Followers

Tuesday, August 03, 2010

My New Family


Mungkin inilah yang namanya menikmati sesuatu yang baru.

Ya, masih segar. Walaupun agak kaku, tapi inilah keluarga. Keluarga baruku. Ya, Sebelas IPA 3.

God, semoga ini awal mula yang bagus. Dua hari satu malam. Semoga akan menjadi kebaikan 2 abad satu dekade…

Our warm smile when we were working with our wall-magazine.

My Own Skies

July 26th 2010, 5.18-5.33 p.m.

Langit ini. Mungkin ngga bakal seindah violet sky di Paris yang Pak Joko pernah cerita. Tapi, senja ini jingga. Ungu. Biru. Putih. Indah. Perfect.

Subhanallah…

I am thankful for this moment, God.

Jepretanku mungkin masih sangat kurang mengekspresikan awesome-nya langit sore itu. Tapi, lihatlah. Amazing, huh?



Tuesday, July 06, 2010

Her Smile

Hey, look at this! I took this picture when Tiara, my old baby-sitter’s daughter played with me yesterday. Look at her face. What an innocent baby! I remember when I am just a little girl. Not running too far with her face. I wanna have a natural expression like her. I wanna have eyes with a pure spot like her eyes, still blank. And the very important thing, I just wanna have a smile as natural as her smile. Yeah, as natural as a baby’s smile.

How Strange



“Eh, bentar, liat deh, ngerasa aneh ngga sama tuh daun?” potongku.
“Yang mana sih?” tanya dia.
“Yang itu,” aku tunjukkan padanya.
Ya, agak susah mengamatinya bila tidak dengan mata kurang kerjaan seperti mataku. Di samping ukuran daunnya yang kecil dan banyak sekali, daun aneh ini juga agak sembunyi waktu itu. Cuman daun ini doang yang paling aneh dari ribuan daun lainnya. Aku ngga ngerti apa nama daun ini. Yang jelas, dia banyak, kayak rumput, dan berbunga kuning. Aku tanya pada kakakku yang kuliah di jurusan biologi juga ampun dah, dia kagak tau persis namanya. Tapi katanya sih, sejenis kacang-kacangan, tapi bukan kacang. (Nah trus apa’an deh kakak) -,-“
Aku suka sesuatu yang simpel, tapi mempunyai makna yang besar, lebih besar dari ukuran kesimpelan sesuatu tersebut. Perhatiin deh. Siapa lagi yang bakal bikin lubang-lubang seperti itu, kambing? Ngga kan, pasti ulat.
Ulat yang sekecil itu dengan otak sekecil upil (upil mah kegedean kaleee) aja bisa bikin gigitan yang punya nilai seni. Liat deh, ni udah aku kasi region out of focus biar jelas. Bentuknya seakan sengaja dibikin simetris kan? Ngga asal bikin lubang aja kayak ulet biasanya. Kayak biola.
Ulet aja pinter, nah, masa’ kalah sih sama ulet?!

Sunday, June 27, 2010

My Design

Tanggal 29 Juni nanti, Teater SETIA akan mengadakan demo ekskul buat adik-adik kelas yang baru. Lihat rancangan brosur yang aku buat. Hehe, lucu bukan?

This Is Not The Final

Pagi itu aku, ibu, dan bapak berangkat menuju SMAN 9, sekolah di mana tempat saudara kembarku berada. Ya, saat yang dinanti. Hari penentuan.

Dini mendapat ranking dua di kelasnya. Great, dia memang pintar. Dan dia masuk jurusan sesuai apa yang dia inginkan. IPS.

Trip ini kami lanjutkan. Sekarang menuju SMAN 4, sekolahku. Ibuku ke luar dari kelasku sambil tersenyum. Alhamdulillah, itu bukan sesuatu yang buruk mungkin. IPA, ya, aku berhasil masuk IPA. Walaupun tidak tertulis ranking seperti semester lalu saat aku ranking 5, setidaknya aku lega nilaiku naik, Allah masih menghendakiku untuk mengejar PMDK. Semoga tercapai Ya Allah, amin…

Ya. Sebuah hasil. Akan setimpal dengan sebuah usaha. Aku janji, aku akan menjadi lebih baik lagi, aku akan memulai cita-citaku di sini. Keep on fighting, Dina J

Hachiko dan Kesetiaan

Hachiko, a Dog Story.

Awalnya aku tak yakin dengan film ini. Aku kira hanya sebuah film petualang hewan biasa. Ternyata, film ini mempunyai sebuah makna yang kental. Simple. Sangat simple.

Arti penting sebuah kesetiaan.

Thursday, June 24, 2010

Yeah, Cepat Datang dan Cepat Pergi

Hari terakhir. Lembar terakhir, urutan ke sembilan puluh sekian-sekian. Alhamdulillah, aku ngga nyangka, walopun awalnya pesimis, ternyata SMA 4 mau kenal sama aku. DINA NISRINA dinyatakan tercantol di SMA 4. Makasih Allah J

MOS. Ngga serem sih, tapi inget ngga, “Pilek kak, srottt”.

Haha, cengeng. Mungkin kalian inget kan. Ya udah, lupain, hehe.

The best part of SMA 4 is: SEPULUH ENAM.

Dina Nisrina Amelinda: X-3.

Eh salah orang ding, coba cari lagi.

Dina Nisrina (doang): X-6.

Akirnya nemu. X-6.

Betah ngga ya? Anaknya serem ngga ya? Ya. Takut. Cuman itu yang selalu ada di pikiranku tiap masuk ke lingkungan baru. Apalagi ke lingkungan yang ngga pernah aku kenal sebelumnya, lingkungan asing di luar sana, baru, baunya masih baru, ya, adaptasi.

Aku duduk sama Sabila Okta Syarafina, temen SMP-ku yang ngga pernah aku kenal sebelumnya. Awalnya , dia emang kayak cewek lumrahnya. Tapi ternyata, dia punya kepribadian unik. Bukan Bela (begitu panggilannya/red) kalo ngga ada cerita tiap harinya. Sampe-sampe dari kecil dia dipanggil Bebek. Ya, Bebek.

Walopun kayak gitu, tapi dia temen sebangkuku yang ngga akan pernah aku lupa. Keusilannya, kebawelannya, childish-nya, nyebelinnya, kayaknya Tuhan ngasi warna baru sama hidupku. Ngga pernah sama sekali aku duduk dengan orang sewarna-warni dia, selama ini aku selalu duduk dengan cewek yang pendiem, sama kayak aku. Tapi Bebek ngasi warna baru di hidupku yang monoton ini, mungkin sih, kalian nyadar ngga, sekarang aku cerewet rek, hihihihi. Tapi aku suka itu, makasi, Bek J

As usual, tiap kelas pasti punya nama sebagai ikon masing-masing. Dan aku ngga nyangka, kata-kata asal ceplosku kepakek juga, PUNAH. SEPULUH ENAM HYPER. Ya, ngga nyangka akirnya nama itu terpajang di jaket kelas kami dan tersohor di muka bumi, hahaha.

Inget punah, inget binatang kan. Nah, kelas kita, masing-masing individu punya nama hewan masing-masing lhoh, for example: Sandy-Jangkrik, Bela-Bebek, Vina-Oronk2, Didinn-Plankton, Aku-Capung, Mila-Unta, Novi-Cacing, Dian-Nyet, Fifik-Beruang Kutub, Jhe- Jerapah, Laily-Singa, dan maaaaaaasih banyak lagi.

Aku betah di sini. I am home. Rasanya kalian beda dari apa yang pernah aku milikin.

Kita selalu kompak dalam episode apa pun, aku rasa. Pas FTMS kmaren aja kostum kita dan yel-yel kita divonis terbaik kedua di sekolah. Great bukan? Itu karna kita kompak rek, meskipun sering banget ada konflik di antara kita, tapi itu biasa, konflik cuman bumbu persahabatan. Bukan sahabat namanya kalo ngga pernah ada konflik, ya kan? J

Aku baru nyadar banget aku punya hal yang yang terindah pas KKS kemaren, aku ga nyangka rasa persodaraan kita gede banget ya rek, makasi udah care sama aku waktu aku sakit kmarenJ

Makasi udah ngajarin aku saling ngehormati, toleransi, arti sahabat, dan smua yang kalian pernah kasi ke aku. Makasi udah bikin aku bangga punya kalian di akhir kebersamaan kita rek, solidaritas kalian bikin aku pengen nangis, suer :’(

Makasi buat Bebek, Didinn, Fifik, Mila, Jhe, Vina, Laily yang selalu ada buat aku.

Makasi buat Ridho, Err, Sani, Mbul yang mau dengerin aku curhat.

Makasi buat temen-temen yang lain yang udah ngasi warna di awal adaptasiku, dan sekarang ngga kerasa ya, kita udah mau jadi kakak kelas, padahal barusan aja rasanya kita jadi manusia paling imut di sekolah (huek). Secepet itu ya kita bakal ngga sekelas lagi, barusan aja kemaren sore kita kenal. Tapi inilah hidup, ngga akan berjalan mundur, tapi akan terus maju.

Makasi buat kenangan terindahnya, AKU SAYANG KALIAN SEMUA, aku sekarang ngerti, bener kata Sheila On 7, “…arti teman lebih dari sekedar materi…”

Kalian masih inget lagu ciptaannya Ridho kan? Ayo kita nyanyi bareng :’)

Kita Sepuluh Enam…

Anaknya baik hati…

Kita Sepuluh Enam…

Selalu saling berbagi, juga peduli…

Walopun kami jahil

Dan juga suka usil

Walopun hobi ngupil

Dan juga jarang nihil

Itu sepuluh enam,

Itu SEPULUH ENAM……



Tuesday, June 01, 2010

Bagai Sang Surya Menyinari Dunia

“Miaaaaww…”

“Miaawww…”

“Eh ada kucing kecil,” kata bapak malam itu.

Paginya, aku, kakakku, dan Dini, kembaranku sedang bersantai di teras rumah.

“Miaww… Eh eh lucu banget tuh kucing,” kata Dini.

“Baru lahir kah?” sahutku.

“Kecil banget, imut,” kata Mbak Hani.

Sejak semalam ibu kucing menaruh kucing kecil itu di depan teras rumah kami. Aku buatkan susu untuk kucing itu, kasihan dia, terlihat begitu lemas. Kedinginan semalam. Tapi ia tak mau meminum susu itu. Kucing itu malah terlihat makin gelisah. Tiba-tiba seekor kucing jantan bermotif sejenis dengannya datang dan menyapanya, kucing itu pun seakan melakukantos dengan kucing dewasa tersebut. Kami kira dia ibunya, namun setelah kami lihat, dia jantan. Kucing jantan itu pun pergi.

Tak lama setelah kucing jantan itu pergi, datanglah seekor kucing betina dewasa bermotif sama pula. Itu pasti ibunya, karena mereka langsung berpelukan. Kucing kecil itu lalu menuju ke arah puting sang ibu, berjam-berjam ia menempel pada ibunya, kasihan, ia lapar. Setelah menyusui anaknya, ibu kucing lalu pergi. Beberapa menit kemudian, ia mengigit bola bulu bermotif sepertinya sambil berjalan ke arah teras rumah kami. Ya, ibu membawa adik kucing kecil tersebut ke rumah kami juga.

Sang ibu menaruh mereka di tempat yang berbeda karena mungkin untuk menghindari sang pemangsa. Awalnya aku kira ia meninggalkan anaknya begitu saja, tapi ternyata aku salah. Dua kucing tersebut lalu menyusu bersama pada induknya, first time aku lihat kayak gini.

Sang Ibu yang kehausan lalu memanjat kolam kecil di teras rumahku untuk meminum beberapa teguk air. Salah satu anaknya lalu mencoba mengikutinya dengan langkah regu seakan takut terpeleset. Ia mencoba menjulurkan lidahnya seperti yang ibunya lakukan, namun ia tak bisa.

Sang ibu lalu seakan mengajak kedua anaknya untuk tidur, ia menuju ke keranjang rumput bambu di terasku. Tak lama mereka tertidur pulas dalam peluk sang ibu. Dalam kehangatan sang ibu.

Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia…



Kebanggaan Dalam Kesederhanaan

"Kami AREMA… Salam satu jiwa di Indonesia yang selalu ada,…”

Siapa sih yang engga bangga kalau tim sepak bola kebanggaan daerahnya menjuarai salah satu ajang bergengsi di Indonesia, seperti Djarum Indonesia Super League? Pasti semuanya seneng kan? Di satu sisi, kita rayain semuanya, kita tunjukkan pada dunia semua kesenangan kita. Konvoi misalnya. Bersama teman, saling bergembira, menentang lengangnya jalan dengan dengungan klakson, memecah kedinginan dengan kibaran bendera dan keantusiasan. Aremania.
Namun di sisi lain, tak ada klakson. Tanpa raungan gas, tanpa syal bertuliskan Arema, bukan rally jalanan. Hanya kibaran bendera Arema. Dan lima bocah dengan wajah tanpa dosa. Dengan bekas curigen, toples bekas, dan pemukul kentongan.
"Iki benderane masku,” celetuk Akbar, salah satu dari lima bocah itu.
Tak masalah, walaupun bendera pinjaman, dengan toples dan curigen pengganti klakson dan histeria para Aremania hanya hidup dalam keterbatasan yang mereka miliki, namun semangat Akbar dan kawan-kawan sangat akbar, seakbar namanya.

“…selalu bersama untuk kemenangan… Hoy! Kami AREMA…”

Saturday, May 01, 2010

Kasih Orang Tua

Waktu itu ngga tau kenapa pas diajak ke salah satu mall di Malang, aku males turun dari mobil. Aku mutusin buat jaga mobil, lagi ngga mood belanja.

Aku beraksi sendirian dengan kamera digitalku. Dan aku menangkap gambar-gambar ga penting.

Tapi, satu yang penting…

Entah kenapa walopun jepretanku ngga bagus gara-gara ga siap nge-shoot, tapi lihat makna di balik gambar ini. So nice.

Last Time Buat Pegang Kamu

Hape ngga mungkin ga ada yang punya di masa SMA kan. Tapi ini aku, aku udah empat kali ganti hape sejak SMP kelas 7. Sony Erricson Z 530 i, Nokia 6070, Nokia 7310 Supernova, Nokia 5300. Udah ngecewain ortu, mana prestasi datar-datar aja. Kayaknya aku emang lagi dihukum sama tuhan biar berubah jadi anak baik tanpa HAPE. Oh my… Tapi kayaknya aku bakalan ngga betah nih. Hapeku mati total, aku udah kagak punya hape lagi. Gimana mau smsan sama pacar yang udah engga satu skolah lagi. Gimana mau update status FB, twitter. Gimana mau nelfon bokap kalo pulang skolah kujanan. Huft, cuman berharap ada duit jatuh dari langit dah gue.
Inilah detik terakhir sebelum dia mati…

My Photograph ( Versi Amatiran )

Bad mood bad mood bad mooooooood. Minggu, 25 April, bete banget di mobil. Inilah beberapa jepretanku waktu itu.

Tuesday, April 20, 2010

Lilin Kecil dan Kamu, Dan Aku

“…dan kau lilin-lilin kecil… Sanggupkah kau mengganti? Sanggupkah kau memberi seberkas cahaya?....”

Candle.

Yeah, you’re like a candle.

Siapa yang bisa menerangi kegelapan tempatku berdiri di saat lampu ingin beristirahat sejenak?
Lilin. Dia menawarkan cahaya buat kita di waktu gelap datang dan menutupi mata kita.

Siapa yang bisa memberi sedikit kehangatan di malam yang gelap dan hujan yang ingin berperang dengan kita?
Lilin. Dia menawarkan kehangatan di waktu dingin menyelimuti tubuh kita.

Tapi kehangatan dan kecerahannya tak lebih baik dari lampu yang tidur di langit kamarku.

Ya.

Aku bisa menghidupkan lilin. Aku juga bisa mematikannya.

I can turn it on. And turn it off.

Turn it off… Of course…

Tinggal menunggunya habis dilahap benda merah menyala yang panas itu.
Atau seketika pun, aku bisa meniupnya, dan seketika pula kehangatan dan kecerahan itu musnah.

Lilin….

Ya, lilin ada di sini, di tanganku. Kamu adalah lilin itu.

You’re just like a candle.

Dan dingin itu datang lagi
Dan gelap itu menyelimutiku lagi
Dan dingin itu datang lagi….
Dan gelap itu menyelimutiku,

Lagi…

Monday, March 22, 2010

24 jam dan Berjuta Makna

Minggu, 21 Maret 2010

Woke up late. Yah, aku ini bad beginning. Awalnya sih aku bangun jam empat, tapi karna rumah masih sepi, akirnya aku tidur lagi dah (beuh, Mbah Surip mode nih). Bangun lagi stengah enam. Itu pun karna bapak ngetuk-ngetuk pintuku. Stengah enam? How late the time is! Aku cepet-cepet wudhu dan solat. Aku inget kata Pak Usman, misalnya waktunya mepet, asalkan itu bener-bener karna ga denger adzan sama sekali, it’s fine buat solat subuh. The first lesson : Jangan tidur lagi kalo uda bangun pagi, kalo bisa, semalem pasang alarm.

Keinget ada teater hari ini. Capcus berangkat jam sepuluh. Malesin banget, di angkot ada 3 cowo yang godain aku. Mau turun, ngabisin duit aja. Aku sabar aja, asal mreka ga kelewat batas, cuekin aja napa. Abis gitu nyampe di tugu, jalan ke SMA 4, di SMA 1 banyak banget cowo-cowo yang lagi nongkrong. Dan mereka godain aku, “Neng, mau ke mana, neng? …Oh ga denger ya,, Wah mirip Jeng Kelin”. Hey, dari mana miripnya aku sama Jeng Kelin? Second lesson: Sabar aja ngadepin omongan orang, selama kita masih dalam batas kewajaran yang kita anggep baik, kenapa engga jadi diri sendiri. So what mau mirip Jeng Kelin ato badut sekali pun, ini lhoh aku, bukan mereka.

Nyampe skolah, sepi, cuman ada beberapa anak teater, beli minum, ngentang ama anak-anak, lama. Tuh kan, dari awal juga aku ngira bakal gini. Ngeboringin. Siang panas gini, nunggu film kita selesai diedit. Akirnya setelah beberapa menit dan jam, filmnya dateng, Mas adit juga udah dateng. Nonton film kita bareng, sambil sedikit evaluasi. Lumayan, film buat kompetisi indie movie ini walopun sedikit amatiran, tapi itu kerja keras kita, great. Keboringanku mulei agak ilang liat aktingnya Ovi yang super kemenyek (baca: over sok cantik). Kita pada ketawa. Eh, aku salah lagi, ternyata ga seboring tadi kok. Third lesson: Jangan ambil bad mood, nikmatin apa yang bakal kamu lakuin, toh kita ga tau kan ke depannya bakal bikin kita boring ato malah seneng.

Abis gitu curhat-curhatan sama Yodi, Sela, Titis, Vivid, Ovi, Mbak Isya, ama Mbak Ruri. Awalnya dari tadi kerjaan kita ngomongin oraaaaang mulu, alias ngerasani (baca: menggunjing). Tapi akirnya setelah kita kluarin semua kekesalan kita sama orang yang kita gunjingin di depan teman lainnya, lama-lama aku ngerasa ada yang aneh. Bener kata Mbak Isya, kita sama aja kayak orang munak, brani ngomong di belakang, tapi nyatanya di depan kita cuman bisa diem aja. Akirnya kita udah brenti ngegunjing dan kita sharing masalah-masalah kita. Baru kali ini aku bisa berbagi rasa sama mereka, dari sini keliatan banget aslinya aku dan teman-temanku itu. Nice. Fourth lesson: Kalo kita lagi ada masalah, no matter kalo kita nyoba buat sharing ama temen kita. Jangan cuman ngegunjing doang, gunjingan itu ga bakal ada gunaya lagi. Nyoba share ke temen yang baru, dengan gitu kita bisa mengerti satu sama lain. Itu gunanya temen. Love you, friends.

Waktu itu juga lagi ada beberapa kakak kelas XII yang lagi belajar bareng di gazebo. Mungkin saking asyiknya waktu itu kita bicarain “upil” dan ketawa sampe over laugh, kakak kelas yang ngerasa keganggu bilang, “Pssssssstt… He, jangan rame-rame, ntar aku ciumin satu-satu lhoh” Hahaha, fifth lesson: Liat sekitar, kita ngga hidup sendiri kan. Boleh lah kita have fun, tapi juga musti ngutamain kepentingan yang lebih penting. Jadi, kita bisa seneng, tapi juga ga ganggu orang laen.

Mbak Ais, Mbak Visi, Mbak Tyas lagi asyik nongkrongin laptop sambil nonton film Perfume. Kita ikut nimbrung, dan kayaknya ada sesuatu yang ga cocok ditonton anak di bawah umur, haha. Spontan kita pada syok, dan ngematiin tuh film. Sixth lesson: Emang banyak film yang ga layak buat ditonton, tapi ambil hikmah dari film itu, jangan buruk sangka deh sama sutradaranya, haha.

Pulang, lagi-lagi aku keinget, belom solat dzuhur. Dina, kamu jatoh di lubang yang sama, bego. Aku percepat jalanku buat nyari angkot. Seventh lesson: Hey, tadi pagi uda telat, skarang lagi. Jangan jatuh di lubang yang sama, blajar dari kesalahan!

Oper dari angkot GA ke LA, aku sengaja milih angkot yang kursi depannya kosong, entah kenapa aku lagi males desek-desekan di belakang. Siang bolong kayak gitu, mana ada penumpang, mana hari libur pula. Alamat, angkotnya ngetime sampe hampir stengah jam. Panas, dehidrasi berat. Eighth lesson: Kadang kesalahan yang kita perbuat di dunia bisa seketika Allah balas saat itu juga. Panas matahari kadang bersinar lebih terik dari biasanya. Allah nunjukin sepersejuta dari api neraka, baru kena panas aja udah ngeluh, neraka lebih dari ini, Dina.

Ngelihat pengamen yang umurnya sekitar 4 tahun, lagi minta uang sama kenek salah satu angkutan umum arah Pasuruan. “Mas, njaluk duit’e mas…”. How pity the boy is! Aku kluarin recehan 200 dan satu keeping seratus, aku ga tega liat anak sekecil itu kehilangan hak mereka, apa yang ada dalam pikiran orang tua mreka… Lalu anak kecil itu “setor” uang kepada seorang dengan jaket kulit dan muka garang di sudut lampu merah. Uang emang udah bikin segalanya jadi halal buat negdapetinnya. Ninth lesson: Mulei peduli sama sekitar, sekeping uang kita adalah pengganjal perut mereka.

Di sisi lain, aku ngeliat seorang nenek yang lagi kebingungan. Dia tersesat, dia lagi nyari rumah sanak sodaranya dan tak seorang pun tau di mana tempat itu berada. Akhirnya ada seorang ibu dari angkot LA ini yang tahu, dan memberitahukannya pada nenek tua itu. Seorang makelar angkot mengantarkan nenek itu ke tempat di mana angkot JPK yang lewat rumah sodara nenek itu berada. Tenth lesson: Hormatilah orang tua, dan utamakan keselamatan mereka, pedulilah, walopun mreka bukan siapa-siapa kita.

Akhirnya sampai juga di seberang gang rumah. As usual aku nyebrang, tapi jalanan terlalu padat, dan agak lama buat nunggu agak sepi dan aku bisa nyebrang dengan lancar. Eleventh lesson: Sabar, hidup ini penuh cobaan yang lalu lalang. Kadang cobaan sepi, tapi kadang juga bisa dateng borongan kan.

Nyampe rumah, hasrat foto-fotoku kok muncul ya(haha, dasar narsis). Liat koran ada iklan kamera terbaru. Jadi pengen, tapi ga mungkin lah aku bisa beli, secara harganya melangit. Trus, aku inget, kayaknya sebelom aku punya kamera yang sekarang, dulu bapak pernah punya deh kamera analog. Aku cari di lemari bapak. Ketemu. Great. Masih bisa dipake pula, yah walopun musti beli filmnya dulu, tapi ga kalah keren kok sama kamera jaman sekarang. Twelfth lesson: Jangan selalu tertarik dengan apa yang ga bisa kamu miliki, manfaatkan dengan baik apa yang kamu miliki.

Malemnya, aku musti jagain anak tetangga. Yah, bisa dibilang tetangga deket yang uda kayak sodara. Aku musti ngerelain umek sana-sini, dan aktifitasku musti dipause. Dulu, mamanya baby sitterku waktu aku masih bayi. Thirteenth lesson: Balaslah kebaikan orang lain pada kita, karena ga ada sesuatu yang maha dahsyat selain kebaikan..

Setiap detik, menit, jam, dan hari, punya cerita dan makna yang tak terhitung. Tiap sisi negatif, pasti punya sisi positif, lupakan yang negatif, dan ambil yang positif sebagai pelajaran. Itu tadi 24 jam-ku. Bagaimana dengan kamu?