Followers

Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Thursday, September 06, 2018

Kabut


Tahukah kau, persamaanmu dengan kabut? Aku bisa merasakan hujan gerimis super mini di sekitar kulit tangan dan wajahku. Sungguh sejuk dan menggebu serunya. Namun aku tidak bisa melihat wujud hujan gerimis super mini itu. Aku hanya bisa melihat putih seolah aku berjalan di atas kapas yang tak berliku. Kini kau membuatku seolah bidadari yang sedang duduk di negeri yang berada di atas awan. Aku merasa istimewa walau kadang kedinginan. Dingin dan buram tetapi aku tahu pasti ada jalan. Karena kabut, seyogyanya akan hilang ketika matahari bangun melenyapkan hujan super mini di sekitarku itu. Semoga kau segera dimakan matahari, supaya tidak ada hujan gerimis super mini lagi.

Ditulis dalam keadaan mencintaimu sambil kedinginan.

Saturday, June 02, 2018

Perpisahan

Tidak ada seorang pun yang menginginkan perpisahan bila sebelumnya mereka sudah merencanakan kebersamaan. Tidak ada satu kata pun yang tepat yang bisa mewakili sedihnya mengalami perpisahan. Mungkin, kalau aku sudah menemukan kata yang tepat, akan aku ajukan pada perumus lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi tidak sekarang. Aku belum siap. Terima kasih untuk semuanya. Semoga ini terakhir kalinya.

Malang, di sebuah ruang yang sangat dingin, 2018.

Wednesday, December 28, 2016

Bukan Salah Bunga

Sungguh aku tiada pernah meminta
Aku tidak memilih apa yang melekat
Tuhan memberiku kelopak dengan warna menariknya
Tuhan memberiku bentuk sedemikian rupa anggunnya
Sungguh, tanpa aku harus bergerak
Angin sudah menata gerak
Sungguh tanpa aku harus menebar
Kumbang datang dan hisap ku punya nektar

Batu, 2014

Tuesday, May 17, 2016

Embun dan Rindu

Tulisan di bawah ini adalah draft yang saya temukan. Usianya mengendap di dalam laptop sekitar hampir 2 tahun. Silahkan dinikmati...dilarang baper...

////


Di jam ini, harusnya aku ada di kelas Membaca Teks Nonilmiah dan sedang membuat resensi novel untuk tugas akhir. Pantat ini menempel di kursi kayu lawas di gedung lawas ini pula. Namun otak ini dengan liar berlari-larian menuju wajahnya yang selalu menempel kurang dari satu senti di mataku dan baunya terendus-endus di hidungku. Untung bu dosen sedang tidak memerhatikan. Untung lagi, tugas ini tidak harus selesai sekarang. Yes, saatnya menyalurkan nafsu jariku untuk menulis.

Hari ini adalah hari di mana aku merasa sedang semakin jatuh cinta dengan dia, yang sebelum-sebelumnya sudah aku ceritakan. Sebelum sedekat hari ini, aku sempat semakin menjauh darinya. Bahkan sempat tertarik dengan kumbang yang lain, yang menawarkan untuk menebar benang sari bungaku ke tempat yang lebih layak. Menawarkan ladang yang hijau, dengan awan sebersih kapas bayi di atasnya, dengan langit sebiru lambang PAN mengelilinginya. Membuatku merasa bahwa benar Aquarius tidak bisa bersama dengan Leo. Membuatku merasa bahwa benar Aquarius hanya akan aman bersama Libra atau Sagitarius. Namun, aku salah. Aku salah berbuat gegabah. Menerbangkan si kumbang baru itu sampai loncat-loncat bagai naik di atas trampolin. Membuatnya yakin bahwa aku akan memasrahkan benang sariku dibawa oleh kakinya ke putik bunga lain yang lebih layak dan akan terus bertumbuh sampai ia menjadi ribuan. Aku salah. Aku tidak secepat itu menemukan kumbang baru, aku hanya terbawa suasana.

“Maaf untukmu, kumbang baru. Aku tidak bermaksud demikian. Kau bukan pelampiasan,” kataku untuknya.

Untuk kumbang baru, maaf jika aku harus pergi darimu. Maaf kalau sampai kamu selalu membangunkanku pagi-pagi, padahal kamu tidak biasa. Maaf jika semua orang mengira...aku harus bahagia bersamamu. Aku yang salah.

Aku sadar bahwa aku memang bisa suka dengan siapa saja. Aku sadar bahwa semua yang mendekat bisa saja membuatku kagum dan selalu membuat perbandingan dengannya, si kumbang lama. Tapi, aku salah. Cinta tidak selalu rasional. Teringat kata seseorang bahwa semua orang di dunia ini rasional, sampai ia jatuh cinta.

Ketidakrasionalanku berhenti padamu, kumbang lama.

Aku mulai tidak rasional. Sejauh itu aku pergi dan pura-pura tidak berharap, semakin rindu itu menahanku untuk pulang. Semakin aku berusaha tahu diri, semakin sakit dan lelah hati ini. Saat aku mengatakan “aku pergi”, isyarat “aku mengharapkanmu” selalu terbesit. Apakah sinyal-sinyal itu diterima olehmu? Apakah kamu tahu? Bahwa di setiap kita duduk bersama, aku berada di beberapa senti darimu, aku selalu ingin menyamakan detak jantung kita. Biar kamu tidak tahu bahwa aku deg-deg-an. Kamu tahu? Setiap kamu senyum, aku ingin aku punya mesin penghambat waktu. Kamu tahu? Setiap kamu mengajakku makan, aku hanya ingin kita makan berdua, tidak dengan siapa-siapa. Namun, saat aku tahu kamu mengajakku makan karena teman-temanmu tidak bisa menemanimu makan... Aku mulai sadar. Aku bukan tujuan, aku hanya sebuah opsi.

Kurang satu bulan lagi segala rutinitas “bertemu denganmu” akan berakhir. Aku mulai tidak tahu, aku masih harus jatuh cinta atau tidak. Aku tidak bisa membayangkan nanti, jika kita sudah tidak sering bertemu lagi, apakah aku masih pantas mengharapkanmu atau harus pergi dan mencari kumbang lain. Satu bulan lagi itu tidak lama. Aku akan baik kepadamu dan menerima semua omelanmu.

Yang entah menurutmu berarti atau tidak. Menurutku iya. Makanya aku memberikan potongan kue ulang tahunku kepadamu. Karena menurutku kamu pantas menerimanya.

Yakinkan aku untuk terbiasa
Terbiasa yakin bahwa di setiap pagi,
di setiap embun masih ada rindumu

Sejauh itu, seburuk itu pun
Aku masih di sini, tidak bisa tidak mencintaimu...


Wednesday, November 05, 2014

Heran

Aku sudah mencapai titik di mana aku bahkan tidak bisa lagi membaca hati sendiri. Kamu yang aku janjikan untuk tidak aku bahas-bahas lagi dalam setiap tulisanku, seakan disambar petir dan berubah menjadi spesies baru yang benar-benar membuat tanganku sangat gatal untuk tidak menuliskanmu dalam alur ceritaku.

Matamu adalah medan paling terjal yang pernah aku daki. Aku terpeleset lagi. Aku terjun bebas. Lagi.

Untuk seseorang yang ternyata terus terpatri dalam hati

Saturday, August 30, 2014

Ada Adam

Ada seorang pria yang sama-sama malunya dengan seorang wanita pujaannya yang saling diam di atas motor merah merona, semerona pipi dua insan yang sama-sama diangkutnya. Ada.

Ada seorang pria lain yang datang setelah pria tadi dan tanpa permisi mengajari wanita itu peluk, cium, dan nafsu sampai dia hampir rusak. Ada.

Ada pria baru yang sangat mempesona, yang seolah menyelamatkan wanita itu dari pria barusan dengan cara merebutnya. Lalu ternyata ia sama saja. Ada.

Ada seorang pria yang kaku, beku, membisu, namun membuat wanita itu takluk. Si wanita nampaknya trauma dengan peluk, cium, dan nafsu. Namun kali ini dia sangat bodoh dibuat menunggu. Ada.

Ada seorang pria lucu, unik, dan serba bisa. Namun, imannya tak lebih baik dari wanitanya. Ada.

Ada seorang pria yang lebih sempurna dari pria satu, dua, tiga, empat, dan lima...namun sang wanita tidak cukup pede berjalan bersamanya. Ada.

Ada seorang pria yang baru dikenalnya kemarin sore, namun ia mampu mengalahkan pria satu, dua, tiga, empat, lima, dan enam. Namun, ia tidak lebih cerdas dari wanitanya. Ada.






Ada jutaan kumbang menghisap bunga mawar di sudut taman itu. Ada. Namun, ada juga mawar yang mengatakan, "Tidak. Tidak sekarang!". Ada.


"Aku masih menunggu kumbang nomor delapan, sambil mengembangkan tubuhku. Agar nektarku tidak sia-sia ia hisap. Izinkan aku ada. Tanpa mengada-ada".







Dari seorang Hawa yang menunggu Adam untuk memeluknya sambil membaca ayat ke-23 Surat Al-A'raf. Adam yang membangunkan Hawa untuk sholat malam dan mengaji bersama. Adam yang datang dengan segelas air putih dalam genggamannya dan membisikkan kalimat penyembuh paling ampuh di dunia. Adam yang menyatukan spasi dalam malam suci bersama Hawa.

Tuesday, August 12, 2014

Sebuah Percakapan di Lantai Dua

15 Juli 2014

Hari ini tentunya spesial, karena aku akan bertemu dengan dua orang teman lamaku, Sundari dan Vindy (yang pernah aku ceritakan di sini). Formasi ini harusnya lengkap bila ditambah Mymo, tapi dia sudah pulang ke kampung halamannya di Blitar, jadi kami hanya akan bertemu bertiga.

Aku yang sedari pagi sudah di kampus karena ada urusan organisasi, memutuskan untuk tidak pulang dulu karena memang jarak dari pusat kota ke rumah cukup jauh dan cukup melelahkan bila ditempuh dalam keadaan dahaga luar biasa di tengah puasa. Aku memilih menunggu datangnya sore di masjid di dalam kampus sambil sesekali membaca beberapa ayat di Quran For Android-ku yang terlalu kecil dan malah membuat sakit mata. Setelah ashar, aku segera berangkat ke salah satu tempat makan favoritku, Warung Steak and Shake di Landungsari, bukan di pusat kota.

Aku bersemangat sekali datang setengah jam sebelum jam perjanjian. Aku pelanggan pertama yang datang ke sini, bahkan sebelum para pelayannya briefing. Kami memilih untuk makan di sini di saat sedang menjamurnya kafe baru di Malang yang sudah tidak terhitung jumlahnya, karena kami tahu kalau tempat ini pasti tidak terlalu ramai dan enak untuk ngobrol. Lagi pula, kami rasa makanan di sini rasanya lebih ngangenin daripada di kafe-kafe baru yang cuma bagus untuk berfoto.

Aku memilih duduk di pinggir balkon lantai atas, karena cahayanya bagus. Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Vindy dan Sundari datang bersamaan. Mereka tidak berubah, tetap apa adanya seperti dulu. Kami lalu berpelukan dan bersalaman melepas kangen masing-masing, tapi aku menolak dipeluk karena aku belum mandi sore, dan mereka menertawakan kebiasaan burukku, hehe.

Here we are: Sundari, Vindy, dan aku (yang belum sempat mandi)


Setelah berfoto, kami lalu memutuskan pindah ke tempat lesehan di pojok yang lebih terlihat hangat dan mejanya lebih besar. Kami memesan menu sebentar, lalu meletakkan hape masing-masing tanpa komando, ini hebatnya. Seperti yang sudah pernah aku bilang, bahwa quality time yang sejati tidak butuh orang-orang berhadapan yang saling memegang handphone. Sesekali kami hanya melirik jam untuk tahu apakah waktu berbuka sudah tiba,

Ritual dimulai. Diawali dengan Vindy yang bercerita tentang kisahnya. Aku menyusul. Sundari sengaja menolak untuk menceritakan kisahnya duluan, dia pilih belakangan. Topik yang kami bicarakan awalnya bukan soal cinta. Tapi, kami sudah cukup dewasa rupanya. Percakapan kami ujung-ujungnya berujung membicarakan cinta juga. 

Setelah aku dan Vindy selesai bercerita, Sundari hanya tertawa kecil. Lalu dia tidak banyak bersolusi seperti biasanya. Dia mengatakan hal yang membuat kami sedikit menekuk dahi. Dia hanya bilang, "Udah, udah selesai kan, ceritanya? Sekarang coba buka Twitter, buka @hitmansystem. Baca favoritnya."

Aku dan Vindy yang penasaran, langsung buru-buru membuka akun tersebut. Kami lalu membaca favoritnya, alhasil kami merasa sedang dipukuli oleh sejuta retorika yang sedikit mengejutkan soal cinta. 
"Gila...aku ngerasa kayak di-keplak banget", kataku setelah membaca apa yang tertulis di sana.

"Jadi gini, rek. Tau ngga kenapa daritadi aku diem aja nunggu kalian selesai cerita? Karena aku sudah mengalami fase itu. Aku sekarang wis jarang galau semenjak baca saran-saran dari akun itu. Kuncinya satu, kita mau berubah apa engga. Kita berani di-keplak apa engga," Sundari akhirnya bicara agak panjang.

Lalu kami melanjutkan membaca favorite tweets dari si Hitman System ini. Bener-bener akun ini secara gamblang membuatku melek sedikit soal permasalahan sepele yang sedang puncak-puncaknya menggandoli otakku akhir-akhir ini. 

"Sun, kata Hitman System, kalo sekarang ini udah ngga zaman ya namanya cewek itu nunggu. Nah trus, masa aku kudu agresif ngedeketin cowok duluan?" tanyaku polos.

"Kalo kamu ngerasa kamu pede dan layak mendapatkan cowok yang kamu suka itu, kenapa engga? Kalo kamu ga berani deketin duluan, berarti kamu ngga pede, kan?" jawab Sundari.

"Iya sih...tapi si cowok kalo aku chat, jawabannya cuek gitu. Suka singkat-singkat. Malu dong aku ngejar duluan..." aku tetap mencari pembelaan.

"Balikin ke diri kamu sendiri. Kalo ada cowok yang nge-chat kamu dan kamu balesnya singkat-singkat, artinya apa?" kata Sundari dengan sabar.

"Maksudnya?" aku masih ngga mudeng.

"Apa yang pengen kamu sampaikan ke si cowok itu dengan caramu bales yang singkat-singkat kayak gitu?" Sundari memperjelas.

"Ya...aku ngga suka sama cowok itu..." jawabku masih polos.

"Sekarang dibalik. Kalo kamu nge-chat cowok dan dia balesnya singkat-singkat?"

"Cowok itu ga suka aku," aku sedikit tercengang.

"Nah! Simple!" Sundari lega aku akhirnya mudeng.

Aku dan Vindy langsung terkesima dengan kata-kata simple Sundari yang seolah membangunkanku dari tidur panjangku. Kami lalu menertawakan kebodohan masing-masing. Iya, kami bodoh selama ini. Bodoh.

"Gini deh intinya. Cinta itu dibikin simple aja. Kalau kamu masih merasa ada yang salah sama cinta, kalo kamu masih ngerasa kesiksa dengan cinta, coba deh introspeksi. Yang salah cintanya, atau kamunya? Percuma sebenernya kamu curhat sana-sini, dapet solusi ini-itu, baca tweets Hitman System juga kalo kamu sendiri ga mau berubah," tambah Sundari.

"Iya Sun, aku baru sadar aku bodoh banget ya... Kayaknya emang ada yang salah sama aku, bukan sama cowok-cowok yang ngedeketin aku. Buktinya, sekarang kamu, Vindy, sama Mymo udah punya pacar semua. Aku masih jomblo aja. Aku kudu introspeksi ini," aku mulai melek.

"Gini deh, sekarang kamu ga dapet-dapet pacar kenapa? Yang deketin kamu ga ada?" tanya Sundari heran.

"Banyak sih..." jawabku.

"Kamu kebanyakan milih juga kali, Din..." akhirnya Vindy berbicara juga.

"Nah! Mungkin kamu jomblo juga selain kamu masih stuck sama satu orang yang jelas ga bisa sama kamu, ada alasan lain yang musti kamu tanyakan ke dirimu sendiri. Apakah standart kamu yang ketinggian?"

"Kayaknya bener kalian, aku kebanyakan pilih-pilih. Cari yang sempurna ya ga bakalan nemu, ya kan...bego..." jawabku makin tersudut.

"Tapi berhenti menyalahkan diri terus-terusan. Kalo kamu aja ga mencintai dirimu sendiri, gimana orang lain mau cinta sama kamu, ya kan?" kata Sundari.

"Iyesssss. Gini deh analoginya. Kalo kamu pengen dapet cowok wangi, jangan harap dapet deh, kalo kamu aja keramas palingan seminggu sekali, ahahahaha" aku sedikit mencairkan suasana.

"Iyaaaa, jadi, kalo mau dihargai cowok, hargai dulu dirimu. Tampillah cantik, buat dirimu, bukan buat dilihat orang sih sebenernya, " Sundari lagi yang ngomong ini .__.

"Benerrrrr! Dandanlah cantik karena kamu menghargai anugrah Allah yang udah dikasih ke kamu, kamu berdandan cantik karena tubuhmu memang layak mendapatkan penghargaan darimu berupa itu!" sepertinya percakapan kami mulai meluber ke mana-mana.

"Iyo sih ya...by the way, kita semua ngelanggar komitmen kita lho!" Vindy mengingatkan sesuatu.

"Apa, Vin?" tanyaku.

"Kita ingkar janji buat komitmen ga pacaran sampe sekolahnya bener dulu, ya kan? Di antara kita cuman Dina yang masih komitmen, aahahahaha..." jawab Vindy.

"Bahahaha, aku jaga komitmen apa emang ga laku-laku, ya? Tapi kayaknya aku jaga komitmen lho... Aku udah ditembak tiga cowok tapi aku tetep jomblo. Berarti aku laku sebenernya, ahahahhaha..." kataku pamer.

"Aduh aduh, uda gede semua, obrolannya cowok mulu. Udah, mulai sekarang udah ga boleh galau lagi. Sadar ngga sih, kalo ada orang galau berkepanjangan sebenernya kita ilang feeling liatnya?" potong Sundari.

"Banget! Berarti selama ini ternyata banyak yang ilfeel sama aku gara-gara aku kebanyakan galau di socmed, ya? Ahahaha..." jawabku semakin melek.

"Yap! Wis paham gitu, lho..." kata Sundari.

Gitu deh percakapan kami yang cukup panjang dalam waktu singkat sore itu. Kami sampai tidak bisa merasakan lezatnya rasa steak yang kami makan untuk berbuka, karena pembicaraan kami nampaknya lebih lezaaaaaat :-D. Sayang sekali pembicaraan kami tidak bisa lebih lama, karena kami sadar diri kalau rumah kami sama-sama jauh dari kota. Aku di Singosari, Vindy di Pujon, dan Sundari di Ngantang. Akhirnya Sundari pulang duluan karena memang rumahnya paling jauh. Vindy lalu mengajakku berkenalan dengan pacarnya setelah itu. Setelah berkenalan singkat, aku buru-buru ke masjid untuk solat tarawih. Aku janji sama bapak, Ramadhan ini ga boleh bolong sekali pun tarawihnya. Tapi akhirnya juga  bolong satu hari selain pas datang bulan, sih, hihihi. 

Sepulang solat tarawih, aku menyetir motorku sambil melamun di tengah kegelapan kota ke arah rumah. Entah malam itu, pikiranku ke mana-mana. Tiba-tiba tanpa permisi, air mataku menetes satu-satu tanpa petir, mengguyur wajah kumal belum mandiku. Sepertinya ini hadiah karena aku belum mandi. Sampai rumah, aku langsung tidur dalam keadaan penat maksimal. Besoknya, aku memutuskan memulai tantangan untuk diriku sendiri. Aku namakan program itu: Move On dalam 7 Hari. Alhamdulillah, aku berhasil move on tanpa ragu, tanpa galau, tanpa air mata, yang sudah aku ceritakan di postinganku yang lalu: Surat untuk Kamu.

Selamat pagi. Semoga menginspirasi, hai para wanita! :-)

Saturday, July 05, 2014

Cerpen: Semoga Cepat Sembuh!

Ini hari keempat Rose mulai muak hanya bisa tertidur di kasur yang ukurannya setengah dari kasur kamarnya di Romanland, kota yang terletang pada 07º 59’ LS 112º 36’ BT. Ia mulai merindukan memeluk boneka kelinci berukuran tinggi 50 inchi dan berbulu ungu di kamarnya itu, yang selalu jadi bantal air matanya, sampai warnanya tak lagi ungu. Tapi ungu muda. Hari ini infusnya sudah dilepas. Tapi dokter belum memperbolehkannya untuk pulang. 

Tidak pernah dalam sehari ia tidak melihat senyum bocah-bocah mungilnya di sekolah. Ia sudah sangat merindukan kelas. Rose merindukan pekerjaannya sebagai seorang guru di sekolah dasar favorit di kota itu. Rose hanya bisa menghibur diri dengan beberapa game di smartphone-nya pagi ini. Tak lupa, ia tak pernah lepas dari kaleng-kaleng obat galaunya, Bear Brand Malt Putih.

"Ah, aku terlalu pintar untuk semua game ini!" kata Rose dengan nada cukup bosan.

Tiba-tiba smartphone-nya bergetar. Moon. Itu Moon. Pria yang sudah sangat ia harapkan untuk datang sejak empat hari yang lalu.



***
Tak lama setelah chat terakhir masuk, siluet Moon di balik pintu kamar inap bernama Atlas tersebut terlihat. Sambil membawa empat kaleng Bear Brand yang dinginnya sampai berembun-embun, ia mengetuk pintu, Rose bergegas merapikan rambutnya. Tok, tok, tok...

"Siapa?" tanya Rose yang sebenarnya sudah hapal benar postur lelaki idamannya tersebut.

"Bear Brand!" jawab Moon menirukan gaya pengantar pizza di kompleksnya.

"Ahaha... Masuk!" Rose mempersilahkan Moon.

"Bear Brand segar di siang hari, nona?" kalimat pertama Moon sambil menatap mata manja wanita itu.

"Angin apa yang membuatmu tiba-tiba ke mari sambil berdandan ala Mas Broto pengantar pizza di Ambarawa? Kamu nggak sedang mabuk, kan? Atau kamu tiba-tiba bermimpi aku mati, jadi kamu mau ngasih kesan terakhir yang baik sama aku sebelum kamu kehilangan waktu?" celetuk Rose setengah tidak percaya dengan kehadiran pria yang memiliki tingkat jaim kelas Lee Young-jae itu.

"Aku juga tidak tahu, cenayang mana yang tiba-tiba menghipnotisku untuk ke mari. Anggap saja dua dugaanmu tadi semuanya benar" jawab Moon malas berpikir.

Keduanya lalu saling bercanda. Andai saja ruangan itu adalah ruangan inap kelas tiga, mungkin penunggu pasien lain akan bergantian melirik keduanya sambil melempar isyarat ampuh, "Psssssssttt!". Keduanya terlampau bahagia untuk saling beradu mata. Menikmati obat galau paling mujarab sedunia sambil sesekali bergelut manja dengan kata-kata. Tidak peduli terik di luar jendela, alat pendingin di ruangan ini lebih bisa terasa hangat karena berperang dengan aura yang dipancarkan keduanya. Ramah, manja, hangat, dan nyaman. 

***

Sudah dua jam. Akhirnya Moon setengah tertidur sambil duduk, kepalanya bersandar di samping kanan Rose. Tangannya menggenggam erat tangan kanan Rose. Seperti adegan yang lazim di film-film roman picisan. Moon sebenarnya ingin tidur satu bed dengan Rose, tapi tidak mungkin. Selain karena mereka belum menikah, Moon tidak mau kena gertakan suster-suster galak yang sedang jaga keliling, "Maaf mas, penunggu ngga boleh duduk di bed!". 

"Semoga cepat sembuh..." bisik Rose pada Moon.

"Kok aku, kamu yang cepat sembuh..." jawab Moon sambil masih telungkup kepalanya di samping Rose. Suaranya lebih terdengar seperti ini, "Ouk a'u, amu ang e'at hembuh...".

"Fisiknya sih aku. Tapi yang lebih butuh ucapan itu harusnya kamu. Kamu yang cepat sembuh ininya. Hatinya. Biar nggak bodoh terus. Aku berharap kamu cepat sembuh dari kebodohanmu. Menyia-nyiakan aku."

Sambil berkata demikian, tangan kiri Rose setengah ragu ingin mendarat mengelus rambut Moon. Tapi gagal. Moon bangun duluan.

"Boleh aku memelukmu?" tanya Moon.

"Boleh, tapi aku belum mandi. Jadi...ngga boleh." jawab Rose.

"Ngga boleh?" Moon heran.

"Setidaknya aku sudah tahu ternyata kamu ingin memelukku. Aku sudah sangat senang. Sama senangnya dengan dipeluk". jawaban Rose membuat Moon tenang.

Keduanya saling senyum. Lagi. Terik di luar mulai tergelincir. Keduanya bahagia. Mungkin... Iya, bahagia. Apabila semua adegan di atas dilakukan satu jam lebih awal.

Mungkin. Iya. Satu jam lebih awal. Moon memang bodoh. Satu jam setelah chat terakhirnya pada Rose, ia tidak bergegas menemui Rose. Tapi ia terlalu mengabaikan pertolongan manja Cita, wanita yang menyukainya, untuk sekadar minta antar ke bandara. Padahal hari itu bukan akhir pekan. Taksi masih banyak. Cita hanya terlalu manja dan Moon tidak sadar, dia adalah akar di saat Cita kehabisan rotan. Moon hanya cadangan yang termakan pikiran "tidak enak apabila menolak mengantar".

Andai Moon datang satu jam lebih awal, mungkin ia tidak akan memberikan Bear Brand yang sudah tidak dingin dan tidak berembun lagi itu masuk ke kamar Rose. Andai Moon datang enam puluh menit lebih awal, pasti ia masih harus mengetuk pintu. Andai Moon datang 3600 detik lebih awal, pasti ia masih bisa berteriak, "Bear Brand!" sambil bergaya ala Mas Broto.

Tapi ia sudah terlambat, untuk mengetuk pintu...

***
Photo source: Daily Plate of Crazy

Rose sedang tersenyum malu memandang seorang lelaki di depannya. Di tangannya ada sekaleng Bear Brand Malt Putih dan di tangan lelaki itu ada sekaleng Bear Brand rasa original. Lelaki itu mengajak Rose bercanda dengan sopan. Tidak terbahak-bahak. Nampaknya ia lelaki yang cukup terpandang. Jasnya rapi. Ia sangat serasi bila dilihat bersama Rose dari balik pintu masuk kamar Atlas ini.

Kaki Moon terpaku di balik pintu yang sedang mengintip itu. Tangannya kaku. Bibirnya kelu. Matanya sendu. Suaranya beku, ia tidak bisa berteriak untuk menawarkan Bear Brand yang sudah tidak berembun-embun itu. 

Sebelum dua pasangan yang serasi di dalam ruang Atlas itu tahu ada yang mengintip dari balik pintu, Moon berbalik. Berlalu pergi menuju mobil pemberian almarhum kakeknya. Membuka pintu mobil, menutupnya kencang. Mengeraskan musik. Membuka botol-botol Bear Brand yang sudah tidak berembun itu. Menegak empat botol hingga habis. Dan pergi...hingga tukang parkir rumah sakit tidak sempat meminta uang lima ribu rupiah kepada lelaki muda berhati pilu itu.

***

Saggio berpamitan pulang. Setengah jam lelaki tampan itu duduk di samping Rose. Cukup membuat Rose melengkungkan bulat sabit di bibirnya. Namun Rose masih menunggu satu lelaki untuk memenuhi senyumnya. Cukup bukan berarti sudah. Rose hanya cukup tersenyum oleh Saggio. Tapi dengan Moon, ia baru bisa merasa sudah tersenyum.




Sunday, June 08, 2014

Under The Sky

Sore itu. Kamu bertanya dengan siapa aku berangkat. Aku menjawab aku sendirian. Aku bertanya bolehkah aku berangkat bersamamu. Kamu setuju. Kamu ingin menjemputku. Sore itu juga. Aku bilang habis sholat maghrib saja. Kamu setuju. Aku menunggu. Kita akan menonton konser paduan suara seperti biasa, aku denganmu. Konser malam itu berlangsung seperti biasa, bagus, meriah, dan banyak komentar di mana-mana. Tidak ada yang spesial. Aku duduk di sebelahmu. Sudah pernah.

Sekitar jam setengah sembilan lebih beberapa menit. Di balkon terbuka sebuah rumah makan. Malam itu malam minggu. Ramai sekali. Kita duduk di ujung pojok. Berdua. Berhadapan. Sudah pernah. Langit penuh bintang. Bulan setengah kelihatan. Angin berhembus sopan. Dan makanan tak kunjung datang.

Awalnya sepi. Kamu dan aku sama-sama bermain jempol di atas gadget. Kamu meletakkan smartphone itu duluan. Aku mulai sadar tingkah laku autisku. Aku lalu menaruhnya di tas. Quality time yang sejati tidak butuh dua orang berhadapan yang saling memegang handphone.

Setelah itu, kamu banyak tersenyum kepadaku. Kamu banyak bicara seakan-akan aku orang yang paling seru untuk diajak bicara. Dan aku suka. Nuansa kerinduan sangat terasa di mata itu, karena kita lama tidak bertemu. Padahal hanya sekitar seminggu. Aku anggap itu sudah sangat lama. Karena kita terbiasa bertemu setiap hari dalam rutinitas yang sama.

Pembicaraanmu lain dari biasanya. Kita tidak lagi berbicara soal paduan suara. Kita berbicara soal apa pekerjaan ayahmu, nenekmu lebih pintar masak daripada ibumu, siapa nama keponakannmu, nenekmu suka main tenis, kakakmu kerja di mana, suaminya tinggal di mana, dan itu seru. Sungguh. Walaupun sebenarnya sebagian yang kamu ceritakan, aku sudah tahu. Kan aku kepo. Aku sudah tahu kok nama ayah dan ibumu. Apa pekerjaan ibumu. Siapa nama keponakanmu. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Biar seru.

Minumannya sudah datang. Pelayan memanggil namaku. “Dina....Dina...!”. Aku menjawab, “Dina mas, Dina!” sampai tiga kali dan pelayannya tidak mendengar. Mungkin karena suaraku terlalu cempreng. Seperti Minnie Mouse terjepit pintu. Akhirnya pelayan itu menemukan tempat duduk kami dan ia tertawa.

Minuman itu dingin sekali. Pembicaraan juga mulai kehabisan stock. Aku memandang langit. Yang penuh bintang dan bulan bersembunyi malu tadi. Aku membayangkan kita berada di kutub. Dan mendadak ada aurora.

“Oh hush thee, my baby. The night is behind us. And black are the waters that sparkled so deep...” Aku bernyanyi dengan suara Minnie Mouse-ku.
“Hehe...” terdengar senyum hematmu.

Lagu itu adalah lagu yang pernah kita nyanyikan bersama di konser yang lalu. Ya. Konser terakhirku. Dan entah kenapa, setiap memandang langit malam, aku hanya ingat lagu itu. Dan aku mendadak berubah menjadi anak anjing laut yang mengantuk di tengah salju kutub. Romantis.

Source: http://plusmood.com/2011/03/the-luna-collection-graff/luna-moon-and-stars/

Makanan datang. Sepiring mie pedas level satu dan sepiring mie yang sama sekali tidak pedas. Oh iya. Dengan dua pasang sumpit kayu dibungkus plastik. Dan kamu sudah hapal sepertinya. Aku kan tidak suka memakai sumpit. Kamu lalu memanggil pelayan.

“Mas, minta sendok!”
“Wah, ngga ada mas...habis” jawab pelayannya.
“Ya udah, ngga papa. Sampai kapan menghindari tantangan?” kataku sok bijak.

Dan kamu tersenyum. Lagi.

Aku mulai menggunakan sumpit itu. Kamu mengajariku. Bagaimana menggunakan jari-jariku untuk membuat sumpit itu menurut. Aku mulai menikmatinya. Ternyata tidak sulit. Walaupun sempat terlihat bodoh. Lalu aku bercerita. Makan dengan sumpit sama susahnya dengan makan menggunakan tangan kosong. Aku terbiasa disuapi oleh ibu dan terbiasa menggunakan sendok-garpu sejak kecil.

Makananmu habis duluan. Seperti biasa, seperti yang pernah kamu bilang, cowok yang makannya cepet atau cewek yang makannya lambat. Aku terlalu lama menghabiskan makanannku. Malam itu terlalu dingin. Mie ini cepat dingin. Apalagi dia tidak pedas. Semakin tidak berasa. Aku sengaja pesan tanpa cabe karena tiga hari lalu aku baru saja kena diare. Tapi, entah kenapa mie ini tidak bisa habis. Aku menyerah.

“Mas, aku ngga habis...”

Kamu tertawa kecil dengan senyum setengah bulan sabit. Lalu kamu menghabiskan makananku.
Mulai dingin. Malamnya. Dan kamunya.

“Yuk pulang, udah malam...”

Aku hanya mengangguk.
***
“Sudah sampaaaaaai....” celotehku seperti anak kecil yang baru sampai di rumah.

Kamu menyuruhku masuk gerbang. Dan kamu berlalu. Begitu saja. Sudah. Tidak ada pembicaraan. Hanya tanganku yang melambai, “Daah...”.



Aku merindukan kamu yang melihatku sampai masuk ke pintu kost dan saat aku mengintip, kamu masih ada di situ. Seakan ingin memastikan aku aman sampai di rumah. Itu saja. Ya. Aku masih rindu. Sebentar lagi, pertemuan kita hanya akan disebut kebetulan. Karena kita tidak lagi dipertemukan dalam rutinitas yang sama. Sampai jumpa. Di lain waktu. Kamu.

Sunday, October 27, 2013

Kota Batu dan Hati Yang Membatu

Alun-Alun Kota Batu, Malang, 19 Oktober 2013

Aku bergerak ke arah lubang-lubang itu. Menebak mana lubang yang akan menyemprotkan air ke atas, ke arah langit. Aku mendekat dan terkejut dengan kejutan dari bawah sana. Sial. Sepatuku basah. Aku tidak bisa tahu lubang mana lagi yang akan menyemprotkan air setelah ini. Mereka bergantian. Aku tidak bisa menebak. Sama sepertimu. Aku tidak tahu hal apa lagi yang akan terjadi padaku olehmu setelah ini. Entah itu akan membasahiku atau aku malah akan mengeluarkan tawa kemenangan karena bisa menghindar darimu. Entahlah.



Aku capek terkena cipratan air itu. Dingin. Kota ini sudah cukup dingin. Aku sandarkan saja punggungku pada kursi yang berjalan berputar di atas sana. Dari atas sana...sungguh banyak bintang-bintang imitasi--rumah-rumah yang berpendar seperti mercusuar--yang cukup membuat mataku memercing kagum. Menebak kamu sedang berada di bangunan bercahaya yang sebelah mana dan membayangkan apakah kamu melihatku di atas sini dari bawah sana, yang jauh...jauh...tapi nyata keberadaannya. Aku terus menikmati putaran ini. Jika aku di dalam sini, aku tidak merasakan ada di bawah atau di atas, hanya gambar-gambar di luar jendela yang berganti seperti slide show foto di laptop. Seperti kita, yang berputar-putar seolah berjalan, padahal masih tetap jalan di tempat. Seperti bianglala. Sibuk berputar, namun stagnan tanpa perubahan.



Ironis. Di tempat seramai pasar malam ini, aku berjalan seperti Lucy Pevensie di dalam hutan belantara. Makin ironis melihat ratusan pasang anak manusia yang bersenda-gurau sambil berpegangan tangan, mencubit pipi, menyandarkan kepala pada pundak...kepalaku hanya bersandar pada angin. Yang dingin.

Lagu apa yang bisa mengisi telingaku yang juga dingin malam ini selain suara gesekan angin pada dedaunan atau decit ayunan anak kecil di sana. 3 orang pengamen, pengabdi musik jalanan, datang mengucapkan "permisi, mbak" dan memulai ritual cari duitnya. Sial! Adakah koneksi di antara langit dan hatiku saat ini hingga langit mengirimkan isyarat pada ketiga pengamen itu untuk menyanyikan lagu ini: Sepanjang Jalan Kenangan. Kamu pasti ingat.

Ah. Biar. Mau bagaimana lagi, aku tetap kukuh. Aku wanita. Iya. Wanita. Yang hanya bisa menangis atau sekedar mengakhiri semua batu-batu dalam hati yang semakin dingin dan semakin membatu ini dengan emosi. Memikirkan kejutan dan putaran apa lagi nanti yang akan terjadi. Terlalu lelah sudah aku berekspektasi tentangmu, terlalu sakit jika terbang setinggi itu dan jatuh sekeras itu. Tepat satu tahun yang lalu, di bulan ini. Namun aku tidak bisa berbuat sesuatu. Tubuhku mematung, lalu melemas, pasrah, biarkan semua lelah, khawatir, kalut, dan benci berakhir...larut dalam segelas susu panas...


Hey! Aku merasa sedang dipeluk seseorang. Susu ini terlalu enak.

Selamat bermalam minggu.

Saturday, October 26, 2013

Kunci

Pada suatu siang di Koffie Cafe.

"Maaf terlambat. Sudah menunggu lama ya, Rose?" tanya Moon gelagapan sambil membenahi rambut yang basah.

"Sudahlah, jangan pikirkan aku. Pikirkan dulu bajumu yang basah itu. Kenapa nekat hujan-hujanan? Ke mana mobilmu?" jawab Rose tenang.

"Terlalu lama menunggu tukang kunci membuka pintu pagar rumahku, daripada kamu lebih lama lagi menungguku. Jam berapa sekarang?" basa-basi Moon.

" Baru jam 1."

"Aku kira sudah jam 5. Mendung membuat langit lebih tua 4 jam dari biasanya."

"Sepertinya tadi pagi aku melihatmu membawa kunci pagar rumah. Hilang?"

"Entah kunci yang asli ke mana. Yang aku bawa kunci dengan merek dan bentuk yang sama. Bersikukuh aku buka gemboknya, tidak juga ia berputar dan berbunyi 'klik'. Heran."

"Bodoh. Kenapa kamu tidak periksa sebelumnya? Penyakit lama."

"Aku kira hanya ada satu merek Yale yang berbentuk seperti itu. Aku ambil saja. Pasti itu kunci rumah. Ternyata bukan."

"Sekuat apa pun kamu berusaha membuka kunci itu, walaupun ia bisa masuk gembok dan terasa pas, kalau tidak ada bunyi 'klik' mau bagaimana lagi."

"Hanya tukang kunci yang bisa membukanya, ya?" tanya Moon dengan wajah polos.

"Kuncimu butuh diamplas dengan mesin, dibentuk sedemikian rupa agar pas dengan yang asli dan bisa membuka gembok pagar rumahmu. Atau kamu beli gembok yang baru dan simpan kunci yang baru dengan hati-hati, gandakan kalau perlu. Jangan mengulangi kesalahan yang sama. Merek yang sama  belum tentu pas."

"Ah, kenapa jadi berbicara kunci? Kamu sudah pesan kopi?" Moon mengalihkan pembicaraan.

"Sudah habis. Kamu pesan saja, aku tidak mau kamu mengeluh jika nanti demam. Hangatkan perutmu."

"Mas, menunya!" Moon memanggil waitress di pojok ruangan.

***

"Kamu ngga makan?"

"Aku tidak selera...kamu saja," jawab Rose dingin.

"Kamu kenapa? Kamu masih marah aku datang terlambat?"

"Lupakan... Aku mau kembali, muridku sudah menunggu."

"Perlu aku antar?"

"Kau ini. Naik apa? Aku panggil taksi saja."

"Kamu marah?"

"Apa selalu begini?"

"Apanya?"

"Ah, kamu tidak juga mengerti. Kunci itu...urusi saja kunci itu. Andai kamu mengerti. Perkataanku tadi sudah menjawab pertanyaanmu. Segera beli kunci yang baru."

"Baiklah...hati-hati..." jawab Moon.

"He'emmmm..." sambil berlalu meninggalkan Moon.

"Aku menyayangimu...aku hanya tidak tahu, kenapa 'klik' itu tidak kunjung berbunyi. Rose, maafkan aku..." bisik Moon saat melihat Rose sudah mendapat taksi di seberang kafe.

Secangkir kopi datang. Moon menikmati kehangatan yang berjalan dari kerongkongan hingga lambungnya. Ditemani bau hujan dan percikannya yang menempel di jendela. Melihat langit yang ditutup tabir mendung seperti hati wanita yang baru saja ada di depannya dan meninggalkan segelintir tanya.

"Aku menyesal, bertahun aku meninggalkan ketidakpastian. Kamu benar, aku menjadikanmu opsi. Kamu tidak layak menjadi sebuah opsi." gumam Moon.


(Untukmu dan segala ketidakpastianmu)

Thursday, August 01, 2013

Sudah, Begitu Saja


Pada suatu malam di pameran lukisan, di sebuah kafe, di lantai dua, pinggir jalan...

Malam ini aku tidak berhasil berangkat denganmu. Aku kadang tidak sadar kalau aku sudah bisa membawa kuda besi sendiri sekarang. Tapi kadang aku bosan membonceng teman, aku ingin dibonceng. Manja, ya? Kau berangkat dengan kudamu sendiri, aku pun demikian. Tapi aku sengaja memarkir kuda besiku agak dekat dengan punyamu. Sesampainya di kafe, kita berjalan sendiri-sendiri secara terpisah.

Terpampang banyak lukisan di sini. Dan semua lukisan di sini tidak mainstream. Ada juga botol-botol bir yang dimasukkan dalam keranjang bayi yang difungsikan sebagai wadah putung rokok. Banyak orang-orang berambut gondrong dan bergaya serabutan. Sedangkan kita semua datang dengan dandanan rapi, warna-warni, dengan eyeshadow yang menarik, sudah siap menyanyi bak biduan di atas panggung. Pemandangan yang sedikit mengagetkan, terutama buatku, aku sempat sedikit bosan di sana.

Aku suka lukisan ini. Aku suka apa pun yang berbau hewan berbulu. Apalagi beruang dan panda.
Sembari bosan, aku pura-pura saja menikmati lukisan-lukisan di sana. Toh, aku masih bisa berimajinasi sambil sedikit mengalihkan perhatian dan menyembunyikan kebosananku. Sambil sesekali melihat jam biru tosca muda kesayanganku yang sudah usang. Berharap kita semua segera menyanyi dan pergi dari sana, karena aku sudah mulai mengantuk dan ingin tidur. Kadang sesekali diajak foto oleh beberapa teman, untung saja mereka tau cara mengusir kebosanan.

Mereka mengerti cara mengusir kebosanan
Sesekali aku melihat ke arahmu yang berjarak denganku, kira-kira 10 meter atau lebih. Kamu mulai berjalan menikmati lukisan-lukisan itu, dengan mereka yang mengerti cara menikmati dan mengapresiasi lukisan. Sambil sesekali menunjuk dan mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Lalu kamu berhenti pada satu lukisan. Dan mengeluarkan kotak besi selularmu. Kamu mulai merangkak ke lukisan yang lain. Diam-diam aku menghampiri lukisan yang tadi sempat kamu berhenti lama di sana. Aku amati tiap detilnya. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Menurutku itu hanya lukisan kegelapan.

Aku duduk tepat di dekat lukisan itu. Sambil mengeluarkan kotak selularku. Itu pertanda aku mulai bosan dengan sekitarku. Ada satu pesan. Aku buka. Darimu.

“Kau berikan sebuah telur, telur besar yang entah apa isinya, lalu kau pergi, kemudian telur itu menetas. Menetaskan seekor burung, burung yang entah mengapa membuatku sakit. Burung itu memakan hatiku hingga kosong dan berlubang. Baiklah, terima kasih.”

Tiba-tiba jantungku berdebar. Aku tidak mengerti maksud pesan singkatmu. Aku balas sekenanya,

“Apa telur itu terlalu cepat menetas dan menetaskan sesuatu yang salah...harusnya bukan burung, karena ia mudah terbang bebas. Mungkin bebek, yang mudah ditangkap dan tidak terbang?”

Lalu balasan secepat kilat datang darimu,

“Hahaha, serius amat. Itu lho...tulisan di lukisan yang nempel tiang, di belakangmu...”

Sedikit malu dan tidak percaya, aku bergegas berdiri dan melihat lagi lukisan itu. Iya, ada. Kamu mengamatinya sampai ke detil terkecil. Tulisan itu ada di di tengah lukisan itu dan tidak terlalu terlihat bila dilihat sekilas. Namun ada beberapa kata di awal yang kamu buat sendiri. Aku bingung membalas apa.
Iseng!”, balasku.

Hahaha ;-)”, balasmu lagi.

Mohon ditunggu,” aku bingung membalas apa, aku tulis kata-kata yang ada di lukisan di sampingku.

Oke...ditunggu,” balasmu.

Itu tulisan di lukisan juga! Hahahaha!” balasku puas.

Botek -__-“, katamu. Botek dalam bahasa Jawa berarti berbohong.
Salah satu band yang mengisi acara. Ia menyanyikan lagu My Only One-nya Mocca malam itu. Menemani kebosananku. Aku suka Mocca.
Lalu surat-menyurat elektronik kita berlangsung walau kita hanya berjarak beberapa meter. Dan akhirnya terhenti saat tiba waktunya kita harus menyanyi. Kita semua menyanyi lagu cinta itu dengan ceria. Sambil sesekali (dan selalu sesekali), aku melihat ke arah senyummu. Lucu. Rasanya ingin lebih lama dan lebih panjang lagi lagu itu.

Selesai menyanyi, aku hampiri kamu. Dan kita tertawa bersama, walau sebentar karena terhenti dengan ucapan “cie cie” dari salah seorang teman. Sudah, begitu saja...

Lalu kita semua turun, menikmati kue yang diberi oleh penyelenggara acara. Setelah selesai, aku dapati si Magic, kuda besiku, terjepit di antara kuda besi-kuda besi yang lain. Dan di sana ada kamu, sedang berusaha mengeluarkan kuda besimu. Dan akhirnya tiba pada satu saat di mana hanya dengan ke luarnya kuda besiku, punyamu bisa ke luar dari tempat parkir itu.

Aku berikan kunci si Magic padamu. Kamu mengeluarkannya. Misiku berhasil.

Makasih ya...”, ucapku.

Setelah itu kuda besimu sudah bisa ke luar. Dan kita pulang. Secara terpisah. Sudah. Begitu saja...

Tuesday, May 21, 2013

3 Bungkus Kacang Bali


Bulan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, aku hanya bisa melihatmu dari senyum yang tidak bisa bergerak. Di layar LCD itu, senyum itu pun melihat balik ke arahku. Aku berkata, “Senyummu manis...”, tapi itu tidak membuat senyummu bergerak juga. Mata itu memandangku balik, setidaknya aku senang. Dengan duduk diam di sini, aku selalu melihat senyum yang sama. Dan setidaknya dengan begini, aku tidak pernah melihatmu tidak tersenyum. Dari foto itu.

Selama ini, aku hanya bisa menyampaikan pesan lewat gelombang-gelombang transversal. Menyampaikan emosi lewat jari-jemariku. Mengadu padamu saat aku ingin manja seperti wanita-wanita lain di luar sana pada prianya. Memelukmu lewat lagu-lagu itu. Namun aku hanya bisa menitipkan rindu pada sujudku, pada Tuhanku, energi terbesar yang kita semua puji dan sebut sejak masih kecil. Karena aku percaya, hanya Tuhan yang menyampaikan rinduku sampai selamat di telingamu, tanpa berkurang satu pun kata, bukan lewat Facebook, “Aku rindu kamu, pulanglah...”.

Saat aku mulai ragu, aku tidak ingin mendengar kata apa pun yang ke luar dari mulut mereka. Aku hanya percaya satu makhluk, yaitu kamu. Kamu yang berkata aku tidak boleh menunggumu pulang, kamu juga tidak pernah berjanji untuk pulang, bahkan di saat aku sedang meniup lilin ke-19, kamu tidak juga pulang. Kenapa kamu tidak mencari penggantiku saja, kenapa kamu tetap memilihku di antara jutaan wanita di Indonesia yang bisa kamu tunjuk. Bahkan, di Pulau Dewata sana sangat banyak wanita cantik. Kenapa kamu mengajariku menjadi lebih dewasa dengan cara ini, aku tidak mengerti. Dan kenapa di saat bibir-bibir yang lain mengecap kata “Sudah, tinggalkan saja dia!”, aku tetap bersikukuh dengan jawabanku untuk tetap mendeklarasikan diri bahwa aku milikmu dan tidak akan pergi hanya karena...jarak.

Aku berpikir lagi. Keras. Aku mengerti mengapa kamu tidak mengizinkanku untuk berharap kamu pulang. Kamu hanya tidak ingin aku kecewa. Kamu hanya tidak ingin aku sudah terlanjur berdandan cantik dari biasanya, memakai rok, memakai bedak, lipstick, parfum, dan memikirkan percakapan apa yang nantinya akan aku lontarkan di depanmu, namun kamu hanya mempunyai waktu tidak lebih dari 5 menit untuk bertemu denganku.

Kemarin, di tempat itu...tempat yang tidak romantis. Kurang dari 5 menit. Sampai aku belum sempat menata jantungku yang masih berdebar karena ini kali pertama kau akan bertemu denganku sejak pertemuan terakhir kita lima bulan yang lalu, aku bersyukur. Setidaknya walau pertemuan ini tidak berarti apa-apa dan hanya sempat mengucap beberapa kali “Hai...” tanpa sempat mengucap yang lebih, kamu bisa baca mataku, mata yang mengucapkan “Aku rindu kamu...lebih lama lah di sini... Aku ingin bercerita. Dan aku hanya ingin mengatakan, rasa itu tetap sama sampai kapan pun. Aku tidak mau menunggumu. Tapi aku selalu di sini, sampai kamu pulang pun, aku tetap di sini. Tanpa ada nama lain yang mengisi. Hanya kamu...”.



Dan bonus lain yang aku dapatkan, yang tidak orang lain dapatkan hanya dengan lima menit saja. Setidaknya aku sempat mengecup tangan wanita yang melahirkanmu, dia sangat cantik. Serta aku sangat terkejut membuka bingkisan mungil itu. Kamu paling tahu, obat rindu apa yang paling ampuh buatku. Terima kasih, kamu membawakan makanan kesukaanku walau aku tidak pernah bilang kamu harus membawanya ke mari, kemarin. Aku akan mengunyahnya, dan merasakan tiap butir yang mengandung rindumu ini. Lewat manis, gurih, dan asin di setiap butirnya, aku bisa merasakan betapa kamu mencintaiku dengan dewasa. Betapa kamu merindukanku juga secara profesional. Dan betapa kamu menjadi sangat spesial buatku walau aku tidak bisa ke bioskop bersamamu sekarang, tidak bisa naik bianglala setiap minggu, tidak bisa ke Taman Safari di saat liburan, tidak bisa fotobox berdua dan dijadikan foto profil di jejaring sosial. Namun, dari caramu menahan jariku saat bersalaman dan berpisah denganku untuk melanjutkan tugas yang menantimu di depan sana kemarin, aku semakin percaya, bahwa kamu akan kembali lebih cepat dari perkiraanmu untuk mengobati rindu yang sudah semakin tebal seperti bola salju yang meluncur.

Terima kasih telah datang dan membawakanku makanan kesukaanku...


"Andai bulan kan mengerti, 
andai bintang kan pahami, 
sampaikan kesunyian, 
sampaikan kerinduan 

di remang langit pagi 
berharap hal yg tak pasti 
hanya bisa menanti dan menanti, 

Salam sayang dariku untukmu yg terkasih..."

-Sincerely, Yours-
For Endra, who lives in 177,09045 miles apart from Aida.


Friday, October 26, 2012

Aku Pilot dengan Satu Sayap Pesawat

Ini tabu atau kelabu. Aku tidak tahu. Yang aku tahu kemarin aku baru saja terbang. Jauh...sekali. Baru saja aku tahu, kamu masih ada buat aku. Baru saja aku tahu, ternyata aku masih membuatmu cukup untuk tersipu. Aku pun juga. Walaupun I'm not the only one who adores you, anyway

Kita satu rantai, satu kunci. Yang aku tahu aku tidak terbagi, aku hanya satu buat kamu. Aku mendapatmu kembali, tapi sekarang aku tidak bisa tahu kamu dengan pasti, ada selaput samar yang membuatku tidak bebas melihat senyummu. Ada kabut biru dan kuning di mana-mana. Aku tahu kamu dari tabir, aku tahu kamu dari bisik-bisik. Aku tahu kamu dari sana, dari gelombang saja. Dan gelombang itu pun sekarang tidak enak, tidak lancar, aku tak percaya gelombang. Aku maunya kamu buat aku, tanpa gelombang. Dan kabut.

Lalu aku berpikir, aku sudah lewat remaja. Buat apa berpikir sesempit sungai kalau masih ada samudera, dan aku pandai berfilosofi, untuk apa aku berpikir terlalu eksak. Walaupun kita tidak sejauh 10 jam atau 2 pulau, walaupun kita hanya berjarak meter dan gedung, rasanya kamu jauh di sana...di seberang negara. Yang aku rasakan hanyalah sebuah papan nama, kalau "aku punya kamu". Tapi...aku tidak merasakan handarbeni kalau kata orang Jawa. Kamu di sana, aku di sini, hanya sekedar punya-punyaan dan... I'm not your priority anymore... I'm not there, on your lists...

Aku berusaha seperti dulu... Dan aku selalu menjadi pilot untuk pesawat yang hanya punya satu sayap. Bisakah pesawat terbang jika ia hanya punya satu sayap, walaupun ia berusaha segigih apa pun, di manakah prinsip equilibrium itu jika hanya ada satu tangan yang bertepuk, dan satu dayung yang berputar? I'm yours, but I feel nothing. Where is the old you? 

Photo source: Friend's BBM display picture

Tuesday, April 24, 2012

Apa Itu Namanya

Foto yang aku ambil 2 tahun yang lalu saat bersantai dengan teman-teman dekatku di depan Tugu Kota Malang

Sebentar, bagaimana aku harus mengatakannya? Kali ini, aku tidak mau banyak mengadu. Tuhan saja mempunyai 1 nama dari 99 nama yang mulia itu. Ya Wadud. Yang Penuh Kasih Sayang. Sombong sekali jika aku pura-pura ingin menghindar dan tidak mau tahu tentang cinta. 

Aku manusia. Aku berhak selama itu jatuh cinta. Dan secepat itu jatuh cinta lagi. Aku tidak bisa berhenti tersenyum melihatnya. Karena cinta ini datang begitu saja. Tiba-tiba. Aku tidak meminta, padahal. Aku nyaman tahu sesuatu yang lucu tentangnya. Hangat sapanya. 

Namun kali ini, biarkan aku menikmati ini dengan syukur. Allah mengirimkan obat baru yang mujarab untukku. Aku tidak meminta lebih dari itu. Dia seperti dokter. Dia seperti tentara. Dia seperti lampu. Dia seperti koki. Dia seperti badut. Dia seperti kasur.

Mengobati. Menjaga. Menerangi. Mengenyangkan. Menghibur. Nyaman.

Tuhan tahu siapa dia.

Thursday, March 22, 2012

This!

Alasan paling bodoh, "Kalo jodoh kita bakal ketemu lagi". Tiap hari ketemu begok, udah sesekolah sekelas pula!

-Raditya Dika-

Awalnya aku selalu percaya nasihat kuno itu--yang entah kebenarannya berapa persen--selama bertahun-tahun. Dan sekarang atau entah sampai kapankah itu, "akhirnya" pun aku harus dipaksa percaya, skenarionya sudah ada. Jangan khawatir.

I'm falling in love with you. I don't even know, you will read this writing or not. Whether you know, whether you realize it. Whether you have a big big head. Or you don't like. Clearly, you don't have to ask. When you said that words, I've said to myself, "I know!".

I'm secretly falling in love.

Friday, March 09, 2012

Robot

"Dina, bego banget sih kamu masih aja nungguin hal yang ga perlu buat ditungguin. Udah deh, move on, bego, move on!".

Engga, aku ngga bisa. Engga segampang itu. Mungkin hari ini aku bilang lepas. Besok balik lagi. Besoknya lagi pergi. Dan besoknya lagi, dialognya sudah bisa ditebak. Lagi.

Apa sih yang bikin aku jadi robot gini? Semua-semua kamu. Namamu. Fotomu. Semua meja di sekolah yang pernah aku tempati, selalu aku tuliskan inisial namamu di situ. Semua bukuku. Kamarku. Tanganku. Aku disetir. Disetir sesuatu. Aku benar-benar dikendalikan sesuatu. Aku, aku...aku... Iya. Aku pernah bilang. Aku apa katamu. Aku benar-benar bukan Dina lagi. Karena isiku cuman kamu. Bodoh!

Aku bersyukur, setelah 5 bulan menunggu sesuatu yang tidak perlu ditunggu, akhirnya aku bisa lega. Lega melupakan kamu. Tanpa harus diminta lagi. Lega tanpa harus berurai air mata lagi. Atau mungkin memang sudah habis. Terima kasih telah menggantikan tempatku dengan dia yang baru. Itu membuatku lebih lega. Aku ternyata memang bukan layang-layang. Menyenangkan sekali. Aku sekarang burung. Terbang tanpa diikat. Dan bukan robot. Karena aku sudah lepas dari semua kabel yang menyetir otakku.

Aku kini Dina lagi! Aku bisa bergerak sendiri!


Foto robot ke-49 yang aku gambar di Laboratorium Biologi sekolah.

Aku tidak bisa memikirkan apa pun. Tapi hari ini aku menangis tanpa air mata. Berat sekali memang. Tapi aku lega. Aku bisa konsen ujian sekarang. Tanpa memikirkan apa katamu saat itu, saat kamu bilang, "Tunggu aku habis UNAS," atau kata-kata yang lain lagi. Aku sudah tidak mau percaya, karena aku lelah percaya.

Jagain dia buat aku. Siapa pun kamu :-)

...dan usai tangis ini aku kan berjanji. Untuk diam, duduk di tempatku. Menanti seorang yang biasa saja. Segelas air di tangannya kala ku terbaring sakit. Yang sudi dekat mendekap tanganku, mencari teduhnya dalam mataku. Dan berbisik, "Selamat tidur, tak usah bermimpi bersamaku". Wahai Tuhan...jangan bilang lagi itu terlalu tinggi.

(Curhat Buat Sahabat-Dewi Lestari)

Cukup sesingkat ini rasa itu:

Monday, February 20, 2012

This Song

Bimbang-Melly Goeslaw

Since I listened to this song, long long years ago, when I was in elementary school, this song sounds the same. But I think, I feel different. 'Cause I found something freak, called: love.

Pertama kali aku tergugah
Dalam setiap kata yang kau ucap
Bila malam 'tlah datang

Terkadang ingin ku tulis semua perasaan
Kata orang rindu itu indah
Namun bagiku ini menyiksa
Sejenak ku pikirkan untuk ku benci saja dirimu
Namun sulit ku membenci

Pejamkan mata bila kuingin bernafas lega
Dalam anganku aku berada
Di satu persimpangan jalan yang sulit ku pilih

Ku peluk semua indah hidupku
Hikmah yang kurasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta bagiku tak mengapa
Namun ada yang hilang separuh diriku


Please, listen to me. I'm not lying. I couldn't understand what this song mean. I just understand, I like this song. And 'till this second, I love you so. I'm not lying.