Followers

Friday, July 25, 2014

Belajar dari Aluna

Baru kemarinan ini aku terenyuh oleh Aluna, salah satu keponakanku yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Aluna adalah anak pertama dari sepupuku yang bernama Mbak Ina dan Mas Luthfi. Keduanya sama-sama bekerja. Terkadang, aku sama Dini main ke rumah Aluna atau Aluna yang dititipin ke rumahku kalo pas Mbak Ina sama Mas Luthfi lagi ngga di rumah.

Seperti yang sudah-sudah, Aluna ditemani oleh dua tante kembarnya ini nonton tv, menggambar, mewarna, bermain boneka, bahkan minta didandanin ala Masha and The Bear.

"Aluna puasa?" tanyaku pada Aluna.
"Puasa te...tadi sahur..." jawab Aluna polos.
"Ya udah, sip. Kuat ya..." kataku sambil memberi semangat.

Eh, taunya Aluna ngeliat bungkusan parsel dari kantor bapak yang salah satunya berisi jajan populer bermerk Roka.

"Tante...Luna mau Roka..." sambil memohon.
"Lho...Luna kan puasa, nanti ya pas buka ya..." jawab Dini.
"Ngga mau, mau Roka..." Luna mulai merengek.

Dini lalu ingat kalau Aluna baru bisa tahan tidak makan dan minum sampai jam sembilan pagi saja. Aku juga baru sadar kalo Aluna masih 5 tahun, tidak wajib baginya berpuasa penuh. Tapi kami harus tetap mengenalkan arti puasa pada Aluna.

"Ya udah, ini masih jam sepuluh kurang sepuluh menit. Nanti kalo jarum panjangnya udah di angka 12, Luna baru boleh makan Roka, ya?" jawab Dini.
"Lhaaah...tante...Roka..." Luna tetap merengek namun tidak memaksa.

Kami mengalihkan perhatian Luna dari Roka dengan mengajarinya menggambar kubis dan mewarnainya. Jam sepuluh sudah lewat dua puluh menit. Aluna baru sadar kalau seharusnya, dua puluh menit yang lalu dia mendapatkan Roka-nya.

"Tante...Roka..." Aluna mulai ingat.
"Ahaha...iya iya...sekalian makan siang, ya? Sama telor, mau?" jawabku.
"Iya...sama kecap..." pinta Aluna.

Aluna lalu aku beri satu bungkus Roka, menyusul sepiring nasi porsi Aluna dan telor ceplok ber-topping kecap manis. Aku ikut makan juga bersama Aluna, kebetulan saat itu aku dan Dini sedang halangan, sehingga kami tidak puasa.

"Lho kok tante ngga puasa, sih?" tanya Aluna heran.
"Tante libur, Lun...lagi ngga boleh puasa sama ngga boleh sholat." jawabku sedikit memutar otak.
"Kok gitu sih?" Aluna mulai penasaran.
"Maem dulu yuk, Lun...udah dingin nih...ayo lomba ama Tante Dini yooook" jawabku mengalihkan perhatian. Huft. Bingung.
***

Selesai makan, Aluna melanjutkan adegan bermain dengan buku mewarnainya. Sudah jam 12 lewat beberapa menit, kami mengarahkan Aluna agar berganti piyama dan mengajaknya tidur siang. Dia tidak menolak.

"Aluna mau tidur di kamar siapa? Kamar Uti Eli, kamar Tante Dini, apa Tante Dina?" tanya Dini.
"Di kamar Tante Dina aja..." jawab Aluna karena kasurku bernuansa ungu, warna kesukaan Aluna.

Aluna lalu ke kamarku, aku juga ikut tiduran di sampingnya. Sambil mengarahkan dia berdoa sebelum tidur, aku memeluk Aluna, dalam bahasa Jawa biasa disebut ngeloni. Aku tidak mengeluarkan satu kata pun setelah berdoa, karena kalau anak kecil tidak melakukan sesuatu selama 15 menit, dia pasti akan tertidur. Tapi, sudah lebih dari 15 menit Aluna hanya berkedip-kedip melihat ke atas langit-langit kamarku.

"Lho, kok belom bobo, Lun?" tanyaku.
"Aluna belom sholat...tante, Aluna mau sholat" jawab Aluna polos.
Deg. Aku langsung terenyuh.
"Luna mau sholat? Bawa mukena, ngga?" 
"Engga, dipinjemin tante, ya?"
"Oke deh...tapi tante ngga sholat ya..."
"Kenapa sih? Libur ya?" Aluna ternyata masih heran.
"Iya...tante libur..."
"Mana sih, perut tante yang katanya ayah berdarah?" dengan polosnya Aluna bertanya.
"Lho, ayah bilang gitu?" tanyaku heran.
"Iya, kata ayah, tante kemarin ngga tarawih soalnya perutnya berdarah. Mana sih te, Aluna mau liat" Aluna makin heran sambil membuka kaosku ke arah atas.
"Eh...Luna..." aku kaget, "Iya, jadi..." aku berpikir keras, "Nanti, semua anak perempuan kalo sudah besar, pasti perutnya berdarah. Kalo perutnya berdarah, Allah ngasi libur sama anak perempuan itu buat engga puasa, engga sholat...Gitu..." jawabku seadanya.
"Bunda juga?" tanya Luna.
"Iya, bunda juga...uti juga...tante juga...nanti Aluna kalo sudah besar juga..."
"Kalo udah jadi tante, ya?" Aluna menjawab sambil tertawa kecil.
"Iya, kalo udah tante-tante, hehehe...udah ayo sholat..." ajakku.

***
"Ayo sini wudhu dulu, Lun..." ajakku ke kamar mandi di sebelah kamarku.
"Ga mau...Luna ga mau wudhu..."
"Lho, kalo mau sholat syaratnya wudhu dulu..."
"Luna ga mau wudhu tante..."
"Cuci muka aja, cuci tangan?" aku memohon.
"Ga mau, Luna mau langsung sholat aja..." jawab Luna setengah mewek.
Oke, aku maklum, hari itu dingin sekali. Luna juga belum terlalu wajib. Aku harus ingat itu.

Aku lalu mengambilkan mukena warna unguku dan sajadah anak-anak agar Aluna semangat sholat. Karena mukenaku kebesaran untuknya, dia hanya memakai atasan mukenaku saja. Dia terlihat sangat lucu tenggelam di dalam mukenaku, hihi.

"Tante nungguin Aluna sholat ya..." pinta Aluna.



Aku menungguinya. Dia sholat sangat tertib empat rakaat. Walaupun sekali dua kali dia selalu melirik ke arahku, memastikan aku masih menungguinya. Aku lalu terenyuh lagi. Anak sekecil Aluna...dia bahkan tidak bisa tidur hanya karena belum sholat dhuhur, padahal dia juga belum baligh, belum wajib sholat. Sedangkan kita, yang sudah baligh bertahun-tahun, kadang pura-pura lupa sholat karena takut ketinggalan asyiknya dunia. Kalau diingatkan, jawabannya masih "Sek...sek...habis ini". (Sek dalam bahasa Jawa berarti sebentar).

***
Aluna sudah menyelesaikan empat rakaatnya. Dia lalu melipat mukenaku dengan rapi dan mengembalikannya kepadaku. Kami lalu kembali ke kamar. Kami berdoa sebelum tidur, aku memeluknya, dan dalam lima menit dia sudah berada di Wonderland. Aku memberinya selimut dan kursi di samping kasur, jaga-jaga kalau dia jatuh ke lantai. Aku bersiap-siap mandi untuk rapat organisasi di kampus. Lalu Aluna bangun menyadari aku tidak di sampingnya. Aluna hanya tidur satu jam. Aku tersenyum dan menggandengnya.

"Lho...Aluna bangun...kurang lama Lun, tidurnya...".

:)

Saturday, July 05, 2014

Cerpen: Semoga Cepat Sembuh!

Ini hari keempat Rose mulai muak hanya bisa tertidur di kasur yang ukurannya setengah dari kasur kamarnya di Romanland, kota yang terletang pada 07º 59’ LS 112º 36’ BT. Ia mulai merindukan memeluk boneka kelinci berukuran tinggi 50 inchi dan berbulu ungu di kamarnya itu, yang selalu jadi bantal air matanya, sampai warnanya tak lagi ungu. Tapi ungu muda. Hari ini infusnya sudah dilepas. Tapi dokter belum memperbolehkannya untuk pulang. 

Tidak pernah dalam sehari ia tidak melihat senyum bocah-bocah mungilnya di sekolah. Ia sudah sangat merindukan kelas. Rose merindukan pekerjaannya sebagai seorang guru di sekolah dasar favorit di kota itu. Rose hanya bisa menghibur diri dengan beberapa game di smartphone-nya pagi ini. Tak lupa, ia tak pernah lepas dari kaleng-kaleng obat galaunya, Bear Brand Malt Putih.

"Ah, aku terlalu pintar untuk semua game ini!" kata Rose dengan nada cukup bosan.

Tiba-tiba smartphone-nya bergetar. Moon. Itu Moon. Pria yang sudah sangat ia harapkan untuk datang sejak empat hari yang lalu.



***
Tak lama setelah chat terakhir masuk, siluet Moon di balik pintu kamar inap bernama Atlas tersebut terlihat. Sambil membawa empat kaleng Bear Brand yang dinginnya sampai berembun-embun, ia mengetuk pintu, Rose bergegas merapikan rambutnya. Tok, tok, tok...

"Siapa?" tanya Rose yang sebenarnya sudah hapal benar postur lelaki idamannya tersebut.

"Bear Brand!" jawab Moon menirukan gaya pengantar pizza di kompleksnya.

"Ahaha... Masuk!" Rose mempersilahkan Moon.

"Bear Brand segar di siang hari, nona?" kalimat pertama Moon sambil menatap mata manja wanita itu.

"Angin apa yang membuatmu tiba-tiba ke mari sambil berdandan ala Mas Broto pengantar pizza di Ambarawa? Kamu nggak sedang mabuk, kan? Atau kamu tiba-tiba bermimpi aku mati, jadi kamu mau ngasih kesan terakhir yang baik sama aku sebelum kamu kehilangan waktu?" celetuk Rose setengah tidak percaya dengan kehadiran pria yang memiliki tingkat jaim kelas Lee Young-jae itu.

"Aku juga tidak tahu, cenayang mana yang tiba-tiba menghipnotisku untuk ke mari. Anggap saja dua dugaanmu tadi semuanya benar" jawab Moon malas berpikir.

Keduanya lalu saling bercanda. Andai saja ruangan itu adalah ruangan inap kelas tiga, mungkin penunggu pasien lain akan bergantian melirik keduanya sambil melempar isyarat ampuh, "Psssssssttt!". Keduanya terlampau bahagia untuk saling beradu mata. Menikmati obat galau paling mujarab sedunia sambil sesekali bergelut manja dengan kata-kata. Tidak peduli terik di luar jendela, alat pendingin di ruangan ini lebih bisa terasa hangat karena berperang dengan aura yang dipancarkan keduanya. Ramah, manja, hangat, dan nyaman. 

***

Sudah dua jam. Akhirnya Moon setengah tertidur sambil duduk, kepalanya bersandar di samping kanan Rose. Tangannya menggenggam erat tangan kanan Rose. Seperti adegan yang lazim di film-film roman picisan. Moon sebenarnya ingin tidur satu bed dengan Rose, tapi tidak mungkin. Selain karena mereka belum menikah, Moon tidak mau kena gertakan suster-suster galak yang sedang jaga keliling, "Maaf mas, penunggu ngga boleh duduk di bed!". 

"Semoga cepat sembuh..." bisik Rose pada Moon.

"Kok aku, kamu yang cepat sembuh..." jawab Moon sambil masih telungkup kepalanya di samping Rose. Suaranya lebih terdengar seperti ini, "Ouk a'u, amu ang e'at hembuh...".

"Fisiknya sih aku. Tapi yang lebih butuh ucapan itu harusnya kamu. Kamu yang cepat sembuh ininya. Hatinya. Biar nggak bodoh terus. Aku berharap kamu cepat sembuh dari kebodohanmu. Menyia-nyiakan aku."

Sambil berkata demikian, tangan kiri Rose setengah ragu ingin mendarat mengelus rambut Moon. Tapi gagal. Moon bangun duluan.

"Boleh aku memelukmu?" tanya Moon.

"Boleh, tapi aku belum mandi. Jadi...ngga boleh." jawab Rose.

"Ngga boleh?" Moon heran.

"Setidaknya aku sudah tahu ternyata kamu ingin memelukku. Aku sudah sangat senang. Sama senangnya dengan dipeluk". jawaban Rose membuat Moon tenang.

Keduanya saling senyum. Lagi. Terik di luar mulai tergelincir. Keduanya bahagia. Mungkin... Iya, bahagia. Apabila semua adegan di atas dilakukan satu jam lebih awal.

Mungkin. Iya. Satu jam lebih awal. Moon memang bodoh. Satu jam setelah chat terakhirnya pada Rose, ia tidak bergegas menemui Rose. Tapi ia terlalu mengabaikan pertolongan manja Cita, wanita yang menyukainya, untuk sekadar minta antar ke bandara. Padahal hari itu bukan akhir pekan. Taksi masih banyak. Cita hanya terlalu manja dan Moon tidak sadar, dia adalah akar di saat Cita kehabisan rotan. Moon hanya cadangan yang termakan pikiran "tidak enak apabila menolak mengantar".

Andai Moon datang satu jam lebih awal, mungkin ia tidak akan memberikan Bear Brand yang sudah tidak dingin dan tidak berembun lagi itu masuk ke kamar Rose. Andai Moon datang enam puluh menit lebih awal, pasti ia masih harus mengetuk pintu. Andai Moon datang 3600 detik lebih awal, pasti ia masih bisa berteriak, "Bear Brand!" sambil bergaya ala Mas Broto.

Tapi ia sudah terlambat, untuk mengetuk pintu...

***
Photo source: Daily Plate of Crazy

Rose sedang tersenyum malu memandang seorang lelaki di depannya. Di tangannya ada sekaleng Bear Brand Malt Putih dan di tangan lelaki itu ada sekaleng Bear Brand rasa original. Lelaki itu mengajak Rose bercanda dengan sopan. Tidak terbahak-bahak. Nampaknya ia lelaki yang cukup terpandang. Jasnya rapi. Ia sangat serasi bila dilihat bersama Rose dari balik pintu masuk kamar Atlas ini.

Kaki Moon terpaku di balik pintu yang sedang mengintip itu. Tangannya kaku. Bibirnya kelu. Matanya sendu. Suaranya beku, ia tidak bisa berteriak untuk menawarkan Bear Brand yang sudah tidak berembun-embun itu. 

Sebelum dua pasangan yang serasi di dalam ruang Atlas itu tahu ada yang mengintip dari balik pintu, Moon berbalik. Berlalu pergi menuju mobil pemberian almarhum kakeknya. Membuka pintu mobil, menutupnya kencang. Mengeraskan musik. Membuka botol-botol Bear Brand yang sudah tidak berembun itu. Menegak empat botol hingga habis. Dan pergi...hingga tukang parkir rumah sakit tidak sempat meminta uang lima ribu rupiah kepada lelaki muda berhati pilu itu.

***

Saggio berpamitan pulang. Setengah jam lelaki tampan itu duduk di samping Rose. Cukup membuat Rose melengkungkan bulat sabit di bibirnya. Namun Rose masih menunggu satu lelaki untuk memenuhi senyumnya. Cukup bukan berarti sudah. Rose hanya cukup tersenyum oleh Saggio. Tapi dengan Moon, ia baru bisa merasa sudah tersenyum.




Friday, June 13, 2014

Kalian Membuat Saya Tetap Menulis

Halo, assalamualaikum, selamat malam, semua blog reader! Saya kembali setelah berbulan-bulan tidak menyempatkan waktu untuk berbicara lewat tangan di sini. Kali ini saya mau berterima kasih kepada seluruh pembaca blog saya yang entah itu masuk kategori pembaca setia, pembaca kebetulan, pembaca kesasar, pembaca kepaksa, pembaca penasaran, atau pembaca yang kepo (pede banget ya -__-) yang udah menyempatkan waktu membaca tulisan saya ini. Hihi, makasiiiiiih sekali lagi buat apresiasinya yang saaaaangat membuat saya tetap menulis sampai detik ini. Di usia blog saya yang sudah 5 tahun lebih beberapa hari ini, saya akan bercerita tentang seluk beluk "menulis" dari sudut pandang saya.

Eits, jangan bosan dulu. Inshaa Allah apa yang akan saya ceritakan ini akan membuat temen-temen semua berubah pandangan  bahwa menulis itu tidak membosankan! Percaya deh ;)

Nah, kenapa saya suka menulis? Gini awalnya. Saya adalah seseorang yang dilahirkan bukan dari seorang keluarga yang mencintai dunia sastra. Tidak seperti kebanyakan anak-anak yang selalu diberi dongeng sebelum tidur, dari kecil saya hanya sering dibelikan buku cerita oleh ibu dan bapak. Selebihnya, saya dibiasakan untuk mencoba membaca sendiri, yang akhirnya berujung saya berimajinasi saja dengan gambarnya, tidak mencoba membaca tulisannya. Saya pun baru lancar membaca saat hampir naik kelas 2 SD. Sangat terlambat sekali untuk kemampuan yang lazim dicapai anak usia TK. Itu yang menyebabkan saya kurang bisa berbahasa lisan dengan baik pada saat kecil. Saya terbiasa menggunakan bahasa ibu, yaitu bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang saya gunakan pun bukan  bahasa yang halus, karena  notabene saya tinggal di Malang, jadi terbiasa menggunakan bahasa Jawa ngoko (bahasa kasar). Itulah alasannya kenapa saya agak terbata-bata untuk berbahasa Indonesia lisan dengan baik dan benar sampai sekarang. Bisa dicoba deh bicara ama saya, hehehehehehehe.

Alasan lain yang menjadikan saya komunikator yang kurang baik adalah saya terbiasa mempunyai saudara kembar sejak lahir. Dini namanya. Sudah pada tahu, kan? Yang udah pernah baca blog ini pasti tahu, hehehehe (lagu-lagi ke-pede-an). Yak. Jadi, hampir semua masalah saya dan masalahnya si Dini pasti kita share berdua saja. Kami tidak pernah menceritakan masalah pribadi kepada orang tua maupun kedua kakak kami. Masalah teman yang nakal, masalah kegalauan ujian, masalah universitas mana yang akan kami masuki, bahkan masalah percintaan. Sampai sekarang, belum ada teman curhat yang bisa mengalahkan si Dini. Walaupun terkadang di tengah curhat malah kita berdebat dan akhirnya bertengkar, hehe.

Ketiga (ga nyebutin kedua, kok ada ketiga ya), sudah pada tau kan saya skoliosis? Nah, sejak saya mulai sadar bahwa skoliosis membuat saya semakin minder, saya menjadi seseorang yang super duper ekstra ultra tertutup. Sifat introvert ini yang membuat saya akhirnya menuangkan semua yang saya pikirkan di dalam sebuah tulisan (selain karena film kartun Hamtaro yang suka bikin saya ikut-ikutan nulis diary sebelum tidur, hihi).

Saya tidak tahu pasti kapan mulai suka nulis. Yang saya tahu, sejak kelas 2 SD, saya suka menulis semua kegiatan saya yang saya rangkum di dalam sebuah buku yang saya sebut "orji". Kemarin waktu bersih-bersih kamar, saya menemukannya dan membacanya ulang. Hihi, tertawa sendiri membacanya. Mulai dari kata-kata yang membuat saya malu dan tidak mau mengaku bahwa itu dulu tulisan saya. "Hari ini aku sebel. Aku ulang tahun, tapi tidak ada yang memberi kado. Semua jahat kecuali Evi sama Indah yang mau kasih kado". Masalah klasik yang terjadi di usia itu, kan? :D. Ada lagi yang seperti ini, "Aku tidak suka sama semua orang. Semua jahat. Temen-temen suka pamer barang barunya! Aku benci!". Ahahahahaha, tidak berhenti ngakak kalo baca hal seperti itu.

Lalu saya juga menemukan buku diary saya waktu SMP. Mulai kelas 7, saya mulai mengenal yang namanya cinta. Di dalam diary saya banyak sekali foto laki-laki yang saya suka, hehehehe. Saya ingat dulu "mencuri" foto itu dari Friendster. Saat SMP, saya juga punya buku diary geng. Jadi, setiap satu minggu sekali, kami bertukar diary dan saling menulis di buku milik teman, hihi.

Ini nih kumpulan buku curhatan alias diary dari SD sampai kuliah

Mulai kelas 9 saya ikut-ikutan kedua kakak saya yang suka nulis blog juga. Namun sayang, mereka tidak meneruskan hobinya tersebut hingga sekarang. Dari situlah awal mula saya meninggalkan diary dan mulai suka nulis di blog, hihi. Kalo flashback baca mulai 2009, geli juga bacanya, Hihihihihihihihi *ketawa ala Kunti*. Yaaaaa, namanya juga remaja, semua tulisan saya ga jauh dari tema cinta, galau, dan persahabatan.

Dari situlah saya mulai sukaaaa sekali menulis cerita, puisi, drama, atau sekedar quote kurang bermutu, ekekkek.
Novel yang saya tulis saat SMP

Teks drama saya sempat dipentaskan di salah satu lomba drama di sekolah dan juara 2 lhoooh, hehe
Sudah tahu kan, alasan yang menjadikan tangan saya tidak bisa berhenti menulis? Sekarang saya mau bagi-bagi tips menulis kreatif ala Dina Nisrina nih, hehehe. By the way, tips ini asli dari pikiran dan pengalaman saya, tidak mengutip dari sumber mana pun.

1. Ide cerita yang mengalir
Tidak perlu bingung menentukan ide cerita apa yang akan kamu wujudkan dalam sebuah tulisan. Apa yang kamu ingin tulis, tulis saja. Lebih pekalah dengan sekitar. Misalnya seketika kamu pengen nulis pengalaman abis jalan-jalan ke pantai, tapi belum ada mood buat nulis, tulis saja ide cerita itu di sebuah waiting list. Atau biasanya aku nih, kalo lagi males, nulis dikit, trus berakhir jadi draft doang, hehehe...jangan ditiru.

Tidak usah muluk-muluk membuat cerita. Dua ekor semut yang lewat di samping tempat tidurmu yang kemudian bersalaman saja bisa jadi cerita. Semuanya asal kamu peka ;-)

2. Tentukan tujuan penulisan
Setiap orang melakukan sesuatu pasti ada tujuannya. Nah, kalau kalian menulis untuk memberikan bacaan yang informatif, tulislah sesuai dengan inti pesan yang ingin kalian sampaikan. Misalnya, pengen nulis tentang fotografi, fokuslah pada informasi soal fotografi, bukan hal lain. Kalo bercabang ngomongin hal lain, itu cuman intermezzo dan nggak bikin terkesan ada dua tema dalam satu tulisan. Itu kalo tulisan informatif. Kalo pengen persuasif, gunakan kalimat-kalimat yang terkesan mengajak secara halus tanpa ada kalimat-kalimat yang terkesan memaksa dan membohongi. Beda lagi kalo tulisan yang bertujuan untuk mengungkapkan isi hati. Tulisan ini biasanya lebih bebas dan terkesan tidak tertuju pada khalayak umum, tapi kepada satu atau beberapa pihak saja. Berikan kesan yang membuat pembacanya tahu bahwa kamu sedang menujukan tulisan itu kepada seseorang. *Bingung, ya? Saya juga bingung ama kata-kata saya*

3. Buatlah kerangka karangan
Mungkin bagian kedua ini bisa menjelaskan bagian pertama. Kalo ngga pengen topik bahasan kita ke mana-mana dan ngga terstruktur, buatlah kerangka karangan terlebih dahulu. Selain itu, kerangka karangan bisa menghindarkan dari informasi-informasi yang kadang terlewat buat dicantumkan. Tapi, kalo tipe tulisan yang bertujuan sekedar curhat (seperti kebanyakan tulisan saya), tidak masalah jika dituangkan secara langsung mengalir mengikuti emosi otak kepada tangan *tsaaaah*.

4. Gunakan bahasa yang mudah dipahami
Ragam bahasa menentukan pembaca tertarik atau tidak. Jika ingin ditulis menggunakan bahasa yang baku, boleh saja. Tapi, untuk menghindari kesan kaku, gunakanlah sentuhan-sentuhan bahasa sehari-hari, tapi jangan terlalu lebay dalam penggunaannya. Penggunaan emoticon sah-sah saja, asal jangan terlalu mengganggu estetika yah...hehe. Tidak perlu takut harus mengikuti Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Mainkan emosi pembaca. Misalnya seperti saya ini suka sekali menggunakan penekanan seperti ini:

Dia.
Dan aku.
Duduk bersama.
Berdua.
Berhadapan.
Bertatapan.
Saling berkata-kata.

Bedakan dengan bila ditulis seperti ini:
Dia dan aku, duduk bersama, berdua, berhadapan, bertatapan, dan saling berkata-kata.

Akan ada efek emosi yang berbeda. Tanda titik seakan-akan memotong di tengah jalan, dan memberi efek shocking pada setiap kata untuk menegaskan rima a a a a a a yang saya gunakan, ya kan?

5. Berikan judul yang menarik
Judul adalah kunci apakah pembaca memilih untuk membaca atau tidak. Judul yang menarik, bisa membuat pembaca penasaran. Judul bisa diambil dari konklusi cerita atau sebagian dari cerita kita yang menjadi point of view. Biasanya sih saya sok-sok-an menggunakan bahasa Inggris atau bahasa lain yang saya anggap menarik apabila judul dalam bahasa Indonesianya saya ngga nemu yang puitis, hehehehe

6. Berikan gambar-gambar ilustratif
Terkadang, kalo ada penjelasan kita yang kurang imajinatif, pembaca kesusahan untuk membayangkan. Berikan gambar-gambar ilustratif. Bikin aja gambar-gambar dari jepretan kamera handphone atau bikin oret-oretan sederhana kayak di posting-anku yang ini nih. Jika tidak bisa membuat foto sendiri, ambil saja dari internet. Eits, tapi jangan lupa, cantumkan sumbernya ya...kita berada di dunia jaringan yang serba mudah, tapi jangan lupa menghormati karya orang lain ;). Selain fungsi itu, gambar juga bikin tulisan kita ga terkesan monoton.

7. Cantumkan label terkait
Label atau tag dalam blog akan mempermudah penglasifikasian tulisan. Misalnya buat saja label sesuai tema tulisan. Kalau tulisan itu termasuk puisi, beri saja label puisi, atau poem (yang lebih universal). Misalnya tulisan tersebut tentang kesehatan, tentang cinta, dll. Selain itu, label juga mempermudah pencarian di Google dan mesin pencari lainnya. Kalo misalnya ada orang yang search dengan kata kunci poem, tulisanmu akan muncul juga lhoh...tapi tergantung seberapa populer atau banyak dibukanya halaman tulisan itu oleh orang.

8. Sunting tulisan sebelum di-publish
Sebelum di-publish, ada baiknya kita baca ulang tulisan. Perbaiki kata-kata yang salah, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman. Kita perlu berhati-hati dalam hal ini, karena manusia tempatnya salah, tidak menutup kemungkinan tulisan kita bisa menimbulkan efek negatif setelah membacanya, heheheheh naudzubillah, ya.

9. Promosikan tulisanmu
Aku pernah baca salah satu buku yang aku lupa judulnya. Ada satu kalimat menarik nih, "Penulis tanpa pembaca sama dengan pembuang sampah". Maksud dari kalimat ini adalah, percuma kita menulis sedemikian banyaknya kalo ga ada satu pun orang yang baca. Jadi, memromosikan tulisanmu itu perlu. Saya kira, media sosial sudah semakin mudah untuk share link sekarang. Promosikan blog kamu di Fb, Twitter, Instagram, Path, dll. Semakin banyak yang baca, akan semakin banyak yang menilai. Semakin berkembang juga penulisnya!

10. Be your self
Terakhir, yaaaaaang paaaaling penting. Just be true to your self! Seorang penulis hanyalah seorang pencundang apabila ia menulis untuk membohongi jati dirinya sendiri. Biarkan tangan dan otakmu bersinergi. Percayalah, tulisan yang membuat pembacanya merasa tulisan itu magis adalah pembaca yang menemukan jati diri penulis dalam tulisannya. J. K. Rowling memang menulis seorang tokoh Harry Potter. Tapi dia jujur untuk menggambarkan tokoh seperti apa si Harry sesuai dengan imajinasinya, bukan orang lain. Dewi Lestari menuliskan sesosok Kuggy yang seorang Aquarian, sama dengan dirinya. Tidak ada yang salah, kan?

Selain itu, jangan gunakan bahasa yang dipaksakan. Kalo emang ngga cocok pake elo, gue, ya ngga usah dipake, hehe. Kalo emang ngga suka pake bahasa yang baku, yang ngga usah dipake. Yang penting, jadilah natural dan tidak terkesan memaksakan.

Itu deh...tips-tips tipis menulis ala gueh gueh gueh, Dina Nisrina, seorang gadis blasteran Purwokerto-Banjarnegara, seorang mahasiswi Fakultas Sastra, seorang skolioser, seorang gadis yang punya kembaran, gadis biasa yang pengen jadi gak biasa yang mungkin bisa sedikit menjawab pertanyaan temen-temen yang bertanya biar blog bisa menarik dan punya follower banyak *padahal follower saya juga cuman 149*. Seneng banget rasanya cuman gara-gara tulisan curcol di blog ini, banyak temen dan sepupu yang bikin blog juga setelah baca, hehe terharu. Seneng juga kalo baca apresiasi temen-temen soal tulisan-tulisan di blog ini selama 5 tahun ke belakang. Jujur, niat awal bikin blog ini cuman pengen mindahin diary, hehe. Tapi ga tau kalo ternyata bisa nemuin temen baru, bisa share sama skolioser, bisa kasi info, bisa ngasilin duit juga, bisa jadi inspirasi. I feel so blessed, I'm thankful, guys! 




Ada satu quote yang sampe sekarang terngiang di otak saya gara-gara baca bukunya Mbak Yulia.

“If there’s a book you really want to read, but it hasn’t been written yet,

then you must write it.” ~ Toni Morrison ~


Semua tulisan di blog ini tidak akan dihapus, walau saat membacanya di masa datang, saya merasa bahwa tulisan ini alay. Dia saksi perkembangan psikologiku *tsaaaaah*. Ntar, kalo uda jadi orang terkenal, wartawan ngga bakal susah wawancara dan cari info, kan semua udah komplit di blog, hehehehehehheeheheh *lagi-lagi ke-pede-an, kan?*. Semoga salah satu impianku, yaitu menerbitkan buku, akan segera tercapai. Semoga bermanfaat, good night! :)

Sunday, June 08, 2014

Under The Sky

Sore itu. Kamu bertanya dengan siapa aku berangkat. Aku menjawab aku sendirian. Aku bertanya bolehkah aku berangkat bersamamu. Kamu setuju. Kamu ingin menjemputku. Sore itu juga. Aku bilang habis sholat maghrib saja. Kamu setuju. Aku menunggu. Kita akan menonton konser paduan suara seperti biasa, aku denganmu. Konser malam itu berlangsung seperti biasa, bagus, meriah, dan banyak komentar di mana-mana. Tidak ada yang spesial. Aku duduk di sebelahmu. Sudah pernah.

Sekitar jam setengah sembilan lebih beberapa menit. Di balkon terbuka sebuah rumah makan. Malam itu malam minggu. Ramai sekali. Kita duduk di ujung pojok. Berdua. Berhadapan. Sudah pernah. Langit penuh bintang. Bulan setengah kelihatan. Angin berhembus sopan. Dan makanan tak kunjung datang.

Awalnya sepi. Kamu dan aku sama-sama bermain jempol di atas gadget. Kamu meletakkan smartphone itu duluan. Aku mulai sadar tingkah laku autisku. Aku lalu menaruhnya di tas. Quality time yang sejati tidak butuh dua orang berhadapan yang saling memegang handphone.

Setelah itu, kamu banyak tersenyum kepadaku. Kamu banyak bicara seakan-akan aku orang yang paling seru untuk diajak bicara. Dan aku suka. Nuansa kerinduan sangat terasa di mata itu, karena kita lama tidak bertemu. Padahal hanya sekitar seminggu. Aku anggap itu sudah sangat lama. Karena kita terbiasa bertemu setiap hari dalam rutinitas yang sama.

Pembicaraanmu lain dari biasanya. Kita tidak lagi berbicara soal paduan suara. Kita berbicara soal apa pekerjaan ayahmu, nenekmu lebih pintar masak daripada ibumu, siapa nama keponakannmu, nenekmu suka main tenis, kakakmu kerja di mana, suaminya tinggal di mana, dan itu seru. Sungguh. Walaupun sebenarnya sebagian yang kamu ceritakan, aku sudah tahu. Kan aku kepo. Aku sudah tahu kok nama ayah dan ibumu. Apa pekerjaan ibumu. Siapa nama keponakanmu. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Biar seru.

Minumannya sudah datang. Pelayan memanggil namaku. “Dina....Dina...!”. Aku menjawab, “Dina mas, Dina!” sampai tiga kali dan pelayannya tidak mendengar. Mungkin karena suaraku terlalu cempreng. Seperti Minnie Mouse terjepit pintu. Akhirnya pelayan itu menemukan tempat duduk kami dan ia tertawa.

Minuman itu dingin sekali. Pembicaraan juga mulai kehabisan stock. Aku memandang langit. Yang penuh bintang dan bulan bersembunyi malu tadi. Aku membayangkan kita berada di kutub. Dan mendadak ada aurora.

“Oh hush thee, my baby. The night is behind us. And black are the waters that sparkled so deep...” Aku bernyanyi dengan suara Minnie Mouse-ku.
“Hehe...” terdengar senyum hematmu.

Lagu itu adalah lagu yang pernah kita nyanyikan bersama di konser yang lalu. Ya. Konser terakhirku. Dan entah kenapa, setiap memandang langit malam, aku hanya ingat lagu itu. Dan aku mendadak berubah menjadi anak anjing laut yang mengantuk di tengah salju kutub. Romantis.

Source: http://plusmood.com/2011/03/the-luna-collection-graff/luna-moon-and-stars/

Makanan datang. Sepiring mie pedas level satu dan sepiring mie yang sama sekali tidak pedas. Oh iya. Dengan dua pasang sumpit kayu dibungkus plastik. Dan kamu sudah hapal sepertinya. Aku kan tidak suka memakai sumpit. Kamu lalu memanggil pelayan.

“Mas, minta sendok!”
“Wah, ngga ada mas...habis” jawab pelayannya.
“Ya udah, ngga papa. Sampai kapan menghindari tantangan?” kataku sok bijak.

Dan kamu tersenyum. Lagi.

Aku mulai menggunakan sumpit itu. Kamu mengajariku. Bagaimana menggunakan jari-jariku untuk membuat sumpit itu menurut. Aku mulai menikmatinya. Ternyata tidak sulit. Walaupun sempat terlihat bodoh. Lalu aku bercerita. Makan dengan sumpit sama susahnya dengan makan menggunakan tangan kosong. Aku terbiasa disuapi oleh ibu dan terbiasa menggunakan sendok-garpu sejak kecil.

Makananmu habis duluan. Seperti biasa, seperti yang pernah kamu bilang, cowok yang makannya cepet atau cewek yang makannya lambat. Aku terlalu lama menghabiskan makanannku. Malam itu terlalu dingin. Mie ini cepat dingin. Apalagi dia tidak pedas. Semakin tidak berasa. Aku sengaja pesan tanpa cabe karena tiga hari lalu aku baru saja kena diare. Tapi, entah kenapa mie ini tidak bisa habis. Aku menyerah.

“Mas, aku ngga habis...”

Kamu tertawa kecil dengan senyum setengah bulan sabit. Lalu kamu menghabiskan makananku.
Mulai dingin. Malamnya. Dan kamunya.

“Yuk pulang, udah malam...”

Aku hanya mengangguk.
***
“Sudah sampaaaaaai....” celotehku seperti anak kecil yang baru sampai di rumah.

Kamu menyuruhku masuk gerbang. Dan kamu berlalu. Begitu saja. Sudah. Tidak ada pembicaraan. Hanya tanganku yang melambai, “Daah...”.



Aku merindukan kamu yang melihatku sampai masuk ke pintu kost dan saat aku mengintip, kamu masih ada di situ. Seakan ingin memastikan aku aman sampai di rumah. Itu saja. Ya. Aku masih rindu. Sebentar lagi, pertemuan kita hanya akan disebut kebetulan. Karena kita tidak lagi dipertemukan dalam rutinitas yang sama. Sampai jumpa. Di lain waktu. Kamu.

Tuesday, January 07, 2014

Our Tongues Were Made of Glass

"If only our tongues were made of glass, how much more careful we would be when we speak?"
-Shaun Shane-

Kalau aja bener lidah kita ini diciptakan dari kaca, mungkin yang terjadi akan berbeda. Kita akan lebih berhati-hati, karena goresan sedikit saja bisa meninggalkan luka. Kita tidak akan sembarangan, karena ia mudah pecah. Dan ia akan menjadi lebih sulit digerakkan, jadi kita akan lebih banyak diam tidak mengeluarkan kata-kata tidak penting karena untuk mengeluarkan sepatah kata saja butuh usaha yang sangat susah. Lidah jadi tidak elastis dan tidak otomatis.

Sayangnya lidah kita terbuat dari otot yang paling besar, yang tidak ada sedikit pun tulang di dalamnya. Sayangnya lagi, yang mengontrol hanyalah otak, yang sering kali lupa untuk kita kendalikan. Aku punya pengalaman mengesankan soal lidah beberapa hari yang lalu.

Waktu itu aku dan Assa main ke rumah Mas Sokran, salah satu teman dari STK (Sanggar Tari Karawitan), salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di kampus, yang berada di seberang kampus. Mas Sokran punya dua orang anak yang masih balita bernama Zua (sekitar 3 tahun) dan Ocas (sekitar 1,5 tahun). Waktu aku ke sana, mereka berdua masih berada di sekolah (begitulah mereka menyebut tempat belajar untuk balita itu). Namun Mbak Nia, istri Mas Sokran, memutuskan untuk menjemput mereka lebih awal karena guru Zua dan Ocas sedang rapat. Sekitar jam satu siang, mereka akhirnya datang dengan wajah gembira. Ocas yang selalu menempel dengan ibunya karena memang usianya yang masih sangat kecil dan harus menyusu kepada ibunya berbeda sekali dengan Zua yang lebih enerjik dan suka bergerak ke sana-ke mari. Aku langsung menyapa Zua dan mengajaknya ngobrol sana-sini. Maklum, aku memang tidak bisa membiarkan anak kecil bermain sendiri, aku sangat gemas terhadap anak kecil.

Rumah Mas Sokran memang selalu ramai, karena notabene Mas Sokran membuka kos-kosan putri. Teman-teman juga sering main ke rumahnya, makanya rumahnya tidak pernah sepi. Jadi, Zua sudah terbiasa main dengan siapa pun yang ada di sana. Tiap Zua bertemu denganku, yang ia cari pertama kali adalah Pou. "Tante, Pou...". Dia selalu mengatakan hal itu. Pou adalah aplikasi permainan yang ada di Android. Kebetulan hari itu aku tidak membawa HP Android-ku. Sebelum Zua kecewa, akhirnya aku mengajaknya untuk bermain apa pun asal dia lupa kalau ada permainan bernama Pou. Aku mengajaknya untuk menggambar.

Kebetulan di sana ada Mas Hamzah, teman dari STK juga. Dia dan aku sering bermain olok-olokan tentang "upil" dan "eek". Di tengah-tengah menggambar, Zua menuding-nuding titik-titik seperti kotoran di tembok rumahnya. Dia bertanya padaku itu apa. Tiba-tiba Mas Hamzah menimpali dengan berkata, "Itu upilnya Mbak Dina". Spontan aku langsung membalasnya, "Ih...bukan Zua...itu upilnya Oom Hamzah". Lalu Zua minta digambarkan upil kepadaku. Aku langsung menggambar banyak sekali titik-titik sekecil upil dan aku gambar topless juga seakan-akan upil itu adalah kudapan. Olok-olokanku dan Mas Hamzah berlanjut sampai akhirnya kami menyebutkan kata "eek" dan menggambarnya di kertas tersebut. Aku membalas Mas Hamzah dan Mas Hamzah membalasku, sama-sama tidak mau mengalah. 
Sampai pada Zua sedang makan bakso goreng dan dia mengambil isinya lalu dibuat mainan di tangannya. Dan dia bertanya padaku, "Tante...hi...ini apa?". Aku langsung spontan menjawab, "Itu upilnya Oom Hamzah, hi...". 

Hari berlangsung cepat sampai pada aku harus pamitan karena aku harus berangkat latihan paduan suara. Sepulang latihan, aku bertemu dengan Mas Sokran. Dan aku sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Mas Sokran dalam bahasa Jawa. 

Maeng yo Din, Mbak Nia ngomel nang aku. Jarene, "Gi, temen-temenmu itu kalo maen ke sini mbok yo diajari ngomong sing apik. Zua iki malih tiru-tiru ngomong elek". Aku langsung kenek, Din...trus aku kaget kok Zua moro-moro ngomong "Pak, aku gambarno eek". Aku langsung takon. "Lho, sopo sing ngajari eek he?". Zua mek njawab, "Iki..." ambek nduduhno gambar. Wooooooooo Hamzah ambek Dina iki ancen tersangkane. Wis, ancene arek loro iki...

Yang artinya:
Tadi ya Din, Mbak Nia ngomel ke aku. Katanya, "Gi (nama panggilan sayang Mbak Nia buat Mas Sokran), temen-temenmu itu kalo maen ke sini ya harusnya diajari ngomong yang baik. Zua ini jadi ikut-ikut ngomong jelek". Aku langsung kena, Din...trus aku kaget kok Zua tiba-tiba bilang "Pak, aku gambarin eek". Aku langsung tanya, "Lho, siapa yang mengajari bilang eek?". Zua cuma menjawab, "Ini..." sambil menunjukkan gambar (yang tadi). Woooooooo Hamzah dan Dina ini memang tersangkanya. Sudah, dasar anak dua ini...

Mas Brian yang juga ada di sana waktu itu langsung menasihatiku panjang lebar. 

Barang bukti kejahatan 

Aku dan Mas Hamzah lupa kalau ada makhluk kecil tidak berdosa di depanku waktu itu yang belum bisa mem-filter kata-kata yang tidak seharusnya ia dengar dan ia ucapkan. Kami lupa kalau kami sudah besar dan semestinya bisa memberi contoh yang baik untuk anak kecil. Memang lidah tidak sekolah, makanya harus ada yang menyekolahkan.



"Zua itu cerdas, Din. Waktu itu pernah aku ajak nonton teater. Dari awal pertunjukkan sampai akhir, dia serius merhatiin. Eh pas di rumah, tiba-tiba si Ocas disuruh duduk dan Zua melakukan acting yang persis kayak yang ada di pertunjukkan tadi," lanjut Mas Sokran. 

Dan kami lupa kalau anak kecil itu mudah menangkap apa yang baru saja mereka indera. Ah...so sorry for missing that point. Hari itu aku belajar banyak sekali tentang dahsyatnya satu kata yang diucapkan. Karena satu kata benar bisa menyelamatkan dunia, tapi satu kata yang salah bisa saja membunuh dirimu sendiri.


Thanks for helping me remember that a tongue sometimes can be a dangerous glass too, Mas Sokran, Mbak Nia...



Have you done your homework today? Keep your tongue to be a glass :-)

Monday, January 06, 2014

My First Stepping Stone

Haaaaaaaaalooooooooooooooooooooooooooooooooooooo, dunia! Wehehehe, oke! Aku semangat banget, ya? Iya dong...harus dong... Kenapa, nih? Ada apaan, nih? Heboh banget sih...dapet pacar baru, ya? Dapet uang? Menang lomba? Apa sih? 

Leeeeeebih dari itu! Setelah deg-degan selama satu semester, akhirnya aku bisa buktikan kepada dunia pada umumnya dan orang tua pada khususnya tentang hal yang selalu aku perjuangkan di masa lalu (ecieh sok dramatis dikit ga papa lah, ya). Yak! Ini dia yang ditunggu-tunggu. Pasti yang baru baca postingan ini mikir, "Apaan sih, ngomong apa sih Dina ini?". Jadi gini, inget kan cerita melankolis yang pernah aku tulis panjang lebar kayak truk tangki Pertamina tentang keputusanku buat pindah jurusan dulu? Kalo lupa, coba cek dulu deh biar nyambung. Cek di sini dan di sini.

Masih inget juga tentang "Passion energizes your talent?" mungkin kali ini aku bakal sedikit mengutip quote ini dengan ditambahi sedikit, kalau tidak salah, quote barusan adalah punya Deddy Corbuzier. Kali ini aku mau bikin quote sendiri aja deh. "Keberhasilan adalah hibrida dari niat dan usaha, dibumbui dengan dukungan dan passion". Keren ngga, tuh? Itu deh yang bikin aku semangat banget masuk Pendidikan Sasindo dan bikin aku yakin aku ga salah pilih lagi. *By the way penjabaranku rada ga nyambung, pemirsahh*

Hal pertama yang mau aku pamerin adalah ini. Tararaaaaaaaa... *drum roll*

Hasil tes prediksi Uji Kemahiran bahasa Indonesia untuk mahasiswa baru Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang punyaku.
Kalo dibanding sama hasil tes TOEFL sih jauh banget gitu ya, hampir setengah. Ini nih "sesuatu" awal yang bikin aku sedikit lega dan berbesar hati sambil mikir kalo I'm good enough di Sasindo ini. Yang bikin semangatku panas di awal buat ngelanjutin dan ngebuktiin ke dunia "aku lhoooo pantes jadi anak Sasindo", "aku lho emang passion-nya di sini", "aku bisa buktiin prestasiku jauh lebih bagus di sini" tanpa harus banyak berceloteh ini itu. Jadi, selama aku masuk Sasindo ini aku akan minimalisasi ngomong dan banyak action. Just let them see, tanpa harus banyak berkata-kata. Terutama buat beberapa orang yang bilang kalau ilmu bahasa itu ngga terlalu penting :-)

Dan bukti kedua yang bisa aku kasih adalah ini nih...

Ini semacam rapor online. Right click and open in new tab to enlarge picture.
Jujur awalnya aku bingung. Aku udah bisa ngebuktiin ke ortu kalau aku emang bener-bener ga ada passion di dunia IPA. Tapi aku belum bisa kasih bukti kalau aku bisa lebih baik di bahasa. Bukti apa lagi yang bisa bikin ortu percaya kalau aku emang "bakat" dikit gitu ya di sini selain IP (Indeks Prestasi). Yaaaah, walaupun aku selalu percaya kalau angka bukan segalanya buat menilai seseorang. Aku ulangi, pake capslock ga kontrol nih ya ANGKA BUKAN JAMINAN BROOO, BUKAN JAMINAN SESEORANG ITU PINTER BENERAN, BUKAN JAMINAN ITU MURNI DAN ASELIIII LI LI, MAS BRO...MBAK BRO :-)

Tapi, buat sementara waktu ini ga ada cara lain yang nyata dan bisa diliat selain IP, apa boleh buat. Dan jujur aku lumayan suka sama IP semester ini. Waktu itu targetku adalah di atas 3,5. Dan alhamdulillah Allah ngasih bonus. IP-ku semester ini adalah 3,70. Bahkan ada beberapa mata kuliah yang di atas ekspektasi. Dan jujur sebenernya aku pesimis buat ngedapetin IP di atas 3. Soalnya, semester ini kegiatanku di luar kuliah sungguh sangat amat sibuk sekali pemirsahhh (kudu banget pake pleonasme dan hiperbola kayak gini). Tapi alhamdulillah lagi, aku bisa bagi waktu dalam sehari antara kuliah, kegiatan nonkuliah, istirahat, dan bobo cantik dengan selisih waktu yang mevet bin mripit. Jadi, em...maaf banget buat berbagai macam teman yang aku kecewain gara-gara aku sama sekali ga punya waktu buat main atau sekedar ngopi. Next time, I will. Tunggu ya :')

Hhhh... Aku anggep ini adalah batu loncatan pertama buat membuktikan ke dunia bahwa di sini ada gadis besar (badannya) yang masih kecil, dan perlu dipeluk (oke, salah fokus), yang perlu dibimbing buat mencapai cita-citanya untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya, orang tuanya, sekitarnya, dan Tuhannya. Cita-cita yang simple, kan?

Jujur, bukan perkara mudah untuk menebalkan telinga selama enam bulan aku berkeputusan seperti ini. Terkadang bahkan orang terdekat, teman terdekat, siapa pun bahkan yang belum mengenal, berani sekali melukai hati kecil yang sedang memilih ini (oke, sisi sensitifku muncul, ga papa ya...). Sering banget aku denger "Dulu yang milih IPA siapa, yang milih pindah siapa", "Ngabisin duit aja sih", "Kamu ga pengen cepet nikah apa", "Hah, aku sih pengen cepet lulus" yang mewarnai hariku. Bahkan sampe ada yang bilang "Mbak, kamu dari kecil diajari bahasa planet ya sama papa-mama? Kok baru sekarang belajar bahasa Indonesia. Sini aku ajari aja, mbak...", kata salah seorang satpam di kampus. Aku cuman senyum sambil dalam hati bilang "Please ya, mas...rektor kita berkali-kali periode adalah dosen Sastra Indonesia. Trus mas udah tanya hal begituan belom sama Pak Rektor? Berani kagak?". 

Untuk saat ini dan sampai aku bisa benar-benar membuktikan, aku akan terus diam sambil terus berusaha. Karena terkadang ada orang-orang yang hatinya perlu disentuh. Kamu tidak usah banyak bicara dan berlaku jahat. Cukup dengan biarkan mereka melihatmu membuktikan. Itu sudah menyentuh mereka dengan caramu. Sesukamu :-)



Jangan bosan menjadi orang yang berbeda. Selama itu tidak salah.
Selalu terima kasih sama Allah, sahabatku yang tidak pernah mencela.

Wednesday, December 25, 2013

Pesing

Sepotong dialog di suatu sore, waktu aku sedang antri kamar mandi.

              “Lho Dina, ngapain kok ga masuk kamar mandi ini?” kata Mas Lucky sambil noleh ke arah kamar mandi yang kosong di antara tiga kamar mandi yang ada di kompleks UKM lantai dua.
    
              “Ngga mau mas, pesing. Aku nunggu yang ini aja,” jawabku polos sambil menyandar pada tembok di depan pintu kamar mandi.

               “Terus kalo pesing siapa yang nyiram?” timpal

Mas Lucky sambil masuk ke kamar mandi yang aku hindari tadi.

               “Deep...” kataku lirih.

Source: Okejon

Well, do you get what I mean with that dialogue? Hal buruk memang layak untuk dihindari. Tapi, sampai kapan kita akan membiarkan yang buruk tetap buruk? Kalau kita tidak mau menghadapinya, ia akan tetap buruk. Tapi kalau kita mau merelakan hidung kita tersengat bau pesing sebentar, lalu menyiramnya, bukankah bau itu akan hilang? Dan bukankah kita telah melakukan satu perbuatan kecil yang berdampak besar tanpa kita sadari?

Belajarlah pada filosofi pesing hari ini. Ternyata hidup kadang perlu peka terhadap hal yang sepele J

Salam!


Sunday, October 27, 2013

Kota Batu dan Hati Yang Membatu

Alun-Alun Kota Batu, Malang, 19 Oktober 2013

Aku bergerak ke arah lubang-lubang itu. Menebak mana lubang yang akan menyemprotkan air ke atas, ke arah langit. Aku mendekat dan terkejut dengan kejutan dari bawah sana. Sial. Sepatuku basah. Aku tidak bisa tahu lubang mana lagi yang akan menyemprotkan air setelah ini. Mereka bergantian. Aku tidak bisa menebak. Sama sepertimu. Aku tidak tahu hal apa lagi yang akan terjadi padaku olehmu setelah ini. Entah itu akan membasahiku atau aku malah akan mengeluarkan tawa kemenangan karena bisa menghindar darimu. Entahlah.



Aku capek terkena cipratan air itu. Dingin. Kota ini sudah cukup dingin. Aku sandarkan saja punggungku pada kursi yang berjalan berputar di atas sana. Dari atas sana...sungguh banyak bintang-bintang imitasi--rumah-rumah yang berpendar seperti mercusuar--yang cukup membuat mataku memercing kagum. Menebak kamu sedang berada di bangunan bercahaya yang sebelah mana dan membayangkan apakah kamu melihatku di atas sini dari bawah sana, yang jauh...jauh...tapi nyata keberadaannya. Aku terus menikmati putaran ini. Jika aku di dalam sini, aku tidak merasakan ada di bawah atau di atas, hanya gambar-gambar di luar jendela yang berganti seperti slide show foto di laptop. Seperti kita, yang berputar-putar seolah berjalan, padahal masih tetap jalan di tempat. Seperti bianglala. Sibuk berputar, namun stagnan tanpa perubahan.



Ironis. Di tempat seramai pasar malam ini, aku berjalan seperti Lucy Pevensie di dalam hutan belantara. Makin ironis melihat ratusan pasang anak manusia yang bersenda-gurau sambil berpegangan tangan, mencubit pipi, menyandarkan kepala pada pundak...kepalaku hanya bersandar pada angin. Yang dingin.

Lagu apa yang bisa mengisi telingaku yang juga dingin malam ini selain suara gesekan angin pada dedaunan atau decit ayunan anak kecil di sana. 3 orang pengamen, pengabdi musik jalanan, datang mengucapkan "permisi, mbak" dan memulai ritual cari duitnya. Sial! Adakah koneksi di antara langit dan hatiku saat ini hingga langit mengirimkan isyarat pada ketiga pengamen itu untuk menyanyikan lagu ini: Sepanjang Jalan Kenangan. Kamu pasti ingat.

Ah. Biar. Mau bagaimana lagi, aku tetap kukuh. Aku wanita. Iya. Wanita. Yang hanya bisa menangis atau sekedar mengakhiri semua batu-batu dalam hati yang semakin dingin dan semakin membatu ini dengan emosi. Memikirkan kejutan dan putaran apa lagi nanti yang akan terjadi. Terlalu lelah sudah aku berekspektasi tentangmu, terlalu sakit jika terbang setinggi itu dan jatuh sekeras itu. Tepat satu tahun yang lalu, di bulan ini. Namun aku tidak bisa berbuat sesuatu. Tubuhku mematung, lalu melemas, pasrah, biarkan semua lelah, khawatir, kalut, dan benci berakhir...larut dalam segelas susu panas...


Hey! Aku merasa sedang dipeluk seseorang. Susu ini terlalu enak.

Selamat bermalam minggu.

Saturday, October 26, 2013

Kunci

Pada suatu siang di Koffie Cafe.

"Maaf terlambat. Sudah menunggu lama ya, Rose?" tanya Moon gelagapan sambil membenahi rambut yang basah.

"Sudahlah, jangan pikirkan aku. Pikirkan dulu bajumu yang basah itu. Kenapa nekat hujan-hujanan? Ke mana mobilmu?" jawab Rose tenang.

"Terlalu lama menunggu tukang kunci membuka pintu pagar rumahku, daripada kamu lebih lama lagi menungguku. Jam berapa sekarang?" basa-basi Moon.

" Baru jam 1."

"Aku kira sudah jam 5. Mendung membuat langit lebih tua 4 jam dari biasanya."

"Sepertinya tadi pagi aku melihatmu membawa kunci pagar rumah. Hilang?"

"Entah kunci yang asli ke mana. Yang aku bawa kunci dengan merek dan bentuk yang sama. Bersikukuh aku buka gemboknya, tidak juga ia berputar dan berbunyi 'klik'. Heran."

"Bodoh. Kenapa kamu tidak periksa sebelumnya? Penyakit lama."

"Aku kira hanya ada satu merek Yale yang berbentuk seperti itu. Aku ambil saja. Pasti itu kunci rumah. Ternyata bukan."

"Sekuat apa pun kamu berusaha membuka kunci itu, walaupun ia bisa masuk gembok dan terasa pas, kalau tidak ada bunyi 'klik' mau bagaimana lagi."

"Hanya tukang kunci yang bisa membukanya, ya?" tanya Moon dengan wajah polos.

"Kuncimu butuh diamplas dengan mesin, dibentuk sedemikian rupa agar pas dengan yang asli dan bisa membuka gembok pagar rumahmu. Atau kamu beli gembok yang baru dan simpan kunci yang baru dengan hati-hati, gandakan kalau perlu. Jangan mengulangi kesalahan yang sama. Merek yang sama  belum tentu pas."

"Ah, kenapa jadi berbicara kunci? Kamu sudah pesan kopi?" Moon mengalihkan pembicaraan.

"Sudah habis. Kamu pesan saja, aku tidak mau kamu mengeluh jika nanti demam. Hangatkan perutmu."

"Mas, menunya!" Moon memanggil waitress di pojok ruangan.

***

"Kamu ngga makan?"

"Aku tidak selera...kamu saja," jawab Rose dingin.

"Kamu kenapa? Kamu masih marah aku datang terlambat?"

"Lupakan... Aku mau kembali, muridku sudah menunggu."

"Perlu aku antar?"

"Kau ini. Naik apa? Aku panggil taksi saja."

"Kamu marah?"

"Apa selalu begini?"

"Apanya?"

"Ah, kamu tidak juga mengerti. Kunci itu...urusi saja kunci itu. Andai kamu mengerti. Perkataanku tadi sudah menjawab pertanyaanmu. Segera beli kunci yang baru."

"Baiklah...hati-hati..." jawab Moon.

"He'emmmm..." sambil berlalu meninggalkan Moon.

"Aku menyayangimu...aku hanya tidak tahu, kenapa 'klik' itu tidak kunjung berbunyi. Rose, maafkan aku..." bisik Moon saat melihat Rose sudah mendapat taksi di seberang kafe.

Secangkir kopi datang. Moon menikmati kehangatan yang berjalan dari kerongkongan hingga lambungnya. Ditemani bau hujan dan percikannya yang menempel di jendela. Melihat langit yang ditutup tabir mendung seperti hati wanita yang baru saja ada di depannya dan meninggalkan segelintir tanya.

"Aku menyesal, bertahun aku meninggalkan ketidakpastian. Kamu benar, aku menjadikanmu opsi. Kamu tidak layak menjadi sebuah opsi." gumam Moon.


(Untukmu dan segala ketidakpastianmu)

Thursday, August 01, 2013

Sajadah

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati


Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi


Aku tiba-tiba ingin menuliskan cerita tentang sajadah. Tiba-tiba saja, ada sesuatu yang salah dengan sajadah belakangan ini. Sajadah, barang sakral yang selalu mereka bawa menuju rumah-Nya. Iya, sajadah.

Aku selalu membawa mukena parasutku ke mana-mana. Untuk tetap mengingatkanku akan kewajiban yang tidak boleh ditanggalkan. Aku suka kain parasut, mudah dilipat di dalam tas dan tidak membuat berat di pundak. Tapi aku tidak suka membawa sajadah ke mana-mana. Bukan karena berat, tapi ada satu cerita di balik kebencianku membawa sajadah.

Tiap kali ke masjid maupun musholla kecil, jamaah yang terbanyak adalah jamaah kaum Adam. Tidak heran, —selain karena kami juga harus berhalangan rutin tiap bulannya—karena sunnah untuk mereka adalah sholat di masjid, sedangkan untuk kaum Hawa adalah di rumah. Selain itu, kaum Adam adalah kaum tersolid yang pernah aku temui di masjid, daripada anak-anak dan kaum Hawa tentang kerapatan dan kelurusan shaf.

Saat imam sudah menyebutkan hadist yang mengisyaratkan kita untuk meluruskan dan merapatkan shaf, aku mulai benci dengan sajadah. Sajadah selalu membuat beberapa orang tidak mau pergi darinya. 
Sajadah seringkali dianggap sebagai batas antara kami untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Sajadah yang harusnya menjadi alas suci, kini berubah menjadi pembeda antara jamaah. Aku salut dengan kaum Adam yang shafnya selalu rapi tanpa celah, sedangkan kaum Hawa masih jauh tertinggal dengan mereka. Itu alasanku mengapa aku tidak suka membawa sajadah. Sajadah harusnya merapatkan, bukan malah merenggangkan.

Alangkah lebih baik saat aku tidak membawa sajadah, tiba-tiba ada seorang wanita yang menawariku untuk berbagi sajadah, dan ia mulai melintangkan sajadahnya dan kami memakainya berdua, terlebih lagi syukur-syukur kalau bisa dipakai bertiga. Mari kita renungkan, seharusnya sajadah adalah pemersatu seperti ini, bukan pemecah belah umat :-).

NB: Analogikan sajadah ini ke dalam kehidupan sehari-hari.

Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba


Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya



-Bimbo-

Sudah, Begitu Saja


Pada suatu malam di pameran lukisan, di sebuah kafe, di lantai dua, pinggir jalan...

Malam ini aku tidak berhasil berangkat denganmu. Aku kadang tidak sadar kalau aku sudah bisa membawa kuda besi sendiri sekarang. Tapi kadang aku bosan membonceng teman, aku ingin dibonceng. Manja, ya? Kau berangkat dengan kudamu sendiri, aku pun demikian. Tapi aku sengaja memarkir kuda besiku agak dekat dengan punyamu. Sesampainya di kafe, kita berjalan sendiri-sendiri secara terpisah.

Terpampang banyak lukisan di sini. Dan semua lukisan di sini tidak mainstream. Ada juga botol-botol bir yang dimasukkan dalam keranjang bayi yang difungsikan sebagai wadah putung rokok. Banyak orang-orang berambut gondrong dan bergaya serabutan. Sedangkan kita semua datang dengan dandanan rapi, warna-warni, dengan eyeshadow yang menarik, sudah siap menyanyi bak biduan di atas panggung. Pemandangan yang sedikit mengagetkan, terutama buatku, aku sempat sedikit bosan di sana.

Aku suka lukisan ini. Aku suka apa pun yang berbau hewan berbulu. Apalagi beruang dan panda.
Sembari bosan, aku pura-pura saja menikmati lukisan-lukisan di sana. Toh, aku masih bisa berimajinasi sambil sedikit mengalihkan perhatian dan menyembunyikan kebosananku. Sambil sesekali melihat jam biru tosca muda kesayanganku yang sudah usang. Berharap kita semua segera menyanyi dan pergi dari sana, karena aku sudah mulai mengantuk dan ingin tidur. Kadang sesekali diajak foto oleh beberapa teman, untung saja mereka tau cara mengusir kebosanan.

Mereka mengerti cara mengusir kebosanan
Sesekali aku melihat ke arahmu yang berjarak denganku, kira-kira 10 meter atau lebih. Kamu mulai berjalan menikmati lukisan-lukisan itu, dengan mereka yang mengerti cara menikmati dan mengapresiasi lukisan. Sambil sesekali menunjuk dan mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Lalu kamu berhenti pada satu lukisan. Dan mengeluarkan kotak besi selularmu. Kamu mulai merangkak ke lukisan yang lain. Diam-diam aku menghampiri lukisan yang tadi sempat kamu berhenti lama di sana. Aku amati tiap detilnya. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Menurutku itu hanya lukisan kegelapan.

Aku duduk tepat di dekat lukisan itu. Sambil mengeluarkan kotak selularku. Itu pertanda aku mulai bosan dengan sekitarku. Ada satu pesan. Aku buka. Darimu.

“Kau berikan sebuah telur, telur besar yang entah apa isinya, lalu kau pergi, kemudian telur itu menetas. Menetaskan seekor burung, burung yang entah mengapa membuatku sakit. Burung itu memakan hatiku hingga kosong dan berlubang. Baiklah, terima kasih.”

Tiba-tiba jantungku berdebar. Aku tidak mengerti maksud pesan singkatmu. Aku balas sekenanya,

“Apa telur itu terlalu cepat menetas dan menetaskan sesuatu yang salah...harusnya bukan burung, karena ia mudah terbang bebas. Mungkin bebek, yang mudah ditangkap dan tidak terbang?”

Lalu balasan secepat kilat datang darimu,

“Hahaha, serius amat. Itu lho...tulisan di lukisan yang nempel tiang, di belakangmu...”

Sedikit malu dan tidak percaya, aku bergegas berdiri dan melihat lagi lukisan itu. Iya, ada. Kamu mengamatinya sampai ke detil terkecil. Tulisan itu ada di di tengah lukisan itu dan tidak terlalu terlihat bila dilihat sekilas. Namun ada beberapa kata di awal yang kamu buat sendiri. Aku bingung membalas apa.
“Iseng!”, balasku.

“Hahaha ;-)”, balasmu lagi.

“Mohon ditunggu,” aku bingung membalas apa, aku tulis kata-kata yang ada di lukisan di sampingku.

“Oke...ditunggu,” balasmu.

“Itu tulisan di lukisan juga! Hahahaha!” balasku puas.

“Botek -__-“, katamu. Botek dalam bahasa Jawa berarti berbohong.
Salah satu band yang mengisi acara. Ia menyanyikan lagu My Only One-nya Mocca malam itu. Menemani kebosananku. Aku suka Mocca.
Lalu surat-menyurat elektronik kita berlangsung walau kita hanya berjarak beberapa meter. Dan akhirnya terhenti saat tiba waktunya kita harus menyanyi. Kita semua menyanyi lagu cinta itu dengan ceria. Sambil sesekali (dan selalu sesekali), aku melihat ke arah senyummu. Lucu. Rasanya ingin lebih lama dan lebih panjang lagi lagu itu.

Selesai menyanyi, aku hampiri kamu. Dan kita tertawa bersama, walau sebentar karena terhenti dengan ucapan “cie cie” dari salah seorang teman. Sudah, begitu saja...

Lalu kita semua turun, menikmati kue yang diberi oleh penyelenggara acara. Setelah selesai, aku dapati si Magic, kuda besiku, terjepit di antara kuda besi-kuda besi yang lain. Dan di sana ada kamu, sedang berusaha mengeluarkan kuda besimu. Dan akhirnya tiba pada satu saat di mana hanya dengan ke luarnya kuda besiku, punyamu bisa ke luar dari tempat parkir itu.

Aku berikan kunci si Magic padamu. Kamu mengeluarkannya. Misiku berhasil.

“Makasih ya...”, ucapku.

Setelah itu kuda besimu sudah bisa ke luar. Dan kita pulang. Secara terpisah. Sudah. Begitu saja...