Followers

Showing posts with label school. Show all posts
Showing posts with label school. Show all posts

Wednesday, July 10, 2013

Pertanyaan, Pilihan, dan Jawaban

Halo...mungkin baru hari ini aku bisa menulis lagi di blog setelah beberapa  bulan sudah banyak draft yang sebenarnya mau aku post, tapi aku tidak punya waktu karena kesibukanku yang semakin merajalele (?) akhir-akhir ini. Kalo ibarat artis, mungkin inilah konferensi pers yang sudah ditunggu-tunggu sama wartawan dan pekerja infotainment.

Maaf tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar dan maaf sudah membuat bertanya-tanya. Sebenarnya Dina kenapa? Kok semua status terakhirnya di jejaring sosial galau gitu? Kok saat ditanya tidak pernah ada jawaban? Kok tiba-tiba tidak punya waktu untuk bertemu? Kok tiba-tiba menjadi sangat tidak asyik dan tertutup?

Ini nih jawabannya.

Sebenarnya, sudah beberapa bulan terakhir ini aku disibukkan dengan UAS, dengan kegiatan paduan suara, dengan 2 proyek kerjasama (yang tidak bisa aku sebutkan), dan dengan 1 perubahan terbesar yang mungkin akan aku jalani. Perubahan? Apa itu? Dina mau operasi plastik? Hahaha, baca sampe tuntas ya... ;-)

Sudah setahun aku kuliah di Pendidikan IPA di UM. Jurusan ini adalah jurusan yang aku PILIH SENDIRI saat SNMPTN Tulis tahun lalu (baca cerita lengkapnya di sini). Dan tahun ini, aku mengikuti SNMPTN Tulis lagi (yang sekarang sudah berubah nama menjadi SBMPTN) untuk kuliah di jurusan Sastra Indonesia UM.

Lho? Kenapa? Emang cita-citanya Dina apa?

Ada hal di dunia ini yang bernama cita-cita. Dari kecil, cita-citaku selalu berubah. Cita-cita pertamaku adalah menjadi arsitek. Mungkin karena aku melihat bapak yang setiap hari kerjanya menggambar rumah dan membuat bangunan-bangunan. Berdiri di atas gedung tinggi, memegang penggaris yang macam-macam bentuknya, menggulung-gulung gulungan kertas besar, mainan laptop tiap hari, bertemu dengan banyak orang di dunia dan membincangkan sesuatu yang menurutku fantastis.

Lalu tiba-tiba aku ingin menjadi programmer. Melihat Mbak Anja (kakak pertamaku) yang bermain angka dan matematika di laptop. Membuat animasi lucu, mendesain web, sampe Mbak Anja pake kacamata tebal yang menurutku sangat keren.

Aku juga sempat ingin menjadi jewelry designer. Melihat Mbak Hani yang setiap hari berkutat dengan prakaryanya. Menjahit, merangkai aksesoris, wanita banget. Dan sepertinya enteng. Tapi banyak duit.

Terakhir, cita-citaku menjadi sangat mantap untuk menjadi guru saja. Aku suka sama Bu Iva, guru matematikaku di SMA. Aku juga suka sama Mbak Cinta, guru Bahasa Indonesiaku di Neutron. Aku ngefans sama Bu Susi, Oom Wawan, Mbak Ida, Mbak Upik, aku ngefans sama Bu Erna. Itu semua adalah guru yang menurutku sangat fantastis dan sangat membuatku ingin menjadi guru. Mereka bekerja tanpa pamrih, tetap tersenyum, rela belajar beberapa jam lebih awal, dengan gaji yang tidak banyak, namun mereka bahagia, hanya untuk mencerdaskan kami. Menurutku, itu adalah pekerjaan paling keren dan paling mulia, di dunia.

Akhirnya, aku memutuskan, aku ingin menjadi guru, yang sangat hebat tentunya.

Terus, kenapa pilih IPA?

Saat kenaikan kelas 11, ada hal yang membuatku galau. Ini adalah titik pertama aku harus memilih sendiri masa depanku. Aku harus masuk jurusan apa. IPA, IPS, atau Bahasa. Semua nilaiku bagus di Bahasa. Semua nilai IPS-ku rendah. Dan nilai IPA-ku biasa-biasa saja. Tapi 2 kali psycho-test menyarankanku untuk masuk jurusan IPA atau IPS.

Aku tidak suka menghapal. Ingatanku sama halnya dengan ingatan ikan. Hanya beberapa detik. Jadi, aku memutuskan untuk tidak pilih IPS, karena aku benci harus menghapal tanggal-tangal di sejarah. Secara, tidak ada 1 pun orang di dunia ini yang aku ucapkan ulang tahunnya jam 12 malam karena aku tidak pernah hapal ulang tahun siapa pun kecuali keluargaku di rumah, sekali pun itu ulang tahun pacar. Aku juga tidak suka menghitung uang. Aku tidak suka ngurusin uang. Aku tidak suka ekonomi. Aku benci politik. Aku tidak memilih IPS.

Aku suka sekali bermain verbal. Aku suka Bahasa Inggris. Karena aku bisa merasa keren tiap nilai bahasa Inggrisku muncul di rapor. Aku tidak pernah remidi pelajaran ini. Bahkan, nilai bahasa Inggrisku semester ini A. Walaupun aku sangat gagap tiap harus mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Aku suka bahasa Indonesia. Aku juga tidak pernah remidi. Walaupun nilaiku masih lebih rendah dari bahasa Inggris, tapi aku suka menulis. Aku suka blogging.  Saat SD dan SMP pun, aku suka bikin cerpen. Dan kalau teman SD-ku masih ingat, aku dulu suka sekali meminjamkan hasil kumpulan cerpenku sampai guru olahragaku bilang, “Pinter nulis ya, Dina”. Saat SMP pun aku sempat bikin 1 novel, aku jilid sendiri, aku bikin cover sendiri dan teman-teman bilang, aku berbakat. Aku sering bikin puisi di mading. Aku suka teater. Aku suka bikin naskah drama. Sudah 3 judul naskah drama yang pernah dipentaskan di  SMA yang aku tulis. Naskah film pendek yang aku tulis juga pernah menjadi juara cerita terbaik se-kota Malang saat festival pelajar. Aku punya banyak follower di blog, artinya, mereka menyukai tulisanku. Tapi, entah kenapa...aku sama sekali tidak melirik jurusan Bahasa.

Aku suka matematika. Walaupun aku sering remidi, tapi aku selalu duduk depan saat ulangan. Bu Iva bilang, yang pinter-pinter biar di depan, biar ga dicontek. Aku pernah diikutkan olimpiade matematika saat SMP. Bahkan, nilai UNAS tertinggiku saat SMP adalah matematika, hampir absolut. Aku suka biologi. Aku suka mempelajari kesehatan. Aku suka alam. Aku suka menganalisis. Apalagi soal skoliosis, tidak akan pernah ada habisnya. Aku suka teori fisika. Tapi aku benci rumusnya. Aku tidak pernah suka kimia. Dan tidak pernah mendapat nilai bagus. Aku tidak bisa mengerti kimia sampai detik ini. Entah kenapa. Tapi, dengan mantap aku pilih jurusan IPA waktu SMA. Karena waktu itu, IPA adalah hal terkeren di dunia. Bapakku juga senang sekali aku masuk IPA. Sama seperti Mbak Anja dan Mbak Hani. Aku juga mendapat nilai kesenian (yang waktu aku kelas 12 adalah seni mendesain seperti arsitek) yang di atas rata-rata. Kata Pak Joko, aku adalah 3 besar cewek yang desainnya bagus dan rapi di kelas setelah Ressy dan Mia.

Entah kenapa, aku juga masih tidak mengerti, mengapa aku memilih IPA. Pilihan yang dibuat oleh seorang remaja yang masih labil. Yang masih belum mantap cita-citanya, dan masih belum melihat masa depan, yang beberapa tahun lagi harus ia jalani. Dengan tidak main-main.

Gimana ceritanya pas milih jurusan kuliah dulu?

SNMPTN Undangan

Sebodoh-bodohnya aku, ternyata aku masih termasuk anak yang dianggap pintar sama guru-guru. Sedikit arogan, ya? Memang. Aku masuk di daftar murid yang diberi kesempatan untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan (dulu PMDK). Walaupun rangkingku di sekolah sangat tidak seberapa dan itu hanya kebetulan saja. Aku bingung harus memilih jurusan apa. Aku mencocokkan dengan cita-citaku. Aku memilih Pendidikan Matematika di UM, karena aku ingin menjadi guru. Pilihan kedua, aku pilih Matematika murni, karena siapa tau kalau tidak masuk pilihan pertama, pilihan kedua bisa nyantol dan aku bisa ambil PPG (Pendidikan Profesi Guru) dan menjadi guru juga nantinya.

Kenapa pilih matematika? Karena, setelah 2 tahun sekolah mempelajari IPA, aku tidak bisa mengikuti. Semua nilai yang aku dapatkan sejak SMA, tidak jujur. Walaupun sudah les privat fisika dan les di bimbel, aku tetap tidak bisa menyerap pelajaran-pelajaran IPA. Aku hanya mengandalkan google, contekan teman, dan kertas contekan yang aku buat semalam sebelum ujian. Tapi entah kenapa, nilai ujian lisan fisikaku bagus. Aneh. Intinya, ujian IPA adalah mimpi buruk, kecuali biologi. Dan hanya matematika dan biologi yang bisa menyelamatkanku, karena nilaiku di 2 pelajaran itu yang paling lumayan.

Jurusan ketiga yang aku pilih adalah Ilmu Gizi di UB. Aku ingin menjadi orang yang paling sehat di dunia dan menjadi orang yang paling mengerti kesehatan (karena semenjak aku sakit, aku jadi lebih peduli kesehatan) melalui makanan. Aku sempat ingin menjadi dokter, tapi aku sadar diri, otakku tidak pernah sampai. Setidaknya, ilmu gizi tidak perlu banyak main rumus fisika dan kimia, ku kira.

Di SNMPTN Undangan, nilai yang paling stabil-lah yang paling dilihat. Sedangkan nilaiku naik-turun seperti grafik cosinus. 2 hari sebelum pengumuman SNMPTN Undangan, aku bermimpi ada seseorang yang mengatakan padaku, aku tidak cocok masuk jurusan ilmu gizi. Dan ternyata benar. Malah aku gagal di ketiga-tiganya.

SNMPTN Tulis

Kegagalanku di SNMPTN Undangan membuatku makin galau, karena aku harus memilih lagi. Dan kali ini lebih berat. Belum lagi, Dini dan saudara sepupuku diterima lewat jalur undangan. Sedangkan aku masih harus berjuang lagi. Ada faktor mental yang lebih berat kali ini. Tiba-tiba aku ingin menjadi guru SD. Aku sangat suka anak-anak. Dan aku adalah orang yang tidak bisa fokus pada 1 bidang secara total. Aku kira, dengan menjadi guru SD, aku bisa memelajari banyak bidang dengan tidak terlalu detail. Aku juga akhirnya ingin memilih Pendidikan Bahasa Indonesia. Tapi...aku terlalu pengecut untuk mengambil IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran) atau bahkan IPS saat tes. Karena aku merasa, untuk memelajari IPA saja sudah susah. Apalagi harus memelajari IPS secara dadakan dalam 1 bulan saja. 

Karena pengecut, aku tetap memilih jurusan di bidang IPA. Aku tetap memilih Pendidikan Matematika UM. Aku masih sangat ingin menjadi penerus Bu Iva. Dan saat aku bingung menentukan jurusan kedua, tiba-tiba aku melihat ada jurusan Pendidikan IPA di daftar. Aku kira, dengan mengajar SMP, aku tidak perlu terlalu detail memelajari Fisika dan Kimia. Apalagi, pelajaran SMP pasti lebih mudah dari SMA, jadi aku tidak perlu khawatir aku tidak bisa Fisika dan Kimia.

Dan akhirnya dengan bangga, aku lolos SNMPTN Tulis, di Pendidikan IPA. Dan menjalaninya sampai sekarang.

Lantas, apa alasan ingin pindah jurusan?

Awal masuk, aku sangat sumringah walaupun aku kesulitan dari awal untuk menyerap pelajaran di kelas. Aku kira kesulitan ini karena aku masih dalam proses adaptasi. Ternyata aku salah, di sini tidak semudah bayanganku. Lambat laun, aku bukannya menemukan peningkatan pemahaman. Entah mengapa, makin lama aku makin tidak paham. Aku mudah mengantuk di kelas, karena aku sama sekali tidak mengerti. Parahnya, aku baru sadar, aku tidak mengerti dari konsep awal, yang diberikan di SMA dulu. Ketidakmengertian yang ditumpuk-tumpuk lama-lama menjadi menggunung. Makin hari aku makin tidak mengerti, tidak mengerti, dan tidak mengerti. Semua laporan praktikum Fisika yang aku buat adalah hasil pekerjaan teman yang aku copy. Hanya 2 laporan awal yang aku kerjakan sendiri, karena materinya masih mudah. Saat pembagian pengerjaan laporan biologi dan kimia secara kelompok, aku selalu meminta teman sekelompokku untuk mengerjakan dasar teori, data pengamatan, dan analisis data saja. Di luar itu, aku sudah tidak paham. Aku benci presentasi biologi. Setiap presentasi, aku selalu terlihat bodoh, gagap, dan selalu ditertawakan. Akhirnya, aku selalu meminta untuk menjadi operator saja. Hanya praktikum biologi yang membuatku terlihat pintar. Dan nilaiku selalu A. Di praktikum kimia, aku selalu salah takaran, selalu menumpahkan larutan, dan saat ujian praktikum kimia, aku selalu tidak bisa mengerjakan apa-apa selain prosedur pengerjaan. Aku tidak mengerti sama sekali arti rumus dalam kimia. Bahkan, saat ujian praktik Fisika, dari 2 praktikum yang diundi dari 5, hanya 1 praktikum saja yang bisa aku kerjakan. Sisanya, blank. Dan aku menangis saat pulang ujian. Karena, sudah 2 semester aku mengalami hal yang sama. Aku tidak betah, aku tidak menemukan diriku di sini.

Bukannya aku tidak berusaha, tapi entah mengapa, aku tidak bergairah untuk belajar kali ini. Aku selalu ketiduran saat belajar, karena bosan dan tidak mengerti. Saat diterangkan teman, aku mengerti. Tapi setelah ujian, aku selalu tidak mengerti lagi. Aku tidak paham, kenapa aku. Kenapa semua harus berakhir dengan bantuan Google, dan beberapa teman yang kasihan melihatku tidak bisa, dan akhirnya memberi contekan. Adakah seorang calon guru yang lebih hina dari aku? Bagaimana muridku nanti? Apa yang akan aku jelaskan di depan kelas? Apa aku bisa menjawab saat ada murid bertanya? Apa iya, setiap ada teman dari fakultas lain meminta bantuan kepadaku untuk membuat PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) bersama, aku selalu menolak, karena aku tidak bisa IPA? Apa iya, saat ada teman dari teknik minta diajari fisika aku selalu melempar pada teman lain, karena aku sendiri tidak mengerti? Apa iya saat salah satu temanku minta dikerjakan PR-nya soal vektor, aku harus membuka google lagi dan lagi lalu mengirimkan jawabannya lewat BBM dan ia berterima kasih karena aku telah membantu menjawab, mengatakan aku pintar, padahal itu bukan pekerjaanku sendiri? Apa aku bangga menjadi seperti itu? Menjadi orang yang sama sekali tidak berfungsi secara optimal? Dan sampai kapan aku bergantung seperti ini?

Tulisan yang ada di kertas ujian Kimia. Astaghfirullah... :-(

Aku berusaha bertahan, berusaha suka, berusaha komitmen dengan pilihan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dipaksa. Yaitu passion. Seperti kata seseorang, “Passion energizes your talent”. Ada satu hal yang tidak bisa diganggu gugat. Ada satu hal yang tidak bisa dimengerti. Ada satu hal yang jika diterima dan dimengerti bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Passion. Passion. Dan passion. Dengan berat hati, aku mengatakan, aku tidak ada passion di sini. Di pilihanku sendiri. Pilihan yang tidak dipilih dengan pertimbangan luas. Pilihan yang lahir dari pengecut yang tidak berani mengikuti hatinya. Astaghfirullah...maafkan aku Yaa Rahman L

Lalu, mengapa harus sastra?

Tidak ada yang kaget kenapa aku suka sastra. Jika aku di sastra, aku bisa mensinergikan dan menyalurkan kesukaanku akan menulis dengan layak dan sejalan, bukan hanya sekedar hobi. Ada energi tersendiri yang lahir saat kau mengerjakan apa yang kau sukai tanpa ada paksaan. Ada tanggung jawab besar yang menyenangkan walaupun berat jika kau berada di zona yang membuatmu menemukan jati dirimu seutuhnya, sesulit apa pun itu. Dan aku masih mau meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, S2, S3, dan berapa S lagi yang akan tercipta jika aku di sini. Karena aku suka. Dan aku yakin, aku dilahirkan memang untuk itu. Jika semua kemampuanku dilumpuhkan oleh Allah, hanya ada satu hal yang aku ingin tetap ada. Yaitu kemampuan dan kemauanku untuk menulis. Karena dengan menulis, aku bisa berbicara pada dunia, mengatakan apa yang tidak mampu aku katakan dengan suara. Writing works more than voices. Bahkan, ketika aku sudah tidak mampu lagi berbicara, ketika aku dilarang melakukan apa pun di dunia ini, tolong...jangan larang aku untuk menulis. Itu saja. Aku suka. Dan aku cinta. Tanpa paksaan.

Mendramatisir memang.

Ujian SBMPTN

Aku lalu mengambil uang tabungan dan uang saku kosku. Ke bank sendiri. Mendaftar SBMPTN. Ke Gramedia, membeli buku-buku kumpulan soal dan buku materi IPS. Ke gudang, mengobrak-abrik buku SMA, dan memulai belajar...sebagai anak IPS.

Ujiannya tidak terlalu sulit untuk pengetahuan umum, aku mengerjakan dengan yakin dalam jumlah yang lumayan banyak. Untuk ujian SOSHUM, memang hanya sedikit yang aku yakin. Namun kali ini, aku mengerjakan lebih pede dari tahun lalu, entah karena sudah pernah, atau memang karena aku bisa. Aku sangat optimis sekali.

Bagaimana hasil SBMPTN kemarin?

Mungkin ini jawaban yang ditunggu. Jadi, malam hari sebelum pengumuman, aku bermimpi sangat indah. Aku bermimpi ada di medan perang ujian praktik SIM C sedang mengendarai motor bebek. Aku memakai rok hitam, kemeja putih, dan jas almamater UM, persis seperti gaya mahasiswa baru yang sedang ospek. Kebetulan, tanggal 8 Juli kemarin, aku akan mendapatkan 2 hal spesial, harusnya sih. Aku akan ujian praktik SIM C untuk kedua kalinya dan akan menerima pengumuman hasil SBMPTN. Di mimpi itu, aku sangat bahagia mengendarai motor itu. Dan aku berhasil melalui ujian praktik SIM itu dengan sangat lancar, mulus, dan sempurna. Sampai-sampai di mimpi itu, namaku tersohor di pelosok negeri karena aku adalah wanita dengan nilai praktik tertinggi. Pulang dari praktik, aku yang masih berpenampilan sama, berbelanja kebutuhan ospek di sebuah mini market. Sungguh, itu mimpi paling indah sedunia.

8 Juli 2013

Tiba-tiba aku terbangun, aku bangun kesiangan. Maklum, aku sedang tidak solat, jadi tidak memasang alarm di saat subuh. Aku bangun 30 menit sebelum kantor SATLANTAS buka. Sampai di sana bersama ibu, aku sangat percaya diri walaupun masih deg-degan gara-gara kesiangan. Dengan senyum dan berkali-kali membaca Al-Fatihah, aku memulai ujian. Aku tidak terlalu gugup karena sudah pernah melakukannya. Dan aku sangat optimis, entah kenapa. Tapi, baru beberapa detik ujian, aku sudah menjatuhkan palang. Parahnya lagi, kakiku turun ke tanah. Motorku juga ke luar jalur. Aku tetap bersikukuh menyelesaikan ujian, walaupun nyata-nyata sudah gagal. Ujian kali ini lebih  buruk dari ujian sebelumnya. Di ujian sebelumnya, aku hanya menjatuhkan 2 palang tanpa menurunkan kaki. Tapi di ujian ini, sudah berapa kali aku melakukan kesalahan. Dan aku harus mengulang 2 bulan lagi. Mimpiku ternyata bukan untuk sekarang.

Masih down gara-gara gagal dapat SIM untuk ketiga kalinya, sore ini aku harus membuka website resmi SBMPTN untuk melihat hasil SBMPTN-ku. Aku sengaja melihatnya agak malam, karena aku tau kalau sore, pasti masih lemot. Aku buka dulu website Lipsus Kompas. Dan aku memasukkan namaku, nomer ujian, dan kode prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah. Tidak ada hasil. Ah, mungkin di prodi satunya. Aku masukkan kode prodi Sastra Indonesia. Tidak juga ada. Ah, mungkin Kompas yang eror.


Akhirnya aku membuka website SBMPTN karena masih kurang lega dengan jawaban yang diberikan Kompas. Dan ternyata...Kompas benar.  Aku lalu menghubungi salah satu temanku yang ikut SBMPTN ulang, sama denganku. Dan dia juga senasib denganku. 2 temanku lainnya juga sama. Kami sama-sama tidak lolos.

 Tulisan ini sama sekali jelek dan tidak memberi semangat. Harusnya ada kata-kata penyemangatnya. Tidak heran kalau anak-anak yang tidak lolos merasa sangat down.

Rasanya...benar-benar...campur aduk. Sambil memandang laptop, tanpa rasa apa pun. Flat. Sesekali tertawa dan bicara sendiri pada laptop, “Pasti kamu bercanda, ya kan...ya kan?”. Sedikit linglung dan mendadak galau luar biasa sangat, dan tidak bisa berpikir jernih. Melihat handphone yang sedari tadi berbunyi mengantarkan puluhan SMS, chat, dan mention Twitter dari teman-teman yang menanyakan hasil ujianku. Rasanya kacau. Mereka tidak akan mengerti. Dan aku malas menjelaskan satu-satu dari mana. Akhirnya aku mematikan handphone. Dan membiarkan mereka dengan rasa penasaran. Bergegas ke kamar mandi dan menyalakan kran sampai airnya penuh, aku tidak peduli. Seperti di sinetron. Seperti film Pocong. Sayangnya aku tidak punya shower. Menangis sejadi-jadinya. Lalu aku ke kamar. Melihat cermin. Berbicara sendiri. Memotivasi diri. Seperti orang gila. Lalu aku sadar, aku mulai gila. Aku tidak mau gila. Dan semua luluh...karena Al-Quran. Hanya Allah yang bisa aku ajak bicara sekarang. Di saat rumah sepi, di saat semua tarawih. Aku merasa sangat sendirian. Mengalami 4 kegagalan dalam sehari. Gagal dapat SIM, gagal lolos SBMPTN, dan gagal mengikuti tarawih pertama, serta gagal memberi kabar gembira pada Vindy, sahabatku yang hari itu ulang tahun, memberi tahu bahwa aku lolos. Itu sungguh menyakitkan. Dan tidak ada yang bisa mengerti...

Akhirnya aku membuat status di Twitter, membiarkan mereka yang bertanya-tanya menyimpulkan sendiri.

“Alhamdulillah... Allah showed so many things today for me, for my future. Allah knows how to make me wiser, knows the best. Alhamdulillah J

Lalu seketika banyak yang memberi respon dengan mengucapkan selamat atas kelolosanku. Aku hanya bisa tertawa miris, mereka tidak juga mengerti. “Alhamdulillah” adalah pujianku atas kemahadahsyatan Allah. Bukan selalu hanya ungkapan gembira atas suatu pencapaian. Aku bersyukur, Allah masih mempercayaiku menjadi orang yang selalu harus berusaha. Aku harus ditempa bolak-balik agar menjadi baja yang paling kuat. Allah suka hamba-Nya yang berusaha. Allah tidak akan memberi cobaan lebih berat dari kemampuan hamba-Nya. Allah suka orang yang sabar.

Lalu paginya, saat semua sahur, aku memutuskan untuk membuka HP dan membalas beberapa pesan hanya untuk orang yang aku percaya dan benar-benar bisa mengerti aku. Aku sungguh sangat berterimakasih pada Sundari dan Didin, yang paling tahu alasanku begini, dan yang menemani hingga saat ini, aku tidak tahu siapa lagi yang akan mengerti. Terima kasih selalu menjadi tempatku mengeluh. Oh iya, FYI, Sundari diterima di Sekolah Tinggi Teknik Nuklir tahun ini, dan dia akan segera pindah dari Pendidikan IPA. Congrats, kamu berani jadi dirimu sendiri, Sun :-)

So...what’s next?

Siangnya, aku ke UM ditemani Dini. Aku ke gedung  di mana aku bisa mendapatkan informasi yang akurat tentang cara ke luar dari fakultas lama ke fakultas baru sambil menunggu pengumuman ujian mandiri. Tapi sayang, aku kurang mendapat pelayanan yang baik di sana, entah mengapa mereka tidak bisa menangkap dengan baik maksudku. Akhirnya, tanpa berpikir lama, aku pergi ke bank dan membeli formulir ujian mandiri. Sambil hujan-hujanan. Sampai pilek.

Bismillah, aku akan mencoba cara terakhir ini. Aku akan belajar lagi. Ya Allah, aku serahkan semua pada-Mu. Terima kasih telah percaya padaku untuk menyelesaikan masalahku sendiri. Engkau yang hidup dan kekal, yang tidak pernah tidur dan yang paling mengerti, Engkau tahu mana yang terbaik untuk hamba-Mu yang terkadang masih melupakanmu ini. Aku terima, apa pun nanti hasilnya. Aku akan berubah lebih baik lagi...aku janji, ini terakhir kali kecewa dan mengecewakan.

Allah paling tahu, isi hati yang terkunci dan yang hilang kuncinya. Allah bisa membukanya dengan cepat. Bismillahirrahmannirrahim...


Semoga tidak akan ada Dina-Dina yang lain, yang senasib. 

Semoga pilihan, tidak akan lagi membingungkan. Dan semoga pilihan, adalah jawaban, bukan pembingungan. Selamat, buat manusia yang diciptakan bisa dengan mudah memilih, hargai itu, kalian hebat :-)

"Allahumma yassir wala tu'assir. Rabbi tammim bilkhoir. Birohmatikaya Arhamarrohimin."

Friday, November 16, 2012

Missing Parts: Yearbook Stetsa 2012, Done!

Setelah beberapa bulan bekerja dengan Sudden Team, akhirnya saat lulus kami bisa membawakan buku proyek kami ini ke teman-teman alumni SMA Negeri 4 Malang bersama Volare. Nah, karena permintaan beberapa kakak kelas yang penasaran sama bukunya nih, kali ini aku mau share hasil kerja keras kami yang uda nguras ide kreatif, tenaga, sampe ngemis-ngemis cara sponsor sana-sini nih, hihi. Check this out...

Ini dia cover depan dan belakang buku kami. Sebenarnya di sini ada salah Grammar, hihi. Harusnya Adolescence atau Masa Remaja,tema yang kami angkat. Bukan Adolescent, hehe....soalnya artinya anak remaja. But it's never mind yang penting pesannya nyampe, hihihihi

Nah, pas dibuka nih buku, ada kejutan di halaman pertamanya. Yak, ada pop-up-nya nih kayak di video klipnya Vierra tuh, hehe. Di sini ada gambar balon udara sama kayak di cover-nya. 


Semua desain visual yang dibuat di buku ini berdasarkan ide kreatif Sudden Team bersama Volare yang divisualisasikan sama sang tangan ajaib Mbak Puput, lihat hasil-hasil karyanya di sini.
Dan yuk mari intip-intip beberapa isinya...
Filosofinya kenapa kita pake nama ini buat judul, click to enlarge.



Sudden Team berarti panitia yang kebentuk tiba-tiba gitu aja banget (pleonasme banget, ya) gara-gara pas mau lulusan, di sekolah kami belum ada panitia yang ngurusin masalah album kenangan angkatan kami. Berhubung masalah album kenangan ini di luar urusan sekolah, kami harus membentuk panitia mandiri dan bekerja sama dengan advertising yang kami setujui. Akhirnya kami bertujuh sepakat untuk membentuk panitia dadakan buat ngurusin masalah album ini. Dan taraaaa inilah kami...


Ini dia Sudden Team. Dari kiri aku, Shela, Jane, Ian, Kukrik, Gigi, dan Nanda.

Volare, advertising asal Jogja yang profesional ngurusin masalah yearbook, fotografi sampe organizing. Tim kami waktu itu terdiri dari Mbak Puput di desain, Mas Arba, Mas Aji, Mas Panjang, dan Mas Ryan di editing dan photography, and many others. Cek info Volare selengkapnya di sini.

Award buat temen-temen yang konyol nih, ada si Sony juga tuh, hihihi



Nah ini foto angkatan, maaf ya kebalik-balik gini, kelewat mau rotate, dibalik-balik aja deh kalo liat ya
:-p

Ini hasil karyanya si Ian, komik yang nyeritain tentang masa-masa SMA kita dari awal, so "hiks"


Beberapa snap shoots pas pemotretan

 





Oke, thanks Volare, thanks Stetsa, semoga buku ini tetap membawa senyuman di setiap halamannya :-) 

Saturday, July 14, 2012

Long Holiday: Situ Patenggang

Ennnah...setelah puas di Kawah Putih, mumpung masih di daerah Ciwidey, lanjut aja ke Situ Patengan (atau bisa juga dibilang Danau Patenggang) beberapa ratus meter dari sana, sekitar sepuluh menit lah. Kalau sejarah tentang Kawah Putih tadi itu fakta, ada cerita menarik di danau ini, cuman bedanya yang ini fiksi. Konon katanya ada dua dewa dan dewi yang sedang jatuh cinta, trus mereka terpisah oleh jarak (sejujurnya aku lupa karena apa gitu ya), trus akhirnya mereka dipertemukan lagi di Batu Cinta, ada di tengah pulau kecil di danau ini. Mirip-mirip cerita tentang nabi Adam dan Siti Hawa yang dipertemukan di bukit Safa dan Marwah, ya? :-D

Ini dia danaunya yang seger banget...

Di sana kita bisa nyewa perahu, cuman, pinter-pinter aja buat nawar, soalnya makelar perahunya juga pinter banget kalo ngasih harga.

Yuk, kita intip kelucuannya Arsa di perahu.



Pas udah di tengah danau, akhirnya kita nyampe di lokasi Batu Cinta yang terkenal itu.

Entah batunya yang mana, apa yang ada di belakang kananku itu juga ngga ngerti ya, soalnya ga ada tour guide-nya di sini.


Atau yang ini?

Yang ini?

Yah...pokonya yang Batu Cinta ada di pulau yang tadi deh :-D. Pengen gitu nulis-nulis "S love D" (hah? apaan?), cuman engga bawa tipe-x :-D

"Hayooo aku sama Ayahku ganteng mana?"

Arsa galau

Arsa sama tantenya yang paling cantik sedunia

Berhubung keterbatasan waktu, soalnya ntar malem aku sama Dini mau nonton konsernya Mocca, jadi wisatanya segitu dulu, belum lagi kena macet sampe 4 jam pas balik ke rumah...haaah..., gimana-gimana kota paling pas ya Malang deh :-D

See you!

Saturday, June 16, 2012

Our Last Project and It's Awesome!

"Bu, liaten a... Aku ga bisa maju ke atas panggung emang... Tapi aku bisa bikin temen-temen, guru-guru, wali murid pada ketawa, tepuk tangan, mereka seneng lhooo... Ga sia-sia aku sama Kukrik iseng bikin ini sampe ketiduran di meja komputer".


Waktu itu, aku dan Kukrik memang sudah lama ingin membuat film dokumenter seperti kebanyakan anak SMA yang mau lulus. Apalagi, aku memang bukan tipe anak yang bisa diem kalo engga show off dalam artian aku emang suka banget bikin video-video ga jelas sama temenku, Radea, dan pamer ke semua orang (orang paling nganggur sedunia dengan ide paling gila ya cuman Radea). Akhirnya, aku dan Kukrik memutuskan untuk membuat video ini dimulai dari saat kami semua intensif UNAS. Nyusun draft, ngumpulin video perkelas (dan itu ngga gampang soalnya semua kurang antusias sama proyek kita ini), diskusi kecil-kecilan sambil nyuri-nyuri jam (soalnya aku dan Kukrik beda kelas, beda tempat les pula).

Tapi cuman satu kendala kami. Kami sama-sama ngga punya kamera profesional atau pun handycam buat nggarap proyek ini. Kami cuman punya kamera pocket dengan resolusi 10 megapixel dan dalam keadaan sama-sama rusak. Akhirnya, kami dibantu Ajeng dan Sheila dengan dipinjami kamera sama mereka. Setelah itu, kami juga dibantu Taju dan Radea dalam proses ambil gambarnya.

Sebenarnya kalau dilihat saja, video ini simple, hanya dipotong dan digabungkan. Tapi mengoordinasi semua video yang kami dapat itu ngga mudah. Belum lagi converter yang sering ngadat. Gambar yang kadang pecah. Audio yang ngga bersahabat. Software yang abal-abal. Laptop yang suka manja. Waktu ketemuan yang singkat banget. Belum lagi kalau kami cekcok pendapat. Sampai-sampai aku pulang malam dari rumah Kukrik dan Kukrik menginap di rumahku. Menunggu publishing yang berjam-jam sampai tertidur dan harus lari-lari karena telat les. Semua kayak gado-gado sampai suatu hari pernah kami hampir putus asa karena ini.

Belum lagi, proses pengumpulan dana sponsor yang ribet sekali. Hampir 10 tempat sudah kami kunjungi (berasa minta sumbangan gitu) sampai malam mengajukan proposal ke sana-ke mari dan hanya 4 tempat yang mau mendanai proyek kami ini, so thankful!

Bahkan, tepat H-1 wisuda, kami sempat hampir putus asa karena video yang kami buat rusak parah dan sempat tidak mendapatkan izin penanyangan khusus dari sekolah. Aku menyerah duluan. Tapi aku salut sama Kukrik yang mau membenahi video ini sampai beberapa jam sebelum wisuda. Dan usahaku sama Kukrik ngotot-ngotot ke pihak sekolah untuk dapet jam khusus penayangan film ini waktu wisuda terbayar sudah dengan respon positif dari teman-teman Stetsa, guru-guru, dan wali murid yang mau menunggu sampai film-nya selesai (walau aku tahu itu bukan waktu yang singkat buat menunggu). I'm sure, we couldn't say anything, friends...
Click to enlarge photo

Dan ini dia bayi manja yang sempet diprediksi keguguran, tapi akhirnya lahir dengan selamat... Selamat menonton, teman-teman... Ini versi asli tanpa sensor (ada beberapa bagian yang harus disensor saat wisuda kemarin karena permintaan dari sekolah). Kalau ada kritik, langsung ke kita ya, oke oke?


Oh iya, maaf video ini masih punya kekurangan di sana-sini. Termasuk dari kata-kata yang salah, hasil crop yang kurang halus, kesalahan penulisan nama, termasuk backsound I Remember-Mocca dan Sahabat Sejati-Sheila on 7 yang lupa kita cantumin, dan apa pun itu deh :-D

Special thanks to:

Allah SWT, tanpa Dia, kami tidak mungkin seberuntung ini
Sandi 'Kukrik' Mawarnita H., tanpa kamu, video ini cuman mimpi
Novia Gita Suriantina, yang udah bantuin bikin proposal yang unyu banget
Sheila Masita, yang udah pinjemin kamera barunya ke kita
Ajeng Lati Lestari, yang juga minjemin kamera ke kita
Ardyan Wicaksana, yang mau jadi artis gratisan dan rumahnya kita ubek-ubek
M. Tajuddin Zain, yang udah ngebantu ambil gambar
Alfaries Radea, yang udah ngasi ide, bantu ambil gambar, walaupun idemu banyak yang ilang
Aulia Akbar, yang mau nganter ke sana-ke mari
Bu Indri, yang mau bantu nyunting video dan ngizinin kita nampilin video ini
Ernita Aprelia Gultom, yang jadi ikut kecipratan sibuk
Bapak-Ibu, yang mau sabar ngadepin aku ribut-ribut gini-gitu
Mbak Karinta, yang rumahnya kita ubek-ubek pagi-pagi dan ke Surabaya buat nggandain film ini
Dian Muliasari, yang udah nyumbang video kelulusan
Semua pihak yang udah ngebantu terwujudnya film ini yang ga bisa aku sebutin satu per satu
Dan SEMUA WARGA STETSA yang apresiasinya tinggi, tanpa kalian, film ini bukan apa-apa

Sponsored by:
Ganesha Operation
Neutron Yogyakarta
D'Fria Collection
ANP Tour and Travel

Nb:
Semua 'mantan' anak kelas XII 2012 bakal dapet CD-nya satu per satu gratis kok, teman-teman... Ditunggu ya ;-)


"Krik... Kita berhasil!"

Proud To Be IKASTETSA 2012

30 Mei 2012

Hari ini, kami anak-anak kelas 12 SMA Negeri 4 Malang 2012 akan dikembalikan ke orang tua (perpisahan gitu deh bahasa umumnya). Seperti tahun-tahun sebelumnya, perpisahannya diadakan di Hotel Gajahmada. Dan inilah panggung yang sederhana itu :-D

Prosesi pembacaan ikrar alumni Stetsa oleh Akbar dan Vina.

Sambutan Kepala Sekolah, Bapak Tri Suharno

Sambutan Wakil Kepala Kurikulum, Bu Herlina Wahyuni. Stetsa berhasil menduduki 10 besar Kota Malang untuk hasil Ujian Nasional.

Yang berbaju biru itu ibukuuuu

Vano dan Didi

Aji, Eza, dan Faris

Kelas XII IPA-3 ter'unyu'


Walaupun kami satu-satunya SMA negeri di Malang yang ngga pake kebaya waktu wisuda, tapi kami terlihat kece, bukan?

Si Fifi sama Bu Lilik yang duet bareng sampe bikin merinding satu gedung

Putri dan Wira si anak-anak berprestasi

Putri dan Ajeng

Mia, Ani, Akbar, dan Dias

Pipit, Nana, Amal, aku, dan Ressy

Fitri, Fisah, Dina Nisrina Amelinda (ini nih yang nama lengkapnya ikut-ikutan kaya' namaku, lol), Mifta, dan Safa




Tania, Mia, Amal, Nana, aku, dan Ressy

Demac (Si Kapten Kelas), Dheni, Mahmud

Tim paduan suara yang suaranya oke punya, bikin suasana perpisahan makin syahdu mendayu-dayu

Putri, Wira, Karina, dan Ajeng

Ressy, my deskmate selama 2 tahun

Abi, Nafis, Dias, Radea, Boim, Demac, dan Dheni

Nana dan Taju

Mahathir and Mom

Me and Sheila

Gueeeeh itu gueeeh, FYI, kali ini aku belajar dandan, lho... Pake alas bedak, pake blush-on, eye shadow, hihi :'D

Wisuda kali ini bener-bener berkesan banget, masih ingat dengan cerita wisuda SMP-ku? Rasanya baru kemarin aku bercerita tentang masa SMP-ku, sekarang aku sampai di penghujung masa SMA-ku. Walaupun lagi-lagi aku belum bisa membuat ibuku bangga melihatku naik ke atas panggung--terakhir naik ke atas panggung dengan predikat siswa berprestasi hanya saat SD--tapi aku bangga bisa lulus dengan baik dari SMA yang sederhana ini dan (boleh dibanggakan sedikit) aku pernah menyumbangkan 1 piala di bidang teater, serta beberapa penghargaan nonakademik lainnya di sini. Aku bakal kangen SMA yang penuh canda, tawa, sedih, suka ini. SMA ini jadi saksi semua-muanya yang udah aku lalui dari sekedar gadis cupu menjadi kupu-kupu. Oh iya, di akhir acara, aku dan Kukrik berhasil membuat kesan dengan pemutaran film dokumenter yang kami buat. Penasaran? Tunggu posting-ku selanjutnya, ya!

Bangga menjadi Ikatan Alumni SMA Negeri 4 Malang.


Photos source: Tajuddin's camera and Ajeng's camera