Followers

Tuesday, May 21, 2013

3 Bungkus Kacang Bali


Bulan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, aku hanya bisa melihatmu dari senyum yang tidak bisa bergerak. Di layar LCD itu, senyum itu pun melihat balik ke arahku. Aku berkata, “Senyummu manis...”, tapi itu tidak membuat senyummu bergerak juga. Mata itu memandangku balik, setidaknya aku senang. Dengan duduk diam di sini, aku selalu melihat senyum yang sama. Dan setidaknya dengan begini, aku tidak pernah melihatmu tidak tersenyum. Dari foto itu.

Selama ini, aku hanya bisa menyampaikan pesan lewat gelombang-gelombang transversal. Menyampaikan emosi lewat jari-jemariku. Mengadu padamu saat aku ingin manja seperti wanita-wanita lain di luar sana pada prianya. Memelukmu lewat lagu-lagu itu. Namun aku hanya bisa menitipkan rindu pada sujudku, pada Tuhanku, energi terbesar yang kita semua puji dan sebut sejak masih kecil. Karena aku percaya, hanya Tuhan yang menyampaikan rinduku sampai selamat di telingamu, tanpa berkurang satu pun kata, bukan lewat Facebook, “Aku rindu kamu, pulanglah...”.

Saat aku mulai ragu, aku tidak ingin mendengar kata apa pun yang ke luar dari mulut mereka. Aku hanya percaya satu makhluk, yaitu kamu. Kamu yang berkata aku tidak boleh menunggumu pulang, kamu juga tidak pernah berjanji untuk pulang, bahkan di saat aku sedang meniup lilin ke-19, kamu tidak juga pulang. Kenapa kamu tidak mencari penggantiku saja, kenapa kamu tetap memilihku di antara jutaan wanita di Indonesia yang bisa kamu tunjuk. Bahkan, di Pulau Dewata sana sangat banyak wanita cantik. Kenapa kamu mengajariku menjadi lebih dewasa dengan cara ini, aku tidak mengerti. Dan kenapa di saat bibir-bibir yang lain mengecap kata “Sudah, tinggalkan saja dia!”, aku tetap bersikukuh dengan jawabanku untuk tetap mendeklarasikan diri bahwa aku milikmu dan tidak akan pergi hanya karena...jarak.

Aku berpikir lagi. Keras. Aku mengerti mengapa kamu tidak mengizinkanku untuk berharap kamu pulang. Kamu hanya tidak ingin aku kecewa. Kamu hanya tidak ingin aku sudah terlanjur berdandan cantik dari biasanya, memakai rok, memakai bedak, lipstick, parfum, dan memikirkan percakapan apa yang nantinya akan aku lontarkan di depanmu, namun kamu hanya mempunyai waktu tidak lebih dari 5 menit untuk bertemu denganku.

Kemarin, di tempat itu...tempat yang tidak romantis. Kurang dari 5 menit. Sampai aku belum sempat menata jantungku yang masih berdebar karena ini kali pertama kau akan bertemu denganku sejak pertemuan terakhir kita lima bulan yang lalu, aku bersyukur. Setidaknya walau pertemuan ini tidak berarti apa-apa dan hanya sempat mengucap beberapa kali “Hai...” tanpa sempat mengucap yang lebih, kamu bisa baca mataku, mata yang mengucapkan “Aku rindu kamu...lebih lama lah di sini... Aku ingin bercerita. Dan aku hanya ingin mengatakan, rasa itu tetap sama sampai kapan pun. Aku tidak mau menunggumu. Tapi aku selalu di sini, sampai kamu pulang pun, aku tetap di sini. Tanpa ada nama lain yang mengisi. Hanya kamu...”.



Dan bonus lain yang aku dapatkan, yang tidak orang lain dapatkan hanya dengan lima menit saja. Setidaknya aku sempat mengecup tangan wanita yang melahirkanmu, dia sangat cantik. Serta aku sangat terkejut membuka bingkisan mungil itu. Kamu paling tahu, obat rindu apa yang paling ampuh buatku. Terima kasih, kamu membawakan makanan kesukaanku walau aku tidak pernah bilang kamu harus membawanya ke mari, kemarin. Aku akan mengunyahnya, dan merasakan tiap butir yang mengandung rindumu ini. Lewat manis, gurih, dan asin di setiap butirnya, aku bisa merasakan betapa kamu mencintaiku dengan dewasa. Betapa kamu merindukanku juga secara profesional. Dan betapa kamu menjadi sangat spesial buatku walau aku tidak bisa ke bioskop bersamamu sekarang, tidak bisa naik bianglala setiap minggu, tidak bisa ke Taman Safari di saat liburan, tidak bisa fotobox berdua dan dijadikan foto profil di jejaring sosial. Namun, dari caramu menahan jariku saat bersalaman dan berpisah denganku untuk melanjutkan tugas yang menantimu di depan sana kemarin, aku semakin percaya, bahwa kamu akan kembali lebih cepat dari perkiraanmu untuk mengobati rindu yang sudah semakin tebal seperti bola salju yang meluncur.

Terima kasih telah datang dan membawakanku makanan kesukaanku...


"Andai bulan kan mengerti, 
andai bintang kan pahami, 
sampaikan kesunyian, 
sampaikan kerinduan 

di remang langit pagi 
berharap hal yg tak pasti 
hanya bisa menanti dan menanti, 

Salam sayang dariku untukmu yg terkasih..."

-Sincerely, Yours-
For Endra, who lives in 177,09045 miles apart from Aida.


Saturday, January 26, 2013

New Friends

Halo bloggies! Udah semester dua aku ada di dunia perkuliahan dan baru sekarang sempet ngenalin keluarga baruku, hihihi. Yap, kali ini aku mau nyeritain soal kelas baruku di S1 Pendidikan IPA Universitas Negeri Malang.

Kami tinggal di koordinat 7° 57' 37.15" S  112° 37' 7.72" E di bumi ini. Nah lhoooo, apaannnn coba itu. Itu alamat lengkapnya kita kalo kuliah. Hehehehe, jadi, kami kuliahnya di Gedung Kuliah Bersama FMIPA UM, ini nih gedungnya...

Photo source: Panoramio
Kok kuliahnya di GKB? Ya maklum lah, ga kayak 4 jurusan lainnya di FMIPA yang udah lama berdiri dan punya gedung sendiri-sendiri, buat sementara waktu (yang entah sementaranya itu berapa lama lagi), PIPA numpang di GKB ini nih. Semoga ga lama lagi ya, friends :')

Ini nih sebagian dari kita pas selesai ospek, dan aku engga ikutan foto :-D
Apaan itu di foto kok ada tulisan Omega segala? Jadi gini. Pas ospek di fakultas Matematika dan IPA kemaren (kemaren banget) , setiap jurusan punya identitas sendiri. Di FMIPA ada 4 jurusan dan 1 prodi. Prodi? Iya, FYI, Pendidikan IPA itu prodi (program studi) paling baru di FMIPA, dan kami adalah angkatan pertama, makanya di foto itu ada tulisan "PIPA Pioneer" gitu kan. Nah lho Omega tadi apaan? (Maaf agak ribet daritadi jelasinnya). Tiap jurusan punya HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) masing-masing dan punya nama masing-masing. Matematika namanya Vektor, Fisika namanya Nukleon, Kimia namanya Oksigen, Biologi namanya Apis Indica (Lebah Madu), dan terakhir Pendidikan IPA dinamai Omega sama kakak-kakak BEM-nya, soalnya masih belum punya HMJ. Toh, kalo ada HMJ pun ntar namanya bukan HMJ, tapi Hima Prodi. 

Nah, filosofinya Omega sendiri sampe sekarang aku masih engga ngerti. Pas ada yang bilang "Salam MIPA!" seketika anak Mat kudu bilang "Vektor" sambil ngacungin ibu jari, telunjuk, sama jari tengah kayak vektor. Fisika bentuk ibu jari ama telunjuk jadi kayak nukleon. Kimia bikin bunderan kayak oksigen. Lebah madu bikin sayap. Sedangkan Omega malah bikin segitiga dengan empat jari rapat di kanan-kiri (ribet ya bayanginnya?) yang katanya melambangkan gabungan antara keempat elemen MIPA gitu deh. Jadi, menurut aku bentuknya kayak simbol Delta gitu, engga ngerti Omega dari mananya :-D. (Peace ya buat yang bikin)

Oke, aku kenalin satu-satu temen-temen di PIPA yang notabene cuman 1 offering (kelas) yang terdiri dari 54 mahasiswa, dan dipecah jadi offering A dan B doang pas praktikum. Di kelas, cuman ada 9 cowok dan ada 45 cewek. Bisa dibayangkan kan pemirsaaaah 1: 5, enak banget jadi cowok di kelas tiap hari dikelilingin cewek-cewek kece hihi. Dari 54 orang itu, cuman 14 orang (kalo aku ga salah itung) yang asli Malang (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu), sisanya berasal dari berbagai penjuru Jawa Timur. Yap, di kelasku semuanya dari Jawa Timur. Okeeee, jadi UM di Malang, tapi kami dijajah, hahaaha kidding. That's why aku sekarang kalo ngomong jadi kepengaruh logat kulonan dan lebih halus gitu. Seneng bisa belajar bahasa-bahasa dari berbagai daerah, padahal masih 1 provinsi tapi bahasanya udah macem-macem, lho. Aku sekarang jadi ngerti artinya panggah, gek, wi, cah, kari, cemeng. Dan kadang aku ngomongnya ada "tho tho"-nya padahal sebelumnya ga gini, hihihi. Indonesia emang kaya budayanya ya ;-).

Di kelas, aku uda mulai ngilangin kebiasaan kecil yang suka bikin gang. Aku main ama siapa aja dan engga mau bikin batesan pertemanan gitu. Tapi nalurilah, pasti ada temen-temen yang paling akrab, itu pasti. Aku kenalin mereka...

Ini namanya Vindy, dia asal Kabupaten Malang juga sama kayak aku. Cuman, dia tinggalnya deket gunung sana, di daerah Pujon, deket Batu. Makanya dia subur nih, sering minum susu asli Batu soalnya, hihihi kidding, Vin!

Ini temen-temen cewek  pas lagi glesotan mau latihan drama

Dari kiri: Mymo, dia asli dari Blitar. Dan ngomongnya alus banget khas orang Jawa Timur bagian selatan. Mymo bilang dia kaget pas awal denger orang Malang yang ngomongnya kayak kereta yang remnya blong. Nah abis itu ada aku, seblahku ada si Sundari. Dia asli Kabupaten Malang juga, deketan sama Vindy, daerah Ngantang. Jadi kalau ke Batu trus nemu daerah yang berkelok-kelok, itu daerah kekuasaanya Sundari, wkwk

Yang kiri sendiri pake jilbab kuning itu namanya Ichi, si anak pantai. Yang pernah aku ceritain, dia temen kos aku juga. Dia asal Banyuwangi, daerah paling ujung di Jawa Timur.

Pas nganggur ga ada kelas nih

Ini pas pulang kuliah agama, aku menjulang kayak jerapah ya  :-D. Makanya sama Ichi aku dibilang "Ibu Jerapah"

Ini sama Gilda, kebetulan banget pake baju yang warnanya senada :-D

Sama si imut Mymo
Dikit banget ya foto-fotonya, hehe...kerasa banget lho perbedaan SMA ama kuliah. Kalo di SMA dulu, ga usah disuruh foto, kalo ada hape nganggur pasti langsung pada pasang aksi. Nah kuliah ini susaaaah banget ngajak foto temen-temen kalo ga kudu dipaksa dulu, hihi. Ya maklumlah, masanya uda beda. Uda pada dewasa, bukan anak kecil lagi *sedih*.

Oke, peeps, segitu dulu cerita kecilnya, next time aku ceritain yang lebih lengkap lagi tentang seluk beluk isi GKB 102 (ruang kelas abadinya anak PIPA, hiks). Ini ceritaku, mana ceritamu?

Thursday, January 10, 2013

Missing Part: I've Got My Gold

Hari ini adalah hari kuliah yang cukup padat banget sekali (pleonasme ya).  Hari ini adalah hari yang aku nanti-nanti setelah satu semester mengikuti pelatihan di Paduan Suara Mahasiswa Swara Satata Çakti. Pelatihan? Jadi gini, di Unit Kegiatan Mahasiswa yang aku ikuti tahun ini, sistemnya berbeda dengan sistem tahun-tahun sebelumnya di mana yang ingin masuk ke UKM ini harus diseleksi dahulu lalu didiklat untuk menjadi anggota. Tahun ini, seleksi yang diadakan bukan semata-mata diaudisi lalu yang gagal dibuang begitu saja. Semua calon anggota yang ingin menjadi anggota PSM SSÇ harus mengikuti pelatihan selama satu semester yang dibina langsung oleh choir master-nya SSÇ, Pak Anang dan kakak-kakak dari tim kepelatihan. 

Ini dia Pak Hadrianus Anang Brotoseno, sang choir master kita
Jadi, tahun ini para calon anggota beruntung banget. Soalnya sebelum menjadi anggota, kami diberi pembekalan tentang musik dan paduan suara dari dasar banget. Semua anggota akan mendapat ilmu musik dari nol, jadi buat yang belum punya pengalaman bermusik ga usah takut buat masuk PSM SSÇ. Semua calon anggota yang awalnya berjumlah 100 lebih akan terseleksi sendiri oleh alam. Kemudian dibagi menjadi 4 kelompok latihan. Kami diberi buku partitur lagu-lagu klasik yang kami pelajari selama berada di kepelatihan ini.


100 orang lebih itu kemudian memang benar terseleksi sendiri oleh alam. Terbukti, hanya 80-an saja yang terdaftar menjadi anggota ujian. 20-an sisanya? Mereka telah membuat pilihan. Di kepelatihan ini, hanya diberi kesempatan untuk tidak mengikuti latihan maksimal 3 kali. Banyak yang sudah diberi tinta merah karena melebihi batas maksimal. Nah, ujiannya berbentuk apa saja? Ada dua sesi ujian. Ujian hari pertama adalah ujian individu. Masing-masing individu akan masuk ruangan yang berisi para penguji yang siap melahap kita habis-habisan. Beneran. Saking gugupnya, nada do ke re saja aku sampai tidak pas. Yang diujikan itu materi-materi yang sudah diajarkan sejak pertama masuk SSÇ. Tentang partitur, menentukan nada dasar, voicing, cara mengambil napas, macem-macem deh pokoknya. Saking takutnya, aku sampai berlatih setiap hari dan menulis semua materi di cermin kamar kos. Sampai-sampai aku tidak belajar Fisika demi ujian ini, hihihi nakal ya. Setelah ujian individu, ada ujian kelompok. Setiap kelompok diuji menyanyikan lagu My Silence Now Speaks For Me bersama konduktor yang telah ditunjuk dari tim kepelatihan. Setelah itu, kami bernyanyi bersama 1 kelompok lain lagi yang ditunjuk di depan 16 juri dari tim kepelatihan.

Setelah melalui semua tahapan ujian, kami akan diberi sertifikat dengan predikat Diploma Emas (Gold), Perak (Silver), dan Perunggu (Bronze). Bayangkan, semua yang sudah kami lalui selama 1 semester harus kami perjuangkan hanya dalam 2 hari ujian.

Dan setelah udah putus asa menunggu karena pesimis banget rasanya bisa dapet Silver aja, hari pengumuman dateng juga. Kami dikumpulkan di ruang ublek SSÇ. Kami dipanggil satu persatu dan diberi sertifikat. Alhamdulillah, kelompok 3 (kelompok latihanku) dapet juara 2 dan kelompok A (kelompok 1 dan 3) dapet juara 2 juga, hehe. Kelompok A dan 3 mendapat predikat Silver. Juara 1 dari kelompok 1, juara 3 dari kelompok 2, dan juara 4 dari kelompok 4. Dan konduktor berinterpretasi terbaik disandang sama Mas Candra.  

Gimana-gimana yang paling ditunggu-tunggu adalah sertifikat individu yang bakal nentuin latihan ke depannya. Waktu semua udah dipanggil, tinggal aku dan beberapa teman yang namanya belum disebut.

"Yang namanya belum disebut, silahkan menemui Pak Anang di office," kata Mas Widi.
Langsung deh, jantung mau copot rasanya, udah nahan air mata gitu, hehehe. Waktu di kantor SSÇ, aku sama Nana (temen baru nih) langsung pegangan tangan.

"Kalian tau kenapa kalian ada di sini?" kata Mas Latih, ketua umum SSÇ waktu itu.
"Kalian ngerasa bisa ngga ujian kemarin?" sahut Pak Anang.
"Kalian janji bakal konsisten ada di sini? Janji mau tetep belajar lagi apa pun hasilnya?" kata Mas Latih.
"Iya mas, belajar kan ga ada berhentinya," sahutku gugup.
"Yakin? Bener? Semua kakak-kakak lama juga awalnya bilang gitu, akhirnya rontok..." Mas latih menimpali.

Setelah interogasi yang panjang sekitar 5 menit, akhirnya Pak Anang memecah bayanganku yang udah mau mati,
"Ini buat Dina...ini buat Nana" sambil ngasih sertifikat.

Yaaaaaaaaaaaa rasanya kayak jagung yang digoreng trus meletup-letup tapi ga bisa ke luar gara-gara kepentok tutup panci trus pas tutupnya dibuka, pop corn-nya pada loncat ga tau ke mana-mana...subhanallah...ga sia sia....

Alhamdulillah, aku termasuk orang yang beruntung bisa diberi kepercayaan untuk menjadi Diploma Gold. Ga sia-sia selama ini latihan sampe malem, kujanan, kedinginan, sampe capek juga. Semoga aku bisa menjaga amanah SSÇ yang udah ngasi hadiah ini. Semoga aku ga ngecewain, dan aku bisa buktiin kalo aku emang pantes dapet gold.

Bismillah...kurang selangkah lagi aku bisa jadi anggota resmi PSM Swara Satata Çakti :-)

Missing Part: Kebersihan Sebagian dari Kecantikan

22 Desember 2012

Selamat hari ibu, everyone!
Hari ini adalah hari terakhir di kosan sebelum liburan panjang sampai tanggal 14 Januari. Nah, kebetulan hari ini bakal jadi hari bersejarah buat aku. Soalnya, hari ini aku putus. Enteng ya ngomongnya. Oke, berhubung ceritanya lagi galau, aku udah capek nangis-nangis di kamar, ngeliatin foto-foto zaman mesra sampe stalking TL-nya. Akhirnya, aku mutusin buat bersih-bersih kosan, yaaah...daripada aku ke diskotik trus minum sambil ajep-ajep, terlalu mainstream, akhirnya aku ga ambil lama, bersih-bersih kosan!

Alasan kedua aku ngelakuin ini juga karena aku risih banget liat kucing yang sembarangan obrak-abrik kosan, lalat, nyamuk, so awww. Aku ambil lap basah dan bersihin semua jendela yang ada di kosan. Terdengar kurang kerjaan memang, tapi sungguh, ini asyik!

Kinclong kan hasil kerjaanku
"Dek, kamu ngapain bersihin kaca kamarku?" tanya Mbak Putri.
"Ga papa mbak, lagi galau,"
"Galau kenapa lho?"
"Putus mba,"

"Ya ampun, sabar ya...sering-sering galau aja dek, biar kosan makin bersih,"
"...."

Anak-anak kosan yang awalnya pada cuman ngliatin aku pake muka memelas akhirnya ada yang tergerak juga. Si Ichy tiba-tiba ngambil inisiatif buat mangkas taneman yang uda lebat di depan kamar-kamar. Ujung-ujungnya aku sama Ichy jadi gardening.

"Ayo deh, Din...dibersihin sekalian semuanya,"
"Wah, ya ayo, Chy! Asyiiiiik ada partner!"

Taneman yang dipotongin sama Ichy

Ini dia, Ichi si tukang kebun
"Besok ayo ngebersihin semua deh, Chy...kamar mandi, tempat sepatu, dapur, yuk?" ajakku.
"Ayo deh, bakal ditinggal lama nih kosan, bisa-bisa pas kita dateng banyak sarang laba-laba. Yuk?"

Akhirnya besoknya, Olive juga ikutan sama misiku dan Ichy. Pagi itu kami mulai sama tempat sepatu. Banyak banget sepatu-sepatu dari zaman mbak-mbak kos dulu-dulu yang ditinggal gitu aja dan rata-rata masih pada bagus. Langsung deh kalap jiwa kosnya anak-anak, pada rebutan sepatu. Dan sayang banget, ga ada yang muat sama kakiku. Maklum, kakiku kan ukuran 40. Itu pun bukan 40 Indonesia. Itu deh yang bikin aku susah cari sepatu, poor me :')

Olive sama Ichy
Setelah berkutat sama bau sepatu, obyek selanjutnya adalah rak peralatan mandi di depan kamar mandi. FYI, rak ini banyak sampahnya...ga heran kalo banyak nyamuk juga. Semua rak kami turunkan, dibongkar dan semua alat mandi disiram air. Susah banget ngebersihin wadah plastik yang udah penuh sama alga. Sikat sana sikat sini. Dan untungnya, ibu yang suka bersih-bersih kosan tiba-tiba dateng.

"Bu, ibu bersihin kamar mandi aja, bagian kos yang lain biar kita aja, bu," kata Ichy ke ibu-ibu yang suka bersih-bersih kos.
"Iya mba, makasih ya uda dibantu,"

Memes sama Iin ikut bantu juga


Taraaaa, lebih rapi dari sebelumnya nih

Hasil ngepel-ku nih, kinclong banget kan...bisa buat ngaca lho :-D

Rak belajarku juga aku rapiin nih

Sprei udah diganti, udah seger sekarang
Seneng banget bisa ngelakuin hal positif kecil yang bikin perubahan besar. Dan aku bersyukur, kali ini galauku bisa aku salurin ke kegiatan yang menguntungkan. Selain itu, aku juga berpikir, apa salahnya kita ngeluangin waktu sejam dua jam buat bersih-bersih, kan manfaatnya bisa kita rasakan bersama. Kalo bersih, kan jadinya cantik, kalo cantik kan seneng ngeliatnya. Hari ini kita bisa ngerasain banget beratnya jadi ibu rumah tangga yang keliatannya sepele cuman bersih-bersih. Tapi ga bo'ong, habis bersih-bersih, kami tepar lho...bayangin ini belom masak, ngurus suami, belom lagi kadang ibu kita nerima omelan kita juga kan...ibu memang hebat!

Oke friends, do what you wanna do. Do something good that you think. Don't worry if that just a little thing. 'Cause little thing is a start to be a big mountain. Target selanjutnya...sekretariat PSM dan UKM! Hahaha...see ya! ;-)

Saturday, November 17, 2012

Missing Parts: Finally! Terima Kasih Warga Indonesia

23 September 2012

Terima kasih warga Indonesia buat partisipasinya membantu Lala dalam proyek Sekotak Senyum Untuk Lala. Setelah sekitar 1 bulan pengumpulan dana untuk membantu meringankan biaya operasi kedua Lala dari yang mengumpulkan  koran-koran, plastik bekas, pakaian sampai panas-panasan rombeng sana rombeng sini, alhamdulillah bantuan buat Lala bisa tersalur dengan baik.

Total dana yang disalurkan adalah Rp 12.856.800,- yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia mulai dari para anggota Masyarakat Skoliosis Indonesia, aktivis kesehatan, kerabat-kerabat, teman-teman SMA, teman-teman les, teman-teman kuliah, saudara, bahkan orang-orang yang aku belum kenal sebelumnya. Makasih atas kepekaan kalian terhadap sesama, biar Allah yang membalas kebaikan kalian :-)


Lala udah bisa senyum sekarang
 Lala masih harus menjalani beberapa kali operasi skoliosis lagi sampai usia mature. Operasi kedua ini hanya mengambil skrup titan yang bengkok di bagian punggung karena tulang Lala yang terus tumbuh sedangkan titan di punggungnya harus mengikuti bentuk punggungnya. Karena keterbatasan biaya, di operasi kedua ini tidak dilakukan koreksi kurva. Astaghfirullah...semoga melalui sakit ini, Lala diampuni dari segala dosa. Betapa malu rasanya kalau kita masih mengeluh tentang sakit yang tidak seberapa. Betapa malu rasanya kalau skoliosis kita yang tidak seberapa, di mana kita masih bisa berjalan tegak dan masih bisa bernapas lega melihat Lala yang untuk berdiri saja tidak bisa tegak. Untuk bernapas saja masih sering tersengal. Ini jadi pelajaran berharga buatku dan teman-teman skolioser yang lain. Skoliosis adalah bagaimana kita bisa menghargai si Backy, punggung kita, tanpa perlu marah akan bentuknya. Tapi hal berguna apa yang kita bisa lakukan dengan si Backy. Bukan sekedar mengeluh dan rendah diri. 

Ini dia si Lala, si gadis hebat yang kuat

Proses penandatanganan kwitansi bantuan buat Lala yang ditandatangani Mbak Yuyun, ibu dari Lala
 Ibu dan bapak yang menemani kami malam itu, ikut merasakan apa yang Mbak Yuyun rasakan. Apalagi ibu. Ibu tidak bisa menyembunyikan air matanya, "Lala yang kuat ya, Lala pinter kok ya...cepat sembuh. Nanti biar bisa main kayak Mbak Dina-Dini gini". Melihat Lala yang hanya bisa tersenyum bingung, dan dari matanya aku tau dia masih menyimpan sedikit pesimisme. "Ngerasakno aku biyen duwe anak kembar, loro karone operasi mbak...sameyan sing sabar, ben Lala yo iso cepet sembuhe...", kata ibu kepada Mbak Yuyun, artinya, "Merasakan saya dulu punya anak kembar, dua-duanya operasi mbak...mbak yang sabar, biar Lala juga bisa cepat sembuhnya...". Ibu memang makhluk yang paling sentimental.
Proses penyerahan dana bantuan dari masyarakat Indonesia yang diserahkan kepada Raudatul Laila Hikmah (Lala) melalui Dina dan Dini

Aku, Dini, dan Mbak Yuyun
Kami berlalu meninggalkan ruang itu. Kamar pasien yang lebih mirip seperti barak pengungsian. Di mana pasien kecelakaan dicampur dengan pasien sakit mata, pasien hydrocephalus, dan Lala. Antara lega dan sedih. Lega karena akhirnya kita semua masih diberi kesempatan untuk meringankan beban saudara kita. Lega karena kita masih diberi napas sampai detik ini secara gratis dan cuma-cuma. Tapi aku juga sedih. Sedih membayangkan apa yang akan terjadi besok, apa yang kita tidak pernah tahu. Tapi memang kita tidak berhak tahu. Yang jelas, lakukan apa yang terbaik yang bisa kalian lakukan, soal besok...let God do the rest :-)

Selamat malam, selalu jaga kesehatan, salam skolioser, dan tetap bersyukur sekecil apa pun nikmat sehat dan nikmat hidup detik ini, kiss bye :-*

Missing Parts: Ke Luar dari Zona Nyaman, Rumah

Satu bulan setelah aku masuk kuliah, aku iseng-iseng bilang ke ibu kalau aku pengen ngekos. Ibu mengiyakan. Kalau kalian tau aku tinggal di Malang dan kuliah di Malang lalu ingin ngekos, pasti kalian kaget. Waktu itu aku berpikir kayak gitu soalnya aku mulai jenuh dengan perjalanan dari rumah ke kos yang harus aku tempuh lebih dari setengah jam naik angkot. Itu berangkatnya. Kalau pulangnya, jangan heran kalau sampai satu jam. Tua di jalan, mamennn!

Aku tinggal di Kabupaten Malang, tepatnya di daerah Singosari. Walaupun rumahku hanya beberapa menit dari kota, tapi butuh waktu yang tidak sebentar untuk ke pusat kota, apalagi ke daerah kampus yang notabene lumayan jauh dari pusat kota. Dengan jadwal kuliah yang padat, tidak menentu, ditambah kalau harus pulang malam waktu ada latian, waktu ada kerja kelompok, rasanya satu jam yang aku punya hanya akan habis di jalan dengan sia-sia dan sampai rumah aku hanya bisa tergeletak capek. Apalagi daerah Singosari dikenal banget dengan julukan daerah langganan macet. Akhirnya, aku woro-woro ke semua teman kalau ada kosan yang masih kosong, mereka kudu bilang ke aku :-p

Awalnya, bapak tidak setuju aku ngekos. Aku memang sudah bisa naik motor, tapi aku belum punya SIM. Kata bapak, "Nanti kalau sudah punya uang, bapak mau belikan mobil buat Dina sama Dini". Soalnya bapak tidak begitu rela aku naik motor, maklum, sejak aku operasi 2 tahun lalu, aku memang sangat dilarang untuk jatuh. Bapak juga bilang, "Apalagi Dina kalau ngerjain tugas sukanya berantakin rumah, satu kamar ga cukup buat ngerjain tugas. Nah kalau kos, nanti bisa stres soalnya ruangannya sempit, ga kayak di rumah". Aku sih awalnya iya-iya juga sama bapak, soalnya sebenernya kalau disuruh milih, emang lebih enak di rumah sendiri walaupun jauh, daripada di rumah orang. 

Tiba-tiba pas di kelas, temenku, si Ichy, dia nyamperin aku sambil bilang, "Eh Din, kamu jadi ngekos ngga? Di kosanku ada mbak-mbak mau pindah kos soalnya dia pindah universitas. Kalo iya, ayo liat-liat dulu". Mumpung ada kesempatan emas, lagian kalau nunggu ada kosan kosong tuh musti nunggu tahun depan, aku ga pikir panjang. Besoknya, aku ajak ibu sama bapak liat kosannya Ichy.

Dari luar, kosannya kayak rumah keluarga. Warnanya orange nyala. Ada warung nasi di terasnya. Kosan ini berhadapan langsung sama sebuah musola. Awalnya aku ragu mau masuk, aku kira ini kosan campur cowok sama cewek. Ternyata, memang yang rame-rame banyak cowoknya itu warnet. Iya, di kos ini juga ada warnetnya. Trus pas masuk, di dalem ada parkiran motornya. Ini dia Teram 52 C...alias Terusan Ambarawa No. 52 C, hihihihi lucu ya namanya.




Begitu masuk, langsung deh disambut sama jemuran seabrek


 Ada 15 kamar di kosan ini. rata-rata satu kamar diisi 2 orang. Hanya ada 4 kamar termasuk kamar yang bakal aku tempatin yang diisi oleh satu orang. Uniknya, di kosan ini ga ada kamar nomor 13, hihihihi.
Ini ruang tamu di mana pertama kali aku ketemu sama Pak Kos
 Setelah 2 kali "nengokin" calon kosan, akhirnya bapak dan ibu setuju kalau aku kos di sini. Memang, kosku lumayan jauh dari fakultasku karena kosku berada di daerah gedung UM bagian depan, sedangkan fakultasku ada di gedung UM bagian belakang. Jadi, aku diizinkan buat bawa si Magic ke kampus. Setelah perjanjian sana-sini sama Pak Kos, namanya Pak Imam, akhirnya aku resmi jadi warga baru Teram 52 C. Pak Imam orangnya baik sekali, alim, dan tidak banyak mengatur. Beliau hanya berpesan, kalau semua warga Teram 52 C harus solat berjamaah baik di kamar atau di musola depan kos. Dan yang bagus lagi, tiap malam minggu di Teram 52 C ada tafsir Al-Quran sama ustadz yang didatangkan langsung sama Pak Imam. Akhirnya bapak makin lega dan rela ngelepasin aku buat ngekos, "Pokoknya di luar pengawasan orang tua, harus makin rajin ibadah aja, kuliah yang bener". Oke sip bossss :'D

Ada ruang tivinya juga

Ada 3 kamar mandi yang suka jadi tempat rebutan cewek-cewek kece

Parkiran motor yang dipenuhi sama motor-motor matic anak kosan, termasuk si Magic :-)
 Waktu awal aku mindahin barang-barang ke kosan, aku butuh waktu 2 hari buat masukin semua barang yang pengen aku bawa ke kosan. Maklum, namanya juga cewek, bapak sampe bingung ke sana-ke mari nganterin aku yang suka ribet kalau ada yang ketinggalan. Bapak sengaja ngga ikut bantuin beres-beres biar aku mandiri, katanya. Akhirnya aku angkat-angkat barang, sapu-sapu, geser sana, geser sini, sambil kayak orang bingung waktu itu. Mana pas aku pindahan itu, kosan lagi sepi soalnya itu hari Sabtu, pada pulang kampung mungkin. Bagian yang aku takutkan adalah...bagaimana kalau nanti ada cicak lompat ke arahku, di sini tidak ada ibu, tidak ada yang bakal ngusirin kecoa atau cicak buat aku. Akhirnya ketakutanku kejadian beneran. Ada cicak nempel di dalem lemari pas aku baru mau masukin barang :'(. Bingung ga ngerti musti ngapain, setelah diem hampir setengah jam, akhirnya aku nyamperin ibu-ibu yang jualan di warung depan. Inilah percakapanku dengan beliau:
"Emmmm bu, permisi....boleh minta bantuan?" sambil kedap-kedip.
"Iya, bantuan apa mbak?" dengan suara beliau yang sudah bergetar karena efek usia.
"Hehehe...bisa usirin cicak ngga, bu? Ada cicak di lemari saya, hehehe," muka udah ngelupas nih.
"Oh iya, sebentar ya..."

(beberapa menit kemudian)

"Mana mbak, cicaknya mana?" sambil bawa sapu.
"Itu bu, di dalem lemari," udah kaku nih tangan sambil nunjuk.
"Wah, susah pakai sapu, ada lidi ngga?"
"(Wah mampus mau disate nih cicak) Ehhh, bentar bu saya ambilkan di luar,"

Setelah perkelahian panjang antara ibu itu dan si cicak nakal, akhirnya cicak pun kalah dan enyah dari lemariku. Fiyuuuh.
"Makasih ya bu, ibu namanya siapa?"
"Saya Bu Sumaryono, masih saudara sama Pak Kos,"
Begitulah perkenalanku dengan Bu Sumaryono.

Dapur pertama yang suka dibuat masak sama Bu Sumaryono, sayang nih kelupaan buat ngefoto dapur kedua yang biasa buat masak sama temen-temen

Warung kecil Bu Sumaryono pas lagi tutup

Warnet Mas Fuji yang selalu rame anak-anak kecil main game 
 Nah, di pintu depan ada warnet kecil yang dijaga sama mas-mas, namanya Mas Fuji. Gila nih orang baiknya kagak ketulungan. Dari yang mulai angkat-angkat galonnya temen-temen lah, nyalain air, nungguin yang pada pulang malem, nyuci motor, wuhhh, beruntung banget deh ada orang macam Mas Fuji di kosan.

Nah, sekarang waktunya bedah-bedah kamar aku nih, peeps.

Ini dia kamarku, kamar paling depan, kamar nomor 9! :-)

Kasurku pas masih polosan

Dua lemari kecil serbaguna

Lemari khusus belajar

Lemari khusus makanan ama riasan

Dapur mini, serbaguna banget nih pas lemarinya dibuka, bisa jadi meja






Oh iya, kalau kos di daerah Malang kota nih ya, jangan lupa bawa kipas angin. Soalnya Malang "kota dingin" itu cuman bo'ongan lhooo suer :-p

Si Violy yang selalu aku bawa ke mana aja

Kasur bawah yang engga kepake, biasanya aku pakai buat setrikaan nih
Hari-hari awal di kosan tuh bawaannya pengen nangis mulu. Ini nih yang dinamain sindrom awal ngekos. Ga bayangin deh temen-temen yang ngekos dari jauh-jauh sampe beda pulau yang bisa pulang pas liburan panjang doang. Kalo aku sih gampang, pengen pulang ya tinggal pulang naik motor. Oh iya, FYI, sejak ngekos, aku makin lancar naik motor lo...udah bisa ngebonceng, soalnya tiap pagi aku bonceng Ichy ke kampus. Uda berani di jalan besar, uda berani pulang-pergi ke Singosari (padahal ga ngantongin SIM). Dan semenjak ngekos, aku makin ngehargain waktu. Pulang dari kampus ga bisa seenaknya tidur gitu aja, inget ada cucian baju, piring, belom juga masak nasi, cari makan. Belum lagi kadang air di kosan mati, jadi buat mandi ga bisa seboros pas di rumah sambil luluran trus nyanyi-nyanyi, mana ada yang antri juga. Dan di lingkungan padat gini siap-siap aja sering pedamanan listrik. Belum lagi kalau tugas laporan numpuk, eh udah harus ada kegiatan yang lain, harus latian, harus gini harus gitu.

Rasanya air setetes itu berharga. Nasi sebutir. Waktu sedetik. Uang 500 rupiah pun. Semenjak jadi anak kos, aku jadi lebih ngehargain artinya keluarga. Jauh dari bapak yang selalu nurutin apa mauku. Jauh dari ibu, yang mau masakin apa yang aku pengen. Jauh dari kakak...dari Dini yang selalu siap dicurhatin. Di kosan, aku belajar berbagi sama temen-temen lain yang belum tentu satu pendapat. Di sini, aku belajar banyak, belajar jadi Dina yang ngga manja dan jadi Dina yang mau ke luar dari zona nyamannya, rumah :-)

Sekarang udah bisa senyum nih, ngekos itu asyik kok, selama...uang jajan belum abis, hihihi. Kiss bye :-*