Followers

Saturday, December 02, 2017

Cerpen: Sang Penjual Bantal

Pada suatu siang, langit mendadak kelabu bak bunglon yang sedang berkamuflase. Alam seakan mengiring suram kepada Joyo. Joyo yang sebelumnya merupakan salah satu buruh di sebuah pabrik rokok, di-PHK dan  harus menganggur selama tiga bulan. Semua karyawan yang dianggap tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi perusahaan, harus rela kehilangan pekerjaannya. Padahal, Joyo memiliki empat orang anak yang masih kecil. Bulan depan, anak pertamanya harus masuk SD dan Joyo tidak tahu harus membiayainya dengan uang dari mana.
“Jan apes tenan. Lek ngene carane, aku kudu nggolek kerjo sing liyane!” Joyo berkata setengah kesal.
Joyo berkeliling ke seluruh kota untuk mengajukan lamaran pekerjaan. Namun, Joyo hanya seorang lulusan SMA. Sulit untuk lulusan SMA di era seperti ini mendapat pekerjaan dengan mudah apabila tidak memiliki keterampilan yang dapat diandalkan.
Sore harinya, sampailah Joyo di sebuah rumah gedong bercat kuning. Ia melihat banyak sekali orang memikul bantal masuk ke rumah gedong tersebut. Ia lalu melihat satu per satu dari mereka menyetorkan uang kepada seorang yang berkumis tebal di rumah itu. Setelah itu, mereka dibayar kembali dan pergi meninggalkan rumah dengan wajah sedikit sumringah.
Joyo tertarik melihat apa yang baru saja terjadi. Ia bergegas masuk ke rumah itu setelah semua pekerja selesai dengan tugasnya. Ia memberanikan diri menemui seorang yang berkumis tebal itu.
“Nyuwun sewu, saya Joyo. Apakah bapak juragan dari para penjual bantal ini?”
“Oh iya le, saya Odi. Pak Odi. Ada apa?” jawab seorang berkumis tebal itu sambil memainkan kumisnya.
“Boleh saya bekerja di sini? Ini berkas lamaran saya, bila dibutuhkan,”
“Halah, ga usah berkas-berkasan. Wis, sesuk langsung kerjo, yo?” Pak Odi nampaknya tidak peduli dengan berkas yang dibawa oleh Joyo. Namun untungnya Pak Odi menerima lamaran Joyo tanpa basa-basi setelah memandangi Joyo dari atas ke bawah.
Joyo nampak sumringah. Ia lalu bersalaman kembali dengan Pak Joyo sebagai tanda berpamitan sekaligus tanda terima kasih. Joyo lalu pulang naik angkutan umum menuju rumahnya. Di sepanjang jalan, Joyo membayangkan hari esok di mana ia tidak lagi akan menganggur. Sesampainya di rumah, Joyo memberitahukan hal ini kepada istrinya, Suprihatin.
“Tin...Suprihatin...mas sudah pulang...” teriak Joyo pada saat ia sampai di depan pintu rumahnya.
“Iya iya mas, waalaikumsalam...” Suprihatin tersenyum manis kepada suaminya.
“Ehehe, assalamualaikum. Aku punya cerita kanggo kowe,”
“Napa niku, mas? Sek, sek, masuk dulu. Tak bikinkan teh. Masa’ di depan pintu gini,”
Suprihatin dan suaminya itu lalu minum teh bersama samblil duduk bercengkerama.
“Wonten napa tho, mas?”
“Aku besok mulai kerja lagi, Tin,”
“Alhamdulillah...kerja di mana, mas?”
 “Ya...mungkin kerjaan ga seberapa. Aku ngelamar jadi tukang jualan bantal. Kamu isin gak, punya suami penjual bantal?”
“Nyapo tho mas, isin barang. Endak, Tin ndak malu. Yang penting halal. Rezeki itu  tidak bisa ada yang nebak, mas”
“Ya wis kalo gitu. Mulai besok, mas berangkat pagi, Tin...”
“Iya mas, Tin bangunkan biar ndak terlambat,”
Hari berganti pagi, dengan semangat baru, Joyo terlihat sangat cerah dan siap untuk bekerja. Ia memanggul 20 bantal, 10 di kiri, 10 di kanan. Sangat berat. Ia sangat hati-hati dalam berjalan. Ia berkeliling menjajakan bantal-bantalnya pada rumah demi rumah. Ia mempunyai teriakan khas untuk menarik perhatian pembeli.
“Taaaaal...bantal! Yang pengen mimpi indaaah...bantal!”
“Piro, mas?” tanya seorang ibu yang sedang menyapu di teras
“Enam puluh lima ribu, bu. Monggo...”
“Wo...mahal sekali. Empat puluh aja, yo?”
“Wah, pas, bu...ndak bisa kurang. Ini bahannya bagus. Ndak panas,”
“Empat lima, wis?”
“Tambahin sedikit, bu”
“Endak wis, empat lima aku ambil,”
“Ya sudah, bu. Lima puluh, ya?”
“Yo wislah mas, ambil satu wis...”
“Alhamdulillah, penglaris...penglaris...”
Setelah mendapat pembeli pertama, ia semangat untuk terus berjalan. Hari pertama hanya dua buah bantal yang laku dijual. Penghasilannya seratus ribu. Setelah itu, ia kembali ke rumah Pak Odi.
“Nyoh, ini upahnya hari ini, ya...” kata Pak Odi.
“Sepuluh ribu, pak?”
“Lha minta berapa? Udah banyak itu. Udah, pulang, istirahat. Besok kerja lagi!”
Joyo kecewa dengan penghasilan yang diterimanya. Namun ia berbesar hati. Ia menganggap hari pertamanya ini adalah pemanasan.
***
Hari demi hari dilalui Joyo dengan menjajakan bantal-bantalnya ke rumah-rumah. Sampai pada suatu hari, Joyo mulai pasrah karena ia tak kunjung mendapatkan cukup pembeli. Upah yang diterimanya hanya habis untuk membayar angkutan umum.
“Yo, kamu ngapain tho, kok susah. Mikir apa, tho?” kata Handoko, sesama penjual bantal.
“Mau ndak susah gimana, Han. Anakku yang besar udah mau SD. Penghasilan Cuma segini-gini aja. Aku pengen anakku sekolah, tapi...”
“Halaaah...kamu itu jadi orang kok suka pasrah. Ayo wis, jangan buang waktu! Ikut aku ke kampung yang lumayan rame. Nanti sehari bisa dapet banyak,”
Akhirnya Handoko mengajaknya berkeliling ke sebuah kampung yang ia anggap ramai dan berpotensi banyak pembeli. Keduanya berjalan beriringan melewati pematang sawah, lalu akhirnya sampai di sebuah perumahan kecil.
“Taaal...bantal! Yang mau tidur nyenyaaak...bantal!” keduanya berteriak bersama.
“Bantal!” teriak seorang ibu dari balik pagar rumahnya.
“Lho, Bu Asri. Apa kabar, bu?” kata Handoko.
“Alhamdulillah baik, mas. Kok kebetulan sampeyan lewat. Bantalku wis tipis, hehehe”
Handoko mendapat pembeli pertama hari itu. Selanjutnya Handoko dan Joyo terus berjalan. Namun sayang, kali itu bukan hari keberuntungan Joyo. Ia tak dapat satu pun pembeli.
Joyo mulai bingung. Ia bingung memikirkan anak-istrinya harus makan apa. Ia takut anaknya tidak bisa sekolah karena penghasilannya tidak memungkinkan. Setiap malam ia tidur dengan ketakutan akan hari esok. Setiap malam, ia tidur di atas bantal yang tidak lebih empuk dari bantal yang ia jual. Setiap malam, ia tidur beralas ketakutan demi ketakutan.
Joyo pasrah dengan pekerjaannya sebagai penjual bantal. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak dari menjual bantal sambil mencari pekerjaan lain.  Ia berkeliling mencari pekerjaan lagi.  
“Permisi mbak, bisa saya bertemu dengan staf HRD kantor ini?” Joyo bertanya pada seorang resepsionis sebuah kantor penyedia jasa servis komputer.
“Ada keperluan apa ya, mas?” jawab resepsionis itu.
“Saya mau ajukan lamaran pekerjaan. Di depan, saya baca ada lowongan office boy,”
“Emm...office boy. Maaf mas, kami tidak membuka lowongan,”
“Lha itu mbak, di depan ada tulisannya...masa’ ndak buka,”
“Lho iya, maaaas. Kami sudah tutup lowongan. Mungkin petugas lupa mencopot pengumuman,”
“Lah gitu ya ndang dicopot tho, mbak. Bikin GR aja,” Joyo lalu lekas pergi dari kantor tersebut dengan kecewa.
“Emang orang besar suka meremehkan hal kecil!” Joyo bergumam sendiri.
Joyo berjalan lagi mencari secercah harapan pada setiap tulisan “LOWONGAN PEKERJAAN”. Ia berharap ada satu tulisan yang bersinar diiringi binar mata ramah yang mau menerimanya. Sampailah Joyo pada sebuah toko kain.
“Permisi, cik...di depan ada tulisan ‘lowongan pekerjaan pramuniaga’, saya bisa ajukan lamaran pada siapa?”
“Ohh...ke saya, sih. Ada apa? Kamu mau melamar?”
“Iya cik, syaratnya minimal lulus SMA saja, kan? Saya juga sudah bawa foto 3x4,”
Wanita tersebut tidak menjawab. Sembari menghitung uang, ia benahi kacamatanya yang turun. Ia letakkan uang di laci. Lalu melihati Joyo dari atas ke bawah hingga dua kali. Ia berdehem. Lalu meletakkan kacamatanya di meja.
“Cari pekerjaan di tempat lain saja ya, mas...kayaknya saya masih pikir-pikir mau nerima sampeyan,” jawab wanita tersebut tanpa melakukan filtrasi terhadap kalimatnya.
“Lho, kenapa, cik? Saya lulusan SMA bener, kok. Ini saya bawa fotokopi ijazah, saya juga bisa ngitung cepet ga pake kalkulator,”
“Saya cari pramuniaga perempuan saja, wis,”
“Di depan ndak ditulis, butuh perempuan apa laki-laki,”
“Ya sekarang saya bilang,”
Joyo malas berdebat. Ia lebih memilih tidak mendengarkan dan langsung pergi sambil berwajah kesal.
“Orang kaya manaaa yang tidak seenaknya udel!” gerutunya kesal.
“Wong rusuh gitu mau kerja di sini. Ya ndak mau aku,” kata wanita tersebut lirih.
Joyo mendengar dan menoleh sambil melotot. Ia lanjutkan pencariannya hingga hari petang. Namun, hanya aksi berujung gerutu yang ia dapatkan.
“Halah...angel temen golek kerjo!”
Joyo memutuskan untuk mengakhiri hari dengan naik angkutan umum. Di dalam angkot, terus saja ia melamun. Ia membayangkan uang berapa juta yang ia butuhkan untuk melihat anaknya sekolah. Ia melihat ibu-ibu di depannya berkalung emas dan bergelang emas bagai artis India. Ia lalu teringat pada Tin.
“Tin pasti cantik kalo dia pakai begituan, “
Ia terus melamun memandangi kilau emas perhiasan ibu tersebut. Joyo lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia teringat wajah Tin. Tin selalu mengingatkan, walaupun miskin, Joyo tidak boleh kufur. Joyo tidak boleh syirik dengan kekayaan dan kebahagiaan orang lain. Joyo terus merenung. Ia tetap ingin bekerja secara layak, minimal seperti dahulu.
 Joyo akhirnya kembali ke rumah Pak Odi. Joyo tidak tahu lagi harus ke mana. Hanya menjadi penjual bantallah satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan.
“Pak, nyuwun sewu. Saya tidak bisa bekerja lebih baik dari di sini,”
“Ya sudah le, nurut saya. Wis, wis, besok balik kerja, yo. Saya sek banyak lowongan. Kalo saya kan makin banyak yang jualan, saya makin senang, hehehehe”
“Inggih, Pak. Besok saya kerja lagi,”
Tak ada pilihan. Tak ada cara lagi. Joyo hanya bisa berharap esok ada nasi untuknya, istrinya, dan keempat anaknya.  Masih dengan harapan yang menggantung, Joyo akhirnya pulang ke rumah. Ia gagal membawa kabar baru nan segar untuk Tin. Ia tarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
Tiap malam, Joyo hanya bisa menceritakan keluh kesahnya pada Suprihatin dan berdoa kepada Tuhan agar hari esok ia bisa terbangun dan melihat anaknya sekolah sampai perguruan tinggi.
“Tin...kalau anak kita tidak bisa bersekolah karena bapaknya ndak punya uang, gimana?
“Mas iki ngomong opo, tho! Mas gak boleh berpikiran negatif gitu. Ani pasti bisa sekolah. Surti juga pasti bisa sekolah. Begitu juga dengan Husen dan si kecil Mamat. Selama kita usaha, pasti ada jalan, mas. Mas berusaha. Aku juga berusaha. Kemaren Bu Darso nawarin aku jadi rewang di rumahnya. Aku sanggupi saja buat nambah-nambah penghasilan,”
“Jadi rewang di rumah Bu Darso, Tin? Ya wis...mas setuju wae,”
“Wis, mas ndak usah khawatir. Tin gak mau mas murung terus. Kita terus berdoa sama Allah biar dilancarkan rezekinya, nggih mas?”
Keduanya saling tersenyum memandangi kerut di bawah mata masing-masing. Joyo hanya bisa berharap dan terus berharap. Hanya istrinyalah yang mampu membuat ia bertahan. Hanya bayangan anaknya harus sukseslah yang membuat ia mengurungkan niat untuk menyerah. Hanya ‘semoga’ dan ‘semoga’ yang menjadi pengawal doanya setiap akan tidur. Tidur beralaskan angan-angan, yang lebih empuk dari sebuah bantal.



Monday, May 22, 2017

Sawang Sinawang

Pada suatu Sabtu yang cerah dan jalanan cukup padat, aku menyetir sepeda motor putih kesayanganku. Aku melewati sebuah jembatan yang menjadi jalan pintas favorit warga kota, yang pernah dikabarkan hampir rubuh  sampai truk dilarang melintas. Di kiri-kanan jembatan, disediakan trotoar untuk para pejalan kaki.

Nampak seorang bapak-bapak berusia sekitar 50 tahun (terlihat dari jumlah uban di kepalanya), berkemeja rapi yang dimasukkan ke dalam celana kain rapinya pula, menenteng tas yang sepertinya berisi laptop di tangan kirinya, berjalan menampakkan sepatu mengkilap karena disemir, dengan langkah yang terburu-buru seolah lima menit lagi ia akan rapat atau mengajar, namun ia tetap bisa tersenyum untuk menjaga citra. Tetap saja, raut keseriusannya tidak bisa disembunyikan. Ia nampak gundah gulana.

Dari arah yang berlawanan, nampak seorang bapak-bapak pula, berusia sama, berkemeja usang dan kedodoran (nampaknya, itu kemeja lungsuran), tidak dimasukkan ke dalam celana kotornya, memakai topi, beralas sandal jepit, membawa keranjang onde-onde yang ia slempangkan seperti tas di bahunya. Nampak berat sekali, namun ia tetap menjaga langkahnya agar tidak sempoyongan. Berusaha tersenyum pula, namun tidak, saat matanya bertemu dengan bapak-bapak di arah berlawanannya.

Bapak pertama berpikir, “Senangnya menjadi penjual onde-onde. Ia tidak perlu memikirkan kurikulum, rapat pimpinan, anak orang lain, uang negara, bahkan tidak pernah kegiatannya dibatasi oleh waktu. Terserah ia mau mulai kerja pukul berapa. Terserah ia mau berpakaian seperti apa. Tidak akan pernah ada yang melihat. Ia bebas pergi ke mana saja. Tidak ada yang mencari. Ah. Aku ingin segera pensiun dan menikmati bebasnya hidup seperti dia”.

Bapak kedua pun berpikir, “Nikmatnya jadi orang kantoran. Bajunya rapi, wangi, licin... Tidak perlu keliling-keliling, tidak perlu takut nanti siang makan apa. Makan tinggal pilih. Mau tidak masuk sehari pun, gajinya tetap ada. Kalau aku, ga kerja sehari, ya ga makan sehari. Andai dulu orang tuaku kaya, andai dulu aku tidak putus sekolah, sudah pasti sekarang minimal aku menjadi PNS seperti dia. Ah. Andai bisa, aku ingin kembali ke 40 tahun lalu”.

...dan mereka terus berjalan sampai langkahnya saling memunggungi.

...dan aku terus melaju sambil mengingat kedua pasang mata tadi.

Monday, February 20, 2017

#Thailand 7: Jejak Muslim di Songkhla

24 September 2016

“Bapak, terima kasih ya, sudah mengizinkan saya menginap semalam di sini. Saya pamit pulang dulu,“ ucapku pada salah satu staff konsulat yang sedang piket di hari Minggu kala itu.
“Lho, kok buru-buru? Langsung pulang, apa masih mampir-mampir?” tanya beliau.
“Langsung pulang, Pak, supaya sampai di Narathiwat tidak terlalu sore,”
“Ke terminal ini? Saya antar saja tidak apa-apa,” tawar beliau.
“Tidak usah, Pak. Saya naik tuk-tuk saja. Berapa ya tarifnya, Pak?”
“Ya...paling 20 Baht,”
“Iya, Pak. Terima kasih banyak ya, Pak. Saya pamit dulu. Mungkin ini terakhir saya ke sini sebelum kembali ke Indonesia. Saya mohon maaf ya, Pak, kalau-kalau saya dan teman-teman selalu merepotkan pihak konsulat. Semoga lain kali bertemu lagi,” ucapku.
“Sudah jadi tugasnya konsulat. Ya sudah, kalau begitu, kamu hati-hati, ya. Salam untuk yang lainnya, “
“Siap, Pak. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam”.

Bapak berkumis tersebut langsung menekan tombol untuk membukakan gerbang konsulat dan melihat saya dari jauh, memastikan saya tidak salah naik kendaraan umum. Saya akan naik ‘tuk-tuk’, sebuah angkutan umum tradisional Thailand yang berbentuk seperti pick up yang beratap.

Tak seberapa lama menunggu di seberang konsulat, saya melihat angkutan berwarna oranye itu dari jauh. Saya lantas mengawe-awekan tangan. Pak sopir itu lalu berhenti di depan saya. Saya bertanya dalam bahasa Thailand “Pai kyu rot tu, mai kha? (Pergi ke terminal minibus, tidak?)”. Lelaki paruh baya berwajah Siam tersebut langsung menjawab, “Cak pai nai khab? (Mau pergi ke mana?”, saya mengulang lagi, “Kyu rot tu kha (terminal mini bus),”. Dia tetap bertanya, “Pai nai a (pergi ke mana?)”. Saya baru mudeng. Oh, mungkin maksudnya, saya akan naik mini bus ke tujuan mana. Saya menjawab, “Sungai Kolok kha (Ke Sungai Kolok),”. Dia langsung menjawab dalam bahasa Thailand yang panjang dan ada beberapa kosakata yang saya tidak mengerti. Namun, dari konteksnya, dia mengucapkan, “Ya sudah, mari naik, saya antar”.

Saya lalu membuka pintu penumpang di depan, kebetulan kosong. Saat Pak Sopir itu memulai mengendarai tuk-tuknya, ia mengucapkan “Bismillah...”. Saya langsung kaget. Di Songkhla, susah sekali menemukan orang muslim. Biasanya, kalau ada muslim keturunan Melayu dan tahu kalau saya muslim, dia pasti berbahasa Melayu-Pattani. Jadi, saya tidak mengira kalau Pak Sopir ini muslim juga. Lalu saya melihat ada sajadah yang ia lipat dan letakkan di dashboard depan.  Di spion tengah pun ia gantungi dengan gantungan bertuliskan lafadz Allah. Doa saya terjawab. Sebelum berangkat, saya berdoa agar dipertemukan dengan orang yang bisa mengerti maksud saya. Syukur-syukur kalau saya ditemukan dengan saudara sesama muslim.

Di perjalanan, Pak Sopir mengajak saya berbicara dengan bahasa Thailand yang dicampur Inggris. Saya mengerti sedikit-sedikit maksudnya. Ia mengira bahwa saya berasal dari Malaysia. Saya jelaskan bahwa saya orang Indonesia. Dia lalu berkata, “Oh...khon Indo...moslem good good (Oh, orang Indonesia, muslimnya bagus)”. Saya bercerita bahwa saya adalah guru praktikan di Narathiwat. Ia lalu bercerita bahwa memang banyak orang Indonesia mengajar di selatan Thailand.

Tidak lama kemudian, ia berhenti di depan Songkhla Annuban School. Di sana, banyak mini bus yang nge-time menunggu penumpang. Ia lalu turun dalam keadaan mesin kendaraan masih menyala. Ia terlihat berbincang-bincang dengan para sopir mini bus. Saya kaget, tiba-tiba tuk-tuk-nya berjalan mundur. Saya kira ia lupa mengerem. Saya sudah mau menginjakkan kaki saya di rem kaki tuk-tuk itu. Tiba-tiba Pak Sopir muncul dari jendela kiri dan mengatakan bahwa saya sudah sampai di ‘kyu rot tu’. Ternyata, tadi dia yang menarik tuk-tuknya dari belakang. Maklum, tuk-tuk memang terlihat ringan sekali dan mudah didorong atau ditarik dengan tangan.

Saya kaget. Lah. Ini ya, terminal mini busnya. Saya kira, tuk-tuk ini akan membawa saya ke terminal sungguhan. Ternyata, hanya di tempat ngetime. Pantas saja, tadi bapak yang piket di konsulat hanya mengatakan bahwa tarifnya 20 Baht saja. Tahu begitu, saya bisa jalan kaki dan menghemat 20 Baht, hihi. Jaraknya dari konsulat hanya sekitar 1,5 km. Hehehehe. Ya sudahlah, setidaknya, dengan 20 Baht, saya bisa bertemu dengan Pak Sopir yang ramah itu.

Saya akhirnya bertanya padanya, “Thaorai, kha? (Berapa?)”. Ia menjawab “20 Baht,”. Akhirnya saya membayarnya dan mengucapkan “Khop khun kha (terima kasih),”. Ia menjawab “Mai pen rai khab, cok dee (Tidak apa-apa, hati-hati)”. Saya lalu turun dan ia mengucapkan “Assalamualaikum”.

Saya lalu mengucapkan “Waalaikumsalam” dan tersenyum.

Di kota yang mayoritas penduduknya beragama Buddha dan muslimnya hanya ‘sedikit persen’, bahkan adzan pun tidak pernah terdengar ini, ternyata Allah masih mempertemukan kami tanpa terduga. Di situlah saya merasa, bahwa seluruh muslim di dunia ini sebenarnya terkoneksi dalam satu batin yang sama, yaitu keyakinan akan Islam. Saya lalu berpikir, mengapa di negeri saya yang mayoritas penduduknya muslim, saya malah jarang mendengar “Assalamualaikum” diucapkan dengan percaya dirinya bila bertemu dengan sesama muslim.

Ya, salah satu dari ribuan pengalaman berharga saya saat hidup selama lima bulan di Thailand adalah: saya semakin rindu dengan Islam. Semoga, kalimat "Khon Indo, moslem good good"-nya Pak Sopir tadi memang benar. Aamiin.




Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.
Love, Dina.

Sunday, January 15, 2017

Pembunuh

Ada pernyataan yang mungkin terlalu melankolis untuk diucapkan oleh seorang pembunuh.
"Jika aku bisa dihargai dan dianggap ada tanpa harus menghilangkan nyawa pesaingku, aku memilih untuk menanggalkan pistolku. Namun sayangnya, apa yang aku katakan selalu tidak menarik di telinga mereka sehingga aku selalu sendirian...dan tidak ada cara lain untuk membuat dunia melirikku, selain acungan pistolku".
Sekarang aku tahu, kenapa seorang pembunuh itu ada. Pembunuh dilahirkan oleh dendam. Dendam yang dihasilkan dari perbuatan pembunuh sebelumnya: pembunuh harapan. Pembunuh masa depan. Pembunuh kepercayadirian.
Pembunuh harapan itu...orang terdekat si pembunuh.

Wednesday, December 28, 2016

Bila Dunia Hanyalah Atlas

Bila dunia hanyalah atlas, kakiku sudah cukup besar menutupinya
Bila dunia hanyalah atlas, gerakku makin lama makin terbatas

Namun dunia sangatlah luas
Ada ladang basah terhampar
Juga dunia hanya sekilas
Tak mampu nyawa menghindar, menjangkar

Bila dunia hanyalah atlas
Jakarta tidak mungkin tenggelam

Bila dunia hanyalah atlas
Indonesia tetap di bawah, di selatan

Bila dunia hanyalah atlas

Tak perlu ku belajar untuk keliling dunia.


Semangatlah, dunia bukan atlas.

2012

Bukan Salah Bunga

Sungguh aku tiada pernah meminta
Aku tidak memilih apa yang melekat
Tuhan memberiku kelopak dengan warna menariknya
Tuhan memberiku bentuk sedemikian rupa anggunnya
Sungguh, tanpa aku harus bergerak
Angin sudah menata gerak
Sungguh tanpa aku harus menebar
Kumbang datang dan hisap ku punya nektar

Batu, 2014

Sriwedari

Senja di batas Surakarta dan Jogja selalu menjadi teman untukku. Setiap senja datang, aku merasakan kekuatan baru telah lahir dalam diriku. Semacam vampire, setiap sandhya kala1datang, aku merasa utuh dan lahir baru. Ya, itulah aku dan aku menikmati anugerah Tuhan yang itu. Ku rayakan setiap kelahiranku dengan berjalan-jalan sendirian ke kota, berharap menemukan keasyikan dengan membaca buku di toko buku walaupun tidak dibeli. Mencoba baju-baju di mall hanya untuk difoto di dalam ruang ganti. Mencoba kue-kue tester di etalase toko sampai kenyang. Bahkan lewat di depan spg parfum, agar mendapatkan wangi terbaru dari produk parfum mahal yang tidak mampu kubeli.
            Aku mempunyai sebuah kelebihan yang tidak umum. Dan aku sangat menikmati kelebihan yang diberikan oleh empunya hidup ini kepadaku. Hingga kini tak ada satu pun yang tahu, pun ibuku. Bahkan aku sampai ingin berganti nama, namun tidak menemukan nama yang cocok untuk diriku. Hingga pada suatu senja di sebuah toko CD, aku berubah pikiran setelah bertemu dengan seseorang yang sekuat kutub utara. Dia mempunyai medan magnet yang sangat kuat. Dia mampu menarikku masuk ke dalam tubuhnya hanya melalui sebuah isyarat. Namanya Yosa. Aku tahu itu dari matanya. Aku tidak berkenalan langsung. Aku hanya perlu menatap sebentar, ion-ion dalam tubuhnya akan sampai padaku tanpa harus kujabat tangannya. Lalu kusunggingkan senyuman kepadanya. Dia tersenyum pula. Dia manis. Dan wangi.
            Ku nikmati setiap alur lagu The Carpenters melalui headphone yang disediakan. Yosa mengambil sebuah keping CD penyanyi luar negeri yang namanya tak mampu kuingat. Kami berdua sama-sama saling menikmati hasil sadapan musik ke dalam telinga kami hingga  terpejam sambil berdiri. Tiba-tiba, aku merasakan tarikan yang sangat kuat dari luar tubuhku. Nyawaku seperti magnet berkutub selatan yang dilewati magnet berkutub utara dan tak kuasa menolak untuk tidak berdekatan. Isi tubuhku melayang masuk ke dalam otak Yosa. Aku tidak bisa mengendalikan apa pun yang terjadi saat itu. Semua mengalir begitu saja. Sakit sekali rasanya nyawaku bisa tertarik tanpa kendaliku. Menerobos ruang dan waktu ke dalam tubuh seseorang yang bahkan tak sempat kusentuh kulitnya. Masuk ke pori-pori dahinya. Melewati lapisan-lapisan syarafnya dan sampailah ke dalam otaknya.
            Tiba-tiba saja, aku sudah berada di depan tenda piknik berwarna putih dalam pelukan yang sangat hangat di suatu pagi. Dalam dekapan tubuh Yosa. Aku bisa merasakan kulitnya yang hangat. Dia menyungging senyuman kepadaku lagi. Kami lalu bersenda-gurau sambil sesekali berfoto mesra menggunakan kamera Polaroid dan melihat hasilnya sambil tertawa.
            “Kamu Sriwedari, yang menari dalam otakku. Tolong jangan pergi, karena aku tidak mampu sendiri,” Yosa memeluk lagi, sambil berbisik di depan telingaku. Dan aku terpejam.
            Tiba-tiba lagi, aku sudah berada di pinggir kolam renang. Kami berdua tepatnya. Yosa menyungging senyum lagi. Senyum yang paling legit, senyum yang membuat ingin di-gadho2. Kami berdua meniup gelembung sabun di pinggir kolam itu sambil bercanda mesra. Yosa menceritakan masa kecilnya yang terlampau bahagia.
            “Dulu, teman sekelasku selalu mengajakku bermain gelembung sabun sepulang sekolah. Tapi ibu tidak mengizinkanku membeli gelembung botol seperti mereka. Ibu membuatkanku gelembung dari sabun sisa cucian kotor, lalu membuatkanku alat tiup gelembung dari kawat sisa jemuran,”
            “Bagaimana pun caranya, tapi kesenangan yang didapat tetap sama, kan?”
            “Begitulah,” Yosa memegang tanganku, “Seperti halnya denganmu, bagaimana pun caranya, aku tetap akan bersamamu, Sriwedari”.
            Yosa masih menyungging senyum manis legit itu. Bergantian aku yang menceritakan masa kecilku. Menceritakan bagaimana senja sangat berarti untukku, namun aku masihbelum bisa menceritakan kelebihan ini kepada siapa pun, termasuk Yosa. Aku hanya bercerita bagaimana setiap senja aku selalu melakukan window shopping dari window ke window. Dan aku sangat menikmatinya.
            Belum sempat aku menikmati kemesraan di pinggir kolam renang itu, tiba-tiba, selalu secara tiba-tiba, kami berdua sudah berada di sebuah ranjang. Berbalut selimut hangat, kami berdua tidur berhadapan. Yosa menghadap ke kiri dan aku menghadap ke kanan. Yosa menyungging senyum manis legitnya lagi. Yosa lalu mengusuk kepalaku. Aku hanya bisa pasrah menikmati hangat jemarinya di kepalaku.

            “Aku selalu ingin tidur di sampingmu. Begitulah indah, begitulah nyaman, Sriwedariku,” kedipan matanya terasa nyaman untuk dipandang.
            “Dan begitulah aman, tiap kali kau sungging senyum manis legitmu itu,” aku sudah tidak mampu berkata lagi, lalu terpejam, di sampingnya.
            Secara tiba-tiba lagi, ada tarikan kuat dari dalam tubuhku. Nyawaku seperti menembus lorong waktu. Aku berteriak hebat karena sakit tarikan ini membuatku merasa dihujani seribu pisau. Aku melihat lubang kecil dalam kegelapan. Lubang yang jauh di sana. Aku lewati alur setiap lekuk otak Yosa. Berlanjut ke syarafnya. Lalu masuklah aku ke lubang kecil terang yang tak lain adalah pori-pori kulitnya. Tiba-tiba aku sudah kembali ke tubuhku. Aku membuka mata. Aku mual. Aku lepas headphone yang terpasang sedari tadi. Aku mual sungguh mual. Bergegaslah aku ke kamar mandi.
            Yosa membuka mata setelah sebuah lagu yang ia dengarkan selesai melagu. Yosa menoleh ke tempatku tadi berdiri. Aku sudah tidak ada di sana. Ia menoleh kanan-kiri. Yosa lalu pergi ke luar toko, mungkin hendak mencari.
            Setelah dari kamar mandi, aku kembali ke tempat tadi. Tak kujumpai Yosa di sana. Namun aku tersungging, menirukan sungging manis legit lelaki tadi. Mungkin Yosa, yang akan menjadi jawaban dari semua tanyaku. Tanyaku apakah harus ada seseorang untuk dibagi cerita mengenai kelebihanku. Kelebihanku yang bisa masuk ke tubuh seseorang di setiap senja. Seseorang mana saja yang ingin kumasuki. Kecuali Yosa. Dia yang menarik nyawa ini sendiri. Atau mungkin nyawa ini telah merasa menemukan separuh diri dalam Yosa, dan ia memutuskan melompat sendiri di luar kendaliku.
            Yosa. Nama yang indah. Senyum yang manis legit. Peluk yang hangat. Yosa. Yang memberiku nama Sriwedari sedari tadi. Mungkin ia menganggapku adalah taman surganya. Yosa. Yang merayu tanpa bicara, melagu tanpa berkata. Begitulah senjaku hari itu. Besoknya lagi, aku akan ke sini di waktu yang sama. Semoga seseorang bernama Yosa itu masih ingin dimasuki lagi. Kesakitan setiap nyawa ini keluar dari tubuh, apabila harus masuk ke dalam tubuh Yosa lagi, itulah sakit yang sangat aku nikmati.

Sejak saat itu, namaku Sriwedari.
Aku tidak akan bingung mencari nama lagi.



(Terinspirasi dari lagu Maliq & D’essentials yang berjudul Setapak Sriwedari )


________________________________________________________________________
1. sandhya kala: Saat di mana bumi mengalami peralihan dari siang ke malam.
2. gadho: makan lauk saja tanpa nasi (ngemil) 

Thursday, December 01, 2016

#Hijrah 1: Tata Rias Halal

Halo, para penikmat blog. Kali ini saya akan membagikan sedikit pengalaman saya, yang sebenarnya masih berkaitan dengan “Thailand Selatan”. Jangan bosan, ya. Hehe. Entah kenapa, cerita saya selama lima bulan di sana tidak akan ada habisnya kalau diulas. Baiklah, langsung saja ke topik kali ini, yaitu...”label halal”.

Sebelumnya, saya punya aturan di tulisan saya kali ini. Berhubung blog ini bukan karya ilmiah dan ada ungkapan juga kalau “my blog, my rules”, kali ini saya akan menggunakan pengalaman dan pemikiran saya sebagai bukti. Saya juga mohon tidak ‘perang ayat’ dalam menanggapi tulisan saya kali ini, karena tujuan saya bukan mempengaruhi, mengajak, melarang, atau me- me- yang lain. Saya juga tidak didorong oleh pihak mana pun untuk menulis ini. Saya juga tidak disponsori oleh produk mana pun, karena saya bukan artis, hehe. Saya hanya ingin membagikan pikiran saya. Nikmati saja dan tinggalkan bila tulisan ini dirasa kurang menarik, hehe. Baiklah, cusssssssssss.

Selama saya di Thailand, saya harus mengubah cara saya dalam mengonsumsi apa pun. Mengapa? Karena di sana bukanlah negara yang mayoritas penduduknya muslim, jadi makanan, produk kecantikan, dan barang-barang lainnya tidak semuanya mempunyai label halal. Kalau di sini, kita masuk ke toko serba ada seperti Alfamart, Indomaret, Giant, dll. pasti langsung comot saja, tanpa lihat dulu ada label halalnya atau tidak. Pun, saat masuk ke kafe, ke food court, ke warung sekali pun, kita langsung masuk saja tanpa mempertimbangkan halal tidaknya makanan yang dijual. Kalau toh mempertimbangkan, mentok-mentok cuma mempertimbangkan “Ada babinya ngga, ya?”.

Tapi, kalau di sana, tiap masuk ke Seven Eleven (toko serba ada yang ada di sana), saya harus membolak-balik tiap produk yang saya beli. Memastikan barang tersebut bisa dikonsumsi oleh muslim atau tidak. Belum lagi, tiap mencari makan di kedai, saya harus memastikan kedai tersebut memasang tulisan halal, Assalamualaikum, Bismillah, dan sebagainya. Kalau tidak, biasanya yang memasak memakai peci, kerudung, atau berbahasa Melayu. Baca tulisan kakak tingkat saya, yang juga sempat tinggal di Thailand Selatan di program yang sama dengan saya, tentang berburu halal di Thailand Selatan, di sini.

Selama di sana, hampir dipastikan saya selalu makan makanan halal, kosmetik yang saya kenakan pun sengaja cari yang halal. Saya juga memakai pakaian yang syar’i, karena memang muslim di sana sedikit berbeda dalam hal pakaian daripada Indonesia yang masih memaklumi kebebasan berekspresi dalam hal berpakaian. Di sana saya sendirian berjuang dan hampir setiap kesepian, saya tidak bisa curhat dengan siapa-siapa lagi selain Allah, karena memang sulit sekali untuk sekadar mengeluh jarak jauh dengan orang-orang terdekat saya. Saya di sana lebih jauh dari maksiat daripada di sini. Di sana hubungan antara laki-laki dan perempuan benar-benar terjaga, bahkan sekadar salaman saja tidak lazim. Saya seperti mencuci diri selama lima bulan di sana.

Entah mengapa, saat di sana, setiap kali saya berdoa atau hanya sekadar berkeinginan dalam hati, doa dan keinginan saya terkabul dalam waktu yang tidak lama. Bahkan, rata-rata doa itu terkabul di hari yang sama. Contoh kecilnya, saya ingin makan kue bernama ‘Angkok’ untuk berbuka puasa. Saya pernah mencoba pada saat awal datang di Thailand. Saya hanya berpikir saja, tidak meminta pada Allah. Tiba-tiba menjelang berbuka, guru pamong saya membawakan Angkok asal banda Nara yang terkenal dan rasanya memang sangat enak.

Contoh lain, di awal gaji pertama saya di sana, saya sempat tidak bisa mengatur keuangan karena saya masih bingung setiap kali berbelanja, apakah itu termasuk mahal atau murah (karena perbedaan kurs yang membuat saya belum terbiasa). Akibatnya, uang saya menipis dan saya takut sekali, karena saya gengsi juga kalau mau minta dikirimi uang untuk makan dari keluarga di Indonesia. Saya lalu menulis semua pengeluaran dan pemasukan dan berharap ada uang sisa untuk berlebaran di konsulat (sekalian membeli oleh-oleh). Namun, ternyata uang saya tidak sisa banyak. Tak lama kemudian, datang dua orang yang memberi saya sedekah. Dia berkata, ini untuk sedekah musafir seperti saya. Saya langsung terharu. Padahal saya tidak meminta uang kepada Allah. Saya hanya minta diberi kecerdasan dalam mengatur keuangan. Itu saja.

Contoh lain lagi, saya sempat sangat penat dan ingin jalan-jalan. Saya hanya memendam di dalam hati dan curhat kepada teman-teman satu universitas yang ada di grup Line. Tiba-tiba datang pesan singkat dari salah satu guru yang mengajak saya untuk jalan-jalan ke luar provinsi. Tiga contoh di atas hanyalah contoh kecil dari sekian banyak pengalaman tidak terduga yang saya dapatkan di sana. Saya hanya bisa bilang “Mashaa Allah, mashaa Allah”.

Saya lalu berpikir, mengapa ya di sana setiap kali saya berdoa, bahkan hanya sekadar berkeinginan, semuanya terkabul begitu saja tanpa syarat? Mengapa bila saya di Indonesia, rasanya untuk dikabulkan satu keinginan kecil saja sangat susah? Bahkan, untuk sekadar mencari buku di tumpukan rak perpustakaan saat mengerjakan skripsi saja saya sampai pusing dan tidak ketemu-ketemu? Saya lalu berpikir lagi, jawabannya mungkin sederhana. Di sini saya banyak bermaksiat, sedangkan di sana, saya tidak.

Ya. Saya introspeksi diri kemudian. Di sini, saya makan asal makan. Ada makanan yang sedang tren, misalnya mie ala Korea yang tidak ada label halalnya saja langsung saya coba. Bedak yang saya gunakan, eyeliner, mascara, dan sebagainya adalah produk yang terkenal, namun tidak berlabel halal. Di sini, pakaian saya tidak sesuai syariat. Saya memakai celana jeans, baju ketat, dan kerudung yang tidak menutup dada. Di sini, saya pacaran. Di sini...yah...saya jauh dari kata taat. Itulah sebabnya, doa saya sulit terkabul. Allah tidak ridha dengan apa yang saya lakukan.

Untuk mengubah itu semua, bukanlah hal yang mudah. Bila di sana, saya sendirian. Saya orang asing, mau tidak mau saya harus mematuhi kaidah di mana bumi yang saya pijak. Sedangkan di sini, menjadi muslim yang baik adalah tantangan yang luar biasa sulit. Itu yang saya rasakan. Padahal, Indonesia merupakan negara yang penduduk muslimnya sangat banyak. Namun, karena banyak itulah, atas nama hak asasi, semua dimaklumi.

Jujur, bila untuk mengubah cara berpakaian, saya tidak bisa ekstrem langsung berubah memakai jubah panjang, memakai kerudung besar...tidak bisa dipungkiri, saya hanyalah seonggok makhluk yang masih banyak beralasan. Saya mengusahakan bila ada rok, saya memakai rok. Saya mulai perlahan meninggalkan celana. Namun, terkadang bila saya sudah bingung mencocokkan baju, saya langsung comot saja celana dan atasan biasa. Kerudung pun, saya masih berusaha perlahan tidak lagi pakai kerudung pendek. Namun, kadang saya juga masih ingin memakai kerudung pendek. Ya...susah memang. Namun saya akan berusaha pelan-pelan. Saya tidak ingin mengejek siapa pun dalam hal berpakaian. Karena, saya sendiri belum sempurna dan masih labil. Tapi, tidak ada yang menjamin kan seseorang yang tidak sempurna hari ini, bisa menyempurnakan dirinya kelak? Wallahualam.

Kembali ke topik label halal. Untuk urusan yang lain, saya pelan-pelan berbenah. Namun, ada urusan yang bisa segera saya benahi, yaitu...masalah label halal. Jadi begini. Jujur lagi, saya kurang motivasi dalam mengerjakan skripsi saya. Saya mulai memasuki masa-masa malas di mana saya tidak betah berlama-lama mengerjakan skripsi karena.....................ya, saya malas. Hehe. Maka dari itu, saya mencari cara agar saya semangat. Saya menyemangati diri sendiri dengan menjanjikan diri sendiri bahwa, “Dina, semakin cepat skripsi kamu selesai, semakin cepat kamu dilamar, haha. Dina, semakin cepat skripsi kamu selesai, semakin cepat wisuda, katanya mau dandan sendiri waktu wisuda?”. Nah, akhirnya saya mulai belajar dandan lagi setelah sekian lama saya tidak dandan.

Saya belajar dandan dari saat saya ikut paduan suara sampai duta-dutaan. Dari situ, saya mulai mengenal produk kosmetik beraneka ragam dan saya sudah mencoba berbagai merk kosmetik dari mulai yang halal, diragukan, bahkan haram. Mulai dari sini, saya menanggalkan kosmetik saya yang jelas tidak halal. Saya mencari dulu di internet tentang info produk kosmetik apa saja yang halal di Indonesia, di sini. Sejak saat itu, saya mulai follow beberapa akun kosmetik yang halal tersebut, di antaranya Wardah, Zoya, Sariayu, Mazaya, Caring Colours, dan Mineral Botanica. Yang sudah saya coba hanya Wardah, Caring Colours, dan Sariayu saja. Untuk yang lainnya, saya masih belum mencoba. Saya juga mulai aktif mencari review tentang kosmetik-kosmetik tersebut di Youtube dan beberapa blogger kecantikan di Indonesia. Saya mencoba dandan seminggu sekali. Kadang, saya juga berpikir, kok hasilnya nggak sebagus produk impor yang mahal, ya...lalu kadang juga saya masih ingin memakai yang mahal-mahal, impor, dan jelas tidak halal tapi hasilnya bagus.........tapi.....saya tersadar. Ah, untuk apa. Halal nomor satu. Hasil nomor dua. Mungkin, beberapa produk tidak bisa sebagus itu karena memang ada kandungan bahan yang tidak disertakan, yang kemungkinan bahan tersebut yang tidak halal tadi. Lagian, tidak bisa dipungkiri bahwa produk kosmetik lokal belum sedahsyat produk-produk buatan negara yang memang sudah ahlinya di bidang kosmetik.

Namun, dari situlah saya berpikir. Kalau orang Indonesia terus-terusan memakai produk impor demi hasil yang bagus, lalu siapa yang akan memakai produk lokal? Kalau tidak ada yang memakai produk lokal, dari mana produk itu akan maju? Akan dapat masukan dari mana? Nah, dari situlah saya mulai memutuskan: SAYA AKAN BERUSAHA MEMAKAI PRODUK KOSMETIK YANG HALAL DAN PRODUK LOKAL. In shaa Allah.

Lalu, saya berpikir lagi. Emmmm, mungkin yang membuat hasil dandan saya kurang bagus, tidak hanya dari intensitas dan produk kosmetiknya, tapi juga dari segi alat tata riasnya. Saya mulai deh mencari info kuas-kuas tata rias yang bagus seperti apa. Saya banyak mendapatkan info merk yang bagus dari beauty vlogger dan beauty blogger. Lalu, saya sempat akan membeli produk kuas tata rias buatan Amerika. Tapi sebentar. Tiba-tiba saya iseng menulis kata kunci di Google: brush make up halal. Dan...............sampailah saya di blog salah satu beauty vlogger ini. 

Membaca tulisannya, saya seperti ditampar secara halus. Iya, ya. Kalau produk kosmetiknya saja saya pilih-pilih yang halal, kenapa kuas tata riasnya saya juga tidak mempertimbangkan dulu yang halal. Akhirnya, saya mulai mencari lagi mana yaaa produk yang HALAL DAN LOKAL. Ada dua produk yang saya temukan. Ingat, standar saya hanya HALAL DAN LOKAL, ya. Hehe. Saya menemukan produk dari Mineral Botanica dan Zoya Cosmetics. Bahkan, harga keduanya pun tidak jauh beda. Karena saya masih mahasiswa, saya beli yang paling murah dulu. Nanti yang satunya, tunggu bulan-bulan depan, hehe.

Saya akhirnya membeli produk kuas tata rias dari Mineral Botanica. Mineral Botanica memang produk kosmetik yang masih baru. Belum banyak yang mengenal dan memakainya, tapi saya akan coba. Saya mendapatkannya dari salah satu online shop  di Malang. Kalau untuk produk kosmetiknya sudah ada di beberapa toko, kalau kuasnya, saya belum mencoba mencari. Penampakannya seperti ini, nih...
Ini produk kuas tata rias dari Mineral Botanica yang saya beli. Segera saya review, ya.
Zoya Cosmetics Brush Set
Kalau yang ini contoh produknya Zoya. Saya pengen coba juga, hehe.
Sumber foto:
https://www.bukalapak.com/p/perawatan-kecantikan/makeup/aksesoris-makeup/1sbdoj-jual-zoya-cosmetics-brush-set

Oh iya, saya kebiasaan deh. Kalau menulis, suka tidak fokus dengan topik yang saya buat sendiri, haha. Jadi, intinya, ini bukan postingan yang akan me-review produk kecantikan. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan berbagi informasi. Intinya, saya berniat untuk mulai mencintai produk yang halal dan lokal. Pertama, saya mencari ridha Allah, yang entah hanya Allah yang tahu, diterima atau tidaknya itu urusan saya dengan Allah (saya kok ribet ya kalau menjelaskan, haha). Kedua, saya mencintai Indonesia, saya rasa nasionalisme kita mulai meluntur. Saya bukan aktivis, bukan artis, atau siapa saja yang memberi pengaruh di Indonesia. Saya hanya seorang mahasiswa semester akhir yang berusaha untuk mencintai produk dalam negeri dimulai dari mengajak diri sendiri dulu (lhoooo katanya postingan ini ngga mempengaruhi), heheeee yaaaa pokoknya gitu! :D


Saya mulai kehilangan kecerdasan menulis, nih...sekian dulu ya tulisan ngga seberapa penting saya ini. Semoga bermanfaat walaupun sedikit. Untuk selanjutnya, saya ingin review produk-produk ini, biar menyemangati yang mau berhijrah (kalau saya tidak malas menulis, ya). Selamat malam dan selamat berpikir :p 


Monday, November 21, 2016

#Thailand 6: Alunan Kemerdekaan dari Negeri Gajah Putih

Rabu, 17 Agustus 2016


Biasa merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menjadi petugas paduan suara di kampus, kali ini saya bertugas sebagai dirijen paduan suara di Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Songkhla, Thailand. Tidak hanya saya, sebagian besar petugas upacara juga berasal dari peserta program PPL/KKN Thailand Selatan.
Mengingat kami semua mempunyai kesibukan mengajar di sekolah penempatan masing-masing, latihan upacara pun sedikit sulit. Hanya bisa dilakukan saat akhir pekan. Itu pun, para petugas harus rela menempuh perjalanan jauh ke Songkhla, karena sebagian besar mengajar di Pattani, Yala, Narathiwat, dan lain-lain. Petugas paduan suara saja baru bisa latihan dengan jumlah lengkap saat tanggal 16 Agustus siang hari.
Sebelum hari-H upacara, kami melaksanakan gladi bersih terlebih dahulu dengan Bapak Konsul, Pak Triyogo Jatmiko. Pak Tri mengikuti gladi bersih dengan khidmat dan beliau mencatat semua hal yang perlu dibenahi agar lebih baik lagi saat upacara berlangsung. Beliau memberi arahan mulai dari protokol upacara, pemimpin, pembaca UUD, pembaca doa, pembaca naskah proklamasi, ajudan, pengibar bendera, hingga tim paduan suara. Beliau juga memberikan wejangan-wejangan yang sangat memotivasi kami untuk memberikan yang terbaik dalam upacara esok hari.
Upacara dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2016 pukul 9 pagi di lapangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Para peserta upacara berasal dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang bekerja, studi, maupun tinggal di wilayah selatan Thailand, para pejabat konsulat, Dharma Wanita Persatuan, serta beberapa sekolah Thailand yang memiliki kerjasama dengan Indonesia untuk turut merayakan Hari Kemerdekaan RI bersama.
Semua berjalan dengan lancar sesuai rencana. Lagu yang dibawakan oleh tim paduan suara untuk persembahan atau biasa disebut aubade berjumlah tiga lagu, yakni Hari Merdeka, Tanah Air, dan Syukur. Pada saat latihan, saya dan teman-teman tidak sampai merinding. Namun, ada suasana berbeda pada saat upacara. Saya sendiri sebagai dirijen tiba-tiba merinding saat lagu Tanah Air dinyanyikan. Tanpa sadar, mata saya berkaca-kaca. Sebagai dirijen, harusnya tidak seperti itu karena bisa membuat anggota paduan suara menjadi terpancing untuk meluapkan emosi yang sama. Saya berhasil menahan tangis, tapi tidak berhasil menahan mata yang berkaca-kaca. Beberapa anggota paduan suara ikut meneteskan air mata saat menyanyikan lagu Tanah Air.

Usai upacara pun banyak yang mengatakan sempat menangis saat lagu Tanah Air dilantunkan. Hal ini mungkin karena kami semua sedang jauh dari tanah air, jauh dari keluarga, jauh dari sanak saudara di  negeri orang. Berjuang di tanah rantauan masing-masing membawa nama Indonesia memang bukan hal mudah, namun hal inilah yang membuat kami bisa bersyukur, bahwa tanah air terbaik adalah Indonesia. Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71!

Displaying IMG-20160817-WA0016.jpg
Sumber: Dokumentasi Konsulat Jendral Republik Indonesia Songkhla
Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.

#Thailand 5: Warna-Warni Olahraga Thailand

“See chompu cha! Cha!!”. Terdengar teriakan murid-murid menggema di lapangan bola sekolah. Selain ramai akan teriakan, lapangan sekolah penuh akan warna dan antusiasme dalam kompetisi. Ya, begitulah gambaran umum dari Sukkan Warna yang dalam bahasa Melayu berarti olahraga warna. Dalam bahasa Thailand, lazim disebut Kila See.
Kila See adalah suatu kegiatan olahraga tahunan yang rutin diadakan di setiap sekolah di Thailand, di mana semua warga sekolah (baik guru maupun siswa) dibagi menjadi beberapa kelompok warna untuk kemudian berkompetisi. Kompetisi yang diadakan beragam, bergantung masing-masing sekolah. Namun, secara umum, pasti ada kompetisi olahraga, karnaval, dan juga pemandu sorak.
Di Sekolah Wiengsuwanwittayakhom, tempat saya mengajar, ada empat kelompok warna yang akan bertanding. See chompu (warna merah jambu), see kiaw (warna hijau), see namngen (warna biru tua), dan see leuang (warna kuning). Kompetisi yang diadakan di sekolah ini beragam pula. Ada pertandingan sepakbola, pertandingan lari, pertandingan voli, lempar tagram, lomba yel-yel pemandu sorak antarwarna, kompetisi hias venue pemandu sorak, dance, dan karnaval.
Untuk mempersiapkan acara ini, sekolah sengaja memberi waktu latihan khusus selama satu jam setiap harinya selama dua bulan sebelum Kila See. Betapa Kila See adalah acara yang sangat dihargai seperti kegiatan akademik lainnya. Bahkan, jam pelajaran sengaja dipotong lima menit setiap jam pelajarannya, agar ada sisa waktu satu jam sebelum jam pulang, khusus untuk mempersiapkan Kila See.
Kila See diadakan selama satu minggu dan tidak ada kegiatan akademik selama Kila See berlangsung. Setelah tiga hari bertanding olahraga, hari keempat adalah saatnya seluruh warga sekolah berkeliling di jalanan sekitar sekolah untuk berkarnaval. Semua warga di sekitar sekolah selalu menantikan Kila See dari setiap sekolah yang berada di sekitar mereka. Ada pertunjukan seni yang ditawarkan setiap karnaval dari mulai drum band, tari, dan peragaan busana. Di salam setiap barisan warna, ada tiga kategori yang ditampilkan, yaitu Khong Cheer (rombongan pemandu sorak), Kila (atlet yang bertanding), dan Fancy (peragaan busana fantasi).

Hari kelima diisi dengan pertandingan final antarwarna dan juga ada pertandingan antarguru membela warna masing-masing. Guru-guru di sini pun sangat antusias dalam bertanding, tidak peduli akan usia mereka. Walaupun kulit menjadi belang karena udara Thailand yang begitu panas, namun semangat Kila See tetap membara sampai diumumkan siapa juara masing-masing lomba dan juga juara umum dari seluruh pertandingan. Penutupan diadakan dengan sukacita dan ditutup dengan guyuran hujan sebagai pengganti lelah selama satu minggu.

Displaying PicsArt_09-01-02.59.02.jpg


Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.

#Thailand 4: Pesona Pasar Malam Pattani

Displaying PicsArt_09-19-09.58.24.jpg


Pasar malam adalah pemandangan yang sudah biasa kita temui di Indonesia. Namun, kali ini saya akan menceritakan pasar malam yang berada di salah satu provinsi di Thailand Selatan, yaitu Pattani. Pesonanya sudah sampai di penjuru Thailand Selatan. Bahkan, orang-orang yang akan belanja, sengaja menyewa hotel satu malam di dekat pasar. Pasar malam yang berada di dekat masjid besar Pattani ini terpisah antara pasar yang dimiliki orang Buddha dan orang muslim. Yang dijual pun beragam, dari mulai pakaian, makanan, hingga kebutuhan harian. Yang akan saya ceritakan adalah lima keunikan pasar malam muslim di sini.
Pertama, di sini ada beberapa kedai yang bersifat lepas pasang, hanya buka saat pasar buka saja. Namun, ada juga yang sudah menetap menjadi toko. Nah, kalau masuk ke toko-toko, jangan lupa lihat kaki karyawannya terlebih dahulu. Jika karyawannya melepas sepatu, berarti pelanggan harus masuk dengan menanggalkan sepatu. Saya yang awam, tidak tahu. Saya melihat-lihat baju-baju bagus dengan memakai sepatu masuk ke dalam. Lalu sang pemilik toko mengatakan“Eh dek, kasuk tanggal, kasuk tanggal”. Artinya, “Dek, lepas sepatu, lepas sepatu”. Saya langsung malu dan kembali ke luar.
Kedua, perhatikan harga yang dikatakan penjual. Ada beberapa penjual yang tidak menulis harga. Bila kita bertanya harga dan dia menjawab misalnya “sratos limo” atau “neng roy haa” yang dalam bahasa Indonesia berarti 105 Baht, itu hanyalah bahasa lisan. Maksud sesungguhnya adalah 150 Baht, namun mereka mengatakannya dengan disingkat. Jadi, hati-hati, ya.
Ketiga, jika tidak serius ingin membeli, jangan terlalu banyak memegang-megang baju yang dipajang. “Pegang-pegang sajo, tubek...buat punoh kain”. Maksudnya, jika hanya pegang-pegang saja, lebih baik keluar, hanya akan membuat baju jadi tercemar dan rusak saja. Ada beberapa kedai yang seperti itu. Jadi, kita harus benar-benar hati-hati membaca sinyal dari sang penjual. Namun, ada juga kedai yang sangat ramah, bahkan saya sampai dapat gratisan bros kerudung karena dia tahu saya orang Indonesia, katanya sebagai kenang-kenangan sudah pernah mampir ke kedainya.
Keempat, di sini baju produk asli Thailand dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Bahkan dengan harga sekitar Rp 120.000 saja kita bisa dapat baju yang di Indonesia seharga Rp 200.000. Namun, baju Indonesia yang diimpor ke sini, harganya bisa sampai tiga kali lipat!
Kelima, jangan datang terlalu malam, karena semua kedai akan tutup pukul 9 malam. Terkesan terlalu sore untuk tutup, memang. Namun, warga sini sengaja melakukannya karena mereka waspada akan ancaman bom yang bisa datang kapan saja di daerah konflik ini. Namun, di luar itu, para pebelanja terlihat sangat santai dan tidak peduli isu bom yang sering terjadi di berbagai tempat di Thailand Selatan. Begitulah pengalaman saya ketika berbelanja di pasar malam Pattani, surga belanjanya para muslim di selatan Thailand.. Semoga bisa menjadi referensi.

Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.