Followers

Sunday, June 08, 2014

Under The Sky

Sore itu. Kamu bertanya dengan siapa aku berangkat. Aku menjawab aku sendirian. Aku bertanya bolehkah aku berangkat bersamamu. Kamu setuju. Kamu ingin menjemputku. Sore itu juga. Aku bilang habis sholat maghrib saja. Kamu setuju. Aku menunggu. Kita akan menonton konser paduan suara seperti biasa, aku denganmu. Konser malam itu berlangsung seperti biasa, bagus, meriah, dan banyak komentar di mana-mana. Tidak ada yang spesial. Aku duduk di sebelahmu. Sudah pernah.

Sekitar jam setengah sembilan lebih beberapa menit. Di balkon terbuka sebuah rumah makan. Malam itu malam minggu. Ramai sekali. Kita duduk di ujung pojok. Berdua. Berhadapan. Sudah pernah. Langit penuh bintang. Bulan setengah kelihatan. Angin berhembus sopan. Dan makanan tak kunjung datang.

Awalnya sepi. Kamu dan aku sama-sama bermain jempol di atas gadget. Kamu meletakkan smartphone itu duluan. Aku mulai sadar tingkah laku autisku. Aku lalu menaruhnya di tas. Quality time yang sejati tidak butuh dua orang berhadapan yang saling memegang handphone.

Setelah itu, kamu banyak tersenyum kepadaku. Kamu banyak bicara seakan-akan aku orang yang paling seru untuk diajak bicara. Dan aku suka. Nuansa kerinduan sangat terasa di mata itu, karena kita lama tidak bertemu. Padahal hanya sekitar seminggu. Aku anggap itu sudah sangat lama. Karena kita terbiasa bertemu setiap hari dalam rutinitas yang sama.

Pembicaraanmu lain dari biasanya. Kita tidak lagi berbicara soal paduan suara. Kita berbicara soal apa pekerjaan ayahmu, nenekmu lebih pintar masak daripada ibumu, siapa nama keponakannmu, nenekmu suka main tenis, kakakmu kerja di mana, suaminya tinggal di mana, dan itu seru. Sungguh. Walaupun sebenarnya sebagian yang kamu ceritakan, aku sudah tahu. Kan aku kepo. Aku sudah tahu kok nama ayah dan ibumu. Apa pekerjaan ibumu. Siapa nama keponakanmu. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Biar seru.

Minumannya sudah datang. Pelayan memanggil namaku. “Dina....Dina...!”. Aku menjawab, “Dina mas, Dina!” sampai tiga kali dan pelayannya tidak mendengar. Mungkin karena suaraku terlalu cempreng. Seperti Minnie Mouse terjepit pintu. Akhirnya pelayan itu menemukan tempat duduk kami dan ia tertawa.

Minuman itu dingin sekali. Pembicaraan juga mulai kehabisan stock. Aku memandang langit. Yang penuh bintang dan bulan bersembunyi malu tadi. Aku membayangkan kita berada di kutub. Dan mendadak ada aurora.

“Oh hush thee, my baby. The night is behind us. And black are the waters that sparkled so deep...” Aku bernyanyi dengan suara Minnie Mouse-ku.
“Hehe...” terdengar senyum hematmu.

Lagu itu adalah lagu yang pernah kita nyanyikan bersama di konser yang lalu. Ya. Konser terakhirku. Dan entah kenapa, setiap memandang langit malam, aku hanya ingat lagu itu. Dan aku mendadak berubah menjadi anak anjing laut yang mengantuk di tengah salju kutub. Romantis.

Source: http://plusmood.com/2011/03/the-luna-collection-graff/luna-moon-and-stars/

Makanan datang. Sepiring mie pedas level satu dan sepiring mie yang sama sekali tidak pedas. Oh iya. Dengan dua pasang sumpit kayu dibungkus plastik. Dan kamu sudah hapal sepertinya. Aku kan tidak suka memakai sumpit. Kamu lalu memanggil pelayan.

“Mas, minta sendok!”
“Wah, ngga ada mas...habis” jawab pelayannya.
“Ya udah, ngga papa. Sampai kapan menghindari tantangan?” kataku sok bijak.

Dan kamu tersenyum. Lagi.

Aku mulai menggunakan sumpit itu. Kamu mengajariku. Bagaimana menggunakan jari-jariku untuk membuat sumpit itu menurut. Aku mulai menikmatinya. Ternyata tidak sulit. Walaupun sempat terlihat bodoh. Lalu aku bercerita. Makan dengan sumpit sama susahnya dengan makan menggunakan tangan kosong. Aku terbiasa disuapi oleh ibu dan terbiasa menggunakan sendok-garpu sejak kecil.

Makananmu habis duluan. Seperti biasa, seperti yang pernah kamu bilang, cowok yang makannya cepet atau cewek yang makannya lambat. Aku terlalu lama menghabiskan makanannku. Malam itu terlalu dingin. Mie ini cepat dingin. Apalagi dia tidak pedas. Semakin tidak berasa. Aku sengaja pesan tanpa cabe karena tiga hari lalu aku baru saja kena diare. Tapi, entah kenapa mie ini tidak bisa habis. Aku menyerah.

“Mas, aku ngga habis...”

Kamu tertawa kecil dengan senyum setengah bulan sabit. Lalu kamu menghabiskan makananku.
Mulai dingin. Malamnya. Dan kamunya.

“Yuk pulang, udah malam...”

Aku hanya mengangguk.
***
“Sudah sampaaaaaai....” celotehku seperti anak kecil yang baru sampai di rumah.

Kamu menyuruhku masuk gerbang. Dan kamu berlalu. Begitu saja. Sudah. Tidak ada pembicaraan. Hanya tanganku yang melambai, “Daah...”.



Aku merindukan kamu yang melihatku sampai masuk ke pintu kost dan saat aku mengintip, kamu masih ada di situ. Seakan ingin memastikan aku aman sampai di rumah. Itu saja. Ya. Aku masih rindu. Sebentar lagi, pertemuan kita hanya akan disebut kebetulan. Karena kita tidak lagi dipertemukan dalam rutinitas yang sama. Sampai jumpa. Di lain waktu. Kamu.

Tuesday, January 07, 2014

Our Tongues Were Made of Glass

"If only our tongues were made of glass, how much more careful we would be when we speak?"
-Shaun Shane-

Kalau aja bener lidah kita ini diciptakan dari kaca, mungkin yang terjadi akan berbeda. Kita akan lebih berhati-hati, karena goresan sedikit saja bisa meninggalkan luka. Kita tidak akan sembarangan, karena ia mudah pecah. Dan ia akan menjadi lebih sulit digerakkan, jadi kita akan lebih banyak diam tidak mengeluarkan kata-kata tidak penting karena untuk mengeluarkan sepatah kata saja butuh usaha yang sangat susah. Lidah jadi tidak elastis dan tidak otomatis.

Sayangnya lidah kita terbuat dari otot yang paling besar, yang tidak ada sedikit pun tulang di dalamnya. Sayangnya lagi, yang mengontrol hanyalah otak, yang sering kali lupa untuk kita kendalikan. Aku punya pengalaman mengesankan soal lidah beberapa hari yang lalu.

Waktu itu aku dan Assa main ke rumah Mas Sokran, salah satu teman dari STK (Sanggar Tari Karawitan), salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di kampus, yang berada di seberang kampus. Mas Sokran punya dua orang anak yang masih balita bernama Zua (sekitar 3 tahun) dan Ocas (sekitar 1,5 tahun). Waktu aku ke sana, mereka berdua masih berada di sekolah (begitulah mereka menyebut tempat belajar untuk balita itu). Namun Mbak Nia, istri Mas Sokran, memutuskan untuk menjemput mereka lebih awal karena guru Zua dan Ocas sedang rapat. Sekitar jam satu siang, mereka akhirnya datang dengan wajah gembira. Ocas yang selalu menempel dengan ibunya karena memang usianya yang masih sangat kecil dan harus menyusu kepada ibunya berbeda sekali dengan Zua yang lebih enerjik dan suka bergerak ke sana-ke mari. Aku langsung menyapa Zua dan mengajaknya ngobrol sana-sini. Maklum, aku memang tidak bisa membiarkan anak kecil bermain sendiri, aku sangat gemas terhadap anak kecil.

Rumah Mas Sokran memang selalu ramai, karena notabene Mas Sokran membuka kos-kosan putri. Teman-teman juga sering main ke rumahnya, makanya rumahnya tidak pernah sepi. Jadi, Zua sudah terbiasa main dengan siapa pun yang ada di sana. Tiap Zua bertemu denganku, yang ia cari pertama kali adalah Pou. "Tante, Pou...". Dia selalu mengatakan hal itu. Pou adalah aplikasi permainan yang ada di Android. Kebetulan hari itu aku tidak membawa HP Android-ku. Sebelum Zua kecewa, akhirnya aku mengajaknya untuk bermain apa pun asal dia lupa kalau ada permainan bernama Pou. Aku mengajaknya untuk menggambar.

Kebetulan di sana ada Mas Hamzah, teman dari STK juga. Dia dan aku sering bermain olok-olokan tentang "upil" dan "eek". Di tengah-tengah menggambar, Zua menuding-nuding titik-titik seperti kotoran di tembok rumahnya. Dia bertanya padaku itu apa. Tiba-tiba Mas Hamzah menimpali dengan berkata, "Itu upilnya Mbak Dina". Spontan aku langsung membalasnya, "Ih...bukan Zua...itu upilnya Oom Hamzah". Lalu Zua minta digambarkan upil kepadaku. Aku langsung menggambar banyak sekali titik-titik sekecil upil dan aku gambar topless juga seakan-akan upil itu adalah kudapan. Olok-olokanku dan Mas Hamzah berlanjut sampai akhirnya kami menyebutkan kata "eek" dan menggambarnya di kertas tersebut. Aku membalas Mas Hamzah dan Mas Hamzah membalasku, sama-sama tidak mau mengalah. 
Sampai pada Zua sedang makan bakso goreng dan dia mengambil isinya lalu dibuat mainan di tangannya. Dan dia bertanya padaku, "Tante...hi...ini apa?". Aku langsung spontan menjawab, "Itu upilnya Oom Hamzah, hi...". 

Hari berlangsung cepat sampai pada aku harus pamitan karena aku harus berangkat latihan paduan suara. Sepulang latihan, aku bertemu dengan Mas Sokran. Dan aku sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Mas Sokran dalam bahasa Jawa. 

Maeng yo Din, Mbak Nia ngomel nang aku. Jarene, "Gi, temen-temenmu itu kalo maen ke sini mbok yo diajari ngomong sing apik. Zua iki malih tiru-tiru ngomong elek". Aku langsung kenek, Din...trus aku kaget kok Zua moro-moro ngomong "Pak, aku gambarno eek". Aku langsung takon. "Lho, sopo sing ngajari eek he?". Zua mek njawab, "Iki..." ambek nduduhno gambar. Wooooooooo Hamzah ambek Dina iki ancen tersangkane. Wis, ancene arek loro iki...

Yang artinya:
Tadi ya Din, Mbak Nia ngomel ke aku. Katanya, "Gi (nama panggilan sayang Mbak Nia buat Mas Sokran), temen-temenmu itu kalo maen ke sini ya harusnya diajari ngomong yang baik. Zua ini jadi ikut-ikut ngomong jelek". Aku langsung kena, Din...trus aku kaget kok Zua tiba-tiba bilang "Pak, aku gambarin eek". Aku langsung tanya, "Lho, siapa yang mengajari bilang eek?". Zua cuma menjawab, "Ini..." sambil menunjukkan gambar (yang tadi). Woooooooo Hamzah dan Dina ini memang tersangkanya. Sudah, dasar anak dua ini...

Mas Brian yang juga ada di sana waktu itu langsung menasihatiku panjang lebar. 

Barang bukti kejahatan 

Aku dan Mas Hamzah lupa kalau ada makhluk kecil tidak berdosa di depanku waktu itu yang belum bisa mem-filter kata-kata yang tidak seharusnya ia dengar dan ia ucapkan. Kami lupa kalau kami sudah besar dan semestinya bisa memberi contoh yang baik untuk anak kecil. Memang lidah tidak sekolah, makanya harus ada yang menyekolahkan.



"Zua itu cerdas, Din. Waktu itu pernah aku ajak nonton teater. Dari awal pertunjukkan sampai akhir, dia serius merhatiin. Eh pas di rumah, tiba-tiba si Ocas disuruh duduk dan Zua melakukan acting yang persis kayak yang ada di pertunjukkan tadi," lanjut Mas Sokran. 

Dan kami lupa kalau anak kecil itu mudah menangkap apa yang baru saja mereka indera. Ah...so sorry for missing that point. Hari itu aku belajar banyak sekali tentang dahsyatnya satu kata yang diucapkan. Karena satu kata benar bisa menyelamatkan dunia, tapi satu kata yang salah bisa saja membunuh dirimu sendiri.


Thanks for helping me remember that a tongue sometimes can be a dangerous glass too, Mas Sokran, Mbak Nia...



Have you done your homework today? Keep your tongue to be a glass :-)

Monday, January 06, 2014

My First Stepping Stone

Haaaaaaaaalooooooooooooooooooooooooooooooooooooo, dunia! Wehehehe, oke! Aku semangat banget, ya? Iya dong...harus dong... Kenapa, nih? Ada apaan, nih? Heboh banget sih...dapet pacar baru, ya? Dapet uang? Menang lomba? Apa sih? 

Leeeeeebih dari itu! Setelah deg-degan selama satu semester, akhirnya aku bisa buktikan kepada dunia pada umumnya dan orang tua pada khususnya tentang hal yang selalu aku perjuangkan di masa lalu (ecieh sok dramatis dikit ga papa lah, ya). Yak! Ini dia yang ditunggu-tunggu. Pasti yang baru baca postingan ini mikir, "Apaan sih, ngomong apa sih Dina ini?". Jadi gini, inget kan cerita melankolis yang pernah aku tulis panjang lebar kayak truk tangki Pertamina tentang keputusanku buat pindah jurusan dulu? Kalo lupa, coba cek dulu deh biar nyambung. Cek di sini dan di sini.

Masih inget juga tentang "Passion energizes your talent?" mungkin kali ini aku bakal sedikit mengutip quote ini dengan ditambahi sedikit, kalau tidak salah, quote barusan adalah punya Deddy Corbuzier. Kali ini aku mau bikin quote sendiri aja deh. "Keberhasilan adalah hibrida dari niat dan usaha, dibumbui dengan dukungan dan passion". Keren ngga, tuh? Itu deh yang bikin aku semangat banget masuk Pendidikan Sasindo dan bikin aku yakin aku ga salah pilih lagi. *By the way penjabaranku rada ga nyambung, pemirsahh*

Hal pertama yang mau aku pamerin adalah ini. Tararaaaaaaaa... *drum roll*

Hasil tes prediksi Uji Kemahiran bahasa Indonesia untuk mahasiswa baru Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang punyaku.
Kalo dibanding sama hasil tes TOEFL sih jauh banget gitu ya, hampir setengah. Ini nih "sesuatu" awal yang bikin aku sedikit lega dan berbesar hati sambil mikir kalo I'm good enough di Sasindo ini. Yang bikin semangatku panas di awal buat ngelanjutin dan ngebuktiin ke dunia "aku lhoooo pantes jadi anak Sasindo", "aku lho emang passion-nya di sini", "aku bisa buktiin prestasiku jauh lebih bagus di sini" tanpa harus banyak berceloteh ini itu. Jadi, selama aku masuk Sasindo ini aku akan minimalisasi ngomong dan banyak action. Just let them see, tanpa harus banyak berkata-kata. Terutama buat beberapa orang yang bilang kalau ilmu bahasa itu ngga terlalu penting :-)

Dan bukti kedua yang bisa aku kasih adalah ini nih...

Ini semacam rapor online. Right click and open in new tab to enlarge picture.
Jujur awalnya aku bingung. Aku udah bisa ngebuktiin ke ortu kalau aku emang bener-bener ga ada passion di dunia IPA. Tapi aku belum bisa kasih bukti kalau aku bisa lebih baik di bahasa. Bukti apa lagi yang bisa bikin ortu percaya kalau aku emang "bakat" dikit gitu ya di sini selain IP (Indeks Prestasi). Yaaaah, walaupun aku selalu percaya kalau angka bukan segalanya buat menilai seseorang. Aku ulangi, pake capslock ga kontrol nih ya ANGKA BUKAN JAMINAN BROOO, BUKAN JAMINAN SESEORANG ITU PINTER BENERAN, BUKAN JAMINAN ITU MURNI DAN ASELIIII LI LI, MAS BRO...MBAK BRO :-)

Tapi, buat sementara waktu ini ga ada cara lain yang nyata dan bisa diliat selain IP, apa boleh buat. Dan jujur aku lumayan suka sama IP semester ini. Waktu itu targetku adalah di atas 3,5. Dan alhamdulillah Allah ngasih bonus. IP-ku semester ini adalah 3,70. Bahkan ada beberapa mata kuliah yang di atas ekspektasi. Dan jujur sebenernya aku pesimis buat ngedapetin IP di atas 3. Soalnya, semester ini kegiatanku di luar kuliah sungguh sangat amat sibuk sekali pemirsahhh (kudu banget pake pleonasme dan hiperbola kayak gini). Tapi alhamdulillah lagi, aku bisa bagi waktu dalam sehari antara kuliah, kegiatan nonkuliah, istirahat, dan bobo cantik dengan selisih waktu yang mevet bin mripit. Jadi, em...maaf banget buat berbagai macam teman yang aku kecewain gara-gara aku sama sekali ga punya waktu buat main atau sekedar ngopi. Next time, I will. Tunggu ya :')

Hhhh... Aku anggep ini adalah batu loncatan pertama buat membuktikan ke dunia bahwa di sini ada gadis besar (badannya) yang masih kecil, dan perlu dipeluk (oke, salah fokus), yang perlu dibimbing buat mencapai cita-citanya untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya, orang tuanya, sekitarnya, dan Tuhannya. Cita-cita yang simple, kan?

Jujur, bukan perkara mudah untuk menebalkan telinga selama enam bulan aku berkeputusan seperti ini. Terkadang bahkan orang terdekat, teman terdekat, siapa pun bahkan yang belum mengenal, berani sekali melukai hati kecil yang sedang memilih ini (oke, sisi sensitifku muncul, ga papa ya...). Sering banget aku denger "Dulu yang milih IPA siapa, yang milih pindah siapa", "Ngabisin duit aja sih", "Kamu ga pengen cepet nikah apa", "Hah, aku sih pengen cepet lulus" yang mewarnai hariku. Bahkan sampe ada yang bilang "Mbak, kamu dari kecil diajari bahasa planet ya sama papa-mama? Kok baru sekarang belajar bahasa Indonesia. Sini aku ajari aja, mbak...", kata salah seorang satpam di kampus. Aku cuman senyum sambil dalam hati bilang "Please ya, mas...rektor kita berkali-kali periode adalah dosen Sastra Indonesia. Trus mas udah tanya hal begituan belom sama Pak Rektor? Berani kagak?". 

Untuk saat ini dan sampai aku bisa benar-benar membuktikan, aku akan terus diam sambil terus berusaha. Karena terkadang ada orang-orang yang hatinya perlu disentuh. Kamu tidak usah banyak bicara dan berlaku jahat. Cukup dengan biarkan mereka melihatmu membuktikan. Itu sudah menyentuh mereka dengan caramu. Sesukamu :-)



Jangan bosan menjadi orang yang berbeda. Selama itu tidak salah.
Selalu terima kasih sama Allah, sahabatku yang tidak pernah mencela.

Wednesday, December 25, 2013

Pesing

Sepotong dialog di suatu sore, waktu aku sedang antri kamar mandi.

              “Lho Dina, ngapain kok ga masuk kamar mandi ini?” kata Mas Lucky sambil noleh ke arah kamar mandi yang kosong di antara tiga kamar mandi yang ada di kompleks UKM lantai dua.
    
              “Ngga mau mas, pesing. Aku nunggu yang ini aja,” jawabku polos sambil menyandar pada tembok di depan pintu kamar mandi.

               “Terus kalo pesing siapa yang nyiram?” timpal

Mas Lucky sambil masuk ke kamar mandi yang aku hindari tadi.

               “Deep...” kataku lirih.

Source: Okejon

Well, do you get what I mean with that dialogue? Hal buruk memang layak untuk dihindari. Tapi, sampai kapan kita akan membiarkan yang buruk tetap buruk? Kalau kita tidak mau menghadapinya, ia akan tetap buruk. Tapi kalau kita mau merelakan hidung kita tersengat bau pesing sebentar, lalu menyiramnya, bukankah bau itu akan hilang? Dan bukankah kita telah melakukan satu perbuatan kecil yang berdampak besar tanpa kita sadari?

Belajarlah pada filosofi pesing hari ini. Ternyata hidup kadang perlu peka terhadap hal yang sepele J

Salam!


Sunday, October 27, 2013

Kota Batu dan Hati Yang Membatu

Alun-Alun Kota Batu, Malang, 19 Oktober 2013

Aku bergerak ke arah lubang-lubang itu. Menebak mana lubang yang akan menyemprotkan air ke atas, ke arah langit. Aku mendekat dan terkejut dengan kejutan dari bawah sana. Sial. Sepatuku basah. Aku tidak bisa tahu lubang mana lagi yang akan menyemprotkan air setelah ini. Mereka bergantian. Aku tidak bisa menebak. Sama sepertimu. Aku tidak tahu hal apa lagi yang akan terjadi padaku olehmu setelah ini. Entah itu akan membasahiku atau aku malah akan mengeluarkan tawa kemenangan karena bisa menghindar darimu. Entahlah.



Aku capek terkena cipratan air itu. Dingin. Kota ini sudah cukup dingin. Aku sandarkan saja punggungku pada kursi yang berjalan berputar di atas sana. Dari atas sana...sungguh banyak bintang-bintang imitasi--rumah-rumah yang berpendar seperti mercusuar--yang cukup membuat mataku memercing kagum. Menebak kamu sedang berada di bangunan bercahaya yang sebelah mana dan membayangkan apakah kamu melihatku di atas sini dari bawah sana, yang jauh...jauh...tapi nyata keberadaannya. Aku terus menikmati putaran ini. Jika aku di dalam sini, aku tidak merasakan ada di bawah atau di atas, hanya gambar-gambar di luar jendela yang berganti seperti slide show foto di laptop. Seperti kita, yang berputar-putar seolah berjalan, padahal masih tetap jalan di tempat. Seperti bianglala. Sibuk berputar, namun stagnan tanpa perubahan.



Ironis. Di tempat seramai pasar malam ini, aku berjalan seperti Lucy Pevensie di dalam hutan belantara. Makin ironis melihat ratusan pasang anak manusia yang bersenda-gurau sambil berpegangan tangan, mencubit pipi, menyandarkan kepala pada pundak...kepalaku hanya bersandar pada angin. Yang dingin.

Lagu apa yang bisa mengisi telingaku yang juga dingin malam ini selain suara gesekan angin pada dedaunan atau decit ayunan anak kecil di sana. 3 orang pengamen, pengabdi musik jalanan, datang mengucapkan "permisi, mbak" dan memulai ritual cari duitnya. Sial! Adakah koneksi di antara langit dan hatiku saat ini hingga langit mengirimkan isyarat pada ketiga pengamen itu untuk menyanyikan lagu ini: Sepanjang Jalan Kenangan. Kamu pasti ingat.

Ah. Biar. Mau bagaimana lagi, aku tetap kukuh. Aku wanita. Iya. Wanita. Yang hanya bisa menangis atau sekedar mengakhiri semua batu-batu dalam hati yang semakin dingin dan semakin membatu ini dengan emosi. Memikirkan kejutan dan putaran apa lagi nanti yang akan terjadi. Terlalu lelah sudah aku berekspektasi tentangmu, terlalu sakit jika terbang setinggi itu dan jatuh sekeras itu. Tepat satu tahun yang lalu, di bulan ini. Namun aku tidak bisa berbuat sesuatu. Tubuhku mematung, lalu melemas, pasrah, biarkan semua lelah, khawatir, kalut, dan benci berakhir...larut dalam segelas susu panas...


Hey! Aku merasa sedang dipeluk seseorang. Susu ini terlalu enak.

Selamat bermalam minggu.

Saturday, October 26, 2013

Kunci

Pada suatu siang di Koffie Cafe.

"Maaf terlambat. Sudah menunggu lama ya, Rose?" tanya Moon gelagapan sambil membenahi rambut yang basah.

"Sudahlah, jangan pikirkan aku. Pikirkan dulu bajumu yang basah itu. Kenapa nekat hujan-hujanan? Ke mana mobilmu?" jawab Rose tenang.

"Terlalu lama menunggu tukang kunci membuka pintu pagar rumahku, daripada kamu lebih lama lagi menungguku. Jam berapa sekarang?" basa-basi Moon.

" Baru jam 1."

"Aku kira sudah jam 5. Mendung membuat langit lebih tua 4 jam dari biasanya."

"Sepertinya tadi pagi aku melihatmu membawa kunci pagar rumah. Hilang?"

"Entah kunci yang asli ke mana. Yang aku bawa kunci dengan merek dan bentuk yang sama. Bersikukuh aku buka gemboknya, tidak juga ia berputar dan berbunyi 'klik'. Heran."

"Bodoh. Kenapa kamu tidak periksa sebelumnya? Penyakit lama."

"Aku kira hanya ada satu merek Yale yang berbentuk seperti itu. Aku ambil saja. Pasti itu kunci rumah. Ternyata bukan."

"Sekuat apa pun kamu berusaha membuka kunci itu, walaupun ia bisa masuk gembok dan terasa pas, kalau tidak ada bunyi 'klik' mau bagaimana lagi."

"Hanya tukang kunci yang bisa membukanya, ya?" tanya Moon dengan wajah polos.

"Kuncimu butuh diamplas dengan mesin, dibentuk sedemikian rupa agar pas dengan yang asli dan bisa membuka gembok pagar rumahmu. Atau kamu beli gembok yang baru dan simpan kunci yang baru dengan hati-hati, gandakan kalau perlu. Jangan mengulangi kesalahan yang sama. Merek yang sama  belum tentu pas."

"Ah, kenapa jadi berbicara kunci? Kamu sudah pesan kopi?" Moon mengalihkan pembicaraan.

"Sudah habis. Kamu pesan saja, aku tidak mau kamu mengeluh jika nanti demam. Hangatkan perutmu."

"Mas, menunya!" Moon memanggil waitress di pojok ruangan.

***

"Kamu ngga makan?"

"Aku tidak selera...kamu saja," jawab Rose dingin.

"Kamu kenapa? Kamu masih marah aku datang terlambat?"

"Lupakan... Aku mau kembali, muridku sudah menunggu."

"Perlu aku antar?"

"Kau ini. Naik apa? Aku panggil taksi saja."

"Kamu marah?"

"Apa selalu begini?"

"Apanya?"

"Ah, kamu tidak juga mengerti. Kunci itu...urusi saja kunci itu. Andai kamu mengerti. Perkataanku tadi sudah menjawab pertanyaanmu. Segera beli kunci yang baru."

"Baiklah...hati-hati..." jawab Moon.

"He'emmmm..." sambil berlalu meninggalkan Moon.

"Aku menyayangimu...aku hanya tidak tahu, kenapa 'klik' itu tidak kunjung berbunyi. Rose, maafkan aku..." bisik Moon saat melihat Rose sudah mendapat taksi di seberang kafe.

Secangkir kopi datang. Moon menikmati kehangatan yang berjalan dari kerongkongan hingga lambungnya. Ditemani bau hujan dan percikannya yang menempel di jendela. Melihat langit yang ditutup tabir mendung seperti hati wanita yang baru saja ada di depannya dan meninggalkan segelintir tanya.

"Aku menyesal, bertahun aku meninggalkan ketidakpastian. Kamu benar, aku menjadikanmu opsi. Kamu tidak layak menjadi sebuah opsi." gumam Moon.


(Untukmu dan segala ketidakpastianmu)

Thursday, August 01, 2013

Sajadah

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati


Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi


Aku tiba-tiba ingin menuliskan cerita tentang sajadah. Tiba-tiba saja, ada sesuatu yang salah dengan sajadah belakangan ini. Sajadah, barang sakral yang selalu mereka bawa menuju rumah-Nya. Iya, sajadah.

Aku selalu membawa mukena parasutku ke mana-mana. Untuk tetap mengingatkanku akan kewajiban yang tidak boleh ditanggalkan. Aku suka kain parasut, mudah dilipat di dalam tas dan tidak membuat berat di pundak. Tapi aku tidak suka membawa sajadah ke mana-mana. Bukan karena berat, tapi ada satu cerita di balik kebencianku membawa sajadah.

Tiap kali ke masjid maupun musholla kecil, jamaah yang terbanyak adalah jamaah kaum Adam. Tidak heran, —selain karena kami juga harus berhalangan rutin tiap bulannya—karena sunnah untuk mereka adalah sholat di masjid, sedangkan untuk kaum Hawa adalah di rumah. Selain itu, kaum Adam adalah kaum tersolid yang pernah aku temui di masjid, daripada anak-anak dan kaum Hawa tentang kerapatan dan kelurusan shaf.

Saat imam sudah menyebutkan hadist yang mengisyaratkan kita untuk meluruskan dan merapatkan shaf, aku mulai benci dengan sajadah. Sajadah selalu membuat beberapa orang tidak mau pergi darinya. 
Sajadah seringkali dianggap sebagai batas antara kami untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Sajadah yang harusnya menjadi alas suci, kini berubah menjadi pembeda antara jamaah. Aku salut dengan kaum Adam yang shafnya selalu rapi tanpa celah, sedangkan kaum Hawa masih jauh tertinggal dengan mereka. Itu alasanku mengapa aku tidak suka membawa sajadah. Sajadah harusnya merapatkan, bukan malah merenggangkan.

Alangkah lebih baik saat aku tidak membawa sajadah, tiba-tiba ada seorang wanita yang menawariku untuk berbagi sajadah, dan ia mulai melintangkan sajadahnya dan kami memakainya berdua, terlebih lagi syukur-syukur kalau bisa dipakai bertiga. Mari kita renungkan, seharusnya sajadah adalah pemersatu seperti ini, bukan pemecah belah umat :-).

NB: Analogikan sajadah ini ke dalam kehidupan sehari-hari.

Mencari rezeki mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara adzan
Kembali tersungkur hamba


Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau sepenuhnya



-Bimbo-

Sudah, Begitu Saja


Pada suatu malam di pameran lukisan, di sebuah kafe, di lantai dua, pinggir jalan...

Malam ini aku tidak berhasil berangkat denganmu. Aku kadang tidak sadar kalau aku sudah bisa membawa kuda besi sendiri sekarang. Tapi kadang aku bosan membonceng teman, aku ingin dibonceng. Manja, ya? Kau berangkat dengan kudamu sendiri, aku pun demikian. Tapi aku sengaja memarkir kuda besiku agak dekat dengan punyamu. Sesampainya di kafe, kita berjalan sendiri-sendiri secara terpisah.

Terpampang banyak lukisan di sini. Dan semua lukisan di sini tidak mainstream. Ada juga botol-botol bir yang dimasukkan dalam keranjang bayi yang difungsikan sebagai wadah putung rokok. Banyak orang-orang berambut gondrong dan bergaya serabutan. Sedangkan kita semua datang dengan dandanan rapi, warna-warni, dengan eyeshadow yang menarik, sudah siap menyanyi bak biduan di atas panggung. Pemandangan yang sedikit mengagetkan, terutama buatku, aku sempat sedikit bosan di sana.

Aku suka lukisan ini. Aku suka apa pun yang berbau hewan berbulu. Apalagi beruang dan panda.
Sembari bosan, aku pura-pura saja menikmati lukisan-lukisan di sana. Toh, aku masih bisa berimajinasi sambil sedikit mengalihkan perhatian dan menyembunyikan kebosananku. Sambil sesekali melihat jam biru tosca muda kesayanganku yang sudah usang. Berharap kita semua segera menyanyi dan pergi dari sana, karena aku sudah mulai mengantuk dan ingin tidur. Kadang sesekali diajak foto oleh beberapa teman, untung saja mereka tau cara mengusir kebosanan.

Mereka mengerti cara mengusir kebosanan
Sesekali aku melihat ke arahmu yang berjarak denganku, kira-kira 10 meter atau lebih. Kamu mulai berjalan menikmati lukisan-lukisan itu, dengan mereka yang mengerti cara menikmati dan mengapresiasi lukisan. Sambil sesekali menunjuk dan mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Lalu kamu berhenti pada satu lukisan. Dan mengeluarkan kotak besi selularmu. Kamu mulai merangkak ke lukisan yang lain. Diam-diam aku menghampiri lukisan yang tadi sempat kamu berhenti lama di sana. Aku amati tiap detilnya. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Menurutku itu hanya lukisan kegelapan.

Aku duduk tepat di dekat lukisan itu. Sambil mengeluarkan kotak selularku. Itu pertanda aku mulai bosan dengan sekitarku. Ada satu pesan. Aku buka. Darimu.

“Kau berikan sebuah telur, telur besar yang entah apa isinya, lalu kau pergi, kemudian telur itu menetas. Menetaskan seekor burung, burung yang entah mengapa membuatku sakit. Burung itu memakan hatiku hingga kosong dan berlubang. Baiklah, terima kasih.”

Tiba-tiba jantungku berdebar. Aku tidak mengerti maksud pesan singkatmu. Aku balas sekenanya,

“Apa telur itu terlalu cepat menetas dan menetaskan sesuatu yang salah...harusnya bukan burung, karena ia mudah terbang bebas. Mungkin bebek, yang mudah ditangkap dan tidak terbang?”

Lalu balasan secepat kilat datang darimu,

“Hahaha, serius amat. Itu lho...tulisan di lukisan yang nempel tiang, di belakangmu...”

Sedikit malu dan tidak percaya, aku bergegas berdiri dan melihat lagi lukisan itu. Iya, ada. Kamu mengamatinya sampai ke detil terkecil. Tulisan itu ada di di tengah lukisan itu dan tidak terlalu terlihat bila dilihat sekilas. Namun ada beberapa kata di awal yang kamu buat sendiri. Aku bingung membalas apa.
Iseng!”, balasku.

Hahaha ;-)”, balasmu lagi.

Mohon ditunggu,” aku bingung membalas apa, aku tulis kata-kata yang ada di lukisan di sampingku.

Oke...ditunggu,” balasmu.

Itu tulisan di lukisan juga! Hahahaha!” balasku puas.

Botek -__-“, katamu. Botek dalam bahasa Jawa berarti berbohong.
Salah satu band yang mengisi acara. Ia menyanyikan lagu My Only One-nya Mocca malam itu. Menemani kebosananku. Aku suka Mocca.
Lalu surat-menyurat elektronik kita berlangsung walau kita hanya berjarak beberapa meter. Dan akhirnya terhenti saat tiba waktunya kita harus menyanyi. Kita semua menyanyi lagu cinta itu dengan ceria. Sambil sesekali (dan selalu sesekali), aku melihat ke arah senyummu. Lucu. Rasanya ingin lebih lama dan lebih panjang lagi lagu itu.

Selesai menyanyi, aku hampiri kamu. Dan kita tertawa bersama, walau sebentar karena terhenti dengan ucapan “cie cie” dari salah seorang teman. Sudah, begitu saja...

Lalu kita semua turun, menikmati kue yang diberi oleh penyelenggara acara. Setelah selesai, aku dapati si Magic, kuda besiku, terjepit di antara kuda besi-kuda besi yang lain. Dan di sana ada kamu, sedang berusaha mengeluarkan kuda besimu. Dan akhirnya tiba pada satu saat di mana hanya dengan ke luarnya kuda besiku, punyamu bisa ke luar dari tempat parkir itu.

Aku berikan kunci si Magic padamu. Kamu mengeluarkannya. Misiku berhasil.

Makasih ya...”, ucapku.

Setelah itu kuda besimu sudah bisa ke luar. Dan kita pulang. Secara terpisah. Sudah. Begitu saja...

Sunday, July 21, 2013

This is The Answer!

Aku mendapat pesan dari si Vindy, kalau pengumuman hasil SMPDS (Seleksi Mandiri Program Diploma dan Sarjana) UM bisa diakses tanggal 20 Juli. Awalnya sih makin nervous, soalnya tanggal seharusnya adalah 23 Juli. Ah, sudah pasrah rasanya. Tawakkal total.

Walaupun pengumumannya dibuka pukul 24.00, aku sengaja membukanya setelah sahur, karena kalau kemungkinan terburuk terjadi, setidaknya aku tidak perlu tidak bisa tidur nyenyak. Setelah sholat shubuh, mengaji, dan melemaskan diri, aku putuskan untuk memainkan kombinasi angka-angka yang rumit ini ke dalam website yang paling aku takuti sedunia, lebih dari website primbon. 

Hormon-hormon adrenalinku mulai melambung tinggi sampai ke ubun-ubun dan sudah mau meletuskan ledakan yang mahadahsyat, lebih dari ledakan di Hiroshima dan Nagasaki. Terbang ke luar menembus langit ketujuh, berharap masih ada langit kedelapan, kesembilan, kesepuluh, dan keberapa pun yang ingin ku tembus. And, here is the answer...


Alhamdulillah... Allah really knows what the best for me is... Terima kasih untuk kesempatan yang entah sudah keberapa kali ini. Hanya Engkau yang paling maha tepat janji, memberiku kesempatan keempat di saat yang lain bilang bahwa kesempatan kedua saja sudah tidak ada. Dan berkat Engkau, "indah pada waktunya" bukan sekadar judul lagu ataupun sekadar janji manis bagi orang yang gagal sekarang. Engkau mahasegalanya, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam :-)

Terima kasih juga buat semua supporter di belahan bumi ini, kalian terbaik. Yang menguatkan dan mendoakan, memastikan bahwa kita tidak pernah sendiri di sini, jujur...tanpa kalian, mungkin sekarang aku tidak bisa berdiri. Di sini :-)

Wednesday, July 10, 2013

Pertanyaan, Pilihan, dan Jawaban

Halo...mungkin baru hari ini aku bisa menulis lagi di blog setelah beberapa  bulan sudah banyak draft yang sebenarnya mau aku post, tapi aku tidak punya waktu karena kesibukanku yang semakin merajalele (?) akhir-akhir ini. Kalo ibarat artis, mungkin inilah konferensi pers yang sudah ditunggu-tunggu sama wartawan dan pekerja infotainment.

Maaf tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar dan maaf sudah membuat bertanya-tanya. Sebenarnya Dina kenapa? Kok semua status terakhirnya di jejaring sosial galau gitu? Kok saat ditanya tidak pernah ada jawaban? Kok tiba-tiba tidak punya waktu untuk bertemu? Kok tiba-tiba menjadi sangat tidak asyik dan tertutup?

Ini nih jawabannya.

Sebenarnya, sudah beberapa bulan terakhir ini aku disibukkan dengan UAS, dengan kegiatan paduan suara, dengan 2 proyek kerjasama (yang tidak bisa aku sebutkan), dan dengan 1 perubahan terbesar yang mungkin akan aku jalani. Perubahan? Apa itu? Dina mau operasi plastik? Hahaha, baca sampe tuntas ya... ;-)

Sudah setahun aku kuliah di Pendidikan IPA di UM. Jurusan ini adalah jurusan yang aku PILIH SENDIRI saat SNMPTN Tulis tahun lalu (baca cerita lengkapnya di sini). Dan tahun ini, aku mengikuti SNMPTN Tulis lagi (yang sekarang sudah berubah nama menjadi SBMPTN) untuk kuliah di jurusan Sastra Indonesia UM.

Lho? Kenapa? Emang cita-citanya Dina apa?

Ada hal di dunia ini yang bernama cita-cita. Dari kecil, cita-citaku selalu berubah. Cita-cita pertamaku adalah menjadi arsitek. Mungkin karena aku melihat bapak yang setiap hari kerjanya menggambar rumah dan membuat bangunan-bangunan. Berdiri di atas gedung tinggi, memegang penggaris yang macam-macam bentuknya, menggulung-gulung gulungan kertas besar, mainan laptop tiap hari, bertemu dengan banyak orang di dunia dan membincangkan sesuatu yang menurutku fantastis.

Lalu tiba-tiba aku ingin menjadi programmer. Melihat Mbak Anja (kakak pertamaku) yang bermain angka dan matematika di laptop. Membuat animasi lucu, mendesain web, sampe Mbak Anja pake kacamata tebal yang menurutku sangat keren.

Aku juga sempat ingin menjadi jewelry designer. Melihat Mbak Hani yang setiap hari berkutat dengan prakaryanya. Menjahit, merangkai aksesoris, wanita banget. Dan sepertinya enteng. Tapi banyak duit.

Terakhir, cita-citaku menjadi sangat mantap untuk menjadi guru saja. Aku suka sama Bu Iva, guru matematikaku di SMA. Aku juga suka sama Mbak Cinta, guru Bahasa Indonesiaku di Neutron. Aku ngefans sama Bu Susi, Oom Wawan, Mbak Ida, Mbak Upik, aku ngefans sama Bu Erna. Itu semua adalah guru yang menurutku sangat fantastis dan sangat membuatku ingin menjadi guru. Mereka bekerja tanpa pamrih, tetap tersenyum, rela belajar beberapa jam lebih awal, dengan gaji yang tidak banyak, namun mereka bahagia, hanya untuk mencerdaskan kami. Menurutku, itu adalah pekerjaan paling keren dan paling mulia, di dunia.

Akhirnya, aku memutuskan, aku ingin menjadi guru, yang sangat hebat tentunya.

Terus, kenapa pilih IPA?

Saat kenaikan kelas 11, ada hal yang membuatku galau. Ini adalah titik pertama aku harus memilih sendiri masa depanku. Aku harus masuk jurusan apa. IPA, IPS, atau Bahasa. Semua nilaiku bagus di Bahasa. Semua nilai IPS-ku rendah. Dan nilai IPA-ku biasa-biasa saja. Tapi 2 kali psycho-test menyarankanku untuk masuk jurusan IPA atau IPS.

Aku tidak suka menghapal. Ingatanku sama halnya dengan ingatan ikan. Hanya beberapa detik. Jadi, aku memutuskan untuk tidak pilih IPS, karena aku benci harus menghapal tanggal-tangal di sejarah. Secara, tidak ada 1 pun orang di dunia ini yang aku ucapkan ulang tahunnya jam 12 malam karena aku tidak pernah hapal ulang tahun siapa pun kecuali keluargaku di rumah, sekali pun itu ulang tahun pacar. Aku juga tidak suka menghitung uang. Aku tidak suka ngurusin uang. Aku tidak suka ekonomi. Aku benci politik. Aku tidak memilih IPS.

Aku suka sekali bermain verbal. Aku suka Bahasa Inggris. Karena aku bisa merasa keren tiap nilai bahasa Inggrisku muncul di rapor. Aku tidak pernah remidi pelajaran ini. Bahkan, nilai bahasa Inggrisku semester ini A. Walaupun aku sangat gagap tiap harus mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Aku suka bahasa Indonesia. Aku juga tidak pernah remidi. Walaupun nilaiku masih lebih rendah dari bahasa Inggris, tapi aku suka menulis. Aku suka blogging.  Saat SD dan SMP pun, aku suka bikin cerpen. Dan kalau teman SD-ku masih ingat, aku dulu suka sekali meminjamkan hasil kumpulan cerpenku sampai guru olahragaku bilang, “Pinter nulis ya, Dina”. Saat SMP pun aku sempat bikin 1 novel, aku jilid sendiri, aku bikin cover sendiri dan teman-teman bilang, aku berbakat. Aku sering bikin puisi di mading. Aku suka teater. Aku suka bikin naskah drama. Sudah 3 judul naskah drama yang pernah dipentaskan di  SMA yang aku tulis. Naskah film pendek yang aku tulis juga pernah menjadi juara cerita terbaik se-kota Malang saat festival pelajar. Aku punya banyak follower di blog, artinya, mereka menyukai tulisanku. Tapi, entah kenapa...aku sama sekali tidak melirik jurusan Bahasa.

Aku suka matematika. Walaupun aku sering remidi, tapi aku selalu duduk depan saat ulangan. Bu Iva bilang, yang pinter-pinter biar di depan, biar ga dicontek. Aku pernah diikutkan olimpiade matematika saat SMP. Bahkan, nilai UNAS tertinggiku saat SMP adalah matematika, hampir absolut. Aku suka biologi. Aku suka mempelajari kesehatan. Aku suka alam. Aku suka menganalisis. Apalagi soal skoliosis, tidak akan pernah ada habisnya. Aku suka teori fisika. Tapi aku benci rumusnya. Aku tidak pernah suka kimia. Dan tidak pernah mendapat nilai bagus. Aku tidak bisa mengerti kimia sampai detik ini. Entah kenapa. Tapi, dengan mantap aku pilih jurusan IPA waktu SMA. Karena waktu itu, IPA adalah hal terkeren di dunia. Bapakku juga senang sekali aku masuk IPA. Sama seperti Mbak Anja dan Mbak Hani. Aku juga mendapat nilai kesenian (yang waktu aku kelas 12 adalah seni mendesain seperti arsitek) yang di atas rata-rata. Kata Pak Joko, aku adalah 3 besar cewek yang desainnya bagus dan rapi di kelas setelah Ressy dan Mia.

Entah kenapa, aku juga masih tidak mengerti, mengapa aku memilih IPA. Pilihan yang dibuat oleh seorang remaja yang masih labil. Yang masih belum mantap cita-citanya, dan masih belum melihat masa depan, yang beberapa tahun lagi harus ia jalani. Dengan tidak main-main.

Gimana ceritanya pas milih jurusan kuliah dulu?

SNMPTN Undangan

Sebodoh-bodohnya aku, ternyata aku masih termasuk anak yang dianggap pintar sama guru-guru. Sedikit arogan, ya? Memang. Aku masuk di daftar murid yang diberi kesempatan untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan (dulu PMDK). Walaupun rangkingku di sekolah sangat tidak seberapa dan itu hanya kebetulan saja. Aku bingung harus memilih jurusan apa. Aku mencocokkan dengan cita-citaku. Aku memilih Pendidikan Matematika di UM, karena aku ingin menjadi guru. Pilihan kedua, aku pilih Matematika murni, karena siapa tau kalau tidak masuk pilihan pertama, pilihan kedua bisa nyantol dan aku bisa ambil PPG (Pendidikan Profesi Guru) dan menjadi guru juga nantinya.

Kenapa pilih matematika? Karena, setelah 2 tahun sekolah mempelajari IPA, aku tidak bisa mengikuti. Semua nilai yang aku dapatkan sejak SMA, tidak jujur. Walaupun sudah les privat fisika dan les di bimbel, aku tetap tidak bisa menyerap pelajaran-pelajaran IPA. Aku hanya mengandalkan google, contekan teman, dan kertas contekan yang aku buat semalam sebelum ujian. Tapi entah kenapa, nilai ujian lisan fisikaku bagus. Aneh. Intinya, ujian IPA adalah mimpi buruk, kecuali biologi. Dan hanya matematika dan biologi yang bisa menyelamatkanku, karena nilaiku di 2 pelajaran itu yang paling lumayan.

Jurusan ketiga yang aku pilih adalah Ilmu Gizi di UB. Aku ingin menjadi orang yang paling sehat di dunia dan menjadi orang yang paling mengerti kesehatan (karena semenjak aku sakit, aku jadi lebih peduli kesehatan) melalui makanan. Aku sempat ingin menjadi dokter, tapi aku sadar diri, otakku tidak pernah sampai. Setidaknya, ilmu gizi tidak perlu banyak main rumus fisika dan kimia, ku kira.

Di SNMPTN Undangan, nilai yang paling stabil-lah yang paling dilihat. Sedangkan nilaiku naik-turun seperti grafik cosinus. 2 hari sebelum pengumuman SNMPTN Undangan, aku bermimpi ada seseorang yang mengatakan padaku, aku tidak cocok masuk jurusan ilmu gizi. Dan ternyata benar. Malah aku gagal di ketiga-tiganya.

SNMPTN Tulis

Kegagalanku di SNMPTN Undangan membuatku makin galau, karena aku harus memilih lagi. Dan kali ini lebih berat. Belum lagi, Dini dan saudara sepupuku diterima lewat jalur undangan. Sedangkan aku masih harus berjuang lagi. Ada faktor mental yang lebih berat kali ini. Tiba-tiba aku ingin menjadi guru SD. Aku sangat suka anak-anak. Dan aku adalah orang yang tidak bisa fokus pada 1 bidang secara total. Aku kira, dengan menjadi guru SD, aku bisa memelajari banyak bidang dengan tidak terlalu detail. Aku juga akhirnya ingin memilih Pendidikan Bahasa Indonesia. Tapi...aku terlalu pengecut untuk mengambil IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran) atau bahkan IPS saat tes. Karena aku merasa, untuk memelajari IPA saja sudah susah. Apalagi harus memelajari IPS secara dadakan dalam 1 bulan saja. 

Karena pengecut, aku tetap memilih jurusan di bidang IPA. Aku tetap memilih Pendidikan Matematika UM. Aku masih sangat ingin menjadi penerus Bu Iva. Dan saat aku bingung menentukan jurusan kedua, tiba-tiba aku melihat ada jurusan Pendidikan IPA di daftar. Aku kira, dengan mengajar SMP, aku tidak perlu terlalu detail memelajari Fisika dan Kimia. Apalagi, pelajaran SMP pasti lebih mudah dari SMA, jadi aku tidak perlu khawatir aku tidak bisa Fisika dan Kimia.

Dan akhirnya dengan bangga, aku lolos SNMPTN Tulis, di Pendidikan IPA. Dan menjalaninya sampai sekarang.

Lantas, apa alasan ingin pindah jurusan?

Awal masuk, aku sangat sumringah walaupun aku kesulitan dari awal untuk menyerap pelajaran di kelas. Aku kira kesulitan ini karena aku masih dalam proses adaptasi. Ternyata aku salah, di sini tidak semudah bayanganku. Lambat laun, aku bukannya menemukan peningkatan pemahaman. Entah mengapa, makin lama aku makin tidak paham. Aku mudah mengantuk di kelas, karena aku sama sekali tidak mengerti. Parahnya, aku baru sadar, aku tidak mengerti dari konsep awal, yang diberikan di SMA dulu. Ketidakmengertian yang ditumpuk-tumpuk lama-lama menjadi menggunung. Makin hari aku makin tidak mengerti, tidak mengerti, dan tidak mengerti. Semua laporan praktikum Fisika yang aku buat adalah hasil pekerjaan teman yang aku copy. Hanya 2 laporan awal yang aku kerjakan sendiri, karena materinya masih mudah. Saat pembagian pengerjaan laporan biologi dan kimia secara kelompok, aku selalu meminta teman sekelompokku untuk mengerjakan dasar teori, data pengamatan, dan analisis data saja. Di luar itu, aku sudah tidak paham. Aku benci presentasi biologi. Setiap presentasi, aku selalu terlihat bodoh, gagap, dan selalu ditertawakan. Akhirnya, aku selalu meminta untuk menjadi operator saja. Hanya praktikum biologi yang membuatku terlihat pintar. Dan nilaiku selalu A. Di praktikum kimia, aku selalu salah takaran, selalu menumpahkan larutan, dan saat ujian praktikum kimia, aku selalu tidak bisa mengerjakan apa-apa selain prosedur pengerjaan. Aku tidak mengerti sama sekali arti rumus dalam kimia. Bahkan, saat ujian praktik Fisika, dari 2 praktikum yang diundi dari 5, hanya 1 praktikum saja yang bisa aku kerjakan. Sisanya, blank. Dan aku menangis saat pulang ujian. Karena, sudah 2 semester aku mengalami hal yang sama. Aku tidak betah, aku tidak menemukan diriku di sini.

Bukannya aku tidak berusaha, tapi entah mengapa, aku tidak bergairah untuk belajar kali ini. Aku selalu ketiduran saat belajar, karena bosan dan tidak mengerti. Saat diterangkan teman, aku mengerti. Tapi setelah ujian, aku selalu tidak mengerti lagi. Aku tidak paham, kenapa aku. Kenapa semua harus berakhir dengan bantuan Google, dan beberapa teman yang kasihan melihatku tidak bisa, dan akhirnya memberi contekan. Adakah seorang calon guru yang lebih hina dari aku? Bagaimana muridku nanti? Apa yang akan aku jelaskan di depan kelas? Apa aku bisa menjawab saat ada murid bertanya? Apa iya, setiap ada teman dari fakultas lain meminta bantuan kepadaku untuk membuat PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) bersama, aku selalu menolak, karena aku tidak bisa IPA? Apa iya, saat ada teman dari teknik minta diajari fisika aku selalu melempar pada teman lain, karena aku sendiri tidak mengerti? Apa iya saat salah satu temanku minta dikerjakan PR-nya soal vektor, aku harus membuka google lagi dan lagi lalu mengirimkan jawabannya lewat BBM dan ia berterima kasih karena aku telah membantu menjawab, mengatakan aku pintar, padahal itu bukan pekerjaanku sendiri? Apa aku bangga menjadi seperti itu? Menjadi orang yang sama sekali tidak berfungsi secara optimal? Dan sampai kapan aku bergantung seperti ini?

Tulisan yang ada di kertas ujian Kimia. Astaghfirullah... :-(

Aku berusaha bertahan, berusaha suka, berusaha komitmen dengan pilihan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dipaksa. Yaitu passion. Seperti kata seseorang, “Passion energizes your talent”. Ada satu hal yang tidak bisa diganggu gugat. Ada satu hal yang tidak bisa dimengerti. Ada satu hal yang jika diterima dan dimengerti bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Passion. Passion. Dan passion. Dengan berat hati, aku mengatakan, aku tidak ada passion di sini. Di pilihanku sendiri. Pilihan yang tidak dipilih dengan pertimbangan luas. Pilihan yang lahir dari pengecut yang tidak berani mengikuti hatinya. Astaghfirullah...maafkan aku Yaa Rahman L

Lalu, mengapa harus sastra?

Tidak ada yang kaget kenapa aku suka sastra. Jika aku di sastra, aku bisa mensinergikan dan menyalurkan kesukaanku akan menulis dengan layak dan sejalan, bukan hanya sekedar hobi. Ada energi tersendiri yang lahir saat kau mengerjakan apa yang kau sukai tanpa ada paksaan. Ada tanggung jawab besar yang menyenangkan walaupun berat jika kau berada di zona yang membuatmu menemukan jati dirimu seutuhnya, sesulit apa pun itu. Dan aku masih mau meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, S2, S3, dan berapa S lagi yang akan tercipta jika aku di sini. Karena aku suka. Dan aku yakin, aku dilahirkan memang untuk itu. Jika semua kemampuanku dilumpuhkan oleh Allah, hanya ada satu hal yang aku ingin tetap ada. Yaitu kemampuan dan kemauanku untuk menulis. Karena dengan menulis, aku bisa berbicara pada dunia, mengatakan apa yang tidak mampu aku katakan dengan suara. Writing works more than voices. Bahkan, ketika aku sudah tidak mampu lagi berbicara, ketika aku dilarang melakukan apa pun di dunia ini, tolong...jangan larang aku untuk menulis. Itu saja. Aku suka. Dan aku cinta. Tanpa paksaan.

Mendramatisir memang.

Ujian SBMPTN

Aku lalu mengambil uang tabungan dan uang saku kosku. Ke bank sendiri. Mendaftar SBMPTN. Ke Gramedia, membeli buku-buku kumpulan soal dan buku materi IPS. Ke gudang, mengobrak-abrik buku SMA, dan memulai belajar...sebagai anak IPS.

Ujiannya tidak terlalu sulit untuk pengetahuan umum, aku mengerjakan dengan yakin dalam jumlah yang lumayan banyak. Untuk ujian SOSHUM, memang hanya sedikit yang aku yakin. Namun kali ini, aku mengerjakan lebih pede dari tahun lalu, entah karena sudah pernah, atau memang karena aku bisa. Aku sangat optimis sekali.

Bagaimana hasil SBMPTN kemarin?

Mungkin ini jawaban yang ditunggu. Jadi, malam hari sebelum pengumuman, aku bermimpi sangat indah. Aku bermimpi ada di medan perang ujian praktik SIM C sedang mengendarai motor bebek. Aku memakai rok hitam, kemeja putih, dan jas almamater UM, persis seperti gaya mahasiswa baru yang sedang ospek. Kebetulan, tanggal 8 Juli kemarin, aku akan mendapatkan 2 hal spesial, harusnya sih. Aku akan ujian praktik SIM C untuk kedua kalinya dan akan menerima pengumuman hasil SBMPTN. Di mimpi itu, aku sangat bahagia mengendarai motor itu. Dan aku berhasil melalui ujian praktik SIM itu dengan sangat lancar, mulus, dan sempurna. Sampai-sampai di mimpi itu, namaku tersohor di pelosok negeri karena aku adalah wanita dengan nilai praktik tertinggi. Pulang dari praktik, aku yang masih berpenampilan sama, berbelanja kebutuhan ospek di sebuah mini market. Sungguh, itu mimpi paling indah sedunia.

8 Juli 2013

Tiba-tiba aku terbangun, aku bangun kesiangan. Maklum, aku sedang tidak solat, jadi tidak memasang alarm di saat subuh. Aku bangun 30 menit sebelum kantor SATLANTAS buka. Sampai di sana bersama ibu, aku sangat percaya diri walaupun masih deg-degan gara-gara kesiangan. Dengan senyum dan berkali-kali membaca Al-Fatihah, aku memulai ujian. Aku tidak terlalu gugup karena sudah pernah melakukannya. Dan aku sangat optimis, entah kenapa. Tapi, baru beberapa detik ujian, aku sudah menjatuhkan palang. Parahnya lagi, kakiku turun ke tanah. Motorku juga ke luar jalur. Aku tetap bersikukuh menyelesaikan ujian, walaupun nyata-nyata sudah gagal. Ujian kali ini lebih  buruk dari ujian sebelumnya. Di ujian sebelumnya, aku hanya menjatuhkan 2 palang tanpa menurunkan kaki. Tapi di ujian ini, sudah berapa kali aku melakukan kesalahan. Dan aku harus mengulang 2 bulan lagi. Mimpiku ternyata bukan untuk sekarang.

Masih down gara-gara gagal dapat SIM untuk ketiga kalinya, sore ini aku harus membuka website resmi SBMPTN untuk melihat hasil SBMPTN-ku. Aku sengaja melihatnya agak malam, karena aku tau kalau sore, pasti masih lemot. Aku buka dulu website Lipsus Kompas. Dan aku memasukkan namaku, nomer ujian, dan kode prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah. Tidak ada hasil. Ah, mungkin di prodi satunya. Aku masukkan kode prodi Sastra Indonesia. Tidak juga ada. Ah, mungkin Kompas yang eror.


Akhirnya aku membuka website SBMPTN karena masih kurang lega dengan jawaban yang diberikan Kompas. Dan ternyata...Kompas benar.  Aku lalu menghubungi salah satu temanku yang ikut SBMPTN ulang, sama denganku. Dan dia juga senasib denganku. 2 temanku lainnya juga sama. Kami sama-sama tidak lolos.

 Tulisan ini sama sekali jelek dan tidak memberi semangat. Harusnya ada kata-kata penyemangatnya. Tidak heran kalau anak-anak yang tidak lolos merasa sangat down.

Rasanya...benar-benar...campur aduk. Sambil memandang laptop, tanpa rasa apa pun. Flat. Sesekali tertawa dan bicara sendiri pada laptop, “Pasti kamu bercanda, ya kan...ya kan?”. Sedikit linglung dan mendadak galau luar biasa sangat, dan tidak bisa berpikir jernih. Melihat handphone yang sedari tadi berbunyi mengantarkan puluhan SMS, chat, dan mention Twitter dari teman-teman yang menanyakan hasil ujianku. Rasanya kacau. Mereka tidak akan mengerti. Dan aku malas menjelaskan satu-satu dari mana. Akhirnya aku mematikan handphone. Dan membiarkan mereka dengan rasa penasaran. Bergegas ke kamar mandi dan menyalakan kran sampai airnya penuh, aku tidak peduli. Seperti di sinetron. Seperti film Pocong. Sayangnya aku tidak punya shower. Menangis sejadi-jadinya. Lalu aku ke kamar. Melihat cermin. Berbicara sendiri. Memotivasi diri. Seperti orang gila. Lalu aku sadar, aku mulai gila. Aku tidak mau gila. Dan semua luluh...karena Al-Quran. Hanya Allah yang bisa aku ajak bicara sekarang. Di saat rumah sepi, di saat semua tarawih. Aku merasa sangat sendirian. Mengalami 4 kegagalan dalam sehari. Gagal dapat SIM, gagal lolos SBMPTN, dan gagal mengikuti tarawih pertama, serta gagal memberi kabar gembira pada Vindy, sahabatku yang hari itu ulang tahun, memberi tahu bahwa aku lolos. Itu sungguh menyakitkan. Dan tidak ada yang bisa mengerti...

Akhirnya aku membuat status di Twitter, membiarkan mereka yang bertanya-tanya menyimpulkan sendiri.

“Alhamdulillah... Allah showed so many things today for me, for my future. Allah knows how to make me wiser, knows the best. Alhamdulillah J

Lalu seketika banyak yang memberi respon dengan mengucapkan selamat atas kelolosanku. Aku hanya bisa tertawa miris, mereka tidak juga mengerti. “Alhamdulillah” adalah pujianku atas kemahadahsyatan Allah. Bukan selalu hanya ungkapan gembira atas suatu pencapaian. Aku bersyukur, Allah masih mempercayaiku menjadi orang yang selalu harus berusaha. Aku harus ditempa bolak-balik agar menjadi baja yang paling kuat. Allah suka hamba-Nya yang berusaha. Allah tidak akan memberi cobaan lebih berat dari kemampuan hamba-Nya. Allah suka orang yang sabar.

Lalu paginya, saat semua sahur, aku memutuskan untuk membuka HP dan membalas beberapa pesan hanya untuk orang yang aku percaya dan benar-benar bisa mengerti aku. Aku sungguh sangat berterimakasih pada Sundari dan Didin, yang paling tahu alasanku begini, dan yang menemani hingga saat ini, aku tidak tahu siapa lagi yang akan mengerti. Terima kasih selalu menjadi tempatku mengeluh. Oh iya, FYI, Sundari diterima di Sekolah Tinggi Teknik Nuklir tahun ini, dan dia akan segera pindah dari Pendidikan IPA. Congrats, kamu berani jadi dirimu sendiri, Sun :-)

So...what’s next?

Siangnya, aku ke UM ditemani Dini. Aku ke gedung  di mana aku bisa mendapatkan informasi yang akurat tentang cara ke luar dari fakultas lama ke fakultas baru sambil menunggu pengumuman ujian mandiri. Tapi sayang, aku kurang mendapat pelayanan yang baik di sana, entah mengapa mereka tidak bisa menangkap dengan baik maksudku. Akhirnya, tanpa berpikir lama, aku pergi ke bank dan membeli formulir ujian mandiri. Sambil hujan-hujanan. Sampai pilek.

Bismillah, aku akan mencoba cara terakhir ini. Aku akan belajar lagi. Ya Allah, aku serahkan semua pada-Mu. Terima kasih telah percaya padaku untuk menyelesaikan masalahku sendiri. Engkau yang hidup dan kekal, yang tidak pernah tidur dan yang paling mengerti, Engkau tahu mana yang terbaik untuk hamba-Mu yang terkadang masih melupakanmu ini. Aku terima, apa pun nanti hasilnya. Aku akan berubah lebih baik lagi...aku janji, ini terakhir kali kecewa dan mengecewakan.

Allah paling tahu, isi hati yang terkunci dan yang hilang kuncinya. Allah bisa membukanya dengan cepat. Bismillahirrahmannirrahim...


Semoga tidak akan ada Dina-Dina yang lain, yang senasib. 

Semoga pilihan, tidak akan lagi membingungkan. Dan semoga pilihan, adalah jawaban, bukan pembingungan. Selamat, buat manusia yang diciptakan bisa dengan mudah memilih, hargai itu, kalian hebat :-)

"Allahumma yassir wala tu'assir. Rabbi tammim bilkhoir. Birohmatikaya Arhamarrohimin."

Tuesday, May 21, 2013

3 Bungkus Kacang Bali


Bulan pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, aku hanya bisa melihatmu dari senyum yang tidak bisa bergerak. Di layar LCD itu, senyum itu pun melihat balik ke arahku. Aku berkata, “Senyummu manis...”, tapi itu tidak membuat senyummu bergerak juga. Mata itu memandangku balik, setidaknya aku senang. Dengan duduk diam di sini, aku selalu melihat senyum yang sama. Dan setidaknya dengan begini, aku tidak pernah melihatmu tidak tersenyum. Dari foto itu.

Selama ini, aku hanya bisa menyampaikan pesan lewat gelombang-gelombang transversal. Menyampaikan emosi lewat jari-jemariku. Mengadu padamu saat aku ingin manja seperti wanita-wanita lain di luar sana pada prianya. Memelukmu lewat lagu-lagu itu. Namun aku hanya bisa menitipkan rindu pada sujudku, pada Tuhanku, energi terbesar yang kita semua puji dan sebut sejak masih kecil. Karena aku percaya, hanya Tuhan yang menyampaikan rinduku sampai selamat di telingamu, tanpa berkurang satu pun kata, bukan lewat Facebook, “Aku rindu kamu, pulanglah...”.

Saat aku mulai ragu, aku tidak ingin mendengar kata apa pun yang ke luar dari mulut mereka. Aku hanya percaya satu makhluk, yaitu kamu. Kamu yang berkata aku tidak boleh menunggumu pulang, kamu juga tidak pernah berjanji untuk pulang, bahkan di saat aku sedang meniup lilin ke-19, kamu tidak juga pulang. Kenapa kamu tidak mencari penggantiku saja, kenapa kamu tetap memilihku di antara jutaan wanita di Indonesia yang bisa kamu tunjuk. Bahkan, di Pulau Dewata sana sangat banyak wanita cantik. Kenapa kamu mengajariku menjadi lebih dewasa dengan cara ini, aku tidak mengerti. Dan kenapa di saat bibir-bibir yang lain mengecap kata “Sudah, tinggalkan saja dia!”, aku tetap bersikukuh dengan jawabanku untuk tetap mendeklarasikan diri bahwa aku milikmu dan tidak akan pergi hanya karena...jarak.

Aku berpikir lagi. Keras. Aku mengerti mengapa kamu tidak mengizinkanku untuk berharap kamu pulang. Kamu hanya tidak ingin aku kecewa. Kamu hanya tidak ingin aku sudah terlanjur berdandan cantik dari biasanya, memakai rok, memakai bedak, lipstick, parfum, dan memikirkan percakapan apa yang nantinya akan aku lontarkan di depanmu, namun kamu hanya mempunyai waktu tidak lebih dari 5 menit untuk bertemu denganku.

Kemarin, di tempat itu...tempat yang tidak romantis. Kurang dari 5 menit. Sampai aku belum sempat menata jantungku yang masih berdebar karena ini kali pertama kau akan bertemu denganku sejak pertemuan terakhir kita lima bulan yang lalu, aku bersyukur. Setidaknya walau pertemuan ini tidak berarti apa-apa dan hanya sempat mengucap beberapa kali “Hai...” tanpa sempat mengucap yang lebih, kamu bisa baca mataku, mata yang mengucapkan “Aku rindu kamu...lebih lama lah di sini... Aku ingin bercerita. Dan aku hanya ingin mengatakan, rasa itu tetap sama sampai kapan pun. Aku tidak mau menunggumu. Tapi aku selalu di sini, sampai kamu pulang pun, aku tetap di sini. Tanpa ada nama lain yang mengisi. Hanya kamu...”.



Dan bonus lain yang aku dapatkan, yang tidak orang lain dapatkan hanya dengan lima menit saja. Setidaknya aku sempat mengecup tangan wanita yang melahirkanmu, dia sangat cantik. Serta aku sangat terkejut membuka bingkisan mungil itu. Kamu paling tahu, obat rindu apa yang paling ampuh buatku. Terima kasih, kamu membawakan makanan kesukaanku walau aku tidak pernah bilang kamu harus membawanya ke mari, kemarin. Aku akan mengunyahnya, dan merasakan tiap butir yang mengandung rindumu ini. Lewat manis, gurih, dan asin di setiap butirnya, aku bisa merasakan betapa kamu mencintaiku dengan dewasa. Betapa kamu merindukanku juga secara profesional. Dan betapa kamu menjadi sangat spesial buatku walau aku tidak bisa ke bioskop bersamamu sekarang, tidak bisa naik bianglala setiap minggu, tidak bisa ke Taman Safari di saat liburan, tidak bisa fotobox berdua dan dijadikan foto profil di jejaring sosial. Namun, dari caramu menahan jariku saat bersalaman dan berpisah denganku untuk melanjutkan tugas yang menantimu di depan sana kemarin, aku semakin percaya, bahwa kamu akan kembali lebih cepat dari perkiraanmu untuk mengobati rindu yang sudah semakin tebal seperti bola salju yang meluncur.

Terima kasih telah datang dan membawakanku makanan kesukaanku...


"Andai bulan kan mengerti, 
andai bintang kan pahami, 
sampaikan kesunyian, 
sampaikan kerinduan 

di remang langit pagi 
berharap hal yg tak pasti 
hanya bisa menanti dan menanti, 

Salam sayang dariku untukmu yg terkasih..."

-Sincerely, Yours-
For Endra, who lives in 177,09045 miles apart from Aida.