musti belajar banyak sama dia tentang ilmu adaptasi yang ga semua orang bisa. Soalnya orang tuaku bukan orang asli Malang. Butuh waktu lama bahkan buat sekedar beradaptasi dengan tetangga, itu juga yang bikin aku agak “anak rumahan” setelah aku pindah SD ke kota. SMP pun aku masih belum bisa beradaptasi karena tidak banyak teman SD-ku yang se-SMP. Waktu SMA, aku dimanjakan dengan banyaknya teman SMP di SMA-ku. Dan sekarang, aku diberi kesempatan mencoba sama Allah untuk benar-benar beradaptasi dengan kampus baruku yang tidak satu pun anak SMA-ku yang masuk jurusanku. Maklum, semua temanku rata-rata masuk Universitas Brawijaya yang notabene memang dipersiapkan buat putra-putri Kota Malang. Sedangkan di Universitas Negeri Malang, aku bakal dapet banyak pengalaman dari teman-teman dari daerah mana pun di Indonesia, aku akan mencoba J
Kedua, dia menginspirasiku sebagai sama-sama pecinta seni. Dari dia, aku bisa belajar kalo dunia itu ngga terbatas. Apa yang pengen kita lakuin, kita lakuin aja. Kita pengen jadi penyanyi, penari, aktor, pelawak, apa pun itu, jangan cuman sekedar pengen. Tapi, tiap ada kesempatan, cobalah. Engga usah peduli gagal atau pun belum bisa. Itu hanya bonus. Dari dia, aku belajar kalo orang istimewa itu bukan cuman sekedar pintar di akademik. Tapi pengembangan otak kanan juga dibutuhin. Seimbang. Setidaknya, aku bisa belajar banyak bukan buat jadi “seorang ahli seni”. Tapi sebagai seseorang yang “sudah pernah berani mencoba”.
Ketiga, aku belajar dari dia. Sejauh mana pun kebebasan kita, kita harus ingat apa yang menjadi pedoman kita. Dan kita engga boleh lupa sama Sang Pencipta di mana pun kita berada.
Paragraf terakhir dari posting ini aku tulis saat aku sudah menerima kabar baik bahwa Didin sudah diterima melalui jalur Seleksi Penelusuran Minat dan Bakat Universitas Brawijaya program pendidikan Teknik Bioproses. Selamat, Din...walau pun kamu engga masuk Pendidikan Dokter seperti yang kamu inginkan, mungkin Allah punya rencana baik lain yang kamu butuhin, dan kamu bisa jadi “dokter” di bidang lain. Oh iya, di mana pun kamu nanti, entah itu di Malang, luar Malang, luar Jawa, luar Indonesia, bahkan Jerman seperti yang kamu impikan, jangan lupain aku sebagai sahabat yang pernah berjuang bersama di masa remajamu ya, aku tunggu kabar baikmu dan kabar baik semua sahabatku. Thanks friends, you have inspired me. You are inspiring me. You inspire me. You will always inspire me J
Aku tunggu kabar dari semua temanku dan nanti waktu kita udah gede kita bisa bilang, "Itu dia, iya, dia yang sukses itu teman lamaku!".
Contact him on:
Monday, December 19, 2011
Mia Si Kecil




Tuesday, November 29, 2011
Ibu Kedua










