Followers

Monday, May 14, 2012

Un Panino Di Amore



Waktu senja itu, Bello sama sekali tidak ragu. Duduk dengan anggun di keramahan jingga yang menyapa baju sifonnya, senada dengan senja, peach. Grande juga diam. Dengan sandal kesayangannya, menggaruk tanah seakan menunggu sesuatu. Fonem? Huruf? Kata? Bibir Bello tidak juga berpindah. Masih mengatup.

"How long will we be like this?" Grande memulai.

"Give me...more time. Aku cuman butuh waktu, Grande."

"Maaf...tapi roti tidak bisa menunggu lebih dari 7 hari, akan banyak saprofit di sana. Berapa lama lagi?"

"I just need time, Grande. No more!"

"Apa lagi yang membuat kamu berpikir? Kamu hanya menghabiskan sisa hidupmu dengan berpikir, pernahkah kamu melakukan sebuah spekulasi?"

"Spekulasi-spekulasi itu yang membuat aku harus berpikir ulang setelahnya. Tidakkah kamu mengerti sedikit saja, Grande? Haruskah aku menjelaskan detilnya lagi bahwa perasaanku tidak sekuat yang Wonder Woman punya?"

"Bukan seperti itu, Bel...tapi..."

"Tapi apa? What a fucking speculation!"

"Aku kira, aku adalah tunas baru saat hutan itu terbakar. Ternyata aku salah, aku terlalu cepat tumbuh, bukan?"

"Tidak, maafkan aku... Tidak ada yang salah saat Tuhan menciptakan tunas itu. Bahkan Tuhan tidak perlu kita tahu alasan menumbuhkannya. Tuhan hanya ingin dia tumbuh, tapi tak mungkin tak beralasan,"

"Ti amo, Bel..."

"Jangan katakan itu, Grande. Jangan paksakan aku berpikir, jika aku belum bisa berkata spontan...sudah ku bilang. Aku benci spekulasi."

"Kenapa kamu masih saja melihat ke belakang? Ada apa di sana? Apakah kamu pikir semua akan kembali? Apakah kamu pikir Voce bisa saja kembali? Padahal tanpa kamu tahu, tanpa dia juga tahu, dan dia juga sudah menabur garam di atas sebuah luka? Apa kamu tidak kapok? Kamu buta!"

"Aku memang buta, tapi aku punya arah!"

"Apa kamu mau kembali? Pada Voce?"

"Aku bukan ingin kembali. Aku hanya belum bisa..."

"Apa? Melupakannya?"

"Kamu jahat, Grande!"
Air mata Bello terjun bebas mengenai baju sifon itu, warna titik-titik mutiara basah itu sekarang sama dengan senja yang hampir ditelan hitam. Grande membiarkan Bello tenggelam dalam pelukannya.

"Memelukmu seperti ini... Aku hanya ingin kamu tahu, Bel. Tidak semudah itu melepas jangkar di saat badai. Don't say anything. I know what you mean...".
Bello tidak mengatakan apapun. Ia sudah tenggelam dalam laut itu. Grande bukan lagi pantai yang memeluk laut. Tapi sudah menjadi laut. Dan menenggelamkan berjuta pernyataan yang selalu menjadi pertanyaan buat Bello.

"Mungkin sekarang belum...aku juga masih sangat rindu akan pantaiku. Pantai yang lama. Voce. Tapi buat apa aku menyiksa diri. Aku hanya perlu belajar banyak. Dari kamu. Belajar agar aku mengucapkan 'ti amo' dengan lancar. Mungkin sekarang belum. Tapi jangan paksa aku cepat-cepat. Bibirku masih terlalu kelu. Jangan biarkan aku tertidur, kamu terlalu hangat, bodoh. Grande bodoh."

...
"Hey, aku dengar," Grande berbisik.

"Dengar apa?"

"Kamu pikir aku tuli, ya?'

"Apa sih?"

"Waktu aku memelukmu, kamu mengatakan sesuatu. Aku dengar,"

"Kamu bohong, aku diam, kok..."

"Kamu lupa, kan? Aku bisa dengar semuanya!"

"Bodoh!"

"Ini..."

"Kenapa cuman sepotong?"

"Kamu kan masih belajar. Kalau dikasih banyak, nanti kamu tersedak. Sedikit dulu, nanti minta lagi, oke?"

"Love is just a slice of cake? Manis...".


Wednesday, May 09, 2012

Just Click and Go

Koleksi terbaru dari Nisrinabile's Shop and Hanie Handmade di bulan Mei. Order? Contact @superselulosa or Sheilla Masita. Ready stock only, sementara tidak melayani pesanan. Happy shopping ;-)






















Monday, April 30, 2012

Spam

Memakai chat box di blog memang memudahkan visitors untuk meninggalkan pesan. Tapi kalau sudah seperti ini, akan sangat menganggu sekali.

Komen yang masuk, semuanya cuma iklan :-O

Maaf peeps, just leave comment on my post :-)

Sunday, April 29, 2012

Oh, Damn...

Happy Kartini Day!

21 April 2012

Selamat Hari Kartini, para Kartini dan Kartono di mana pun kalian. Adalah sebuah harapan klasik kalau kesamaan gender harus tetap diperjuangkan. Bukan jabatan, ya. Ketulusannya :-)

Di hari spesial ini, aku punya referensi buku bagus buat dibaca, lhoh. Buku biografi Ibu Tien Soeharto. Enjoy it! :-)

Oh iya, di hari ini bapak telah resmi menyelesaikan studi S2 Teknik Sipilnya di Universitas Brawijaya. Ngga ada kata terlambat buat belajar sekali pun kita sudah "tua" kan, peeps? :-)

Every Child is Special

Waktu itu salah satu sahabatku, Tajuddin namanya, memberiku referensi film-film India inspiratif yang wajib ditonton. Salah satunya adalah film Taare Zameen Par yang disutradarai oleh Aamir Khan.

Kadang film yang baik adalah film yang membawa kita pada realita hidup dan membantu kita menyadarai esensinya. Dan di saat kita ada di salah satu posisi dalam film itu, kita bisa bilang "Nah!". Ada di salah satu scene dalam film ini, yang menarik, saat Nikumbh, sang guru yang sangat perhatian dan berusaha membuat Ishaan mendapatkan pendidikan yang sama di saat semua orang menganggapnya idiot dan berkebutuhan khusus. Padahal Ishaan hanyalah mengalami disleksia. Nikumbh menganalisa semua tulisan dan gambar Ishaan untuk mendapatkan apa yang sebenarnya terjadi dengan bocah cilik berimajinasi luar biasa itu. Saat Nikumbh menunjukkan kesalahan ejaan dan huruf pada orang tua Ishaan, bahwa Ishaan selalu terbalik antara huruf 'b' dan 'd'. Tidak bisa membedakan 's' dengan 'r'. Rotasi pada 'h' dan 't'. Membalik-balik kata-kata seperti "top" menjadi "pot", aku langsung berpikir, ternyata kesalahan seperti itu memang bukan karena sesuatu yang bodoh. Tapi karena mereka spesial.


Nah! Waktu itu aku sedang konsultasi ke ruang BK dan melihat sesuatu yang unik di meja Bu Eva. Saat aku melihat file holder hijau di meja itu, aku menemukan sebuah harta karun. Aku melihat tulisan-tulisan alfabetis yang masih muda. Angka-angka lucu seperti menari dengan imajinasinya. Coba lihat ini.

klik gambar untuk memperbesar

Tulisan-tulisan tersebut dibuat oleh anak laki-laki dari Pak Imam, salah satu guru BK di SMA 4. Dalam tulisan itu, angka 7 dan 9 ditulis pencerminannya. Membuat bilangan 14 seperti 19. 15 seperti 12. 'J' menjadi 'L'. 'P' seperti 'q'. Dan 'W' seperti 'M'.

di file holder yang kedua, ia mencoba menulis lagi

Bedanya, kali ini tidak terlalu banyak salah. Tapi tetap, angka 7 tercermin. Angka 9 juga. Angka 16 hilang. Dan huruf 'J' terbalik.

Aaah...semua orang memang spesial. Itulah alasan mengapa aku ingin menjadi guru. Apalagi setelah melihat film ini, rasanya aku semakin ingin mengajar. Menjadi dosen. Mengajarkan banyak hal. Dan mengubah ketidakmungkinan menjadi sebuah keajaiban.





Pekalah dengan sekitar :-)

Tuesday, April 24, 2012

It's Magic!

Sebagai hadiah karena aku mau bersungguh-sungguh berlatih mengendarai sepeda motor, bapak membelikanku ini. Sebut saja dia Magic. Kenapa Magic? Pertama, rasanya hampir tidak mungkin aku mengendarai motor setelah aku dijatuhi doktrin oleh ibu dan semua orang yang khawatir dengan si Backy untuk tidak mengendarai motor. Kedua, nama Magic diambil dari iklan Mio-J ini yang mengatakan, "It's Magic!" dengan backsound dari Herbie Fully Loaded yang selalu terngiang di telinga, "Ho ho ho it's magic, you know. Never believe it's not so...".

Karena kamera tersayangku lensanya sedang rusak, akhir-akhir ini foto yang aku gunakan selalu menggunakan handphone. Dan ini salah satu foto saat aku sedang pacaran dengan si Magic.



Aku suka si Magic. Saat terkena cahaya matahari, dia memancarkan warna ungu metalik! Ya...aku suka ungu. Terlalu suka bahkan. Terima kasih, bapak...nanti waktu sudah kuliah, aku tidak akan merepotkan minta diantar untuk sekedar beli alat tulis di tempat fotokopian depan gang rumah. Karena aku sekarang punya si Magic! :-)

Catatan:
Foto ini saat aku mengendarai motor untuk kali ke-9. Aku sudah bisa menyusuri jalan besar dan ramai. Tapi belum untuk jalan raya. Karena aku belum punya SIM :-D

Apa Itu Namanya

Foto yang aku ambil 2 tahun yang lalu saat bersantai dengan teman-teman dekatku di depan Tugu Kota Malang

Sebentar, bagaimana aku harus mengatakannya? Kali ini, aku tidak mau banyak mengadu. Tuhan saja mempunyai 1 nama dari 99 nama yang mulia itu. Ya Wadud. Yang Penuh Kasih Sayang. Sombong sekali jika aku pura-pura ingin menghindar dan tidak mau tahu tentang cinta. 

Aku manusia. Aku berhak selama itu jatuh cinta. Dan secepat itu jatuh cinta lagi. Aku tidak bisa berhenti tersenyum melihatnya. Karena cinta ini datang begitu saja. Tiba-tiba. Aku tidak meminta, padahal. Aku nyaman tahu sesuatu yang lucu tentangnya. Hangat sapanya. 

Namun kali ini, biarkan aku menikmati ini dengan syukur. Allah mengirimkan obat baru yang mujarab untukku. Aku tidak meminta lebih dari itu. Dia seperti dokter. Dia seperti tentara. Dia seperti lampu. Dia seperti koki. Dia seperti badut. Dia seperti kasur.

Mengobati. Menjaga. Menerangi. Mengenyangkan. Menghibur. Nyaman.

Tuhan tahu siapa dia.

Friday, April 13, 2012

Cepat Sekali

Foto yang aku ambil di depan rumah Didin, setahun yang lalu. Belum sempat aku post-kan.

"Jangan pergi dulu. Aku masih mau kamu di sini. Jangan pergi dulu. Aku belum ikhlas memelukmu. Aku masih terlalu jaim untuk berlama-lama melakukannya. Jangan pergi dulu. Bahkan untuk mengatakan kamu cantik, kamu pintar, kamu sempurna saja aku masih malu. Jangan pergi dulu. Karena untuk memintamu kembali, aku terlalu malu. Padahal aku sangat ingin. Tapi kamu tahu, kan? Aku masih terlalu malu".

Di hati ini 'slalu ada cerita
Walaupun kisah tak selalu ceria
Tetapi itu tak membuatku kecewa
Selalu ada hari-hari bahagia
Sahabatku, yang setia
Setiap waktu berbagi rasa, berbagi cerita

Bila ku ingat saat-saat terindah
Menangis, tertawa kita lalui bersama
Kisahku ini tak 'kan pernah terlupa
Menjadi kenangan yang teristimewa

Terharu sekali rasanya, saat harus mendengar Radea menyalakan music player dan membuatku teringat lagu masa sekolah dasar itu. Rasanya sama. Kami semua harus dipertemukan, mau tidak mau di sekolah ini. Di SMA Negeri 4 Malang. Dan mau tidak mau, kami harus "akan" berpisah secepat ini. Hari ini, hari terakhir kami bersama dalam satu kelas. Senin besok, kami akan bertempur. 

Sebentar lagi, akankah sama rasanya? Akankah kalian akan tetap sama? Sungguh. Terlalu cepat. Cepat sekali.




Catatan:
Menyenangkan sekali rasanya tadi, aku mencium pipi kiri dan kanan teman-teman perempuanku. Menjabat tangan teman-teman laki-lakiku. Mendapat peluk dan doa hangat dari orang-orang yang menyayangiku. Tuhan, aku mau lagi.

Thursday, March 22, 2012

This!

Alasan paling bodoh, "Kalo jodoh kita bakal ketemu lagi". Tiap hari ketemu begok, udah sesekolah sekelas pula!

-Raditya Dika-

Awalnya aku selalu percaya nasihat kuno itu--yang entah kebenarannya berapa persen--selama bertahun-tahun. Dan sekarang atau entah sampai kapankah itu, "akhirnya" pun aku harus dipaksa percaya, skenarionya sudah ada. Jangan khawatir.

I'm falling in love with you. I don't even know, you will read this writing or not. Whether you know, whether you realize it. Whether you have a big big head. Or you don't like. Clearly, you don't have to ask. When you said that words, I've said to myself, "I know!".

I'm secretly falling in love.

Saturday, March 17, 2012

UNAS? Siapkah?

Suasana Neutron pas lagi nganggur-nganggur gini. Temen-temen pada semangat latihan soal.

Eits, tapi ada juga yang bener-bener manfaatin waktu istirahat buat nganggur.

Kayak aku...
Yang ini namanya Mega :-D
Entahlah, dikatakan siap juga belum. Dikatakan belum siap, tapi aku sudah punya persiapan. Intinya, kita musti berani buat bilang: AKU SIAP UNAS!

Another Scolioser Story

Cerita tentang skoliosisku, Dini, dan skolioser yang pernah aku temui, memang tidak akan pernah ada habisnya buat diceritakan. Sejak operasi setahun yang lalu, aku makin gemar melihat fisik orang yang aku temui. Kalau orang biasanya melihat seberapa seksi seorang cewek, atau seberapa keren seorang cowok, yang aku lihat bukan itu. Yang aku lihat, seberapa luruskah punggung mereka. Jadi jangan kaget, aku tahu siapa yang skoliosis dan yang tidak, tanpa mereka harus membuka baju. Aku sudah terlalu profesional untuk mengetahuinya. Sampai sekarang, sudah ada 8 skolioser yang aku temui di sekolah.

Salah satu teman skolioserku, Chandra, memberitahuku bahwa salah satu saudara pacarnya ada yang skoliosis, dan telah menjalani operasi. Tidak banyak pikir, aku dan Chandra langsung meluncur ke rumah sakit untuk menjenguknya. Agak sulit untuk akhirnya menemukan ruangan tempat dia dirawat. Yang kami tahu, namanya Lala'. Kami bahkan tidak tahu nama lengkapnya, alamatnya. Namun akhirnya, kami bisa menemukannya di ruang rawat mata. Sungguh sistem rumah sakit yang kurang begitu baik.

Namanya Lala'. Raudatul. Dia gadis kecil berumur 10 tahun, juvenile scoliosis dengan kemiringan 110 derajat. Kesan awal yang aku tangkap darinya adalah HEBAT.

Saat aku datang di kamar rawat inap yang terdiri dari 7 pasien dalam satu ruangan, bahkan ada pasien hydrocephalus, aku sangat kaget. Dia sudah berdiri tanpa menggunakan brace dan tidak nampak seperti pasien yang telah dioperasi, padahal baru 2 minggu dia menjalani operasi. Dia bahkan bisa membungkuk, menali sepatunya, dan bangun sendiri dari tempat tidurnya. Berbeda denganku, yang hingga hampir 2 bulan setelah operasi masih harus dibantu ke sana-ke mari.

Aku lalu bercerita panjang lebar dengan ibunya, Lala' tidak banyak bicara. Namun dari cerita ibunya, Bu Yuyun namanya, aku bisa tahu, Lala' gadis yang hebat. Bu Yuyun yang aku panggil Mbak Yuyun, memang pantas dipanggil "mbak" karena umurnya sama dengan kakak pertamaku. Dan umur Lala' sama dengan adik terakhirku.

Lala' masih harus menjalani 3-4 operasi lagi. Ruang jantung dan paru-parunya telah direbut oleh si skoli. Jantungnya sudah berpindah posisi. Paru-parunya sudah tidak berfungsi sebelah. Itu yang mengakibatkan Lala' mudah sesak napas saat merasa tertekan atau terkejut. Tapi aku salut, semangatnya untuk sembuh membuatku tidak habis pikir. Dengan keadaan keluarga yang dibilang kurang dari cukup, ibu yang masih sangat muda, dan operasi sebesar itu...mereka masih bersemangat untuk memperbaiki kualitas hidup.

Saat Mbak Yuyun mengatakan Lala' sempat minder dan menangis di sekolah, aku lalu mengatakan, "Ngga usah minder, Lal, aku dulu juga gitu kok...tapi percaya, ngga? Hasil riset dokterku mengatakan, rata-rata skolioser itu cerdas dan cantik, lho...percaya ngga?". Mbak Yuyun lalu bilang,"Iya dong, wong Lala' selalu juara di sekolah kok ya...bener kata Mbak Dina tuh Lal, kamu kan spesial...".

Besoknya, aku mengajak teman skolioser lagi, si Titis, yang satu sekolah denganku. Aku berjalan kaki dari sekolah ke rumah sakit sambil bercerita banyak dengan Titis. Dari yang mulai awal Titis merawat skolinya sampai cita-cita kami untuk memajukan kesadaran akan skoliosis di Malang. Semoga mimpi kami bisa terwujud kelak, kami tidak akan lelah bermimpi.

Aku lalu meminjami Lala' semua buku tentang skoliosis yang aku punya. Ini hobiku, berbagi buku dengan para skolioser. Dan hari itu pula, Lala' sudah boleh pulang, dan akan kembali ke RS untuk operasi kedua, 2 bulan lagi.

Hari Minggu sepulang pengajian rutin, aku mengajak bapak, Ibu, dan Dini berkenalan dengan Lala' dan Mbak Yuyun. Rumahnya jauh sekali, di pinggiran Malang, tepatnya di kabupaten, di Tumpang. Tidak sulit menemukan rumahnya, karena terletak di pinggir jalan. Lala' sudah berdandan cantik. Kami semua berbagi cerita ke sana-ke mari. Dan itulah hal yang paling menyenangkan. Berbagi.

Aku tidak akan bosan untuk berbagi, ini sudah janjiku. Janji seorang gadis yang tidak sempurna, yang tidak sedang mencari teman senasib karena sakit. Karena skoliosis bukan penyakit. Bukan mencari teman yang sama-sama penderita skoliosis, karena skoliosis bukan penderitaan. Tapi dia teman, dan salah satu cita-citaku bersama Dini, Chandra, Titis, dan teman-teman yang lain adalah memajukan komunitas skolioser di Malang di bawah Masyarakat Skoliosis Indonesia.

Oh iya, bahkan, para skolioser di Malang kesadarannya sudah mulai tumbuh, lhoh. Beberapa hari yang lalu, ada orang tua dari salah satu skolioser yang datang ke rumahku. Menyenangkan sekali bisa berbagi seperti ini. Dan aku tidak pernah bosan. Once scoliosis, forever scoliosis. I'm scolioser and I'm proud to be scolioser :-)

Pada Suatu Hari

Kamis, 8 Maret 2012

Hujan bukan alasan kami tidak sekolah. Bahkan di hujan yang sederas itu dan angin seganas itu pun, di kelas kami hanya 1 orang saja yang absen. Ini untuk pertama kalinya aku sampai di sekolah terlambat. Jam setengah 8. Berharap mendapatkan rompi "Aku Siap Disiplin", ehhhh ternyata ada toleransi buat hari ini.

Dan inilah keadaan kelas kami hari ini...


Yang berwarna ungu itu payungku.

Bisa dibayangkan bukan, bau seperti apa yang campur aduk di sini. Saat ke luar kelas, suasananya sejuk seperti kulkas. Saat masuk lagi ke kelas...jangan ditanya. Semua guru mungkin menahan penyiksaan ini demi seni indah ini. Dan semua berakhir ketika Bu Lilik akhirnya memaksa Demac, ketua kelas kami, untuk menurunkan benda-benda yang lebih mirip dagangan di pasar loak itu.

Aku akan merindukan saat SMA yang seperti ini.

Mas Arba's Birthday

Aku dan teman-teman dekatku memang selalu memberi apresiasi lebih pada hari-hari spesialnya orang-orang spesial. Nah, kali ini Mas Arba, owner Volare Photography, yang bakalan bantu kita nyelesain year book tahun ini, berulang tahun ke 22, tanggal 26 Februari kemarin.

Berhubung baru bisa ketemu pas ada rapat panitia tanggal 27, aku dan Shela dadakan banget ke toko kue, beli tart dengan lilin angka 2. Kenapa 2? Biar lebih muda gitu, haha, alesan banget. Basically, itu doa biar awet muda lhoh, mas.

Kita akuin kita bukan perfect surprise maker, jadinya, rencana yang udah dibikin jadi sedikit "acakadut". Yang Shela pura-pura tasnya ilang dan di dalemnya ada laptop yang isinya proyek kita-lah. Yang salah satu kelas minta foto ulang-lah. Yang dananya masih banyak yang ga mau bayar-lah. Intinya Mas Arba sampe sumpek banget waktu itu. Akhirnya dia ke luar bentar buat ngerokok. Setidaknya walaupun banyak banget akting yang missing antara aku sama Shela, tapi cukup bikin Mas Arba pusing sih, hehe.

Pas Mas Arba balik, aku, Shela, Kukrik, Gigi, langsung nyanyi lagu klasik Happy Birthday, dan Mas Arba langsung ke luar lagi trus balik ke dalem lagi seakan ngga percaya, haha. Dia bilang, "Aduh...kok gini segala...aduh, aku speechless...terakir dikasi kue kapan, ya? Haha...aduh, dirayain sama anak SMA".

Friday, March 09, 2012

Robot

"Dina, bego banget sih kamu masih aja nungguin hal yang ga perlu buat ditungguin. Udah deh, move on, bego, move on!".

Engga, aku ngga bisa. Engga segampang itu. Mungkin hari ini aku bilang lepas. Besok balik lagi. Besoknya lagi pergi. Dan besoknya lagi, dialognya sudah bisa ditebak. Lagi.

Apa sih yang bikin aku jadi robot gini? Semua-semua kamu. Namamu. Fotomu. Semua meja di sekolah yang pernah aku tempati, selalu aku tuliskan inisial namamu di situ. Semua bukuku. Kamarku. Tanganku. Aku disetir. Disetir sesuatu. Aku benar-benar dikendalikan sesuatu. Aku, aku...aku... Iya. Aku pernah bilang. Aku apa katamu. Aku benar-benar bukan Dina lagi. Karena isiku cuman kamu. Bodoh!

Aku bersyukur, setelah 5 bulan menunggu sesuatu yang tidak perlu ditunggu, akhirnya aku bisa lega. Lega melupakan kamu. Tanpa harus diminta lagi. Lega tanpa harus berurai air mata lagi. Atau mungkin memang sudah habis. Terima kasih telah menggantikan tempatku dengan dia yang baru. Itu membuatku lebih lega. Aku ternyata memang bukan layang-layang. Menyenangkan sekali. Aku sekarang burung. Terbang tanpa diikat. Dan bukan robot. Karena aku sudah lepas dari semua kabel yang menyetir otakku.

Aku kini Dina lagi! Aku bisa bergerak sendiri!


Foto robot ke-49 yang aku gambar di Laboratorium Biologi sekolah.

Aku tidak bisa memikirkan apa pun. Tapi hari ini aku menangis tanpa air mata. Berat sekali memang. Tapi aku lega. Aku bisa konsen ujian sekarang. Tanpa memikirkan apa katamu saat itu, saat kamu bilang, "Tunggu aku habis UNAS," atau kata-kata yang lain lagi. Aku sudah tidak mau percaya, karena aku lelah percaya.

Jagain dia buat aku. Siapa pun kamu :-)

...dan usai tangis ini aku kan berjanji. Untuk diam, duduk di tempatku. Menanti seorang yang biasa saja. Segelas air di tangannya kala ku terbaring sakit. Yang sudi dekat mendekap tanganku, mencari teduhnya dalam mataku. Dan berbisik, "Selamat tidur, tak usah bermimpi bersamaku". Wahai Tuhan...jangan bilang lagi itu terlalu tinggi.

(Curhat Buat Sahabat-Dewi Lestari)

Cukup sesingkat ini rasa itu: