Followers

Sunday, January 15, 2017

Pembunuh

Ada pernyataan yang mungkin terlalu melankolis untuk diucapkan oleh seorang pembunuh.
"Jika aku bisa dihargai dan dianggap ada tanpa harus menghilangkan nyawa pesaingku, aku memilih untuk menanggalkan pistolku. Namun sayangnya, apa yang aku katakan selalu tidak menarik di telinga mereka sehingga aku selalu sendirian...dan tidak ada cara lain untuk membuat dunia melirikku, selain acungan pistolku".
Sekarang aku tahu, kenapa seorang pembunuh itu ada. Pembunuh dilahirkan oleh dendam. Dendam yang dihasilkan dari perbuatan pembunuh sebelumnya: pembunuh harapan. Pembunuh masa depan. Pembunuh kepercayadirian.
Pembunuh harapan itu...orang terdekat si pembunuh.

Wednesday, December 28, 2016

Bila Dunia Hanyalah Atlas

Bila dunia hanyalah atlas, kakiku sudah cukup besar menutupinya
Bila dunia hanyalah atlas, gerakku makin lama makin terbatas

Namun dunia sangatlah luas
Ada ladang basah terhampar
Juga dunia hanya sekilas
Tak mampu nyawa menghindar, menjangkar

Bila dunia hanyalah atlas
Jakarta tidak mungkin tenggelam

Bila dunia hanyalah atlas
Indonesia tetap di bawah, di selatan

Bila dunia hanyalah atlas

Tak perlu ku belajar untuk keliling dunia.


Semangatlah, dunia bukan atlas.

2012

Bukan Salah Bunga

Sungguh aku tiada pernah meminta
Aku tidak memilih apa yang melekat
Tuhan memberiku kelopak dengan warna menariknya
Tuhan memberiku bentuk sedemikian rupa anggunnya
Sungguh, tanpa aku harus bergerak
Angin sudah menata gerak
Sungguh tanpa aku harus menebar
Kumbang datang dan hisap ku punya nektar

Batu, 2014

Sriwedari

Senja di batas Surakarta dan Jogja selalu menjadi teman untukku. Setiap senja datang, aku merasakan kekuatan baru telah lahir dalam diriku. Semacam vampire, setiap sandhya kala1datang, aku merasa utuh dan lahir baru. Ya, itulah aku dan aku menikmati anugerah Tuhan yang itu. Ku rayakan setiap kelahiranku dengan berjalan-jalan sendirian ke kota, berharap menemukan keasyikan dengan membaca buku di toko buku walaupun tidak dibeli. Mencoba baju-baju di mall hanya untuk difoto di dalam ruang ganti. Mencoba kue-kue tester di etalase toko sampai kenyang. Bahkan lewat di depan spg parfum, agar mendapatkan wangi terbaru dari produk parfum mahal yang tidak mampu kubeli.
            Aku mempunyai sebuah kelebihan yang tidak umum. Dan aku sangat menikmati kelebihan yang diberikan oleh empunya hidup ini kepadaku. Hingga kini tak ada satu pun yang tahu, pun ibuku. Bahkan aku sampai ingin berganti nama, namun tidak menemukan nama yang cocok untuk diriku. Hingga pada suatu senja di sebuah toko CD, aku berubah pikiran setelah bertemu dengan seseorang yang sekuat kutub utara. Dia mempunyai medan magnet yang sangat kuat. Dia mampu menarikku masuk ke dalam tubuhnya hanya melalui sebuah isyarat. Namanya Yosa. Aku tahu itu dari matanya. Aku tidak berkenalan langsung. Aku hanya perlu menatap sebentar, ion-ion dalam tubuhnya akan sampai padaku tanpa harus kujabat tangannya. Lalu kusunggingkan senyuman kepadanya. Dia tersenyum pula. Dia manis. Dan wangi.
            Ku nikmati setiap alur lagu The Carpenters melalui headphone yang disediakan. Yosa mengambil sebuah keping CD penyanyi luar negeri yang namanya tak mampu kuingat. Kami berdua sama-sama saling menikmati hasil sadapan musik ke dalam telinga kami hingga  terpejam sambil berdiri. Tiba-tiba, aku merasakan tarikan yang sangat kuat dari luar tubuhku. Nyawaku seperti magnet berkutub selatan yang dilewati magnet berkutub utara dan tak kuasa menolak untuk tidak berdekatan. Isi tubuhku melayang masuk ke dalam otak Yosa. Aku tidak bisa mengendalikan apa pun yang terjadi saat itu. Semua mengalir begitu saja. Sakit sekali rasanya nyawaku bisa tertarik tanpa kendaliku. Menerobos ruang dan waktu ke dalam tubuh seseorang yang bahkan tak sempat kusentuh kulitnya. Masuk ke pori-pori dahinya. Melewati lapisan-lapisan syarafnya dan sampailah ke dalam otaknya.
            Tiba-tiba saja, aku sudah berada di depan tenda piknik berwarna putih dalam pelukan yang sangat hangat di suatu pagi. Dalam dekapan tubuh Yosa. Aku bisa merasakan kulitnya yang hangat. Dia menyungging senyuman kepadaku lagi. Kami lalu bersenda-gurau sambil sesekali berfoto mesra menggunakan kamera Polaroid dan melihat hasilnya sambil tertawa.
            “Kamu Sriwedari, yang menari dalam otakku. Tolong jangan pergi, karena aku tidak mampu sendiri,” Yosa memeluk lagi, sambil berbisik di depan telingaku. Dan aku terpejam.
            Tiba-tiba lagi, aku sudah berada di pinggir kolam renang. Kami berdua tepatnya. Yosa menyungging senyum lagi. Senyum yang paling legit, senyum yang membuat ingin di-gadho2. Kami berdua meniup gelembung sabun di pinggir kolam itu sambil bercanda mesra. Yosa menceritakan masa kecilnya yang terlampau bahagia.
            “Dulu, teman sekelasku selalu mengajakku bermain gelembung sabun sepulang sekolah. Tapi ibu tidak mengizinkanku membeli gelembung botol seperti mereka. Ibu membuatkanku gelembung dari sabun sisa cucian kotor, lalu membuatkanku alat tiup gelembung dari kawat sisa jemuran,”
            “Bagaimana pun caranya, tapi kesenangan yang didapat tetap sama, kan?”
            “Begitulah,” Yosa memegang tanganku, “Seperti halnya denganmu, bagaimana pun caranya, aku tetap akan bersamamu, Sriwedari”.
            Yosa masih menyungging senyum manis legit itu. Bergantian aku yang menceritakan masa kecilku. Menceritakan bagaimana senja sangat berarti untukku, namun aku masihbelum bisa menceritakan kelebihan ini kepada siapa pun, termasuk Yosa. Aku hanya bercerita bagaimana setiap senja aku selalu melakukan window shopping dari window ke window. Dan aku sangat menikmatinya.
            Belum sempat aku menikmati kemesraan di pinggir kolam renang itu, tiba-tiba, selalu secara tiba-tiba, kami berdua sudah berada di sebuah ranjang. Berbalut selimut hangat, kami berdua tidur berhadapan. Yosa menghadap ke kiri dan aku menghadap ke kanan. Yosa menyungging senyum manis legitnya lagi. Yosa lalu mengusuk kepalaku. Aku hanya bisa pasrah menikmati hangat jemarinya di kepalaku.

            “Aku selalu ingin tidur di sampingmu. Begitulah indah, begitulah nyaman, Sriwedariku,” kedipan matanya terasa nyaman untuk dipandang.
            “Dan begitulah aman, tiap kali kau sungging senyum manis legitmu itu,” aku sudah tidak mampu berkata lagi, lalu terpejam, di sampingnya.
            Secara tiba-tiba lagi, ada tarikan kuat dari dalam tubuhku. Nyawaku seperti menembus lorong waktu. Aku berteriak hebat karena sakit tarikan ini membuatku merasa dihujani seribu pisau. Aku melihat lubang kecil dalam kegelapan. Lubang yang jauh di sana. Aku lewati alur setiap lekuk otak Yosa. Berlanjut ke syarafnya. Lalu masuklah aku ke lubang kecil terang yang tak lain adalah pori-pori kulitnya. Tiba-tiba aku sudah kembali ke tubuhku. Aku membuka mata. Aku mual. Aku lepas headphone yang terpasang sedari tadi. Aku mual sungguh mual. Bergegaslah aku ke kamar mandi.
            Yosa membuka mata setelah sebuah lagu yang ia dengarkan selesai melagu. Yosa menoleh ke tempatku tadi berdiri. Aku sudah tidak ada di sana. Ia menoleh kanan-kiri. Yosa lalu pergi ke luar toko, mungkin hendak mencari.
            Setelah dari kamar mandi, aku kembali ke tempat tadi. Tak kujumpai Yosa di sana. Namun aku tersungging, menirukan sungging manis legit lelaki tadi. Mungkin Yosa, yang akan menjadi jawaban dari semua tanyaku. Tanyaku apakah harus ada seseorang untuk dibagi cerita mengenai kelebihanku. Kelebihanku yang bisa masuk ke tubuh seseorang di setiap senja. Seseorang mana saja yang ingin kumasuki. Kecuali Yosa. Dia yang menarik nyawa ini sendiri. Atau mungkin nyawa ini telah merasa menemukan separuh diri dalam Yosa, dan ia memutuskan melompat sendiri di luar kendaliku.
            Yosa. Nama yang indah. Senyum yang manis legit. Peluk yang hangat. Yosa. Yang memberiku nama Sriwedari sedari tadi. Mungkin ia menganggapku adalah taman surganya. Yosa. Yang merayu tanpa bicara, melagu tanpa berkata. Begitulah senjaku hari itu. Besoknya lagi, aku akan ke sini di waktu yang sama. Semoga seseorang bernama Yosa itu masih ingin dimasuki lagi. Kesakitan setiap nyawa ini keluar dari tubuh, apabila harus masuk ke dalam tubuh Yosa lagi, itulah sakit yang sangat aku nikmati.

Sejak saat itu, namaku Sriwedari.
Aku tidak akan bingung mencari nama lagi.



(Terinspirasi dari lagu Maliq & D’essentials yang berjudul Setapak Sriwedari )


________________________________________________________________________
1. sandhya kala: Saat di mana bumi mengalami peralihan dari siang ke malam.
2. gadho: makan lauk saja tanpa nasi (ngemil) 

Thursday, December 01, 2016

#Hijrah 1: Tata Rias Halal

Halo, para penikmat blog. Kali ini saya akan membagikan sedikit pengalaman saya, yang sebenarnya masih berkaitan dengan “Thailand Selatan”. Jangan bosan, ya. Hehe. Entah kenapa, cerita saya selama lima bulan di sana tidak akan ada habisnya kalau diulas. Baiklah, langsung saja ke topik kali ini, yaitu...”label halal”.

Sebelumnya, saya punya aturan di tulisan saya kali ini. Berhubung blog ini bukan karya ilmiah dan ada ungkapan juga kalau “my blog, my rules”, kali ini saya akan menggunakan pengalaman dan pemikiran saya sebagai bukti. Saya juga mohon tidak ‘perang ayat’ dalam menanggapi tulisan saya kali ini, karena tujuan saya bukan mempengaruhi, mengajak, melarang, atau me- me- yang lain. Saya juga tidak didorong oleh pihak mana pun untuk menulis ini. Saya juga tidak disponsori oleh produk mana pun, karena saya bukan artis, hehe. Saya hanya ingin membagikan pikiran saya. Nikmati saja dan tinggalkan bila tulisan ini dirasa kurang menarik, hehe. Baiklah, cusssssssssss.

Selama saya di Thailand, saya harus mengubah cara saya dalam mengonsumsi apa pun. Mengapa? Karena di sana bukanlah negara yang mayoritas penduduknya muslim, jadi makanan, produk kecantikan, dan barang-barang lainnya tidak semuanya mempunyai label halal. Kalau di sini, kita masuk ke toko serba ada seperti Alfamart, Indomaret, Giant, dll. pasti langsung comot saja, tanpa lihat dulu ada label halalnya atau tidak. Pun, saat masuk ke kafe, ke food court, ke warung sekali pun, kita langsung masuk saja tanpa mempertimbangkan halal tidaknya makanan yang dijual. Kalau toh mempertimbangkan, mentok-mentok cuma mempertimbangkan “Ada babinya ngga, ya?”.

Tapi, kalau di sana, tiap masuk ke Seven Eleven (toko serba ada yang ada di sana), saya harus membolak-balik tiap produk yang saya beli. Memastikan barang tersebut bisa dikonsumsi oleh muslim atau tidak. Belum lagi, tiap mencari makan di kedai, saya harus memastikan kedai tersebut memasang tulisan halal, Assalamualaikum, Bismillah, dan sebagainya. Kalau tidak, biasanya yang memasak memakai peci, kerudung, atau berbahasa Melayu. Baca tulisan kakak tingkat saya, yang juga sempat tinggal di Thailand Selatan di program yang sama dengan saya, tentang berburu halal di Thailand Selatan, di sini.

Selama di sana, hampir dipastikan saya selalu makan makanan halal, kosmetik yang saya kenakan pun sengaja cari yang halal. Saya juga memakai pakaian yang syar’i, karena memang muslim di sana sedikit berbeda dalam hal pakaian daripada Indonesia yang masih memaklumi kebebasan berekspresi dalam hal berpakaian. Di sana saya sendirian berjuang dan hampir setiap kesepian, saya tidak bisa curhat dengan siapa-siapa lagi selain Allah, karena memang sulit sekali untuk sekadar mengeluh jarak jauh dengan orang-orang terdekat saya. Saya di sana lebih jauh dari maksiat daripada di sini. Di sana hubungan antara laki-laki dan perempuan benar-benar terjaga, bahkan sekadar salaman saja tidak lazim. Saya seperti mencuci diri selama lima bulan di sana.

Entah mengapa, saat di sana, setiap kali saya berdoa atau hanya sekadar berkeinginan dalam hati, doa dan keinginan saya terkabul dalam waktu yang tidak lama. Bahkan, rata-rata doa itu terkabul di hari yang sama. Contoh kecilnya, saya ingin makan kue bernama ‘Angkok’ untuk berbuka puasa. Saya pernah mencoba pada saat awal datang di Thailand. Saya hanya berpikir saja, tidak meminta pada Allah. Tiba-tiba menjelang berbuka, guru pamong saya membawakan Angkok asal banda Nara yang terkenal dan rasanya memang sangat enak.

Contoh lain, di awal gaji pertama saya di sana, saya sempat tidak bisa mengatur keuangan karena saya masih bingung setiap kali berbelanja, apakah itu termasuk mahal atau murah (karena perbedaan kurs yang membuat saya belum terbiasa). Akibatnya, uang saya menipis dan saya takut sekali, karena saya gengsi juga kalau mau minta dikirimi uang untuk makan dari keluarga di Indonesia. Saya lalu menulis semua pengeluaran dan pemasukan dan berharap ada uang sisa untuk berlebaran di konsulat (sekalian membeli oleh-oleh). Namun, ternyata uang saya tidak sisa banyak. Tak lama kemudian, datang dua orang yang memberi saya sedekah. Dia berkata, ini untuk sedekah musafir seperti saya. Saya langsung terharu. Padahal saya tidak meminta uang kepada Allah. Saya hanya minta diberi kecerdasan dalam mengatur keuangan. Itu saja.

Contoh lain lagi, saya sempat sangat penat dan ingin jalan-jalan. Saya hanya memendam di dalam hati dan curhat kepada teman-teman satu universitas yang ada di grup Line. Tiba-tiba datang pesan singkat dari salah satu guru yang mengajak saya untuk jalan-jalan ke luar provinsi. Tiga contoh di atas hanyalah contoh kecil dari sekian banyak pengalaman tidak terduga yang saya dapatkan di sana. Saya hanya bisa bilang “Mashaa Allah, mashaa Allah”.

Saya lalu berpikir, mengapa ya di sana setiap kali saya berdoa, bahkan hanya sekadar berkeinginan, semuanya terkabul begitu saja tanpa syarat? Mengapa bila saya di Indonesia, rasanya untuk dikabulkan satu keinginan kecil saja sangat susah? Bahkan, untuk sekadar mencari buku di tumpukan rak perpustakaan saat mengerjakan skripsi saja saya sampai pusing dan tidak ketemu-ketemu? Saya lalu berpikir lagi, jawabannya mungkin sederhana. Di sini saya banyak bermaksiat, sedangkan di sana, saya tidak.

Ya. Saya introspeksi diri kemudian. Di sini, saya makan asal makan. Ada makanan yang sedang tren, misalnya mie ala Korea yang tidak ada label halalnya saja langsung saya coba. Bedak yang saya gunakan, eyeliner, mascara, dan sebagainya adalah produk yang terkenal, namun tidak berlabel halal. Di sini, pakaian saya tidak sesuai syariat. Saya memakai celana jeans, baju ketat, dan kerudung yang tidak menutup dada. Di sini, saya pacaran. Di sini...yah...saya jauh dari kata taat. Itulah sebabnya, doa saya sulit terkabul. Allah tidak ridha dengan apa yang saya lakukan.

Untuk mengubah itu semua, bukanlah hal yang mudah. Bila di sana, saya sendirian. Saya orang asing, mau tidak mau saya harus mematuhi kaidah di mana bumi yang saya pijak. Sedangkan di sini, menjadi muslim yang baik adalah tantangan yang luar biasa sulit. Itu yang saya rasakan. Padahal, Indonesia merupakan negara yang penduduk muslimnya sangat banyak. Namun, karena banyak itulah, atas nama hak asasi, semua dimaklumi.

Jujur, bila untuk mengubah cara berpakaian, saya tidak bisa ekstrem langsung berubah memakai jubah panjang, memakai kerudung besar...tidak bisa dipungkiri, saya hanyalah seonggok makhluk yang masih banyak beralasan. Saya mengusahakan bila ada rok, saya memakai rok. Saya mulai perlahan meninggalkan celana. Namun, terkadang bila saya sudah bingung mencocokkan baju, saya langsung comot saja celana dan atasan biasa. Kerudung pun, saya masih berusaha perlahan tidak lagi pakai kerudung pendek. Namun, kadang saya juga masih ingin memakai kerudung pendek. Ya...susah memang. Namun saya akan berusaha pelan-pelan. Saya tidak ingin mengejek siapa pun dalam hal berpakaian. Karena, saya sendiri belum sempurna dan masih labil. Tapi, tidak ada yang menjamin kan seseorang yang tidak sempurna hari ini, bisa menyempurnakan dirinya kelak? Wallahualam.

Kembali ke topik label halal. Untuk urusan yang lain, saya pelan-pelan berbenah. Namun, ada urusan yang bisa segera saya benahi, yaitu...masalah label halal. Jadi begini. Jujur lagi, saya kurang motivasi dalam mengerjakan skripsi saya. Saya mulai memasuki masa-masa malas di mana saya tidak betah berlama-lama mengerjakan skripsi karena.....................ya, saya malas. Hehe. Maka dari itu, saya mencari cara agar saya semangat. Saya menyemangati diri sendiri dengan menjanjikan diri sendiri bahwa, “Dina, semakin cepat skripsi kamu selesai, semakin cepat kamu dilamar, haha. Dina, semakin cepat skripsi kamu selesai, semakin cepat wisuda, katanya mau dandan sendiri waktu wisuda?”. Nah, akhirnya saya mulai belajar dandan lagi setelah sekian lama saya tidak dandan.

Saya belajar dandan dari saat saya ikut paduan suara sampai duta-dutaan. Dari situ, saya mulai mengenal produk kosmetik beraneka ragam dan saya sudah mencoba berbagai merk kosmetik dari mulai yang halal, diragukan, bahkan haram. Mulai dari sini, saya menanggalkan kosmetik saya yang jelas tidak halal. Saya mencari dulu di internet tentang info produk kosmetik apa saja yang halal di Indonesia, di sini. Sejak saat itu, saya mulai follow beberapa akun kosmetik yang halal tersebut, di antaranya Wardah, Zoya, Sariayu, Mazaya, Caring Colours, dan Mineral Botanica. Yang sudah saya coba hanya Wardah, Caring Colours, dan Sariayu saja. Untuk yang lainnya, saya masih belum mencoba. Saya juga mulai aktif mencari review tentang kosmetik-kosmetik tersebut di Youtube dan beberapa blogger kecantikan di Indonesia. Saya mencoba dandan seminggu sekali. Kadang, saya juga berpikir, kok hasilnya nggak sebagus produk impor yang mahal, ya...lalu kadang juga saya masih ingin memakai yang mahal-mahal, impor, dan jelas tidak halal tapi hasilnya bagus.........tapi.....saya tersadar. Ah, untuk apa. Halal nomor satu. Hasil nomor dua. Mungkin, beberapa produk tidak bisa sebagus itu karena memang ada kandungan bahan yang tidak disertakan, yang kemungkinan bahan tersebut yang tidak halal tadi. Lagian, tidak bisa dipungkiri bahwa produk kosmetik lokal belum sedahsyat produk-produk buatan negara yang memang sudah ahlinya di bidang kosmetik.

Namun, dari situlah saya berpikir. Kalau orang Indonesia terus-terusan memakai produk impor demi hasil yang bagus, lalu siapa yang akan memakai produk lokal? Kalau tidak ada yang memakai produk lokal, dari mana produk itu akan maju? Akan dapat masukan dari mana? Nah, dari situlah saya mulai memutuskan: SAYA AKAN BERUSAHA MEMAKAI PRODUK KOSMETIK YANG HALAL DAN PRODUK LOKAL. In shaa Allah.

Lalu, saya berpikir lagi. Emmmm, mungkin yang membuat hasil dandan saya kurang bagus, tidak hanya dari intensitas dan produk kosmetiknya, tapi juga dari segi alat tata riasnya. Saya mulai deh mencari info kuas-kuas tata rias yang bagus seperti apa. Saya banyak mendapatkan info merk yang bagus dari beauty vlogger dan beauty blogger. Lalu, saya sempat akan membeli produk kuas tata rias buatan Amerika. Tapi sebentar. Tiba-tiba saya iseng menulis kata kunci di Google: brush make up halal. Dan...............sampailah saya di blog salah satu beauty vlogger ini. 

Membaca tulisannya, saya seperti ditampar secara halus. Iya, ya. Kalau produk kosmetiknya saja saya pilih-pilih yang halal, kenapa kuas tata riasnya saya juga tidak mempertimbangkan dulu yang halal. Akhirnya, saya mulai mencari lagi mana yaaa produk yang HALAL DAN LOKAL. Ada dua produk yang saya temukan. Ingat, standar saya hanya HALAL DAN LOKAL, ya. Hehe. Saya menemukan produk dari Mineral Botanica dan Zoya Cosmetics. Bahkan, harga keduanya pun tidak jauh beda. Karena saya masih mahasiswa, saya beli yang paling murah dulu. Nanti yang satunya, tunggu bulan-bulan depan, hehe.

Saya akhirnya membeli produk kuas tata rias dari Mineral Botanica. Mineral Botanica memang produk kosmetik yang masih baru. Belum banyak yang mengenal dan memakainya, tapi saya akan coba. Saya mendapatkannya dari salah satu online shop  di Malang. Kalau untuk produk kosmetiknya sudah ada di beberapa toko, kalau kuasnya, saya belum mencoba mencari. Penampakannya seperti ini, nih...
Ini produk kuas tata rias dari Mineral Botanica yang saya beli. Segera saya review, ya.
Zoya Cosmetics Brush Set
Kalau yang ini contoh produknya Zoya. Saya pengen coba juga, hehe.
Sumber foto:
https://www.bukalapak.com/p/perawatan-kecantikan/makeup/aksesoris-makeup/1sbdoj-jual-zoya-cosmetics-brush-set

Oh iya, saya kebiasaan deh. Kalau menulis, suka tidak fokus dengan topik yang saya buat sendiri, haha. Jadi, intinya, ini bukan postingan yang akan me-review produk kecantikan. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan berbagi informasi. Intinya, saya berniat untuk mulai mencintai produk yang halal dan lokal. Pertama, saya mencari ridha Allah, yang entah hanya Allah yang tahu, diterima atau tidaknya itu urusan saya dengan Allah (saya kok ribet ya kalau menjelaskan, haha). Kedua, saya mencintai Indonesia, saya rasa nasionalisme kita mulai meluntur. Saya bukan aktivis, bukan artis, atau siapa saja yang memberi pengaruh di Indonesia. Saya hanya seorang mahasiswa semester akhir yang berusaha untuk mencintai produk dalam negeri dimulai dari mengajak diri sendiri dulu (lhoooo katanya postingan ini ngga mempengaruhi), heheeee yaaaa pokoknya gitu! :D


Saya mulai kehilangan kecerdasan menulis, nih...sekian dulu ya tulisan ngga seberapa penting saya ini. Semoga bermanfaat walaupun sedikit. Untuk selanjutnya, saya ingin review produk-produk ini, biar menyemangati yang mau berhijrah (kalau saya tidak malas menulis, ya). Selamat malam dan selamat berpikir :p 


Monday, November 21, 2016

#Thailand 6: Alunan Kemerdekaan dari Negeri Gajah Putih

Rabu, 17 Agustus 2016


Biasa merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menjadi petugas paduan suara di kampus, kali ini saya bertugas sebagai dirijen paduan suara di Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Songkhla, Thailand. Tidak hanya saya, sebagian besar petugas upacara juga berasal dari peserta program PPL/KKN Thailand Selatan.
Mengingat kami semua mempunyai kesibukan mengajar di sekolah penempatan masing-masing, latihan upacara pun sedikit sulit. Hanya bisa dilakukan saat akhir pekan. Itu pun, para petugas harus rela menempuh perjalanan jauh ke Songkhla, karena sebagian besar mengajar di Pattani, Yala, Narathiwat, dan lain-lain. Petugas paduan suara saja baru bisa latihan dengan jumlah lengkap saat tanggal 16 Agustus siang hari.
Sebelum hari-H upacara, kami melaksanakan gladi bersih terlebih dahulu dengan Bapak Konsul, Pak Triyogo Jatmiko. Pak Tri mengikuti gladi bersih dengan khidmat dan beliau mencatat semua hal yang perlu dibenahi agar lebih baik lagi saat upacara berlangsung. Beliau memberi arahan mulai dari protokol upacara, pemimpin, pembaca UUD, pembaca doa, pembaca naskah proklamasi, ajudan, pengibar bendera, hingga tim paduan suara. Beliau juga memberikan wejangan-wejangan yang sangat memotivasi kami untuk memberikan yang terbaik dalam upacara esok hari.
Upacara dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2016 pukul 9 pagi di lapangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Para peserta upacara berasal dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang bekerja, studi, maupun tinggal di wilayah selatan Thailand, para pejabat konsulat, Dharma Wanita Persatuan, serta beberapa sekolah Thailand yang memiliki kerjasama dengan Indonesia untuk turut merayakan Hari Kemerdekaan RI bersama.
Semua berjalan dengan lancar sesuai rencana. Lagu yang dibawakan oleh tim paduan suara untuk persembahan atau biasa disebut aubade berjumlah tiga lagu, yakni Hari Merdeka, Tanah Air, dan Syukur. Pada saat latihan, saya dan teman-teman tidak sampai merinding. Namun, ada suasana berbeda pada saat upacara. Saya sendiri sebagai dirijen tiba-tiba merinding saat lagu Tanah Air dinyanyikan. Tanpa sadar, mata saya berkaca-kaca. Sebagai dirijen, harusnya tidak seperti itu karena bisa membuat anggota paduan suara menjadi terpancing untuk meluapkan emosi yang sama. Saya berhasil menahan tangis, tapi tidak berhasil menahan mata yang berkaca-kaca. Beberapa anggota paduan suara ikut meneteskan air mata saat menyanyikan lagu Tanah Air.

Usai upacara pun banyak yang mengatakan sempat menangis saat lagu Tanah Air dilantunkan. Hal ini mungkin karena kami semua sedang jauh dari tanah air, jauh dari keluarga, jauh dari sanak saudara di  negeri orang. Berjuang di tanah rantauan masing-masing membawa nama Indonesia memang bukan hal mudah, namun hal inilah yang membuat kami bisa bersyukur, bahwa tanah air terbaik adalah Indonesia. Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71!

Displaying IMG-20160817-WA0016.jpg
Sumber: Dokumentasi Konsulat Jendral Republik Indonesia Songkhla
Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.

#Thailand 5: Warna-Warni Olahraga Thailand

“See chompu cha! Cha!!”. Terdengar teriakan murid-murid menggema di lapangan bola sekolah. Selain ramai akan teriakan, lapangan sekolah penuh akan warna dan antusiasme dalam kompetisi. Ya, begitulah gambaran umum dari Sukkan Warna yang dalam bahasa Melayu berarti olahraga warna. Dalam bahasa Thailand, lazim disebut Kila See.
Kila See adalah suatu kegiatan olahraga tahunan yang rutin diadakan di setiap sekolah di Thailand, di mana semua warga sekolah (baik guru maupun siswa) dibagi menjadi beberapa kelompok warna untuk kemudian berkompetisi. Kompetisi yang diadakan beragam, bergantung masing-masing sekolah. Namun, secara umum, pasti ada kompetisi olahraga, karnaval, dan juga pemandu sorak.
Di Sekolah Wiengsuwanwittayakhom, tempat saya mengajar, ada empat kelompok warna yang akan bertanding. See chompu (warna merah jambu), see kiaw (warna hijau), see namngen (warna biru tua), dan see leuang (warna kuning). Kompetisi yang diadakan di sekolah ini beragam pula. Ada pertandingan sepakbola, pertandingan lari, pertandingan voli, lempar tagram, lomba yel-yel pemandu sorak antarwarna, kompetisi hias venue pemandu sorak, dance, dan karnaval.
Untuk mempersiapkan acara ini, sekolah sengaja memberi waktu latihan khusus selama satu jam setiap harinya selama dua bulan sebelum Kila See. Betapa Kila See adalah acara yang sangat dihargai seperti kegiatan akademik lainnya. Bahkan, jam pelajaran sengaja dipotong lima menit setiap jam pelajarannya, agar ada sisa waktu satu jam sebelum jam pulang, khusus untuk mempersiapkan Kila See.
Kila See diadakan selama satu minggu dan tidak ada kegiatan akademik selama Kila See berlangsung. Setelah tiga hari bertanding olahraga, hari keempat adalah saatnya seluruh warga sekolah berkeliling di jalanan sekitar sekolah untuk berkarnaval. Semua warga di sekitar sekolah selalu menantikan Kila See dari setiap sekolah yang berada di sekitar mereka. Ada pertunjukan seni yang ditawarkan setiap karnaval dari mulai drum band, tari, dan peragaan busana. Di salam setiap barisan warna, ada tiga kategori yang ditampilkan, yaitu Khong Cheer (rombongan pemandu sorak), Kila (atlet yang bertanding), dan Fancy (peragaan busana fantasi).

Hari kelima diisi dengan pertandingan final antarwarna dan juga ada pertandingan antarguru membela warna masing-masing. Guru-guru di sini pun sangat antusias dalam bertanding, tidak peduli akan usia mereka. Walaupun kulit menjadi belang karena udara Thailand yang begitu panas, namun semangat Kila See tetap membara sampai diumumkan siapa juara masing-masing lomba dan juga juara umum dari seluruh pertandingan. Penutupan diadakan dengan sukacita dan ditutup dengan guyuran hujan sebagai pengganti lelah selama satu minggu.

Displaying PicsArt_09-01-02.59.02.jpg


Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.

#Thailand 4: Pesona Pasar Malam Pattani

Displaying PicsArt_09-19-09.58.24.jpg


Pasar malam adalah pemandangan yang sudah biasa kita temui di Indonesia. Namun, kali ini saya akan menceritakan pasar malam yang berada di salah satu provinsi di Thailand Selatan, yaitu Pattani. Pesonanya sudah sampai di penjuru Thailand Selatan. Bahkan, orang-orang yang akan belanja, sengaja menyewa hotel satu malam di dekat pasar. Pasar malam yang berada di dekat masjid besar Pattani ini terpisah antara pasar yang dimiliki orang Buddha dan orang muslim. Yang dijual pun beragam, dari mulai pakaian, makanan, hingga kebutuhan harian. Yang akan saya ceritakan adalah lima keunikan pasar malam muslim di sini.
Pertama, di sini ada beberapa kedai yang bersifat lepas pasang, hanya buka saat pasar buka saja. Namun, ada juga yang sudah menetap menjadi toko. Nah, kalau masuk ke toko-toko, jangan lupa lihat kaki karyawannya terlebih dahulu. Jika karyawannya melepas sepatu, berarti pelanggan harus masuk dengan menanggalkan sepatu. Saya yang awam, tidak tahu. Saya melihat-lihat baju-baju bagus dengan memakai sepatu masuk ke dalam. Lalu sang pemilik toko mengatakan“Eh dek, kasuk tanggal, kasuk tanggal”. Artinya, “Dek, lepas sepatu, lepas sepatu”. Saya langsung malu dan kembali ke luar.
Kedua, perhatikan harga yang dikatakan penjual. Ada beberapa penjual yang tidak menulis harga. Bila kita bertanya harga dan dia menjawab misalnya “sratos limo” atau “neng roy haa” yang dalam bahasa Indonesia berarti 105 Baht, itu hanyalah bahasa lisan. Maksud sesungguhnya adalah 150 Baht, namun mereka mengatakannya dengan disingkat. Jadi, hati-hati, ya.
Ketiga, jika tidak serius ingin membeli, jangan terlalu banyak memegang-megang baju yang dipajang. “Pegang-pegang sajo, tubek...buat punoh kain”. Maksudnya, jika hanya pegang-pegang saja, lebih baik keluar, hanya akan membuat baju jadi tercemar dan rusak saja. Ada beberapa kedai yang seperti itu. Jadi, kita harus benar-benar hati-hati membaca sinyal dari sang penjual. Namun, ada juga kedai yang sangat ramah, bahkan saya sampai dapat gratisan bros kerudung karena dia tahu saya orang Indonesia, katanya sebagai kenang-kenangan sudah pernah mampir ke kedainya.
Keempat, di sini baju produk asli Thailand dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Bahkan dengan harga sekitar Rp 120.000 saja kita bisa dapat baju yang di Indonesia seharga Rp 200.000. Namun, baju Indonesia yang diimpor ke sini, harganya bisa sampai tiga kali lipat!
Kelima, jangan datang terlalu malam, karena semua kedai akan tutup pukul 9 malam. Terkesan terlalu sore untuk tutup, memang. Namun, warga sini sengaja melakukannya karena mereka waspada akan ancaman bom yang bisa datang kapan saja di daerah konflik ini. Namun, di luar itu, para pebelanja terlihat sangat santai dan tidak peduli isu bom yang sering terjadi di berbagai tempat di Thailand Selatan. Begitulah pengalaman saya ketika berbelanja di pasar malam Pattani, surga belanjanya para muslim di selatan Thailand.. Semoga bisa menjadi referensi.

Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.

Wednesday, July 20, 2016

#Thailand 3: Trip to The Pirates Park

Happy short holiday, buat saya sendiri, hehe. Awalnya saya sedikit iri dengan teman-teman satu pengabdian dengan saya yang ditempatkan di sekolah pondok. Rata-rata libur lebaran mereka 20 hari, yaitu mulai H-10 lebaran dan H+10 lebaran. Sedangkan yang ditempatkan di sekolah kerajaan seperti saya ini hanya mendapat libur tiga hari, yakni H-1 sampai H+2 lebaran saja. Kebetulan, H+3 lebaran adalah hari Sabtu, jadi total liburan lima hari saja

Tapi, Allah memberi rezeki lain. Karena di sekolah kerajaan macam sekolah saya ini tidak hanya dihuni oleh warga sekolah yang muslim, kami ikut libur kerajaan juga tiap ada hari besar Buddha. Tanggal 19 Juli 2016 adalah hari Asalha Puja 2560 dan 20 Juli 2016 adalah hari Masuk Vassa 2560. Hari itu jatuh pada hari Selasa dan Rabu. Seperti di Indonesia, di sini mengenal ‘hari kecepit’ juga, lhoh, hihi. Maka, Senin diliburkan juga. Alhasil, karena sekolah saya libur tiap Sabtu dan Minggu, saya libur deh mulai Sabtu sampai Rabu ini.

Awalnya saya bingung mau ngapain lima hari ini. Eh, ndilalah, alhamdulillah guru sekolah kami mengajak saya untuk berlibur bersama murid-murid yang tergabung bersama kelompok nasyid sekolah, bernama kumpulan Sumayah. Kami akan pergi ke sebuah waterpark di Provinsi Suratthani, 10 jam dari Narathiwat. Saya diberi briefing beberapa hari sebelumnya, mengingat lokasi cukup jauh dari sekolah kami. Kami akan bepergian selama tiga hari dua malam. Konsep bepergiannya adalah hemat tapi senang. Haha.

Yang perlu dipersiapkan adalah bantal (karena kami akan cukup lama berada di dalam mobil, selain itu, bisa untuk bantal tambahan ketika tidur di hotel), alat makan dan alat masak portable (karena kami akan memasak sarapan sendiri supaya hemat), baju ganti, baju untuk masuk air, dan tidak lupa uang saku.

Untuk para perantau seperti saya ini masalah uang saku harus sangat diperhitungkan, mengingat kami jauh dari rumah. Alhamdulillah, karena saya diajak, saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk bensin mobil sekolah, sewa kamar hotel, dan tiket masuk ke waterpark. Saya hanya perlu membawa uang pribadi untuk makan di kedai atau jajan di Seven Eleven selama perjalanan. Hihi.

Tapi, tetap saya harus menginfokan agar teman-teman yang mungkin ingin mencoba wisata ke daerah Suratthani dari Narathiwat agar tahu berapa biaya yang harus disiapkan. Selama perjalanan pulang-pergi, saya melihat nominal di pompa bensin yang harus dikeluarkan untuk menghidupi mobil van Toyota Hiace milik sekolah. Yang saya lihat, selama saya melek, kami berhenti di tiga pompa bensin. Total nominal yang dikeluarkan sebesar 3000 Baht (atau sekitar Rp 1.122.000). Info saja, bensin di sini lebih mahal dari di Indonesia. Satu liternya sekitar Rp 10.000. Untuk biaya lainnya, akan saya ceritakan lebih rinci di paragraf-paragraf selanjutnya.

Lanjooot. Kami berangkat hari Minggu pukul 5 sore dari sekolah, total 15 orang yang terdiri dari guru, siswa, dan anak guru. Sebenarnya, mobil van sekolah kami berkapasitas 13 orang saja, namun tidak papalah disempilin kucil-kucil yang duduk di bawah lantai van dengan selimut dan bantal, hehe. Awal berangkat, kami mampir Seven Eleven dulu. Orang sini biasa sebut Sewen. Hati-hati kalau sudah masuk Sewen. Bisa kalap dan beli macem-macem. Termasuk saya nih. Suka banget beli daging asap pedas yang dihangatkan di microwave dan dimasukkan dalam roti tawar. Belum-belum sudah mengeluarkan uang 66 Baht atau sekitar Rp 25.000. Nominal yang lumayan banget karena selama perjalanan kami berhenti di sekitar 4-5 Sewen. Bisa dibayangkan total uang yang dikeluarkan untuk cemilan saja berapa. Haha.

Ngasuh anak dulu, ya...hahaha

Kami berhenti sebentar untuk makan dan solat jama’ maghrib-isya di sebuah pompa bensin di daerah Pattani sekitar pukul 8. Pompa bensin di sini lengkap. Hampir semua pompa bensin di 3 wilayah selatan, mempunyai fasilitas masjid (yang terpisah antara perempuan dan laki-laki), minimarket (bisa Seven Eleven, bisa juga yang lain), dan pujasera. Bahkan, beberapa pompa bensin juga berjajar pertokoan yang menjual baju, pulsa, hingga oleh-oleh.

Saya makan Nea Daeng (daging bumbu merah) seharga 40 Baht atau sekitar Rp 15.000 dan Cha Yen (es teh tarik) seharga 20 Baht atau sekitar Rp 8.000. Lebih mahal dari Nea Daeng di dekat rumah sewa saya yang hanya 35 Baht dan Cha Yen yang hanya 10 Baht. Semua menu di sini alhamdulillah halal, karena semua penjualnya muslim (ditandai dengan penjualnya berjilbab, bersongkok, atau memberi label halal pada plang nama kedai). Di 3 wilayah selatan ini tidak sulit mencari makanan halal karena mayoritas penduduknya orang muslim. Yang saya sayangkan, semua menu ditulis dalam bahasa Thai tanpa penjelasan. Hanya beberapa saja yang menyertakan gambar. Untuk saran saja, bila takut diburu waktu, pesan saja makanan yang prasmanan dan tinggal pilih. Kebetulan waktu itu saya kurang sreg sama menu yang sudah matang. Saya pesan Nea Daeng karena cari aman, walaupun lumayan lama masaknya. Saya menggunakan bahasa Melayu campur Thai sederhana karena penjual mengajak saya berbahasa Thailand. Awalnya sempat missed-com dengan penjual karena teman saya pesan makanan tapi dia batalkan dan lupa konfirmasi. Akhirnya saya yang kena sengit penjual, ditambah lagi bahasa saya kacau, ia nampak sangat tidak ramah. Hehe...untuk pelajaran saja, hati-hati saat berbahasa di negeri orang. Jangan mengeluarkan kata-kata yang berpotensi menimbulkan missed-com. Pakailah bahasa semampu kita saat bertransaksi, asal jelas dan tegas.

Usai makan, kami lanjutkan perjalanan. Berhubung sudah terlalu malam dan guru yang menyetir sudah sangat mengantuk, kami sewa hotel di daerah Nakhon Si Tammarat pukul 1 malam. Kalau untuk hotel, kebetulan saya sengaja ngga nanya ke guru sekolah harganya berapa, karena sedikit sungkan. Hehehe. Tapi, untuk gambaran saja, kami menginap di hotel berbeda selama dua malam. Yang pertama di daerah Nakhon Si Tammarat saat berangkat ini dan saat pulang di Hatyai (Songkhla). Hotel pertama memiliki satu kasur dengan kapasitas 2-3 orang, kamar mandi dalam tanpa pemanas air, TV, dan kipas angin. Sedangkan hotel kedua sedikit lebih bagus (karena terpaksa akibat suatu hal), ada kamar mandi dalam dengan pemanas air dan WC duduk, AC, TV, parkiran mobil per kamar, dan kasur yang bisa dibagi dua, jadi kapasitas 4-5 orang. Dulu, saya sempat bermalam di sebuah hotel sederhana di daerah Pattani dengan fasilitas kasur yang bisa dibagi dua, kipas angin, TV, kamar mandi dalam tanpa pemanas seharga 360 Baht per malam atau sekitar Rp 140.000. Relatif murah.

Kami hanya menyewa 3 kamar saja. Di kamar saya, saya tidur berenam. Otomatis, harus ada yang tidur di lantai dengan selimut dan bantal yang dibawa sendiri. Paginya, kami harus segera bersiap, karena jarak Nakhon ke Suratthani masih sekitar 2 jam lagi. Sebelum berangkat, kami piknik bersama di parkiran mobil. Kami masak telur dengan kompor gas portable dan sardin kaleng yang dibeli di Sewen. FYI, makanan di dalam tempat wisata relatif mahal, jadi kami membuat makanan sendiri. Sederhana tapi hangat, hihi.


Yang kayak gini ini lho yang nanti bakal dikangenin kalau udah balik ke Indonesia :'D

Setelah check out hotel, kami lanjutkan perjalanan ke Suratthani (dengan skenario mampir Sewen yang ga pernah ketinggalan). Kami sampai di waterpark pukul 10.15. Tidak terlambat karena ia baru buka pukul 10. Tempat ini bernama The Pirates Park, di daerah Wat Pradu. Harga tiket masuknya 250 Baht untuk dewasa dan 150 Baht untuk anak-anak. Sekitar Rp 95.000 dan Rp 56.000. Hampir sama dengan waterpark yang ada di Indonesia. Waktu itu, saya lihat guru sekolah saya mengeluarkan print-print-an semacam promo untuk tiket masuk. Saya juga kurang tahu, sekali lagi karena saya ditraktir, hehe.

Saya suka tempat ini menyediakan segala macam petunjuk menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Thai dan bahasa Inggris. Ini mempermudah para turis asing seperti saya yang buta aksara Thai. Namun, sayang sekali, petugas di depan tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga waktu dia ajak saya berbicara, saya hanya bisa senyum sambil mengangguk dan dia tampak bingung. Padahal saya sudah mengucapkan “Chan ma jak Indonesia, put pasa Thai mai dai”, atau saya orang Indonesia dan tidak bisa berbahasa Thai. Ternyata saat itu dia minta tangan saya distempel tanda masuk, hehehehe.

Seperti lazimnya tempat wisata, kami dilarang membawa makanan dari luar. Tapi, seperti lazimnya juga sebuah tempat wisata yang kurang ketat, kalau kami selipkan snack  di dalam tumpukan baju kami, tidak akan ketahuan, hihi. Ini salah satu trik agar tidak kelaparan setelah main wahana. Karena, harga makanan di dalam waterpark relatif mahal (untuk para perantau).

Ada banyak kolam di dalam waterpark. Ada kolam untuk anak-anak, kolam untuk seluncuran, dan kolam-kolam untuk permainan tantangan semacam acara Benteng Takeshi, mulai dari yang mudah hingga sulit. Saya adalah tipe orang yang takut air, walaupun saya Aquarian, hehe. Saya hanya berani mencoba wahana yang tidak terlalu dalam kolamnya, agar kalau saya jatuh, saya tidak tenggelam, haha. Itu pun, saat saya jatuh, saya curang, ngerepotin murid-murid buat ngangkat saya dari atas wahana, hihi.


Sumber foto: chillpainai.com

Kalau di kolam yang dalam, kami semua diwajibkan pakai pelampung. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan di sini, karena selain ada pelampung, ada life guard yang selalu memantau tiap pengunjung dan membantu para pengunjung yang terjatuh saat kurang berhasil melewati tantangan wahana. Tapi, saya memang dasarnya pengecut sama air, jadi saya pura-pura jaga anak guru yang ngga bisa berenang aja waktu itu, sama pura-pura basah biar keliatan menghargai udah ditraktir, wkwkwk.



Saya mencoba seluncuran dua kali dan coba manjat-manjat. Tapi, saya lupa kalau kaki kiri saya memang sedikit bermasalah dalam motoriknya akibat skoliosis. Sempat keram di tengah wahana dan ga bisa manjat, hahahah. Tapi seru, saya bisa teriak-teriak melepas penat :D



Oh iya, untuk tips saja, saya sempat terpeleset karena kaki saya licin bekas sunblock. Jadi, pakai sunblock-nya agak lama sebelum sampai air saja, agar tidak licin. Sunblock wajib banget dipakai di sini, karena panasnya ngga lumrah. Selain pengap, menyengat juga. Saya menghitam pulang dari sini, hihi.

Selain wahana, di sini banyak banget spot foto yang instagramable. Namun, berhubung saya tidak membawa fotografer favorit saya (baca: pacar), saya melewatkan ke-instagramable-an ini, hehe. Jadi, minta tolong sekedarnya sama murid atau salah satu guru, hihi.


Usai main air, kami harus segera mandi karena lapar sudah menyerang. Tidak kerasa kami main air sampai pukul 1 siang. Kamar mandi di sini banyak dan tidak perlu antre. Tempat rias pun disediakan, dilengkapi dengan hair dryer. Namun, lucunya, di sini tidak kami jumpai shower atau minimal gayung dan ember untuk mandi. Hanya ada WC dan penyiramnya. Saya mencari-cari apakah memang WC dan tempat mandi dipisah, ternyata tidak. Hanya ada itu saja. Terpaksa saya mandi menggunakan penyiram WC, hahaha. Butuh keahlian khusus keramas pakai penyiram WC. Mungkin, karena tempat ini baru, tempat mandi belum selesai dibuat atau bagaimana, saya juga kurang tahu :D.


Bahkan di kamar mandi pun nemu aja barang yang bisa cute kalau difoto, haha. Ga penting :D

Setelah semua beres, kami meninggalkan waterpark sekitar pukul 2 siang, untuk mencari makan siang di luar dan melanjutkan wisata ke tempat berikutnya yang akan saya ceritakan di post selanjutnya. Well, itu tadi cerita saya tentang liburan di The Pirates Park, Suratthani. Semoga sedikit info ini bermanfaat buat teman-teman yang lagi berada di Thailand Selatan atau yang mau pergi ke Thailand Selatan. Sekali lagi, happy short holiday!


Baca tulisan saya tentang Thailand yang dimuat di media Citizen Reporter Harian Surya di sini.